“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.”
Brak!
Omong kosong!
Semua yang dikatakan Gabriel hanyalah omong kosong yang tidak pernah ada pembuktiannya sama sekali. Peduli? Cinta? Apakah ia masih harus percaya?
Tidak. Terimakasih.
Adara bukan keledai yang terus-menerus bisa di bodohi.
---
“Adara berhentilah bekerja di sini, aku akan mengganti rugi seluruh kerugian yang diterima Sean atas kejadian itu. Aku akan melunasi semuanya.”
Adara tersenyum masam seraya menepis tangan Gabriel yang terus berusaha meraih tangannya. “Kau pikir aku bodoh mau bekerja dengan Sean begitu saja? Kau pikir uangku tak cukup untuk mengganti rugi pada Sean?”
Gabriel menghela nafas panjang. “Tapi kau tak harus bekerja di sini Adara, kau bisa bekerja di tempat lain. Adara ... kau tak ingat? Sean begitu jahat padamu. Mengapa kau mau dibodohi dengan bekerja padanya? Dia hanya ingin menyiksamu, dia hanya ingin membalas dendam masa lalu.” Gabriel menghela nafas lagi. “Jika memang kau harus melunasinya dengan usahamu sendiri, kau bisa bekerja di perusahaanku Adara. Kau bisa menjadi sekretarisku atau apapun itu. Asalkan jangan di sini. Di sini terlalu berbahaya untukmu.”
“Tidak ada yang lebih baik, lepas dari kandang singa masuk kandang buaya? Tidak. Terimakasih.”
“Adara ... .”
Adara menepis lengan Gabriel lagi. “Jangan menyentuhku!”
Gabriel mendesah pelan. “Adara ... aku tidak akan menyiksamu dengan banyak pekerjaan seperti di sini. Kau bisa bekerja sewajarnya bersamaku. Adara please ... percayalah padaku. Sean pasti akan melakukan hal yang lebih buruk jika kau tetap di sini.”
Adara tahu itu. Ia bahkan sudah menyadarinya, semua yang Gabriel katakan memang benar adanya. Sean seperti sedang melampiaskan dendam masa lalu dengan memberinya banyak pekerjaan. Tapi ... memilih Gabriel pun bukan solusi terbaik. Ia tak bisa memilih bersama Gabriel. Ia tak bisa bersama lelaki yang sudah memiliki kekasih.
Adara menarik nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri. ia kemudian menatap Gabriel dengan tatapan dingin. “Gabriel ... kau tak perlu bertindak hingga sejauh itu. kehidupanku hanya milikku, pilihanku. Kau tak berhak mendikteku. Lagipula siapa kau? Kau tak berhak mengaturku sedikit pun Gabriel, kau bukan siapapun untukku.”
“Adara ... aku melakukan ini karena aku peduli.”
“Kau tak perlu memedulikanku Gabriel dan kau juga sebaiknya berhenti mengawasiku. Aku bukan b***k yang harus selalu kau awasi!”
“Adara ... aku melakukannya karena aku juga mencintaimu.”
“Berhenti membual!” Seru Adara.
“Aku tidak membual. Buktinya sekarang, aku berada di sini. Di hadapanmu. Kau pikir kenapa aku di sini?”
Adara mengatupkan rahang seraya menahan nafas, menahan emosinya yang meletup-letup. “Cukup Gabriel! Sebaiknya sekarang kau pergi dari hadapanku!”
“Tapi perempuan yang ku cintai ada di sini. Di hadapanku. Bagaimana aku pergi? Adara ... aku datang untukmu, hanya untukmu dan ini salah satu perjuanganku.”
“Bulshit! Jika kau memang mencintaiku kau tak akan melakukan ini padaku Gabriel!”
“Ini rumit Adara! Ini lebih rumit dari dugaanmu! Aku bisa saja membawamu kehadapan mereka sekarang juga tapi ini tidak sesederhana itu. Selain karena masalahku, ini juga menyangkut perusahaan orangtua kita!”
“Adara ... aku mencintaimu dan itu faktanya. Tapi aku belum bisa membawamu masuk dalam keluargaku sebelum aku bisa menyelesaikan semuanya tanpa masalah.”
Adara menatap dingin ke arah Gabriel. “Kau hanya membuang waktuku Gabriel. Kalau memang kau tidak mau memperjuangkanku kau hanya perlu mengatakan kau tak ingin. Karena jika kau memperjuangkanku kejadian tiga bulan lalu seharusnya tidak pernah terjadi! Seharusnya aku yang berdiri denganmu! Seharusnya aku! Bukan dia Gabriel. Jadi dengar! Jika memang kau tidak bisa memperjuangkanku. Pergi! Aku tidak membutuhkan pecundang sepertimu! Aku tidak membutuhkan lelaki pengecut yang takut mengambil pilihan!”
“Aku sudah katakan ini tidak sesederhana itu!”
“Aku tidak peduli! Menyingkir dan jangan pernah menemuiku lagi!”
---
Adara menatap pantulan dirinya di cermin dengan nafas yang masih memburu. Iris matanya bergulir menatap ke arah kalung yang melingkari lehernya. Tangan Adara merambat naik mencengkram kalung tersebut kemudian sekuat tenaga menariknya. Tapi sayang ... bukannya putus, lehernya yang justru tertarik dan tercekik.
Gagal. Selalu gagal. Aneh sekali. Kalung itu tidak pernah bisa putus dan tak bisa di lepaskan olehnya. Kalung itu memiliki sebuah kunci yang tidak ia ketahui kodenya sama sekali.
“Gabriel sialan! Sebenarnya apa maumu?!”
Sebenarnya apa mau Gabriel? Apa mau lelaki itu? Mengapa dia memperlakukannya seperti ini? Apakah dimata Gabriel dirinya tampak seperti mainan? Mengapa dia terus mempermainkannya?
“Enyahlah dari kehidupanku Gabriel!!! Aku bersumpah aku membencimu!!!”
***
“Selamat pagi.” Ujar Adara seraya mendudukkan dirinya pada salah satu kursi di meja makan. Setelah itu tanpa mengatakan apapun lagi ia segera memakan roti lapis yang ada di depannya dalam diam hingga tandas, lalu meminum segelas air sebelum kemudian berdiri.
“Ma, Pa, Adara berangkat ya?”
Gloria bangun dari kursinya, segera mendekati Adara kemudian memeluk Adara dengan erat, lalu memberikan sebuah ciuman di puncak kepala puteri kesayangannya itu.
Adara menguraikan pelukan tersebut kemudian tersenyum. “Terimakasih Ma ... .”
“Hari ini jangan pulang terlambat lagi ya? Kita makan malam bersama.”
Adara mengangguk kecil kemudian beralih memeluk sang ayah sebelum berpamitan kembali seraya beranjak pergi.
Gloria dan Jackson saling berpandangan kemudian sama-sama menghela nafas panjang.
“Biarlah Adara menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia sudah dewasa. Dia pasti bisa mengatasinya.”
Gloria mengangguk kecil. “Aku hanya khawatir Jack.”
“Sama. Aku pun.”
Gloria menghembuskan nafasnya kembali seraya menatap ke arah pintu keluar, memperlihatkan kendaraan Adara yang kini sudah meninggalkan rumah mereka.
***
Sepanjang perjalanan Adara tak henti-hentinya menghela nafas panjang. Sepanjang malam, setelah pertemuannya dengan Gabriel perasaannya benar-benar buruk, begitu juga dengan hatinya. Beruntung semalam ia masih bisa menyelesaikan sebagian pekerjaannya, sehingga pagi ini ia cukup lega. Karena hanya perlu menyelesaikan satu dokumen lagi untuk di pakai meeting siang nanti.
Namun sungguh ... sampai detik ini Adara tidak pernah menduga bahwa Gabriel akan kembali ke California. Ia pikir Gabriel akan menetap di Florida lalu menikah. Tapi ternyata ... lelaki itu justru datang lagi, masuk lagi tanpa permisi ke dalam hidupnya. Membuat lukanya yang masih menganga serasa disiram air garam. Kembali terasa perih dan sakit yang tidak berkesudahan.
Adara terjengit, saat memasuki lift ponselnya berdering.
Sebuah panggilan dari Rose.
“Hallo ... selamat siang Miss.”
“Miss Adara. Dokumen untuk meeting yang kuminta sudah kau buat?”
“Saya sudah menyelesaikan semuanya. Hanya tersisa satu untuk meeting jam 12 siang.”
“Aku sudah mengirimmu pesan semalam, meeting dengan Mr. Li di undur menjadi lusa dan meeting dengan Perwakilan dari TY Group akan di laksanakan pagi ini. Kau juga sudah membacanya.”
Bagaimana bisa ia membaca pesan dari Rose tanpa ia sadari?
“Miss Adara? Kau mendengarkanku? Kerjakan sekarang. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum Mr. Archilles memintanya.”
Adara mencengkram rambutnya dengan erat, Kesialan apa lagi ini? Mengapa keburukan datang padanya begitu bertubi-tubi? Habislah! Sean si Singa itu pasti memarahinya habis-habisan jika ia tidak menyelesaikannya.
“Baik Miss.” Ujar Adara.
Ketika pintu lift terbuka ia segera melangkahkan kakinya dengan cepat menuju meja kerja, menghidupkan layar kemudian mengambil beberapa bahan untuk meeting dari dalam loker. Sekalipun harinya buruk. Ia tak boleh menambah buruk hari ini. Ia tak boleh mendapatkan dari Sean si Singa lapar itu.
---
“Kenapa dengan anak manja itu?” tanya Sean setelah Rose mengakhiri panggilannya.
“Bukan apa-apa.”
Sean menyeringai. “Dia pasti belum menyelesaikan dokumennya kan? Perempuan ceroboh itu ... dia benar-benar membuatku muak.”
Rose menoleh, menatap Sean lamat kemudian berujar pelan. “Jangan terlalu membencinya Sean.”
“Dia sudah menyakiti adikku. Bagaimana bisa aku tidak membencinya? Sampai kapanpun aku akan tetap mengawasinya. Dia ... tidak akan pernah aku biarkan menyakiti Adelia lagi.”
Kening Rose mengerut. “Termasuk menjauhkannya dari Mr. Tyrone?”
Sean menyeringai. “Jika lelaki sialan itu tidak bisa menjadi milik adikku, Adara pun tidak akan pernah bisa memilikinya.”
“Sean ... apa rencanamu? Aku peringatkan. Jangan melakukan apapun Sean. Jaga sikapmu. TY Group partner kerja yang sejak dulu kita butuhkan. Jika kau berulah dan sampai TY Group lepas lagi. Kau akan mendapatkan kerugian yang sangat besar!”
“Apa peduliku? Dengar Rossean ... aku memiliki banyak perusahaan mandiri yang tidak akan pernah terganggu siapapun. Bekerja sama dengan TY Group hanya bagian kecil saja. Aku ... tidak akan pernah kehilangan apapun.”
“Sean! Tetap saja ... .”
“Rose hari ini kau terlalu banyak bicara.”
Seketika Rose bungkam. “Maaf Mr. Archilles.”
Sean mendelik ke arah Rose. “Katakan pada anak buahmu. Perketat pengawasan pada Adara. Aku yakin lelaki sialan itu pasti akan berusaha mendekati Adara lagi.”
***
Sementara itu di sisi lain Gabriel sudah siap dengan pakaian rapih yang ia kenakan. Gabriel duduk tenang di dalam mobil, melamun, menatap ke arah jalan dalam perjalanan menuju kantor barunya. Dilatih menjadi satu-satunya pewaris kerajaan bisnis keluarga Tyrone, sejak remaja Gabriel sudah terbiasa menghadapi masalah yang sangat besar. Sejak remaja pula ia sudah menangani berbagai bisnis keluarga dan tak jarang diajak berdiskusi untuk menangani masalah penting di perusahaan.
Akan tetapi satu kelemahan Gabriel, Gabriel tidak pernah di ajarkan bagaimana cara menyelesaikan urusan hati dan perasaan. Hingga penolakan Adara semalam benar-benar menamparnya. Semua perkataan Adara benar-benar menikamnya. Membuatnya sadar bahwa selama ini ia telah melakukan kesalahan fatal yang telah menyakiti hati dan perasaan Adara. Pikiran Gabriel buntu, benar-benar tak tahu dan belum menemukan cara terbaik untuk keluar dari masalah ini.
“Mr. Tyrone ada hal penting yang harus saya sampaikan mengenai Ms. Rexford.” Ujar Mix.
Gabriel menoleh ke arah asistennya itu. “Katakan.”
“Kaki tangan kita mengatakan seseorang selalu memantau Ms. Rexford. Termasuk saat anda menemuinya semalam dan tadi pagi ketika Ms. Rexford berangkat kerja. Setelah saya selidiki lebih lanjut ternyata Ms. Rexford, memang sudah mendapatkan mengawasan sejak memasuki Archilles.”
Tatapan Gabriel menajam. Rahangnya mengatup dengan keras. Tampak begitu marah.
“Siapa yang berani melakukan itu pada Adara?” tanya Gabriel setengah menggeram.
“Kaki tangan Sean Archilles.”
Gabriel mengepalkan tangannya hingga setiap buku jemarinya memutih. Tak terima dengan perlakuan itu.
Sean Archilles. Sebenarnya ... apa rencanamu?