Chapter 4

1870 Kata
  Jika tatapan bisa saling membunuh, saat ini salah satu atau bahkan kedua laki-laki itu pasti sudah terkapar tak berdaya. Namun beruntung, setajam apapun tatapan yang dilayangkan mereka, tak berarti apapun selain pertanda mengibarkan bendera perang.   Gabriel dan Sean saling bertatapan, dengan begitu tajam dan dingin seolah hasrat ingin membunuh sudah berada di ujung tanduk, hampir tak bisa di tahan.   Sean yang pertama kali menarik ujung bibir kemudian mengulurkan tangan pada Gabriel. “Mr. Tyrone. Saya tidak menduga anda sendiri yang akan datang, saya pikir hanya perwakilan saja seperti yang sudah direncanakan.”   Gabriel menjabat tangan itu dengan singkat.   “Tidak pantas rasanya melakukan kerja sama dengan perusahaan sebesar Archilles menggunakan perwakilan saja. Jadi saya memutuskan untuk menangani project kerjasama ini sendiri.”   Sean terkekeh kecil kemudian tersenyum lebar. “Saya sangat tersanjung, padahal saya dengar biasanya anda tak pernah turun langsung dalam hal seperti ini. Apalagi sampai harus datang sendiri ke perusahaan kami.”   Gabriel membalas senyuman itu dengan senyuman palsu yang tak kalah tenangnya. “Anda benar Mr. Archilles. Saya memang tidak pernah turun langsung menggarap project seperti ini, apalagi hingga berkunjung ke perusahaan partner kerja kami. Tapi bagi saya perusahaan anda spesial, karena menyimpan sesuatu yang lebih baik daripada perusahaan lain, sehingga sangat menarik minat saya.”   Sean kembali tertawa kecil kemudian melirik ke arah Adara yang tengah menunduk, menatap kosong pada dokumen di atas meja di sisi kirinya. “Anda benar ... saya memang memilikinya dan sepertinya akan lebih baik selamanya saya memilikinya bukan? Agar anda lebih tertarik untuk bekerja sama dengan kami.”   Gabriel mengepalkan tangan, mengatupkan rahang dengan iris mata yang semakin tajam menatap ke arah Sean.  Sean kembali menyeringai, puas dengan reaksi yang diberikan oleh Gabriel.   “Perusahaan anda memiliki tambang berlian di lokasi yang kami inginkan, sehingga kami pikir, kami sangat tertarik menjalin kerja sama dengan perusahaan anda Mr. Archilles. Tentu saja anda yang akan memiliki pertambangan itu selamanya. Kami hanya ikut serta sebagai investor dan kerja sama lain dibidang jual beli logam mulia itu.” Balas Gabriel.   Sean kembali tersenyum tipis. “Anda benar. Kalau begitu rapatnya kita mulai.”   ***   Adara tak henti-hentinya menghela nafas panjang, kemudian mendengus dengan sesekali mengurut keningnya yang mendadak pening. Jika bisa ... rasanya saat ini ia ingin sekali menghilang, ia tak ingin berada di ruangan meeting yang terasa sangat tak nyaman ini.   Ia pikir ia beruntung bisa menyelesaikan dokumen itu tepat waktu, tapi ternyata sepertinya keberuntungan yang ia miliki sudah tak tersisa lagi. Harinya yang buruk semakin terasa buruk saat melihat Gabriel yang tidak ingin ia lihat lagi tiba-tiba berada di ruang meeting kantor Sean.   Adara tak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa pasrah, duduk dengan tenang di sisi kiri Sean tanpa ada niatan untuk mendongak, menatap Gabriel yang sangat ia yakini sedang mencuri pandang ke arahnya. Ia hanya mengabaikan lelaki itu, menyibukan diri dengan menyimak dan menncatat hasil dari perasentasi tersebut. Tanpa mempedulikan apapun yang dua lelaki itu lontarkan. Karena sungguh ... hasrat ingin menghilangnya semakin lama semakin tinggi, perasaannya semakin terasa tak nyaman.   “Apakah masih ada yang ingin anda tanyakan Mr. Tyrone?”   Tidak! jawab tidak! aku sudah muak duduk di tempat ini. batin Adara.   “Tidak. Cukup sampai di sini. Sisanya akan saya pelajari sendiri.”   “Baiklah kalau begitu meeting kali ini di anggap selesai. Terimakasih atas kedatangannya Mr. Tyrone dan mohon maaf atas segala kekurangan yang kami miliki.” Ujar Rose mengakhiri meeting tersebut.   “Ms. Rexford.” Panggil Rose yang membuat Adara mendongak.   Adara menghela nafas panjang ketika menyadari semua orang dalam ruangan itu sudah berdiri. Ia pun segera berdiri kemudian saling menjabat tangan. Adara terdiam, saat tangan lentiknya saling berjabatan dengan tangan besar Gabriel. Ia kemudian mendongak, menatap iris mata lelaki itu ketika merasakan genggaman tangan Gabriel yang terlalu erat.   “Mr. Tyrone silahkan ... .” ujar Rose setelah membukakan pintu ruangan tersebut.   Adara menghela nafas panjang seraya mengepalkan tangannya saat genggaman tangan Gabriel terlepas. Ia mengalihkan pandangan pada Rose kemudian mengerjapkan mata satu kali, tanda terimakasih atas pertolongan perempuan itu.   “Saya ingin ke toilet sebentar.” Pamit Adara setelah Gabriel dan Mix pergi meninggalkan ruangan meeting tersebut.   Adara melangkah lebar, menuju ujung lorong tempat dimana toilet untuk karyawan berada. Adara segera mencuci tangannya dengan sangat cepat, menggosoknya dengan keras seolah ia baru saja menyentuh kotoran. Iris matanya menajam, rahangnya mengatup, bibirnya mendesis, kesal, marah.   Mengapa harus Gabriel yang datang? Mengapa di saat ia ingin lelaki itu menghilang dia justru terus menerus datang, menghantui hidupnya? Mengapa tidak dulu saat ia menginginkan kehadiran lelaki itu? Mengapa?!   “HAH!!!” Dadaa Adara naik turun, menahan gejolak emosi yang terpendam. Setelah itu ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kembali, mengatur nafasnya yang memburu.   Adara diam, menatap ke arah bandul cincin yang melingkar di lehernya. Cincin yang terasa begitu mengikatnya hingga membuatnya selalu gagal untuk melupakan Gabriel. Setelah lama berdiam diri, ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi.   Tenangkan dirimu Adara. Gabriel sudah pergi.   Sekali lagi Adara melakukan hal itu sebelum kemudian berjalan ke arah pintu keluar.   Clek!   Deg!   Brak!   Adara menutup pintu itu kembali kemudian dengan cepat menguncinya.   Tok tok tok!   “Adara ... kita harus bicara.”   “Sudah kukatakan aku tak akan pernah mau berbicara denganmu lagi Gabriel. Pergi! Enyahlah dari kehidupanku!”   “Tidak. Aku tidak akan pergi sebelum kita bicara.”   “Terserah. Aku tidak peduli. Aku bisa memanggil petugas keamanan agar kau di usir dengan tidak hormat!”   “Adara ... .”   “Aku bilang pergi!!!”   . . .   Gabriel menarik nafas panjang dengan tangan yang masih menggantung di depan pintu. “Aku mohon.” ujar Gabriel dengan perlahan. “Aku hanya ingin meluruskan semuanya.”   Gabriel menoleh ke kiri ketika seseorang menyentuh pundaknya.   “Tak akan berhasil Mr. Tyrone, sebaiknya kita biarkan Ms. Rexford sendiri untuk sementara waktu.”   Gabriel mengalihkan pandangan ke arah pintu toilet itu kembali. Menatapnya dengan lamat seolah menatap langsung ke arah Adara.   “Baiklah jika memang ini maumu. Aku pergi. Kau bisa keluar.” Ujar Gabriel kemudian melenggang pergi meninggalkan tempat tersebut.   Gabriel menatap pantulan dirinya sendiri pada pintu lift, kemudian menyeringai. Sekalipun Adara memintanya untuk pergi jauh dan terus menerus menghindarinya. Ia tak akan pernah kehabisan akal, ia masih memiliki seribu satu cara agar bisa bertemu dengan perempuan itu.   “Mix.”   “Ya, Mr. Tyrone.”   “Aturkan pertemuanku dengan Mr. Rexford. Secepatnya.”   ***   “Gabriel benar-benar terobsesi pada Adara.” Ujar Sean. “Aku tidak menduga ternyata ada yang bisa mencintai gadis manja penuh kebusukan itu.” lanjutnya.   “Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Sekalipun seseorang tampak buruk di mata semua orang, tentu saja akan ada sesuatu hal yang mampu membuat orang lain terpesona.” Ujar Rose. “Dunia ini tak akan adil jika hanya ada pembenci, dan akan terlalu sunyi tanpa orang jahat. Jadi tentu saja ... segala sesuatu akan ada penyeimbangnya.”   Sean terkekeh kecil seraya melipat tangan didada, menatap ke arah Rose yang menanggapi ucapannya dengan begitu datar. “Kau ini sensitif sekali. Kau benar-benar cemburu aku membicarakan Adara?”   Rose menghembuskan nafas pelan kemudian mendongak, menatapnya dengan tenang. “Kau pikir aku berhak cemburu?”   Sean mengedikkan bahu.   “Sampai kapanpun aku tidak akan pernah cemburu Sean. Jangan terlalu percaya diri.”   “Jangan berbicara seolah hati dan perasaanmu sudah mati Rossean.”   “Kenyataannya memang seperti itu.”   Sean tersenyum masam setelah mendengar jawaban itu. Ia menghela nafas kembali dengan tatapan yang masih menatap Rose. “Menurutmu cara seperti apa yang paling efektif untuk merenggangkan hubungan mereka?”   “Kenapa? Kau menyukainya?”   Sean mendesis. “Kau gila? Tak mungkin aku menyukainya. Aku ... hanya tak ingin Adelia kembali bersedih jika tahu lelaki itu masih mengejar Adara.”   “Kejar Adara, dapatkan hati perempuan itu.”   Kening Sean mengerut. “Maksudmu aku mengejar gadis manja itu? Membuatnya mencintaiku?”   Rose mengangguk. “Jika dia mencintaimu, dia akan memilih hidup bersamamu. Gabriel tak akan bersama Adara. Jika seperti itu, Adelia memiliki peluang. Mudah kan?”   “Tidak. Aku tak sudi hidup dengannya.”   “Kau tak perlu benar-benar hidup dengannya, buat saja dia mencintaimu lalu kau campakkan. Apa susahnya?”   Sean menyeringai. “Kau benar Rose ... membuatnya mencintaiku lalu aku mencampakkannya. Membuat dia menyesal sekaligus membuatnya mendapat pelajaran! Kau memang paling bisa di andalkan Rose. Tak hanya urusan ranjangku saja.”   Rose mendelik ke arahnya. “Tak bisakah kau berhenti mengatakan tentang ranjang?”   “Tidak. Sudah tiga hari kau tidak memberiku jatah Rose. Jadi ... malam ini, aku menginginkannya.”   “Malam ini kau ada jadwal makan malam bersama keluarga besar Archilles.”   “Oh s**t! Kenapa kau selalu beralasan?”   Rose mengedikkan bahu.   “Salahkan jadwalmu yang padat Sean.”   ***   Adara menghela nafas lega begitu seluruh pekerjaannya selesai.  Ia senang, akhirnya setelah siksaan satu minggu penuh itu, hari ini untuk pertama kalinya seluruh pekerjaan selesai tepat waktu. Adara tersenyum lega seraya mematikan layar di depannya. Akan tetapi senyuman itu tidak berlangsung lama setelah ia melihat pintu ruangan Sean terbuka. Ia harus bersiap mendapatkan pekerjaan tambahan tidak manusiawi dari Singa menyebalkan itu.   “Adara pekerjaanmu selesai?” tanya Sean seraya tersenyum padanya.   Kening Adara mengerut. Heran dengan Sean yang mendadak baik. Apakah Singa jantan itu sedang kerasukan setan?   “Adara?”   “Ah? Ya ... semuanya sudah selesai Mr. Archilles.”   “Kerja bagus. Sekarang pulanglah, hati-hati di jalan.”   Kening Adara semakin mengerut, heran dengan kejadian yang tidak biasa ini. Adara memicingkan mata, menatap Sean dengan tatapan penuh curiga.   “Kenapa kau mendadak baik? biasanya kau akan memberikanku pekerjaan lagi saat semua kerjaanku selesai.”   Sean berdecak. “Kau ini maunya apa Adara? Ku berikan pekerjaan banyak kau mengeluh, aku tidak memberimu pekerjaan kau mengeluh juga. Kau ingin aku tambahkan pekerjaanmu lagi? sekarang?”   “Tidak! tidak. Terimakasih. Saya hari ini harus pulang cepat.”    “Ingin kuantar?”   “Aku membawa mobil sendiri. Terimakasih atas tawarannya. Sampai bertemu lagi besok Mr. Archilles.” ujar Adara, setelah itu dengan cepat meraih tas dan ponsel miliknya kemudian beranjak menuju lift khusus karyawan.   Adara menghembuskan nafas perlahan, lega setelah memasuki lift tersebut. Meskipun tingkah lelaki itu aneh tapi ia tak peduli ... yang terpenting sekarang ia bisa pulang dengan cepat.   Adara berkendara meninggalkan kantor dengan tenang, sepanjang jalan ia menyetir dengan menikmati lagu, sedikit bersenandung dan menjentikkan jari mengikuti irama lagu tersebut. Adara senang, ia bersyukur, setidaknya di harinya yang buruk ini ada sisa kebaikan dari Sean untuknya.   Begitu sampai Adara langsung memasukkan kendaraanya ke dalam garasi kemudian masuk melalui pintu belakang. Langsung ke arah dapur.   “Miss Adara sudah pulang?”   Adara mengangguk menjawab pertanyaan pelayan di rumahnya, lalu mengambil satu gelas air. “Kenapa memasak banyak sekali? Seperti ada pesta saja.”   Pelayan itu tersenyum tipis. “Mr. Rexford memiliki tamu jadi saya diminta menyiapkan banyak makanan Miss.”   Kening Adara mengerut. “Siapa? Kenapa Papa dan Mama tidak bilang?” tanya Adara kemudian meletakkan gelasnya. Setelah itu ia melangkah meninggalkan dapur menuju ruang tamu.   Adara terdiam menatap orangtuanya yang sedang bercengkrama dengan seseorang yang duduk memunggunginya.   “Adara kau sudah pulang? Kemari.” tanya Gloria.   Adara menyunggingkan senyumannya kemudian mengangguk kecil. Setelah itu berjalan mendekat.   Deg!   Mata Adara membola. Ia tertegun, jantungnya berdegup dengan kencang ketika iris matanya bertemu dengan obsidian lelaki itu.   Gabriel?   Kenapa dia ada di sini?    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN