“Sudah kukatakan aku akan melakukan apapun agar aku bisa berbicara denganmu Adara.”
Adara menghembuskan nafas perlahan, berusaha menahan diri untuk tidak terlalu emosi lagi. Ia hampir lupa, perusahaan keluarga Gabriel adalah perusahaan paling penting yang mendukung perusahaan keluarganya saat ini. Ia harus lebih menahan emosinya, ia tak boleh membuat masalah yang menimpanya berpengaruh pada bisnis keluarganya. Terlebih mereka sekarang berada di rumah, ia tak ingin orangtuanya mengetahui ‘hubungan’ rahasiannya ini dengan Gabriel. Ia tak ingin memperumit semuanya.
“Apa lagi yang ingin kau katakan Gabriel?”
“Banyak yang harus aku katakan padamu termasuk tentang Claretta. Aku—.”
“Aku tidak perlu tahu urusanmu Gabriel. Terserahmu sekalipun kau akan menikahinya sekarang. Aku tidak membutuhkan penjelasan apapun lagi darimu aku hanya ingin kau pergi menjauh dariku Gabriel ... sungguh. Aku sudah lelah. Sudah sangat lelah.”
“Kau sudah tak mencintaiku lagi Adara?”
Adara mendelik, melirik ke arah Gabriel dengan tajam. “Kenapa kau bertindak hingga sejauh ini?”
“Aku tanya, kau sudah tidak mencintaiku lagi Adara?”
Adara memalingkan wajah, menatap ke arah kolam renang. “Tidak.”
“Tatap aku dan jawablah dengan jujur.”
“Aku bilang tidak.”
“Tatap aku.”
Adara mengikuti keinginan Gabriel. Menatap lelaki itu tepat di iris matanya. “Tidak. Aku tidak mencintaimu lagi Gabriel. Aku tidak mencintaimu!”
Adara menahan nafas, dengan mata yang tak lepas dari iris mata Gabriel. Rahangnya mengatup, kedua tangannya terkepal dengan mata yang perlahan memburam, menahan sakit yang perlahan menikam hatinya. Setelah beberapa saat Adara berpaling seraya mengedipkan mata, bersamaan dengan itu pula setitik air matanya jatuh di kedua belah pipi.
Sungguh ... Adara tidak pernah merasa sesakit ini. Ia mencintai Gabriel, itu kenyataannya. Tapi ia tak ingin mencintai lelaki itu karena semuanya terlalu menyakitkan untuknya. Tiga tahun menahan perasaan dalam diam, satu tahun perasaannya serasa terbalas tanpa ada status yang jelas, lalu sekarang ... di saat ia ingin menyerah, dia kembali datang tanpa ada masa depan. Apa mau Gabriel? Kenapa Gabriel begitu kejam?
Adara menyeka air matanya dengan kasar kemudian menarik nafas panjang lagi lalu menghembuskannya dengan tenang. Hingga hening selama beberapa saat mulai tercipta. Hanya terdengar suara nafas berat Adara dan juga gemerincik air dari air mancur.
“Kau ingin aku tetap pergi?”
Tak ada jawaban dari Adara.
“Aku bisa tinggal ji—.”
“Pergilah. Biarkan aku hidup tenang Gabriel.”
Gabriel terdiam seraya menatap Adara yang masih menghindari tatapannya. Tak lama setelah itu ia menggeser tempat duduknya lebih dekat dengan Adara kemudian mengulurkan kedua tangannya, meraih wajah Adara setelah itu memiringkan wajah, meraup bibir Adara, menciumnya, melumatnya begitu dalam.
Adara tak melawan, tapi tak juga membalas ciuman itu. Ia hanya mematung di tempatnya. Bahkan membalas pelukan Gabriel pun tidak sama sekali.
Beberapa detik kemudian Gabriel menjauhkan wajahnya lagi, menatap Adara tepat di iris matanya. “Adara ... Selama aku masih bisa bernafas, selama jantungku masih berdetak, sekalipun kau mengusirku aku tak akan pernah pergi. Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi sampai aku bisa mendapatkanmu Adara. Sampai kita bisa bersama.”
“Cukup Gabriel cukup! Aku sungguh sangat lelah. Kau terus mengatakan seperti itu tapi kenyataannya mana? Kau tidak pernah melakukan apapun untukku! Kemana kau saat aku mencintaimu? Kemana kau saat aku membutuhkanmu? Kemana kau saat aku merindukanmu? Kemana Gabriel? Mengapa sekarang di saat aku ingin melepaskanmu kau datang? Kenapa kau justru mengikatku seperti ini?”
“Karena itulah dengarkan aku! aku bersumpah aku tidak pernah bermaksud mempermainkanmu Adara, sejak awal aku pun tertarik padamu tapi keadaannya sudah rumit karena itulah aku menjauh. Aku berusaha untuk membuatmu membenciku dan menjauhiku tapi yang terjadi aku yang merasa bersalah. Hatiku sakit melihatmu terluka, aku tak rela melihatmu menangis. Saat itulah aku sadar aku tak hanya kasihan, bukan hanya iba. Tapi aku mencintaimu dan tak ingin melukaimu Adara. Aku bersumpah ... hampir satu tahun aku menghilang aku sudah melakukan yang terbaik agar aku bisa lepas dari kerumitan ini dan datang untukmu. Tapi semuanya sudah terlalu rumit. Aku memiliki waktu lebih banyak. Bukan untuk membuang waktumu tapi untuk menyelesaikan masalah tanpa menyeretmu dalam masalah.”
Adara menatap Gabriel yang menjelaskan semuanya dengan berapi-api.
Gabriel menarik nafas panjang seraya meraih tangan Adara, menggenggamnya dengan erat. “Saat aku bertemu denganmu. Aku dan Claretta sudah bersama selama 5 tahun. Sejak remaja aku tahu aku akan dijodohkan dengan Claretta karena itulah aku memutuskan memintanya menjadi kekasih, karena aku berpikir ... aku tak ingin suatu hubungan yang di paksakan. Hubungan kami baik-baik saja, selayaknya pasangan biasa meskipun aku masih belum bisa mencintai Claretta sepenuhnya. Aku pikir itu bukan masalah besar, aku juga berpikir bahwa perasaan cintaku bisa saja tumbuh nanti saat aku sudah dewasa, sampai akhirnya aku bertemu denganmu dan untuk pertama kalinya aku merasa nyaman dan tertarik pada seseorang.”
“Saat itu aku bingung, tapi karena aku nyaman jadilah aku tetap di sampingmu, aku merasa tak masalah dekat denganmu karena kau pun tampak tidak tertarik padaku. Sampai pesta itu, pesta pertama saat kita tanpa sengaja bertemu. Malam itu tatapanmu lain dan saat itulah aku sadar kau mencintaiku Adara. Itulah alasan mengapa aku menjauh. Tapi ternyata tak mudah, hingga lambat laun aku menyadari bahwa aku pun mencintaimu.”
“Masalahnya ... Melepaskan Claretta tak mudah Adara ... bukan karena aku tak ingin, tapi karena ini menyangkut perusahaan keluargamu juga. Claretta adalah kesayangan Kakek, aku takut jika aku meninggalkannya untukmu. Kakek akan mencabut semua sahamnya di perushaaanmu dan membahayakanmu juga. Karena itulah aku membutuhkan waktu cukup lama sampai setidaknya aku memiliki kekuatan lebih untuk melawan Kakek. Sebenarnya, akan sangat mudah jika keluargamu tak ada sangkut pautnya dengan keluargaku, terutama Kakek. Tapi posisinya sekarang ... sulit Adara, aku sudah mempelajari semuanya dan percayalah ... aku sedang mencari jalan terbaik. Bukan pergi untuk meninggalkanmu, tapi pergi untuk sementara waktu demi menyelamatkan kita.”
“Hanya itu yang ingin kau katakan Gabriel?”
Gabriel mengangguk ragu. “Jadi Adara ak—.”
“Kalau begitu silahkan pergi.”
“Tapi Adara ... .”
“Aku sudah mendengarkanmu Gabriel. Aku rasa itu sudah cukup bukan?”
“Adara ... bukan begini yang ku mau.”
Adara melepaskan genggaman tangan Gabriel dengan cepat, lalu menunjuk ke arah pintu.
“Silahkan pergi.”
“Adara.”
Setelah itu Adara berdiri kemudian melangkahkan kakinya dengan lebar meninggalkan Gabriel, masuk ke dalam rumahnya lagi. mengabaikan panggilan-panggilan Gabriel dengan hati yang sakit dan juga sesak.
Mengapa ia mengetahui perasaannya terbalas di saat keadaan sudah serumit ini?
***
[WARNING!!!]
.
.
.
“Hn ah! Sean oh! Ya! There.”
Desahan tertahan terdengar erotis seiring dengan erangan dan suara basah dari inti kedua orang itu. Rose tak hentinya mendesah dengan kedua tangan yang mengeratkan pegangan pada ujung meja, menahan tumbukan keras yang semakin intens Sean lakukan.
“Rose ... buka matamu.” Tangan Sean merambat dari belakang ke arah dadanya, merematnya membermainkan tonjolan kecil di puncaknya sesaat sebelum beralih meraih wajahnya, membuatnya menoleh kemudian kembali berciuman basah. “Lihat ke arah cermin Rose, lihat bagaimana kejantananku keluar dan masuk, kau lihat tanganku. Aku akan membuatmu semakin melayang, menyentuhmu, di sini ... .”
Mata Rose membeliak, tak kuasa menahan seluruh rangsangan dari tangan dan juga kalimat kotor yang lelaki itu layangkan. Tubuhnya menunduk, menungging semakin tinggi, ketika kedua tangan Sean juga aktif mempermainkan tonjolan kecil pada kewanitaannya.
Kepala Rose menunduk menatap bagaimana inti mereka beradu, kemudian ia menggoyangkan pinggulnya, berharap benda keras tak bertulang itu semakin melesak, masuk ke dalam intinya.
“There! Oh! s**t! Sean ... kenapa kau begitu besar? Sean ... .” Rose bangkit, lalu menoleh kemudian mencium bibir Sean lagi, melampiaskan rasa nikmat yang begitu hebat.
“Oh s**t! Jangan kau ketatkan Rose. Ini menyiksaku.”
“Sean ... aku tak tahan... aku ... .” erangan keras keluar dari mulut Rose pertanda perempuan itu sudah sampai di titik puncaknya.
Akan tetapi hal itu tidak membuat Sean berhenti. Sean justru membalikkan tubuh Rose, mengangkat tubuh wanita itu ke atas meja riasnya, lalu menggempurnya lagi dengan mengangkat kedua tungkai kakinya ke atas bahu.
“Rose oh! Kenapa kau masih ketat saja? Kau benar-benar membuatku gila. Kau membuatku gila!”
Rose tak mampu menjawab, perempuan itu hanya membuka mulutnya, mendesah hebat merasakan sensasi nikmat yang kembali merasukinya. “Sean ... Oh! Sean. Kau bilang suka aku di atasmu. Sean please ... ah! Aku akan di atasmu, aku akan menggoyangkan pinggulku sampai kau puas. Sampai kau keluar berulang kali.” Ujar Rose di sela-sela desahannya.
Sean tersenyum. Rose memang partner terbaiknya. Kegiatannya dengan Rose sangatlah cocok, mereka sama-sama suka mengeluarkan kata-kata kotor dan memiliki imajinasi yang sama, entah itu posisi atau tempat mereka melakukannya.
Sean segera membawa tubuh Rose bangkit tanpa melepaskan penyatuan mereka. Setelah itu ia merebahkan diri, membiarkan Rose memiliki kendali.
Rose dengan ekspresi penuh kenikmatan adalah salah satu bagian terfavorite-nya. Sejak awal Rose tidak pernah berusaha menahan diri, selalu mengeluarkan apapun yang dia rasakan. Padahal ia adalah lelaki pertamanya. Rose bahkan tak sungkan meminta jika masih ingin.
Tangan Sean merambat, meraih kedua bulatan yang menggantung di depannya, memainkannya sesaat sebelum setengah bangkit meraihnya, meraupnya dengan bibir hingga membuat Rose semakin mengerang hebat.
“Rose ... aku akan sampai.” Ujar Sean kemudian membalikan posisi mereka kembali, membuatnya mengungkung Rose, mempercepat gerakannya hingga erangan penuh kenikmatan sama-sama terdengar.
Bruk!
Sean terjatuh di sisi Rose dengan nafas yang masih memburu.
“Sudah puas?” tanya Rose ditengah nafasnya yang juga masih tersengal. “Kau benar-benar memiliki kekuatan kuda atau bagaimana? Aku seperti habis maraton.”
“Tidak ada maraton yang terasa nikmat Rose dan asal kau tahu aku belum puas. Ayo bangun, kita harus membersihkan diri.”
“Membersihkan diri atau melanjutkannya di kamar mandi?”
“Both ... .” jawab Sean kemudian mengangkat tubuh Rose, membawanya ke kamar mandi. Setelah beberapa saat erangan dan desahan erotis itu kembali terdengar, penuh kenikmatan dan kepuasan.
.
.
.
Keesokan harinya ... Sean dan Rose sudah berada dalam kendaraan yang akan membawa mereka berangkat ke kantor. Seperti biasa Rose yang berada di balik kemudi sementara Sean sibuk dengan iPad di sampingnya. Sibuk masing-masing seolah diantara mereka tak pernah terjadi apapun.
“Anak buah kita mengatakan tak hanya mereka yang mengikuti Adara, Sean. Ternyata ada orang lain yang diam-diam mengintai Adara. Semalam bahkan orang-orang itu mencegah anak buah kita, mereka tidak membiarkan anak buah kita mengikuti Adara lagi.”
Sean mengalihkan pandangannya. “Mengintai Adara?” Setelah itu ia menyunggingkan senyumannya. “Mungkin lelaki sialan itu. siapa lagi yang sangat terobsesi dengan Adara?”
“Tapi aku tak peduli. Toh Adara ada di dekat kita. Lelaki itu tak akan bisa mendekati Adara lebih dekat lagi. Apalagi yang kudengar hubungan Gabriel dan Adara ternyata buruk. Aku akan lebih mudah merenggangkan mereka lagi.”
Rose mengangguk kecil. “Berhati-hatilah. Jangan pergi tanpa pengawasanku. Aku dengar Tyrone cukup berbahaya.”
Tak berselang lama kendaraan mereka sampai di area lobi perusahaan. Rose keluar lebih dulu kemudian membukakan pintu untuk Sean, lalu menyerahkan kunci mobil di tangannya pada seorang petugas valley.
“Selidiki lelaki itu lebih jauh Rose. Cari kelemahannya.” Desis Sean seraya melangkahkan kaki lebih cepat ke arah Adara yang sedang berdiri di depan lift khusus karyawan.
“Adara. Ikut aku.” ujar Sean seraya menarik lengan Adara ke arah lift khusus untuknya. “Kau bisa gunakan lift ini.” lanjut Sean.
Sean melirik Adara yang kini mengangguk kecil tanpa ada bantahan. Keningnya mengerut heran melihat sikap tenang Adara. Tumben sekali Adara tidak memberontak padanya? Padahal dulu Adara pasti menepis tangannya dengan cepat. Tapi kali ini. Lihatlah ... Adara bahkan tidak melepaskannya sama sekali.
Ada apa dengan Adara?