“Mr. Archilles ini dokumen yang anda minta, silahkan di periksa kembali. Apabila ada yang kurang akan segera saya perbaiki.” Ujar Adara seraya menyerahkan setumpuk dokumen pada Sean.
“Oke. Terimakasih.”
“Ada lagi yang bisa saya kerjakan Mr. Archilles?” tanya Adara.
Sean menatap Adara meneliti wajah perempuan itu sesaat kemudian menghembuskan nafas. Masih memikirkan ada apa dengan Adara? Sejak pagi hingga menjelang siang Adara tidak banyak berbicara, bahkan saat Rose mengantarkan banyak pekerjaan untuk Adara, tak ada umpatan yang ia dengar. Adara benar-benar tenang, lebih tenang daripada biasanya.
“Temani aku makan siang.” Ujar Sean, bermaksud memancing emosi Adara. Tapi ternyata Adara justru mengangguk kecil, tidak membantahnya.
“Baik Mr. Archilles. Apakah saya perlu melakukan reservasi?”
Kening Sean mengerut sesaat sebelum kembali berujar. “Tidak perlu, kita akan makan siang di restoran depan saja.”
“Baik Mr. Archilles. Kalau seperti itu ijinkan saya merapihkan meja dan mengambil barang saya terlebih dahulu. Permisi.” Ujar Adara kemudian beranjak pergi meninggalkan ruangan Sean.
Sean menatap punggung Adara yang menghilang di balik pintu seraya melipat kedua tangan didada. Masih heran dengan tingkah Adara yang terlewat sangat aneh.
“Kau merasa Adara berubah derastis Rose?”
“Dia seperti orang lain.”
“Kau benar ... ini sangat aneh.” Sean mengalihkan pandangannya pada Rose yang juga tampak membereskan mejanya.
“Mau kemana?”
“Aku harus menemui anak buahku sebentar, kami memiliki beberapa hal yang perlu di bicarakan terkait dengan Tyrone. Sementara itu aku sudah mengutus dua orang untuk mengikutimu. Sebelum makan siang berakhir aku pastikan aku sudah kembali.”
Sean hanya bergumam kecil menanggapi ucapan tersebut. Bertepatan dengan Rose yang keluar Adara masuk kembali dengan sebuah sling bag di bahu kanannya.
“Mr. Archilles. sudah waktunya makan siang.”
“Oh? Hm.”
Sean dan Adara berjalan beriringan, bahkan saat di dalam lift Adara berada satu langkah di belakang Sean. Sampai beberapa saat kemudian Sean mundur, berdiri sejajar dengan Adara. “Jangan berjalan di belakangku Adara. Berjalanlah di sampingku.”
“Saya hanya sekretaris, akan sangat tidak sopan jika saya berjalan di samping anda Mr. Archilles.”
Sean terdiam sesaat, sekalipun Adara tampak lebih tenang tapi ternyata perempuan itu masih memasang dinding pembatas yang begitu tinggi. Membuatnya sadar, untuk mendekati Adara harus menggunakan cara-cara yang lebih intens.
“Memang kenapa dengan sekretaris? Rose juga berjalan di sampingku, dan tak ada sesuatu di antara kami.” Ujar Sean. Ia kembali menatap Adara seraya menyeringai kecil. “Atau ... jangan bilang kau berpikir berjalan di sampingku itu seperti menjadi pasanganku?”
Adara menghela nafas kemudian menoleh ke arahnya. “Anda terlalu percaya diri Mr. Archilles. saya hanya tidak ingin orang lain menganggap saya kurang ajar.”
“Benarkah?”
“Memang apa lagi?” tanya balik Adara. “Atau ... jangan bilang anda yang berpikir untuk menjadikan saya pasangan anda, Mr. Archilles? Hm ... tapi anda membenci saya ... mungkinkah benci jadi cinta?” tanya Adara dengan suara mendayu khas seseorang menggoda setengah mengejek.
Sean maju satu langkah, membuat Adara semakin mendongak menatapnya. “Jika benar ... bagaimana? Kau setuju jadi pasanganku?”
Adara terkekeh kecil, beberapa saat kemudian lentik perempuan itu naik, menepuk-nepuk bahu juga dadanya beberapa kali sebelum meraih simpul dasinya, merapihkannya beberapa saat.
“Adara ... .”
“Tawaran anda ... sungguh menarik. Tapi pertama, anda harus mendapatkan hati saya.”
Ting!
Sean terkesiap saat melihat kerlingan mata Adara yang menatapnya seraya beranjak pergi penuh godaan, matanya membesar diiringi dengan desiran halus dan juga riak sensasi hangat yang mulai menantangnya.
Mata Sean mengerjap beberapa saat, kemudian melangkah dengan lebar keluar dari lift, mengejar Adara yang meninggalkannya, lalu meraih lengan ramping perempuan itu.
Adara menghentikan langkah kemudian menoleh ke arahnya lalu tersenyum simpul. Awalnya Sean pikir Adara akan menepis tangannya, tapi tanpa diduga ternyata Adara menggamit tangannya kemudian menariknya berjalan kembali menuju restoran depan kantor mereka.
Sean kembali menatap Adara heran beberapa saat. Apakah Adara benar-benar membiarkannya mendekat?
.
.
.
“Aku tidak mendengarmu mengumpat hari ini.” ujar Sean setelah mereka selesai membuat pesanan.
Adara tersenyum tipis. “Saya hanya merasa saya sudah terlalu kurang ajar pada anda selama satu minggu kemarin. Seharusnya saya tidak perlu mengeluh banyak hal karena semua yang terjadi pun atas kesalahan saya sendiri. Jadi sekarang ... saya hanya berusaha memperbaiki sikap saya saja.”
“Tidak perlu terlalu formal Adara. Kau bisa berbicara dengan santai padaku seperti yang Rose lakukan.”
Adara menatap Sean lalu menggeleng kecil. “Tidak perlu Mr. Archilles. saya akan terlihat lebih tidak tahu diri. apalagi anda jauh lebih tua daripada saya.”
“Bukankah kau sudah setuju aku akan mendekatimu? Bagaimana bisa kita bersama jika kau masih memberi jarak?”
“Ah ... begitu? Baiklah. Sean.”
“Terdengar lebih baik. Bagaimana kabar Gerald? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.”
“Seperti biasa, sibuk berbisnis. Gerald tidak pulang ke rumah jadi aku tidak tahu persis apa yang dia kerjakan.”
“Lalu kau hanya bertiga di rumah?”
Adara bergumam seraya mengangguk. “Seperti yang kau tahu, hanya ada aku, Mama dan Papa. Sepi, tidak seperti di rumahmu yang ramai.”
“Kau ingin mencoba makan malam di rumahku?”
Adara terkekeh kecil. “Adelia akan membunuhku.”
“Kalau begitu kau harus mengundangku makan malam di rumahmu.”
Adara menatapnya lagi kemudian tersenyum. “Kau bisa datang kapanpun Sean. Dulu kau selalu datang tanpa di undang bukan?”
Pesanan mereka datang, membuat percakapan keduanya terhenti.
“Aku akan lebih senang jika di undang, terdengar lebih spesial.” Ujar Sean lagi seraya memotong steak miliknya.
“Baiklah, aku akan melakukannya. Selamat makan Sean.” Ujar Adara sebelum menyantap makanannya.
Hening kembali tercipta, keduanya hanya menikmati makanan masing-masing dalam diam, sampai tiba-tiba Adara menegakkan tubuh seraya mengulurkan tangan.
“Ada apa?” tanya Sean.
“Kemari.”
Sean mendekatkan wajahnya, bertepatan dengan itu Adara mengusap ujung bibirnya dengan ibu jari, setelah itu Adara menjilatnya.
Oh s**t! Gerakan Adara tampak seperti slow motion di depannya, terlihat begitu erotis dan gerakan bibir tipis itu tampak begitu menggoda.
“Kau menggodaku?”
Adara terkekeh kecil. “Untuk apa menggodamu? Tanpa ku goda juga kau sudah tergoda bukan?”
Sean pun ikut terkekeh kecil, setelah itu menatap Adara dengan intens. “Kau benar ... ternyata kau lebih menarik daripada yang kubayangkan.”
***
Seharian penuh Gabriel sibuk dengan setumpuk dokumen di meja kerjanya. Memeriksa berbagai laporan dan juga memeriksa banyak hal lain yang harus segera ia selesaikan. Setelah pertemuannya dengan Adara dan kejujuran yang ia katakan pada perempuan itu, tak ada kemajuan dalam hubungan mereka. Adara tetap sama, Adara tetap tidak bisa dihubungi atau pun di temui lagi.
Tidakkah cukup penjelasannya kemarin? Apakah masih ada yang kurang? Atau ... apakah ia melakukan kesalahan lain?
Tok tok tok!
Gabriel mendongak menatap ke arah pintu masuk.
“Ada apa Mix?”
“Mr. Tyrone saya mendapatkan laporan terbaru tentang Miss Adara.”
“Katakan.”
“Sepertinya Mr. Archilles mulai mendekati Miss Adara. Ini ... anda bisa melihatnya sendiri.” ujar Mix lagi kemudian memberikan benda pipih ditangannya yang memperlihatkan beberapa potret Adara dan Sean yang sedang makan bersama juga bercengkrama dengan begitu akrab, dalam potret itu bahkan ia melihat bagaimana Adara merapihkan pakaian Sean dan juga saat Sean merangkul pinggang Adara ketika menyebrangi jalan.
“Tidak mungkin Sean tiba-tiba tertarik Adara! b******n itu sangat membenci Adara, tidak mungkin tiba-tiba berubah seperti ini. Aku yakin Sean pasti memiliki tujuan jahat. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu Mix.”
“Saya pun berpikir demikian karena itulah saya segera melaporkannya pada anda.”
“Terus awasi mereka. Segera laporkan apapun jika Sean semakin mendekati Adara.”
Clek!
Gabriel dan Mix mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk yang tiba-tiba terbuka. Tiba-tiba bola mata Gabriel membesar saat melihat sosok perempuan yang sangat ia kenali berdiri di ambang pintu seraya tersenyum ke arahnya.
“Claretta ... .”
“Hi ... Gabriel.”
Gabriel bangkit dari tempat duduknya, sementara itu Mix beranjak.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini?”
Perempuan itu melangkah mendekat seraya tersenyum dengan begitu tenang. “Tentu saja mengunjungimu Gabriel. Aku juga ingin memberimu kabar bahwa mulai sekarang aku akan tinggal bersamamu. Karena aku sudah mulai bekerja di rumah sakit mulai minggu depan.”
“Kenapa di sini? Bukankah kau bilang akan bekerja di Florida agar tak jauh dari orangtuamu?”
Claretta tersenyum simpul. “Kakek yang memintaku karena kau pun bekerja di sini. Tentu saja aku pun harus bekerja di sini sesuai saran Kakek. Bukankah begitu?”
Gabriel menghembuskan nafasnya lagi kemudian membalas senyuman itu. “Kau benar, Kakek memang memilih langkah terbaik.”
“Kalau begitu sebelum aku benar-benar bekerja aku ingin menghabiskan waktu denganmu. Ayo kita jalan-jalan.” Ujar Claretta seraya menarik tangannya.
Gabriel menghembuskan nafas perlahan kemudian mengangguk kecil. “Yasudah, tunggu di sini aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu.” ujar Gabriel kemudian melangkah ke arah meja kerjanya lagi. Dalam hati Gabriel mengerang kesal, kepalanya mendadak pening setelah melihat eksistensi perempuan itu. Di saat hubungannya dan Adara tidak ada perbaikan, mengapa Claretta harus datang? Tidak bisakah dia tetap diam dan memberinya sedikit ruang untuk bernafas? Kenapa dia harus datang sekarang?
***
Adara keluar dari dalam kendaraannya ketika mobil berwarna merah itu tak juga menyala. Ia mengerang kesal kemudian mendengus. “Kau ini kenapa sih? Mau ku buang atau bagaimana?”
“Ada apa Adara? Kenapa kau mengomel sendiri?”
Adara menoleh kemudian menghembuskan nafas perlahan saat melihat Sean berdiri di belakangnya. “Sepertinya aku lupa belum melakukan perawatan pada mobilku. Jadi dia mogok.”
“Tinggalkan saja di sini, biarkan aku memanggil montir dari bengkel langgananku agar mereka memperbaikinya. Sementara itu pulanglah bersamaku. Biar aku akan mengantarkanmu.”
Adara menggeleng kecil. “Tidak perlu Sean, aku bisa memanggil taksi. Kau pun pasti lelah setelah seharian bekerja. Kau juga harus segera pulang.”
Sean terkekeh pelan. “Perhatian sekali. Tapi aku akan lebih khawatir jika kau pulang sendiri. Aku mohon jangan menolak ... .”
Adara melirik ke arah mobil Sean lalu menatap ke arah Rose juga Sean secara bergantian. “Tapi mobilmu hanya untuk berdua. Bagaimana dengan Rose?”
“Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Aku bisa meminjam mobil perusahaan.” ujar Rose. “Pulanglah bersama Sean. Aku pun akan khawatir jika kau pulang sendiri.” lanjutnya.
“Kau tak apa pulang sendiri?” tanya Adara pada Rose.
Rose justru tertawa renyah. “Kau bertanya begitu padaku? Kau bercanda Adara? Aku bahkan yang menjaga Sean. Tentu saja walaupun aku sendiri aku akan baik-baik saja. Jadi ... kau bisa tenang. Pulanglah bersama Sean.”
Adara mengangguk kecil. “Baiklah kalau begitu. Kau tak keberatan mengantarku?”
“Bukankah tadi aku yang memberi tawaran?” tanya Sean lalu menepuk-nepuk lengan Adara. “Tak perlu sungkan. Ayo.”
.
.
.
“Rose benar-benar bodyguard-mu Sean?” tanya Adara membuka pembicaraan.
“Benar, lebih tepatnya dia salah satu yang terbaik. Selain skill beladiri, dia juga pintar karena itulah dia menjadi asisten pribadiku.”
“Ternyata kau lelaki yang banyak memuji.”
Sean tergelak kemudian meliriknya sesaat. “Kau terdengar cemburu.”
“Aku tidak. Aku hanya terkejut. Kau tampak dingin dan kejam, tapi ternyata ada sisi seperti itu juga.”
“Tak hanya memuji, aku juga pintar dalam hal lain.” ujar Sean seraya menaikkan satu alisnya.
“Hal lain? Merayu?”
Sean kembali tergelak. “Ada lagi yang lain.”
“Apa itu?”
Sean menghentikan kendaraannya saat lampu lalu lintas berwarna merah. Lelaki itu menoleh, menghadap ke arahnya lalu menyeringai. “Meluluhkan hati perempuan.”
Adara menyunggingkan senyumannya, lalu mengalihkan pandangan membalas tatapan Sean.
Deg!
Adara tertegun. Jantungnya serasa berhenti ketika pandangannya justru bertemu tatap dengan Gabriel yang sedang berhadapan dengan seorang perempuan di dalam mobil tepat di samping mobil Sean. Keduanya saling memiringkan wajah, begitu dekat bahkan tampak begitu intim.
Rahang Adara mengatup, kedua tangannya mengepal ketika menyadari Gabriel tengah berciuman tepat di depan matanya.
“Aku mencintaimu Adara. Sungguh.”
Cinta? Adara tersenyum masam. Sepertinya sejak awal ia memang tak perlu mempercayai cinta yang lelaki itu katakan.
“Adara?” panggil Sean.
Adara mengalihkan pandangannya ke arah Sean, lalu tersenyum seraya mengalungkan kedua tangannya di bahu lelaki itu.
“Kau harus tahu Sean ... .” Adara mendekatkan wajahnya ke arah telinga Sean, lalu berbisik dengan seduktif. “Aku pun ... pandai meluluhkan hati laki-laki.” Ujarnya seraya menatap tajam ke arah Gabriel yang juga tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
Adara menyeringai.
Gabriel ... jangan berpikir hanya kau yang bisa mempermainkan perasaanku. Karena aku pun bisa, aku bahkan bisa lebih mempermainkan perasaanmu.