Chapter 7

1686 Kata
“Mr. Tyrone ada kiriman untuk anda.”   Gabriel mengerutkan kening kemudian mendongak menatap ke arah Mix yang datang dengan membawa sebuah kotak kecil di tangan kanannya.   “Dari?”   “Sean Archilles.”   Gabriel meraih kotak berwarna coklat itu kemudian membuka penutupnya dengan cepat.   Deg!   Gabriel terkesiap, jantungnya serasa terjatuh hingga ke perut, terkejut melihat sebuah kalung juga cincin dalam kotak tersebut. Dua buah benda yang ia berikan pada Adara.   Rahang Gabriel mengatup, tatapan matanya pun mulai menajam setelah melihat isi sebuah note yang berada di bagian bawah tutup kotak tersebut.   ...   Kau bisa dengan mudah membodohi Adara. Tapi tidak denganku ... Mr. Tyrone. Ku kembalikan benda ini padamu. Bukan karena keinginan atau paksaanku Tapi karena Adara tak ingin melihat benda itu lagi. Lupakan Adara, jauhi dia. Adara sekarang hanya milikku.   ...     Kedua tangan Gabriel meremat kotak itu hingga rusak. Ia menggeram, mengerang kecil menahan marah yang bersarang dalam dadanya.   Sean ... kau benar-benar ingin berperang denganku?   ***   Beberapa hari berlalu, beberapa hari itu pula kedekatan Sean dan Adara terjalin. Di luar tak tampak keduanya tengah menabuh genderang perang, berada dalam sebuah permainan hati penuh dendam, keduanya justru tampak manis, layaknya pasangan pada umumnya hingga mulai menjadi perbincangan seluruh warga kantor. Ada yang menentang, sebab lebih menyukai sang atasan dengan asistennya, Rose. Ada pula yang mendukung dan menganggap bahwa Sean dan Adara adalah pasangan yang lebih serasi.   Hal itu pun mulai santer terdengar oleh ketiganya, namun baik Sean, Adara maupun Rose tidak menanggapi pendapat warga kantor. Mereka tetap menjalani semuanya dengan santai tanpa terganggu sama sekali. Sean dan Adara justru terlihat lebih dekat, keduanya tak sungkan lagi saling menggoda, tertawa bersama hingga Adara sering sekali membantu Sean merapihkan simpul dasi. Satu pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan Rose.   Selama itu pula Sean sering memperhatikan Adara yang mengenakan kalung berbandul cincin yang tidak pernah Adara lepaskan. Bahkan ketika aksesoris lain berganti, kalung itu tidak sama sekali pernah tanggal dari leher Adara. Sampai suatu waktu ketika keduanya memutuskan fine dining di salah satu restoran milik Archilles, barulah Sean mulai mengorek informasi mengenai benda itu.   “Ku lihat kau tidak pernah melepaskan kalung itu Adara. Sepertinya benda itu sangat berharga untukmu.” Komentar Sean ditengah menikmati satu gelas wine di tangannya.   Adara terkekeh masam. “Berharga? Tidak sama sekali. Jika bisa aku justru ingin membuangnya.”   “Lalu kenapa tidak kau melepaskannya saja?”   “Jika aku bisa melepaskannya aku sudah melakukannya Sean. Aku bahkan berulang kali berusaha membuat kalung ini putus, tapi usahaku gagal.”   Sean terkekeh kecil. “Percuma saja, kalungmu memang di design untuk tidak bisa putus, teknologi yang ada pada kalungmu sangatlah tinggi. Bahkan seseorang bisa melacak keberadaanmu dengan kalung itu.”   Adara menatap Sean dengan mata membola, raut wajah kesal penuh amarah tampak begitu tampak, terlihat sangat kentara pada wajah cantik itu. “Apa kau bilang?”   “Kalung itu di design TY Group bukan? Perusahaanku juga sedang mengembangkan produk serupa tapi dengan teknologi yang lebih bagus.”   “Sean ... kalau begitu kau bisa melepaskannya?”   “Tentu saja.” Sean menegakkan posisi duduknya, menghadap Adara. “Kau ingin melepaskannya? Aku bisa membantumu jika kau ingin.”   Adara mengangguk dengan tegas. “Tolong lepaskan Sean. Aku sudah muak memakainya. Aku ingin membuang benda ini sekarang juga.”   Sean tersenyum kemudian bangkit dari tempat duduknya, berjalan ke arah punggung Adara kemudian menyampirkan rambut yang terurai itu. di bahu kiri Adara. Sean meraih sambungan dari kalung tersebut, tampak menggunakan kode tapi sebenarnya itu hanyalah ilusi, ia bisa melepaskannya dengan mudah, hanya dengan menekan permata berwarna merah yang berada di sambungan yang tampak seperti kode itu.   Lepas.   ...   Adara memejamkan mata, mengatur nafasnya beberapa saat, lalu membuka iris matanya lagi ketika rasa sesak yang berada dalam dadanya ikut terangkat bersama dengan benda itu lepas, menjauh dari tubuhnya. Adara menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi sebelum mendongak menatap Sean yang tampak memperhatikan kalung dan bandul cincin tersebut.   “Sepertinya ... Gabriel sangat mencintaimu Adara. Dia benar-benar mengikatmu, tak membiarkanmu lepas darinya. Kau benar-benar hebat Adara, seorang pewaris Tyrone saja bisa bertekuk lutut dibawah kakimu.”   Adara tersenyum masam. “Bukan sesuatu yang bisa kubanggakan. Berikan padaku, aku akan membuangnya.”   “Biarkan ku serahkan kembali benda ini pada Gabriel.”   Adara mengerutkan keningnya. “Kenapa harus kau?”   “Agar dia merasakan luka yang kau rasakan Adara.” Sean menunduk, mendekatkan wajah ke arah wajahnya. Beberapa saat kemudian tangan Sean naik membelai wajahnya dengan iris mata yang saling bertatapan. “Tatapan matamu saat menatapnya terlihat penuh luka Adara. Sekarang saatnya ... kau membalas rasa sakit hatimu, dan dengan mengembalikan benda ini ... aku yakin dia akan lebih terluka.”   Adara mematung, ia masih diam dengan iris mata yang terkunci pada iris mata Sean yang menatapnya penuh keyakinan.   “Adara ... ingat. Kau tak bisa selamanya terkunci dalam rasa sakit. Kau pun pantas bahagia. Lupakan dia dan mulalah hidup dengan orang baru.”   Adara menahan nafas kemudian mengangguk penuh keyakinan. “Kau benar, aku pantas bahagia dengan orang lain.”   Sean tersenyum puas. “Jadi biarkan aku serahkan benda ini padanya.”   Adara mengangguk lagi, menyetujui saran lelaki itu.   ***   Pagi itu di kediaman keluarga Archilles begitu ramai seperti biasanya. Ruang makan dengan dua meja besar penuh di isi oleh semua orang yang tinggal di mansion itu. Dari mulai anggota keluarga inti, pengawal utama dan beberapa pengawal yang sedang tidak berjaga bergantian mengambil tempat untuk sarapan. Rutinitas yang bisa mereka lakukan sejak lama.   “Pa, Ma ... aku berangkat sekarang.” Pamit Sean sebelum beranjak pergi setelah pakaiannya di rapihkan oleh Allena, perempuan cantik setengah baya yang merupakan ibu dari lelaki itu.   “Hati-hati.” Ujar Allena. “Rose siapa yang bersama Sean pagi ini?”   “Andy dan Al. Mereka berdua sudah bersiap di depan Mrs. Archilles.” jelas Rose yang juga sudah berdiri bersiap berangkat ke kantor.   “Rose, kenapa kau tidak berangkat bersama Sean?” Tanya Adelia. “Aneh sekali padahal biasanya kalian berangkat bersama tapi hampir satu minggu ini kalian selalu menggunakan kendaraan yang berbeda.” Lanjut Adelia.   “Mister Sean memiliki kepentingan pribadi Miss Adelia, sementara itu saya akan berangkat ke project pembangunan apartemen di pinggir kota terlebih dulu. Jadi kami tidak memiliki tujuan yang sama.”   “Rose. Duduk dulu.” Kali ini Allena yang berbicara. Rose pun terpaksa duduk kembali di hadapan keluarga inti Archilles.   “Apa mungkin Sean memiliki kekasih? Atau seseorang yang sedang dia sukai?” tanya Allena.   “Mister Sean memang sedang dekat dengan seseorang. Tapi ini bukan ranah saya untuk menjelaskan hal tersebut lebih jauh lagi Mrs. Archilles. Mungkin hanya itu yang saat ini dapat saya katakan.”   “Jadi benar Sean memiliki kekasih?”   Rose tersenyum tipis. “Maaf Mrs. Archilles, saya tidak bisa menjelaskannya lebih lanjut.”   “Padahal kau bisa katakan apapun pada kami Rose. Sean tak akan marah.” Kali ini Jason—ayah Sean yang mengeluarkan pendapat.   “Maafkan saya Mr. Archilles. Saya tidak bisa mengatakannya. Sekali lagi maafkan saya Mr. Archilles.”   Jason terkekeh kecil. “Kau sangat setia.” Komentarnya.   Rose tersenyum lagi. “Kalau begitu saya pamit undur diri sekarang juga, saya akan terlambat.”   “Pergilah. Hati-hati dijalannya Rose.” Pesan Allena.   Rose mengangguk kemudian membungkuk sesaat sebelum beranjak pergi dengan membawa beberapa dokumen di tangannya. Rose beranjak menuju garasi kemudian membuka pintu salah satu mobil yang berada di tempat tersebut.   Namun baru saja ia hendak memasuki kendaraan, seseorang mencegahnya lagi—Adelia. Adik kesayangan Sean.   “Rose. Katakan padaku. Siapa yang sedang Sean dekati?”   Rose kembali tersenyum seraya mengurai genggaman tangan Adelia di lengannya. “Seperti yang saya katakan sebelumnya Miss. Saya tidak bisa mengatakan apapun Miss Adelia. Permisi.”   “Rose!”   “Miss saya akan terlambat.”   “Rose bukankah kalian sudah menjalin hubungan sejak lama? Apa kau tidak merasa cemburu jika Sean bersama perempuan lain? Kalian berdua bahkan sudah berbagi ranjang yang sama. Kau rela Sean bersama perempuan lain? Kau akan sanggup melihatnya?”   Rose menahan nafas sesaat sebelum menghembuskannya secara perlahan kemudian menatap wajah Adelia dengan tatapan dinginnya. “Tidak ada tempat bagi saya untuk merasa cemburu Miss Adelia. Bagi kami berbagi ranjang hanya bagian dari kesenangan, berbagi kehangatan dan saling memuaskan, tidak lebih dari itu.”   Adelia menyeringai seraya menatap Rose dengan kedua tangan terlipat di d**a. “Kau yakin?”   “Tidak pernah ada sedikitpun keraguan dalam hati saya.”   Adelia terkekeh pelan. “Kau ini serius sekali Rose. Tapi sayang sekali kau berpikir begitu. Padahal aku sangat berharap perempuan cerdas sepertimu bisa bersama Sean, aku pikir kalian akan cocok.” Adelia tersenyum simpul. “Rose ... Jika kau menyukainya dan kalian memutuskan untuk bersama. Aku akan menjadi orang pertama yang merestui hubungan kalian.”   Rose terdiam beberapa saat dengan iris mata yang bertemu langsung dengan iris mata Adelia yang menatapnya penuh harap. Setelah beberapa saat ia menghembuskan nafas kembali.   “Hal itu tidak akan pernah terjadi Miss Adelia. Maafkan saya.”   “Kenapa? Karena Sean sedang dekat dengan perempuan lain? Memang perempuan seperti apa yang sedang dekat dengan Sean?”   Ponsel Rose berdering memotong percakapan mereka.   Adelia diam menatap Rose yang sedang membicarakan pekerjaannya. Ia masih berharap Rose bisa menjelaskan lebih jauh tentang Sean. Terutama tentang perempuan yang sedang Sean incar. Namun bukannya percakapan mereka berlanjut, Rose justru berpamitan untuk pergi karena sudah di tunggu oleh beberapa kolega bisnis.   Adelia menghembuskan nafasnya perlahan. “Memangnya perempuan seperti apa yang sedang Sean dekati?” ujarnya kemudian beranjak mendekat ke arah seorang lelaki bertubuh tinggi tegap yang berdiri tak jauh darinya. Dia Gun, pengawal pribadinya.     “Gun cari tahu tentang perempuan yang sedang Sean dekati. Laporkan padaku segera.”   “Baik Miss.”   Adelia menghembuskan nafasnya perlahan, membuang perasaan buruk yang tiba-tiba menyergap isi hatinya setelah membicarakan Sean. Bertahun-tahun Sean tidak memiliki kekasih hingga ia berpikir Sean pada akhirnya akan bersama dengan Rose, dan sekarang Sean sedang mendekati perempuan lain.   Tapi bukan karena itu yang membuat perasaannya buruk, bukan pula karena ia sangat mengharapkan Sean bersama Rose. Tapi ia merasa ada yang tidak beres dengan perempuan yang sedang di dekati Sean. Ia merasa ada sesuatu yang janggal. Terlebih Rose sangat merahasiakannya.   Siapa dia?   Aku harus memastikan perempuan yang bersama Sean benar-benar pantas.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN