Adara menatap kosong ke arah bayangan dirinya sendiri di dalam cermin. Iris matanya bergulir mengamati penampilannya beberapa saat sebelum iris matanya kembali terkunci, termenung ketika melihat lehernya yang kini kosong, serasa begitu hampa setelah kalung yang menemaninya hampir empat bulan ini menghilang.
Kalung yang selalu menemaninya menangis, meratap dan juga merindukan sosok Gabriel. Sebuah benda cantik yang dulu paling ia benci dan paling ingin ia musnahkan dari kehidupannya, namun sekarang ... benda yang ia anggap benda terkutuk itu justru menjadi salah satu benda yang sangat ia rindukan.
Kalung itu menghilang ... kini tidak ada lagi yang menghantui dirinya. Akan tetapi bersamaan dengan hilangnya kalung itu, ia justru merasa separuh hatinya pun ikut menghilang. Ia merasa separuh jiwanya pun tiada. Membuat perasaannya semakin merana, membuat hatinya semakin berdenyut, menyadari bahwa kali ini mungkin ... ia akan benar-benar kehilangan Gabriel.
Mengapa rasanya begitu sakit? Bukankah seharusnya ia senang sudah bisa lepas dari Gabriel? Bukankah seharusnya ia merasa bahagia? tapi mengapa ia justru merasa semakin merindukan Gabriel? Mengapa ia semakin menginginkan lelaki itu?
Apa yang salah dengannya?
Tok tok tok!
Adara terjengit, ia menatap ke arah pintu masuk dari cermin. Ternyata Ibunya yang masuk, Gloria.
“Ma ... .”
Gloria tersenyum lembut kemudian berjalan ke arahnya, membalikkan tubuhnya lalu menepuk-nepuk pakaiannya sesaat sebelum menatap ke arahnya lagi dengan senyuman yang tak hilang.
“Are you ok darling?”
Adara membasahi bibirnya sesaat lalu menghembuskan nafasnya. “I’m not.”
Sebuah pelukan Adara dapatkan. Gloria memeluknya dengan erat, mengelus punggungnya dan belakang kepalanya secara bergantian dengan begitu lembut.
“Adara ... kau ingat tidak cerita tentang pertemuan Papa dan Mama?” tanya Gloria seraya menguraikan pelukannya.
Adara mengangguk kecil saat mengingat perjalanan cinta orangtuanya.
“Kehidupan Mama memang tidak serumit kehidupanmu sayang ... tapi kau harus ingat, berdamai dengan diri sendiri adalah hal yang paling penting. Keras kepala dan hanya memikirkan dirimu sendiri tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kau juga harus tahu ... memberikan kesempatan untuk seseorang itu perlu, karena semua manusia sama ... tak luput dari kesalahan.”
Adara menghela nafas panjang kemudian mengangguk kecil. “Adara mengerti Ma ... Adara tahu ... tapi justru karena Adara tak ingin keras kepala lagi maka dari itu Adara lebih memilih melepaskan. Adara perempuan ... dia juga perempuan Ma ... jika Adara mengambil lelaki itu, dia pasti juga pasti terluka, sakit Ma. Sama sakitnya dengan semua yang Adara rasakan saat ini.”
“Gabriel?”
Adara menoleh ke arah Gloria lagi. “Ma ... .”
“Gabriel sudah menceritakan semuanya dan juga meminta maaf pada Mama dan Papa.” Gloria menghela nafas lalu membelai wajah Adara sesaat. “Mama senang jika kau berpikir kau tidak ingin menyakiti Claretta, Adara. Mama bangga padamu. Tapi Adara ... jika kau tidak benar-benar memaafkan Gabriel setelah semua yang dia lakukan, sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa melepaskannya. Jika kau tidak memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, kau hanya akan terus seperti ini. Berdamailah pada diri sendiri Adara ... Jika memang kau ingin melepaskan Gabriel. Maafkanlah dia atas semua yang telah dia lakukan padamu.”
“Empat tahun Ma. Empat tahun Adara tanpa penjelasan, tiga tahun Adara cinta sepihak, satu tahun Adara di beri harapan palsu. Apakah tidak wajar Adara masih membencinya? Apakah Adara tidak boleh masih sakit hati karena hal itu?”
“Mama tidak berpikir kau salah sayang ... Mama hanya memintamu untuk berdamai pada diri sendiri agar kau bisa melupakannya, bukan mendendam.” Gloria menatapnya dengan tatapan lembut.
Adara meneguk ludahnya kasar. Gugup. Bagaimana ibunya tahu ia sedang membalaskan dendam pada Gabriel?
Gloria tersenyum simpul kemudian mengelus wajahnya. “Memberi kesempatan bukan berarti untuk menjadikannya kekasih Adara. Kau bisa berteman dengannya agar luka dalam hatimu segera sembuh.” Gloria mengelus surainya sesaat. “Saatnya berangkat kerja sayang. Sean sudah ada di bawah, menjemputmu.”
Adara mengangguk kecil kemudian beranjak setelah mengambil sling bag miliknya. Tidak membalas ucapan sang ibu sama sekali. Lubuk hati terdalamnya Adara membenarkan tentang ucapan itu. Namun sayang logikanya menolak. Ia tetap akan berada di jalan yang ia pilih. Membalaskan dendam sakit hatinya sekalipun hatinya ikut terluka karena perbuatannya sendiri.
Maafkan Adara Ma.
Adara keluar dari kamarnya menuju ruang tamu, tempat dimana Sean biasanya menunggu. “Sean ayo. Maaf ya lama.”
“Sarapan dulu.” ujar Jackson.
Adara menggeleng kecil. “Tidak perlu Pa ... Adara sarapan diluar saja nanti bersama Sean. Kami sudah berjanji akan sarapan bersama di kantin kantor. Benarkan?”
Sean tersenyum kemudian mengangguk kecil. “Benar Mr. Rexford. Kami akan sarapan bersama nanti. kalau begitu mohon ijin kami pamit.”
“Adara berangkat Pa.” ujar Adara seraya memeluk dan mencium Jackson sesaat sebelum beralih ke arah Gloria. Setelah itu ia beranjak pergi bersama dengan Sean secara berdampingan.
Gloria menghela nafas panjang seraya menatap punggung Adara yang mulai menjauh.
“Jackson ... apa dulu aku sangat keras kepala? Kenapa sulit sekali untuk mengingatkan Adara?”
Jackson terkekeh kecil. “Kau menolakku sampai tiga kali Glory, jika kau lupa.”
Gloria menghela nafas panjang, menyesal ketika mengingat hal itu. Kenapa dulu ia harus sekeras kepala itu?
“Sepertinya Adara memang sepertiku.”
.
.
.
“Kenapa tumben lama sekali tadi?” tanya Sean setelah mereka memasuki kendaraan milik Sean. Sebuah mobil sport keluaran terbaru.
Adara menarik ujung bibirnya. “Tadi ada sedikit yang Mama bicarakan. Biasa pembicaraan Ibu dan anak perempuan. Rahasia perempuan.” Lanjut Adara diiringi kekehan kecil.
“Kau ini. Oh ya ... pejamkan matamu Adara.”
Kening Adara mengerut, menatap Sean dengan tatapan curiga. “Untuk apa?”
“Pejamkan matamu sebentar. Tenang saja, aku bukan pria b******k yang akan mencari kesempatan. Aku hanya mencium seseorang yang ingin.”
Adara mendesis. “Aku tidak berpikir begitu.” Ujarnya seraya memejamkan mata. “Cepat atau kita akan terlambat.”
“Tidak sabaran. Bukalah.”
Adara membuka matanya kembali, tepat dihadapannya saat ini Sean tengah membuka sebuah kotak bludru berwarna hitam dengan sebuah kalung berbandul berlian di tangan kanannya.
Mata Adara mengerjap perlahan. “Sean ... apa ini?”
“Hadiah. Aku sengaja mendesainnya khusus untukmu. Kau suka?”
Adara terkekeh kecil. “Kau benar-benar berniat meluluhkan hatiku Sean?”
“Aku sudah mengatakannya sejak awal Adara.”
Adara menyunggingkan seyumannya. “Baiklah aku terima.”
Sean tersenyum kecil lalu mengambil kalung itu yang kemudian dipasangkan pada leher Adara.
“Cantik.” Ujar Adara sesaat setelah melihat bayangan dirinya dalam spion. “Bukan tanpa alasan kau di sebut seorang pebisnis berlian yang sukses Sean.”
“Kau terlalu banyak memuji. Kau tahu ... kalungnya tampak cantik karena apa?”
“Apa?”
“Karena kau yang sangat cantik.”
Adara memalingkan wajah seraya terkekeh kecil. “Kau benar-benar perayu ulung Sean. Sudahlah ... ayo. Kita akan terlambat Sean.”
Sean berkendara dengan tenang seperti yang biasanya ia lakukan. Sepanjang perjalanan pun tak ada kata hening, keduanya seolah tak kehabisan topik pembicaraan. Dari mulai membicarakan bisnis, membicarakan kehidupan pribadi mereka.
Sean tergelak saat mendengar cerita Adara tentang seorang karyawan yang menjatuhkan ponsel hanya karena melihat mereka berdua di lift karyawan kemarin.
“Padahal aku hanya sedang mengecek untuk kenyamanan mereka sendiri. mereka melihatku seperti melihat hantu.” Ujar Sean masih dengan gelak tawa yang tersisa.
“Sean ... perasaanku saja atau sejak kita dekat ternyata kau banyak sekali tertawa dan tersenyum?”
Sean terdiam, ia menghentikan tawanya sesaat sebelum menghela nafas panjang. ia kemudian menleh ke arah Adara. “Kau benar Adara, sepertinya mengenalmu membuatku semakin banyak tertawa.”
Adara menarik ujung bibirnya. “Aku senang jika memang begitu. Kau memang harus selalu tertawa Sean agar tidak cepat tua.”
“Enak saja.”
Adara tertawa puas setelah menggoda Sean, ia kemudian mengalihkan tatapannya kembali ke arah depan.
“Sean awas!!!” Seru Adara ketika melihat sebuah mobil tiba-tiba melintang didepan mobil mereka.
Ciiiiiittttt!!!!!
“SIALAN! Siapa yang berani-beraninya menghalangi jalanku?!”
Deg!
Adara tertegun ketika melihat seseorang dari dalam kendaraan itu keluar. Nafasnya tertahan, matanya membulat dengan rahang yang mulai mengatup.
“Gabriel!” geram Sean seraya keluar dari dalam kendaraan itu.
“Sean!” Adara segera menyusul saat tiba-tiba Sean mendekati Gabriel lalu meninjunya.
Bersamaan dengan itud delapan orang mendekat menghempaskan Sean hingga Sean terhuyun beberapa langkah ke belakang.
“Beraninya kau menghalangi jalanku!”
“Kau yang sudah lancang merebut milikku Sean!”
Sean tertawa masam. “Milikmu? Apa?”
“Jangan berpura-pura bodoh!”
“Aku tidak bodoh, aku mengatakan yang sebenarnya. Apa yang kurebut darimu? Milikmu yang mana? Aku ... tidak pernah mengambil apapun darimu Mr. Tyrone!” seru Sean penuh dengan tekanan.
Gabriel maju dua langkah tapi bersamaan dengan itu empat orang muncul di belakang Sean. “Kau ... .” desis Gabriel seraya menunjuk wajah Sean.
Sean mengangkat wajahnya. “Apa? Apa milikmu yang kuambil?”
Tanpa banyak bicara Gabriel meraih lengan Adara lalu menghentakkannya hingga Adara jatuh dalam pelukan Gabriel. “Aku ... akan mengambilnya kembali.”
Sean tertawa. “Adara? Milikmu? Sejak kapan Gabriel? Jangan bermimpi.” Desis Sean lalu menarik tangan Adara yang lain.
“Jangan memancing emosiku Sean.”
“Kau yang memancing emosiku lebih dulu Gabriel.”
“Lepaskan tangan Adara!”
“Kau yang harus melepaskannya!”
Adara meringis ia mengepalkan kedua tangannya kemudian menghempaskan kedua tangan itu. “Lepas!!! Aku bukan milik siapapun! Aku bukan barang!”
“Masuk ke dalam mobil Adara.” Ujar Sean. “Aku yang akan menanganinya.”
“Masuk ke dalam mobilku atau kuhancurkan keluargamu Adara.” Ancam Gabriel.
Adara menatap tajam iris mata Gabriel dengan rahang yang semakin mengatup. “Lakukan. Lakukan saja Gabriel, dengan begitu aku tidak memiliki alasan lagi untuk tidak membencimu.”
Adara memalingkan wajah lalu meraih lengan Sean.
“Sean ayo.”
“Adara!”
Adara mengabaikan seruan Gabriel.
“Kau pikir lepas dariku kau bisa bersamanya? Hah?! Satu langkah lagi kau pergi bersamanya aku akan menghancurkan Archilles!”
Langkah Adara terhenti, ia terdiam sesaat sebelum melepaskan lengan Sean kemudian berbalik kembali, berjalan ke arah Gabriel.
“Adara.” Sean meraih lengan Adara sesaat tapi Adara melepaskan genggaman itu. Ia menatap Sean sesaat sebelum menatap ke arah Gabriel.
“Baiklah. Ayo. Aku akan pergi bersamamu.”
Gabriel tersenyum masam. “Kau membiarkanku menghancurkan keluargamu tapi kau tidak membiarkanku menghancurkan Archilles?”
“Ya ... kenapa? Kau merasa terganggu? Ayo. Aku bersedia ikut bersamamu Gabriel, yang terpenting kau tidak mengganggu Sean.”
Iris mata Gabriel goyah, tatapan mata lelaki itu berubah sendu.
“Kau melakukannya demi Sean?”
Adara maju satu langkah lagi, membuat jaraknya dengan Gabriel menipis. Ia kemudian menyeringai. “Menurutmu?”
“Ayo Gabriel ... aku bilang ayo ... aku akan ikut bersamamu. Tapi harus kau tahu ... aku melakukannya bukan karena keinginanku tapi untuk melindungi Sean.”
Gabriel mengatupkan rahang dengan kedua tangan yang mulai terkepal sempurna. wajah lelaki itu bahkan memerah, tampak penuh amarah.
“Adara ... kau ... .” iris mata Gabriel berpindah ke arah kalung yang tergantung di leher Adara. Ia tertegun sesaat, setelah itu ia mendengus kemudian mundur beberapa langkah lalu beranjak pergi memasuki kendaraannya lagi. Meninggalkan Adara yang masih berdiri di tempat yang sama.
.
.
.
Gabriel mengendarai mobilnya dalam kecepatan tinggi, membelah jalanan kota seperti kehilangan kesadaran. Rahangnya mengatup, kedua tangannya pun terkepal, mencengkram kemudi dengan sangat kencang.
“SIALAN!!!!!!”
“Sean b******n!!! Apa yang kau lakukan pada Adara?!”
“Lihat saja nanti. Akan kupastikan Adara kembali menjadi milikku lagi!”
***
Di belahan bumi lain seorang perempuan dengan jas berwarna putih khas seorang dokter hanya mampu berdiam diri menatap dengan kosong ke arah air mancur di taman belakang rumah sakit dengan kedua tangan yang saling berlipat di d**a. Nafasnya berat, helaan-helaan nafas perempuan itu tampak penuh dengan beban.
“Miss Claretta, anda memanggil saya?”
Claretta menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan. “Ya ... Mix.” Ujarnya seraya berbalik.
“Ada yang dapat saya lakukan?”
Claretta menatap Mix dengan tatapan tajam penuh keyakinan.
“Pertemukan aku dengan Adara Rexford.”