Chapter 9

2047 Kata
 “Mr. Tyrone terlibat perkelahian dengan Mr. Archilles.”   Claretta menghembuskan nafas perlahan dengan sebuah ponsel yang tertempel di telinga kanan. “Apa di sana ada seorang perempuan?”   “Ya ... Ms. Austin saya melihatnya. Apakah anda ingin aku melakukan sesuatu?”   “Tidak perlu. Panggilkan saja Mix untuk menghadapku sekarang.”   Claretta menatap dengan kosong ke arah air mancur di taman belakang rumah sakit dengan kedua tangan yang saling berlipat di d**a. Nafasnya berat, helaan-helaan nafas perempuan itu tampak penuh dengan beban. Sesekali perempuan itu tampak meneguk ludahnya kasar, dengan kedua tangan terkepal, merasakan gemuruh dalam hatinya yang yang terasa semakin keras, pergolakan yang berada dalam dadanya terasa lebih panas, mulai meletupkan emosi yang mulai menguasai tubuhnya.   Claretta memejamkan matanya sesaat sebelum menatap ke arah air mancur itu lagi dengan kepalan tangan yang mulai terurai.   “Miss Claretta, anda memanggil saya?”   Claretta menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan. “Ya ... Mix.” Ujarnya seraya berbalik.   “Ada yang dapat saya lakukan?”   Claretta menatap Mix dengan tatapan tajam penuh keyakinan.   “Pertemukan aku dengan Adara Rexford.”   Mix membalas tatapan Claretta. “Saya tidak memiliki kuasa untuk hal itu. Miss Adara bekerja untuk orang lain jadi saya tidak bisa membawanya begitu saja kehadapan anda.”   “Aku bilang pertemukan aku dengan Adara Rexford Mix! Aku tidak mau tahu, aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi. aku ingin perempuan itu ada dihadapanku! Segera!” ucap Claretta penuh dengan tekanan.   “Claretta ... tenangkan dirimu.”   Claretta menepis tangan Mix yang hendak meraih lengannya. “Baik. Kalau kau tak bisa membawanya kemari aku akan menemuinya sendiri.”   “Claretta!”   “Jangan kurang ajar Mix. Panggil aku dengan sopan.”   Mix menghembuskan nafas kemudian membungkuk sesaat. “Maafkan saya. Saya bisa mempertemukan anda dengan Miss Adara tapi tidak sekarang.”   “Mix!”   “Tidak semua hal yang anda inginkan dibumi ini dapat anda miliki dalam sekejap Miss Claretta. Termasuk membawa Miss Adara Rexford. Tunggu atau anda akan mendapatkan kerugian jika bergerak sendiri. karena jika Mr. Tyrone tahu anda menemuinya. Mr. Tyrone tak akan pernah tinggal diam.”   Claretta termenung dengan iris mata nanar menatap ke arah Mix, senyuman Claretta tersungging, begitu pahit seraya mengalihkan pandangan ke arah lain. “Jadi benar ... dia alasan Gabriel berubah?”   Mix menghela nafas panjang kemudian membasahi bibirnya sesaat. “Saya tidak bisa berlama-lama Miss Claretta, saya harus pergi sekarang.”   “Kau tak ingin menghibur sahabatmu Mix?”   Mix menghentikan langkahnya, ia berbalik kembali seraya menghela nafas lagi kemudian berjalan, mendekat ke arah Claretta setelah itu merangkul bahu perempuan itu. Membiarkan Claretta menyandarkan kepala di bahunya. Setelah itu keduanya diam dalam posisi yang sama tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.   ***   Sean dan Adara baru saja sampai di lantai teratas gedung kantor. Sepanjang perjalanan Adara masih tetap diam, ia masih sangat shock dengan pertemuan tak terduganya dengan Gabriel. Sungguh ia masih tidak menyangka ia akan bertemu dengan lelaki itu dengan cara demikian. Ia pikir Gabriel tidak akan pernah berani berulah di publik seperti itu, tapi ternyata ... lelaki itu benar-benar nekad.   Saat Adara hendak melangkah menuju meja kerja, lengannya di tahan hingga ia berbalik, menatap ke arah Sean. “Hm?”   Sean tersenyum dengan tangan terangkat, membelai surainya sesaat. “Jangan pikirkan lagi, abaikan kejadian tadi Adara. Anggap saja kau tidak pernah bertemu dengan Gabriel lagi dan ... terimakasih kau sudah membelaku.”   Adara menyunggingkan senyumannya kemudian mengangguk kecil. “Bukan apa-apa. Selamat bekerja Sean.”   “Kau juga ... .” ujar Sean seraya mengusak kepalanya sebelum memasuki ruang kerja.                                                                                                                                    Adara menarik nafasnya yang terasa begitu berat secara perlahan seraya memejamkan mata kemudian menghembuskannya lagi, membuka mata lalu berjalan ke arah meja kerjanya sendiri.   Setelah duduk Adara diam beberapa saat menatap kosong ke arah layar yang masih hitam. Setelah kejadian beberapa saat lalu, sungguh ia sangat puas melihat kecemburuan yang terpancar dari mata Gabriel, ia merasa benar-benar puas setelah melihat luka yang terpancar dari iris mata lelaki itu, akan tetapi entah mengapa ...  ia tidak merasa menang sedikit pun, ia tidak merasakan sedikitpun kelegaan dalam hatinya. Sebaliknya, ia justru merasa bersalah, ia justru merasa terganggu melihat luka yang di terima Gabriel.   Apa yang salah dengannya? Bukankah ini yang ia inginkan? Tapi mengapa ia justru merasa bersalah?   Derap langkah kaki menyadarkan Adara dari lamunan panjangnya. Adara mendongak menatap pemilik langkah kaki itu, ternyata Rose. Perempuan itu melangkah lebar, setengah berlari ke arah pintu masuk ruang kerja Sean. Mereka bertatapan beberapa saat sebelum Rose menghembuskan nafas panjang lalu memasuki ruangan itu tanpa menyapanya sama sekali.   Adara menghela nafas panjang kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke arah layar yang mulai menyala. Sepertinya perempuan itu menyadari sesuatu yang ia simpan dengan rapat.   . . .   Bagai tersambar petir di siang hari, Rose begitu terkejut melihat rekaman keributan yang terjadi antara Sean dengan Gabriel. Sehingga di sinilah Rose sekarang, berada di gedung utama kantor setelah mengendarai mobilnya dari project pembangunan dengan kecepatan tinggi. Langkah kakinya melebar, nyaris berlari hingga memasuki lift. Ia benar-benar khawatir, ia sungguh ketakutan melihat hal itu.   Bagaimana bisa hal itu terjadi? Dan iya yakin jawabannya pasti gara-gara Adara!   Rose kembali melangkah lebar, begitu lift terbuka. Saat hendak membuka pintu ruangan Sean, iris mata Rose bertemu dengan iris mata Adara sesaat, tapi ia kemudian mengabaikan itu, ia membuka pintu tersebut dengan cepat lalu berjalan dengan cepat ke arah Sean yang kini tersenyum lebar ke arahnya. Ia menghentikan langkah tepat di samping tempat duduk Sean, ia kemudian menunduk membolak balikan wajah Sean sesaat, memeriksa keadaan boss besarnya itu.   “Kau tak apa Sean?”   Sean terkekeh kecil. “Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja Rose.”   “Aku mendengar kau terlibat keributan? Sudah kukataka hati-hati!”   “Aku baik-baik saja ... Adara membuat keadaan lebih baik. Dia membelaku dan tidak membiarkan lelaki sialan itu menyentuhku sama sekali.”   Rose menghembuskan nafas ia kemudian berdiri tegak lagi seraya menatap Sean. “Sean, saranku sebaiknya kau berhenti. Jangan berusaha mendapatkan Adara lagi. Ini semua hanya akan membahayakanmu. Terlebih jika kau berurusan dengan Gabriel. So please ... stop.”   “Tidak. aku tidak akan berhenti. Aku sudah sampai di titik ini, aku akan terus melakukannya sampai melihat Gabriel hancur tidak bisa bersama Adara lagi.”   “Sean dengarkan aku, aku hanya merasa ada yang tidak beres ... .”   “Kau ini kenapa Rose? Kau yang memberiku saran kenapa sekarang kau justru yang menentangku? Kau cemburu?”   “Aku bukan cemburu! Aku mengkhawatirkanmu Sean!”   “Rose ... sepertinya kau benar-benar cemburu.”   “Aku tidak! Aku tidak cemburu Sean. Aku pengawalmu aku hanya berusaha melindungimu! Pikirkanlah baik-baik. aku hanya merasa ada yang tidak beres dengan Adara. Adara sesuatu yang menggangguku.”   “Kau cemburu.”   “Aku bilang tidak! Aku mohon dengarkan aku Sean.”   Sean mendongak menatap Rose yang terus mengomel. Ia kemudian meraih pinggang perempuan itu dengan tangan kiri, lalu mengelusnya perlahan. “Tenangkan dirimu Rose, kembalikan akal sehatmu. Setelah kau merasa tenang aku akan menemuimu nanti malam, sepertinya ada banyak hal yang harus kita bicarakan ulang.”   “Tentang kita.” Tambah Sean.   “Tidak. Kau tak perlu membahasnya karena diantara kita tidak pernah ada apapun Sean. Kau harus memikirkan dirimu sendiri.”   “Kembali ketempat dudukmu Rose, seperti yang kubilang ... aku akan menemuimu nanti malam.”   Rose menghembuskan nafasnya perlahan kemudian balik kanan berjalan ke arah mejanya sendiri dengan perasaan tak rela karena perasaan buruk masih mengganjal dalam hatinya.   ...   Di sisi lain Sean menatap Rose sesaat sebelum kembali menatap dokumen dihadapannya. Ia tahu ia mungkin terkesan terlalu percaya diri. Akan tetapi ia menyadari satu hal yang lain dari tatapan Rose sekalipun perempuan itu terus menyangkal.   Rose ... tampak menyukainya, dan itu ... satu hal yang melanggar kesepakatan awal mereka.   “Mau pergi kemana lagi Rose?” tanya Sean saat kembali mendengar langkah kaki.   “Mrs. Archilles.” jawab Rose dengan nada dingin.   “Jangan katakan apapun tentang hari ini pada Mama.”   “Tanpa kukatakan pun Mrs. Archilles akan tahu sendiri. Aku pergi.”   Sean kembali mengangkat wajahnya, menatap punggung Rose yang menghilang. Sean menghembuskan nafasnya lagi. Ia ... harus benar-benar meluruskan semuanya.   ***   Sementara itu Gabriel masih terus berkendara tanpa arah. Kepalanya masih berputar, pening akibat pukulan keras Sean diiringi dengan hatinya yang serasa begitu sakit saat bayangan Adara yang tampak begitu membencinya masih berputar dalam ingatannya, menghantuinya.   Gabriel tak pernah merasa segagal ini. Ia tak pernah merasa sehancur ini. Bagaimana bisa Adara lebih memilih membela lelaki itu? Bagaimana bisa Adara lebih mementingkan lelaki itu? dimana Adara yang selama ini mencintainya? Dimana Adara yang selama ini ia cintai?   Gabriel membelokkan kendaraannya memasuki sebuah kedai kopi, kemudian berhenti tepat di parkiran di depan tempat tersebut.   Daripada bekerja, ia memilih untuk menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Ia harus meluruskan seluruh isi pikirannya dan memikirkan cara lain untuk menarik perhatian Adara lagi.   Ya ... ia bertekad akan terus menarik perhatian Adara sampai Adara luluh dan mencintainya kembali. Terdengar egois? Memang. Tapi salahkah ia ingin hidup dengan seseorang yang ia cintai? Tentu saja tidak bukan?   “Selamat datang ... .”   Gabriel berjalan ke arah counter. “Americano.”   “Baik. Silahkan tunggu sebentar.”   Gabriel mengangguk kecil kemudian melangkahkan kakinya ke arah sudut kedai tersebut, menikmati aroma kopi yang menguar seraya menatap halaman belakang kedai yang tampak begitu asri dengan bunga mawar yang tertanam begitu cantik. Senyuman Gabriel tersungging, ketika mengingat bagaimana senyuman-senyuman Adara saat menerima setiap hadiah bunga mawar darinya. Senyuman penuh cinta, penuh kebahagiaan yang sama persis seperti yang ia rasakan.   Ia tak pernah berdusta tentang pengabdian yang akan ia lakukan untuk Adara. Ya ... ia tidak sekalipun main-main dengan hal itu. Ia telah bersumpah akan mengabdikan seluruh hatinya dan seluruh hidupnya hanya untuk Adara, hanya untuk mencintai perempuan itu dan menjaga perempuan itu. karena itulah ... sekalipun ia harus berjuang dengan keras, ia akan melakukannya, ia akan membuktikan bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulutnya, dan setiap tindakan yang ia lakukan merupakan ketulusan hati dan sepenuhnya berasal dari dalam lubuk hati terdalamnya.   “Permisi ... bolehkah ... .”   Gabriel berbalik.   “Gabriel?”   Mata Gabriel membesar, melihat sosok perempuan yang sudah cukup lama tidak pernah ia lihat lagi. Perempuan yang ia tinggalkan setelah permainan yang ia mainkan untuk melepaskan Adara saat itu. Seorang perempuan yang ia tinggalkan hanya dengan sebuah surat singkat.   “Adelia.”   Grep!   Gabriel setengah terhuyun menerima pelukan Adelia yang tiba-tiba.   “Gabriel ... Kemana saja kau selama ini? Kenapa kau pergi? Dan ... .” Adelia melepaskan pelukannya menatap ke arah Gabriel dengan kening mengerut. “Lihatlah ... kau berubah. Dimana kau bekerja Gab?”   Gabriel mengerjapkan matanya sesaat seraya mengurai pelukan Adelia. “Maaf ... aku harus pergi.” Ujarnya kemudian berdiri, beranjak pergi dari hadapan Adelia.   “Gabriel! Tidak! Kau tidak bisa pergi begitu saja. Kau tak bisa pergi dengan cara begini.”   Gabriel melepaskan pelukan Adelia dari pinggangnya. “Sungguh ... Maafkan aku Adelia. Aku harus pergi.”   Adelia menahan lengan Gabriel. “Kenapa?! Kenapa kau memperlakukanku begini? Kenapa kau pergi dan hanya meninggalkanku sebuah surat? Aku pikir kita bisa bersama ... aku pikir ... .”   “Tidak Adelia. Sampai kapanpun kita tidak bisa bersama.”   “Kenapa?” tanya Adelia seraya mengencangkan genggaman tangannya pada tangan Gabriel.   “Karena aku mencintai perempuan lain.”   “Siapa?”   Gabriel menatap Adelia sesaat namun tidak memberikan jawaban, ia kemudian mengurai genggaman tangan Adelia lalu beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut setelah mengatakan maaf untuk terakhir kalinya.   “Gabriel! Siapa?!”   “Argh!” Adelia mengerang kencang kemudian memegangi keningnya, lalu menyisir rambutnya dengan kasar.   “Siapa Gabriel? Siapa seseorang yang kau cintai? Seharusnya kau jujur padaku agar aku bisa melupakanmu dengan mudah.”   Adelia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi. Setelah itu melihat Gabriel yang mengendarai sebuah kendaraan yang tampak begitu mewah.   Adelia terdiam.   Gabriel ... berapa banyak yang kau sembunyikan dariku?   Di saat pikirannya berkecamuk penuh pertanyaan tanpa jawaban, ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Gun masuk.   “Hallo Gun? Kau sudah mendapatkan yang aku inginkan?” tanya Adelia dengan cepat.   “Sudah Miss. Perempuan itu Adara Rexford, sekretaris baru Mr. Archilles.”   “Siapa? Sekretaris siapa?”   “Adara Rexford. Sekretaris Mr. Archilles.”   Rahang Adelia mengatup dengan tangan kanan yang perlahan terkepal sempurna. “Adara. Beraninya dia masuk ke dalam hidup keluarga Archilles! Lihat saja ... aku tidak akan pernah membiarkan dia masuk dalam keluargaku!”                  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN