Adara melangkahkan kaki keluar dari kendaraan Sean setelah sampai di depan rumahnya. “Terimakasih Sean, hati-hati di jalan. Kabari aku jika sudah sampai ya?”
Sean terkekeh kecil kemudian mengangguk. “Tentu Adara, aku akan menelponmu nanti. Sampai jumpa besok.”
Adara hanya mengangguk kemudian berjalan mundur seraya melambaikan tangan, tanda perpisahannya dengan Sean. Begitu melihat kendaraan itu menghilang, senyuman pada wajah Adara pun menghilang, menyisakan tatapan dingin dengan helaan nafas panjang yang keluar dari hidung Adara.
Sepanjang hari ini ia tak bisa berkonsentrasi, pikirannya terganggu karena memikirkan Gabriel. Pembalasan yang ia lakukan ternyata menyisakan penyesalan, tanpa ada rasa menang sama sekali. Sungguh ... entah mengapa rasa bersalah dalam dadanya justru terasa semakin membesar. Ia khawatir dengan keadaan Gabriel. Ia takut semua yang terjadi hari ini berakhir lebih buruk dari dendam dalam hatinya. Ia pun sebenarnya takut ... ia akan benar-benar kehilangan Gabriel.
Ya ... ia ketakutan. Karena sebenarnya ... dalam lubuk hati terdalamnya ia pun ingin bersama lelaki itu, ia ingin hidup dengan lelaki yang ia cintai itu. Hanya saja ... ego menahan semuanya. Ia tak ingin berbagi Gabriel dengan perempuan lain, ia tak ingin waktu Gabriel terbagi dengan perempuan lain, ia hanya ingin ... Gabriel untuknya. Gabriel menjadi miliknya. Seutuhnya. Sebenarnya itu yang ia inginkan. Akan tetapi ia sadar ... keinginannya itu tak akan pernah bisa tercapai, yang kemudian hanya menyisakan rasa sakit hati dan dendam tanpa hasil dan tujuan.
Adara menghela nafas lagi kemudian balik kanan berjalan ke arah pintu masuk, akan tetapi bersamaan dengan itu pula sebuah kendaraan lain memasuki pekarangan rumahnya. Adara menghentikan langkah kemudian berbalik saat kendaraan tersebut berhenti.
Deg!
Jantung Adara berdetak dengan sangat kencang ketika melihat Gabriel yang baru saja ia pikirkan kini berada di hadapannya.
“Adara ... .”
Gabriel?
Lelaki itu berjalan ke arahnya dengan satu buah buket mawar merah di tangan. Gabriel tersenyum meski dengan luka yang berada di ujung bibir lelaki itu.
“Untukmu.”
Adara belum menerimanya, ia masih menatap Gabriel tanpa ekspresi berarti.
“Aku tahu kau pasti sudah terluka karena bunga yang kuberikan. Tapi aku akan berusaha memperbaiki semuanya Adara. Aku akan berusaha memberikan bunga padamu kembali, tanpa ada duri yang akan menyakitimu.” Gabriel kembali tersenyum dengan tenang. “Sekalipun kau mungkin tidak menginginkanku kembali, aku tidak akan pernah menyerah Adara. Aku akan membuktikan padamu bahwa ... aku mencintaimu, aku akan berjuang untukmu sekalipun aku harus melakukannya seumur hidupku.”
Gabriel menghembuskan nafas lalu menarik tangan kanan Adara, meletakkan bunga itu di tangan lentiknya. “Terimalah, jika kau memang sudah tidak ingin bersamaku lagi, kau bisa membuang bunga ini nanti.”
“Aku akan kembali lagi besok Adara ... .” ujar Gabriel kemudian beranjak pergi.
Adara memejamkan mata seraya menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi dengan berat. “Gabriel ... masuklah. Aku akan mengobati lukamu.”
Gabriel mematung dengan tangan yang sudah membuka pintu mobil. Adara mengalihkan pandangan ke arah Gabriel, menatap lelaki itu dalam diam selama beberapa saat.
“Atau ... kau bisa pulang saja. Kekasihmu lebih ahli dalam mengobati luka.” Ujar Adara kemudian balik kanan, berjalan masuki rumahnya.
.
.
.
Gabriel diam, menatap wajah tenang Adara yang untuk pertama kalinya lagi dapat ia lihat dalam jarak yang begitu dekat, hatinya berdesir, dadanya menghangat, bahagia melihat bagaimana tatapan lembut Adara, tanpa ada permusuhan, tanpa ada tatapan penuh kebencian yang selama ini selalu ia dapatkan.
Tangan kanan Gabriel terulur menyentuh wajah Adara, membelainya dengan lembut secara perlahan hingga tatapan mereka kemudian bertemu.
“Gabriel.” Adara menepis tangannya, tapi ia meraih tangan itu, menggenggam tangan Adara lalu mengecup punggung tangannya, menciumi setiap buku-buku di tangan kanan Adara sebelum menatap iris mata perempuan itu lagi, membelai wajah Adara lagi, kali ini dengan tangan kiri.
“Tak apa jika memang kau belum bisa menerimaku lagi Adara, aku memang perlu memperbaiki semuanya. Tapi aku mohon ... jangan menatapku dengan penuh kebencian, jangan membenciku, jangan menjauh dariku. Karena jika kau seperti itu ... bagaimana caranya aku berpikir keluar dari masalah ini? Aku hanya memikirkanmu dan memikirkan cara agar membuatmu tidak membenciku Adara. Aku belum menemukan jalan keluar lain, terlebih Claretta sekarang di sini. Dia mengawasiku sepanjang waktu. Jadi aku mohon ... bantu aku, jangan membenciku agar aku bisa berpikir untuk lepas dari masalah ini tanpa menimbulkan masalah Adara.”
“Gabriel ... apa kau tidak memikirkan perasaan Claretta juga?” tanya Adara dengan tenang. “Kami sama-sama perempuan Gabriel. Jika aku terluka mengetahui ternyata kau bersamanya, dia pun akan sama terlukanya denganku Gabriel. Kau ... melukai kami.”
“Adara ... Kemana Adara yang dulu? Kemana Adara yang egois? Kemana Adara yang akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya sendiri? Kenapa kau sekarang memikirkan Claretta?”
Adara memalingkan wajah, menghindari tatapannya. “Aku ... .”
“Claretta urusanku. Jangan pikirkan dia. Aku akan membereskannya dengan caraku sendiri. Kau hanya perlu memikirkan kebahagiaan kita. Jika memang kau masih ingin bersamaku, egoislah Adara. Egoislah seperti biasanya. Jangan pikirkan apapun, jangan pikirkan siapapun. Keras kepalalah seperti yang biasa kau lakukan.”
Kedua tangan Gabriel naik, membelai wajah Adara dengan lembut, dengan penuh kehati-hatian seolah Adara adalah benda rapuh yang akan pecah jika ia terlalu kasar menyentuhnya.
Jemari Gabriel juga iris matanya menyentuh dan menelusuri setiap lekukan wajah cantik itu, alis, kelopak mata Adara yang tertutup hidung, lalu bibir. Gabriel membelainya beberapa saat kemudian beralih ke arah dagu, menariknya hingga bibir Adara sedikit terbuka. Setelah itu Gabriel mendekatkan diri, memagut bibir plump itu melumatnya dengan ciuman yang begitu dalam.
Gabriel tersenyum disela-sela ciuman mereka saat merasakan bibir Adara membalas ciumannya secara perlahan.
Apakah ini pertanda Adara mulai menerima kehadirannya kembali?
***
“Mrs. Archilles.”
Allena tersenyum kemudian menunjuk tempat duduk di depannya. “Duduk Rose, tidak perlu terlalu formal. Jelaskan, apa yang terjadi pagi ini. Sekarang aku harus tahu karena sudah menyankut keselamatan Sean.”
Rose menghela nafas panjang kemudian menceritakan awal mula Adara bekerja dengan mereka, lalu tentang rencana Sean yang akan menjauhkan Adara dengan Gabriel dengan cara mendekati Adara, Rose menceritakan semua detail kedekatan yang telah terjadi antara Sean dan Adara, termasuk menceritakan tentang kontrak kerja sama Sean dengan perusahaan Gabriel.
“Namun bukan itu yang menjadi masalah Mrs. Archilles. Sean sepertinya mulai terobsesi dengan Adara Rexford, dia juga sepertinya benar-benar tertarik dengan Adara. Aku sebenarnya tak akan mempermasalahkan ini, saya tidak akan pernah khawatir jika saja perempuan itu bukan Adara Rexford Mrs. Archilles, tapi ini Adara Rexford perempuan yang pernah Sean culik, dia begitu pendendam, dia perempuan licik yang lebih licin daripada ular. Aku takut Sean hanya dimanfaatkan atau mungkin dipermainkan untuk balas dendam. Aku juga curiga, mungkin saja dia memperlakukan Sean dengan baik karena ingin membalas dendam.” Jelas Rose dengan tenang.
Allena menghela nafas, termenung menatap ke arah teh yang ada di hadapannya.
“Mrs. Archilles, apa yang harus aku lakukan? Aku sudah tidak sanggup menghadapi Sean, dia sudah tidak mendengarkanku. Sean benar-benar sudah buta.”
“Alihkan perhatian Sean, Rose.”
Rose mengerutkan kening seraya menatap Allena yang kini menatapnya.
“Aku tahu ... kalian sudah sangat dekat. Kau pasti tahu kelemahan Sean, Rose. Kenapa kau tidak dekati Sean melalui kelemahannya? Setelah itu dapatkan perhatian Sean. Buat dia jatuh cinta padamu.”
Mata Rose terbelalak. “Mrs. Archilles ... bagaimana mungkin? Kami sudah sepakat kami tidak akan lebih dari teman.”
“Kesepakatan bisa hilang kapan saja, dinding pembatas yang tinggi pun juga bisa runtuh. Kau tahu Rose, aku bahkan bisa meluluhkan Jason yang dulu hanya menganggapku anak kecil, kenapa kau tak bisa meluluhkan bos yang sudah jadi teman satu ranjangmu?” Allena menatap Rose dengan tajam. “Jangan sampai Sean berurusan kembali dengan Tyrone, Kakek Tyrone masih hidup, jangan sampai dia tahu Sean mengganggu Gabriel sekalipun itu memalui Adara.”
“Kau mengerti Rose?”
Rose mengangguk kecil.
“Kau tahu apa yang harus kau lakukan?”
“Buat dia bertekuk lutut padamu Rose, hanya itu yang bisa membuat Sean lepas dari obsesinya.”
.
.
.
Rose menghela nafas seraya menatap bayangannya sendiri di dalam cermin, tubuhnya yang semampai berwarna sedikit tan berbalut lingerie merah yang kontras dengan kulitnya serta sebuah kain sutra transparan yang menutup bagian luarnya.
Rose menarik nafas kemudian menghembuskannya lagi secara perlahan, membuang rasa gugup yang untuk pertama kali menyerangnya lagi ketika ia akan bertemu dengan Sean. Biasanya ia tak pernah segugup ini, mereka hanya akan bertemu, saling berhadapan kemudian melakukannya hingga mencapai kepuasan. Tapi sekarang ... ia di tuntut, ia harus mampu meluluhkan Sean. Salah satu tugas berat yang ia sendiri tak yakin. Apakah ia bisa meluluhkan Sean?
Clek!
Rose menoleh ke arah pintu, menghadap ke arah Sean yang menatapnya dengan tatapan mata yang mulai berkabut. Rose melangkah mendekat membuat bola mata Sean membesar dan pupilnya mengecil, tampak penuh gairah.
“Buat dia bertekuk lutut padamu Rose, hanya itu yang bisa membuat Sean lepas dari obsesinya.”
Dan inilah yang akan ia lakukan. Menaklukan Sean melalui ranjang. Sean dengan segala fetish terhadap warna kulit dan kaki jenjangnya adalah kelemahan terdalam Sean, sekarang ia yakin ... dengan ini ia bisa menaklukan Sean. Seperti yang Allena katakan.
“Hi Sean.” Rose menangkup wajah Sean, mengelus wajah lelaki itu dengan seduktif hingga membelai ke arah telinga lelaki itu. Setelah melihat Sean memejamkan mata Rose mendekat mulai menciumi Sean, hingga membuat nafas lelaki itu memburu, penuh gairah.
“Rose ... kita harus bicara.” Ujar Sean seraya mencengkram pinggangnya. “Kita harus meluruskan semua hal yang ada di antara kita.”
“Apa yang harus di luruskan Sean? Sekalipun aku mencintaimu, yang terpenting adalah aku tidak akan menuntut apapun darimu bukan? Kecuali ... jika kau yang menginginkannya.” bisik Rose di akhir kalimat tepat di telinga Sean.
“Kau benar-benar mencintaiku Rose?”
Rose menyeringai dengan jemari lentik tangan kanannya mulai menanggalkan satu persatu kancing piama Sean. “Kau sudah merasakannya bukan? Kau benar ... aku cemburu. Aku hanya berusaha menyangkal.”
“Kau tak bisa mencintaiku Rose.”
“Tak ada larangan seperti itu dalam kesepakatan kita. Sean ... .” Tangan Rose mulai berpindah masuk ke dalam piama Sean, membelai d**a lelaki itu hingga titik kecil di d**a Sean yang mulai mengeras, ia menekannya hingga Sean mengerang kecil.
“Karena kau sudah tahu ... bagaimana jika malam ini kita melakukannya bukan hanya untuk bersenang-senang, Sean?” Rose kembali mendekatkan wajah ke arah Sean, mencium telinga lelaki itu kemudian berbisik dengan seduktif. “Tapi ... bercinta. Aku akan mengirimu menikmati surga cinta yang lebih b*******h Sean, yang akan membuatmu mabuk dan ... membuatmu semakin menginginkan kenikmatan itu.”
Rose menatap Sean yang mulai merintih, mendesis penuh kenikmatan karena kedua tangannya mulai bermain di setiap titik sensitif Sean. Tangan kirinya bahkan sudah bermain di pusat Sean, mengurutnya naik turun hingga benda itu mengeras sempurna.
“Apa yang kau inginkan Sean? Kau ingin aku berjongkok? Memuaskanmu dengan mulutku?”
“Oh s**t!”
Bruk!
Sean mendorong tubuhnya hingga terjatuh di atas ranjang. Sean bahkan merangkak, mulai mengungkungnya. “Rossean! Kau benar-benar ingin bermain denganku?”
Rose menyeringai. “No ... let’s making love Sean.”
“If you want it. Forgot the condoms and I’ll c*m inside. Do you agree?”
Rose membasahi bibir, juga menggigitnya sesaat kemudian mengalungkan kedua tangannya di bahu Sean sebelum mencium bibir lelaki itu. “Lakukan, seperti yang kau inginkan Sean.”
Rose merintih, mendesis menahan kenikmatan dari sentuhan Sean. Begitu juga dengan Sean, lelaki itu tak hentinya mendesahkan namanya di setiap gerakan jemari pada pusat lelaki itu. Penyatuan itu pun terjadi, erangan dan desahan penuh kenikmatan saling sahut menyahut diantara keduanya saat merasakan penyatuan tanpa penghalang terasa begitu panas, hingga menghantarkan gelombang penuh kenikmatan dengan cepat, berulang kali seolah keduanya tak pernah merasa lelah.
Apakah Sean akan benar-benar luluh dengan cara seperti ini?