Chapter 11

1939 Kata
Gabriel terjengit, ketika merasakan dingin di wajahnya. Matanya mengerjap sesaat sebelum terbuka sempurna secara perlahan, menatap sesosok perempuan yang duduk di atas ranjangnya. Mengompres lukanya dengan air dingin.   “Ada apa dengan wajahmu Gab? Kenapa memar begini?”   Gabriel bergerak, mendudukkan tubuhnya menghadap perempuan itu, Claretta. “Bukan apa-apa.”   “Kenapa kau tidak ke rumah sakit? Aku bisa segera mengobatinya Gabriel agar lukanya tidak sememar ini.” ujar Claretta lagi dengan tangan yang masih mengompres wajahnya.   Gabriel meraih tangan itu, menjauhkan kompresan di tangan Claretta dari wajahnya. “Bukan luka serius, lagipula aku sudah mengurusnya. Terimakasih kau sudah mengkhawatirkanku Claretta. Sebaiknya kau segera bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Aku pun akan bersiap pergi ke kantor.”   “Gabriel ... .”   Gabriel menghentikan gerakannya saat hendak beranjak, ia menoleh ke arah Claretta lagi. “Hm? Kenapa? Ada yang ingin kau bicarakan?”   Claretta menatapnya dalam diam, sampai beberapa saat kemudian perempuan itu menghela nafas perlahan.   “Semalam kau pulang jam berapa Gabriel? Aku menunggumu sampai jam 11 tapi kau tak juga datang.”   “Lewat tengah malam.”   “Darimana? Kenapa pulang sampai selarut itu?”   Gabriel diam dengan iris mata menatap iris mata Claretta yang tampak begitu tenang, khas Claretta yang selalu tampak dingin dan datar saat menyembunyikan sesuatu.   “Mix bilang seharian kemarin kau tidak ke kantor.” Tambah Claretta.   Gabriel mengangguk kecil. “Pikiranku sedang kacau, aku hanya berkendara tanpa arah sampai lupa waktu dan pulang larut.”  Ujar Gabriel. “Sudah ya? Aku harus bersiap, aku harus ke kantor dan menyelesaikan seluruh pekerjaan yang aku tunda kemarin. Kalau kau masih ingin berbicara denganku, kau bisa menemuiku saat makan siang nanti di kantor.”   “Aku ingin berbicara nanti malam Gabriel. Di rumah. Selama aku di sini kita belum sempat makan malam bersama lagi Gabriel.”    Gabriel kembali menatap Claretta lalu mengusak kepala perempuan itu sesaat. “Aku tidak bisa berjanji. Aku memiliki beberapa urusan sampai nanti malam.”   “Urusan apa?”   “Pekerjaan. Kalau kau tak datang saat makan siang, kita bisa berbicara lagi besok.” Ujar Gabriel kemudian beranjak pergi ke arah kamar mandi.   Claretta tak mengatakan apapun lagi, ia terdiam seraya menatap punggung lebar Gabriel dengan tatapan sendu dan juga nafas yang mulai memberat.   “Kenapa kau berbohong Gabriel?”   Tangan kanan Claretta menatap ponselnya sendiri yang menunjukkan beberapa poret Gabriel bersama perempuan lain, di depan rumah hingga masuk ke dalam sebuah rumah asing itu kemudian tak ada pergerakan sampai lewat tengah malam barulah lelaki itu pulang. Setidaknya, itulah yang pengawalnya katakan.   Claretta kemudian bangkit dari tempat duduknya, beranjak pergi dari kamar Gabriel seraya mengotak-atik ponselnya sesaat.   “Hallo selamat pagi Miss Claretta.”   “Kabari aku jika perempuan itu sudah keluar dari rumahnya.”   “Baik Miss Claretta.”   Claretta menghembuskan nafas perlahan seraya menatap ponselnya kembali selama beberapa saat, setelah itu ia kemudian beranjak dengan langkah lebar, menuju kamarnya. Bersiap pergi dengan misi pagi dalam benaknya.   ***                                “Good morning.”   Adara tersenyum tipis, tampak begitu cantik dan juga tampak sangat cerah. “Good morning Sean.” Ujar Adara begitu langkahnya terhenti tepat di depannya.   “Kau terlihat sangat segar hari ini. Warna putih sangat cocok untukmu.”   “Benarkah?”   Sean mengangguk kecil dengan iris mata yang masih memindai penampilan Adara dari ujung kepala hingga kaki. Wajah di rias sederhana, rambut bergelombang tergerai hingga punggung, blazer berwarna putih dan celana kain menutup sempurna tubuh Adara, ditambah dengan stiletto berwarna senada  menambah kesan anggun yang dimiliki oleh perempuan itu.   Sean mengalihkan pandangannya kembali, menatap iris mata Adara yang hari ini berwarna silver. Benar-benar cantik, warna itu terlihat cocok untuknya. “Kenapa aku merasa hari ini kau tampak sangat cantik Adara?”   “Apakah biasanya aku tidak cantik?”   Sean tergelak, tangan kanannya terulur membelai surai Adara sesaat sebelum membelai wajah perempuan itu. “Bukan begitu. Kau cantik dan itu mutlak, tapi hari ini kau tampak sangat berbeda.”   Senyum anggun Adara berikan lagi. “Mungkin karena suasana hatimu? Kau juga tampak berbeda Sean. Kau terlihat sangat cerah. Seperti seseorang yang baru saja mendapatkan lotre.”   “Iyakah? Hm ... mungkin karena melihatmu yang juga begitu cerah? Terlebih senyumanmu. Kau begitu cantik Adara.”   Adara terkekeh kecil seraya meraih tangan Sean yang masih berada di pipinya. “Kau terlalu melebih-lebihkan Sean. Sudahlah ayo ... kita berangkat sekarang, sebelum aku terbang karena pujian-pujianmu.”   “Tidak ada yang berlebihan Adara, kau memang begitu cantik.” Ujar Sean seraya membukakan pintu untuk Adara.   Adara terkekeh pelan dengan wajah yang mulai merona, tersipu oleh ucapan Sean. “Kau ini, berhenti memujiku Sean.”   “Miss Adara.”   Tepat ketika Adara hendak memasuki kendaraan itu, seorang petugas keamanan mendekat membawakan satu buket bunga mawar merah ditangannya.   “Miss ada kiriman untuk anda.”   Kening Sean mengerut ketika melihat Adara tersenyum tampak begitu bahagia saat menerima buket bunga tersebut. Dadanya mulai bergejolak, melihat bagaimana Adara membaca surat itu dengan tatapan mata berbinar sebelum memberikan buket tersebut pada seorang pelayan yang berdiri di ambang pintu.   “Tolong simpan bunganya di atas meja di depan kamarku.”   “Sean. Hei. Kenapa melamun?”   Mata Sean mengerjap sesaat, sebelum menatap ke arah Adara kembali. “Kau terlihat bahagia sekali menerima bunganya?”   Kening Adara yang kali ini mengerut lalu terkekeh kecil. “Bahagia bagaimana? Karena aku tersenyum?”   Sean mengangguk. “Matamu juga sangat berbinar.”   Adara terkekeh kembali. “Uh ... sepertinya ada yang cemburu.” Ujar Adara seraya mencubit hidung Sean.   “Tidak. Untuk apa aku cemburu?”   “Biasanya yang menyangkal cemburu itu rasa cemburunya sangat besar.” Goda Adara lagi diiringi kekehan renyah. “Sean kau tak perlu cemburu, aku tersenyum pada petugas keamanan sebagai ucapan terimakasihku karena mengantarkan bunganya dan mataku berbinar mungkin karena lensa yang kugunakan? Lihat?” Adara mendekatkan wajahnya ke arah Sean seraya membuka mata lebar-lebar, “Cantik bukan?”   Deg!   Sean tertegun melihat keindahan bola mata Adara yang terpampang begitu nyata di depannya, ditambah dengan bulu mata lentik yang menambah kesan cantik kedua bola mata perempuan itu.  Desiran halus terasa di dadanya, perlahan merambat masuk hingga memenuhi hatinya, menghangatkan seluruh relung dalam hatinya. Sean meneguk ludahnya kasar. Kenapa ia baru menyadari bola mata Adara begitu indah?   Sean maju satu langkah seraya memiringkan wajahnya. Ketika satu senti lagi bibirnya menggapai bibir plump Adara, perempuan itu memundurkan wajahnya, kemudian tersenyum kecil.   “Sudah lihatkan? Ayo.”   Sean mengerjapkan matanya sesaat menyadarkan dirinya yang bergerak tanpa kendali. Ia menoleh ke arah  Adara yang sudah masuk, lalu duduk di bangku penumpang. Ia kemudian tersenyum tipis ketika melihat perempuan itu menatapnya dengan senyuman anggun yang masih terpatri indah di wajah cantik itu.   Sean menghembuskan nafas panjang seraya menggelengkan kepalanya kecil. Ada apa dengannya? Kenpa segala sesuatu yang ada pada Adara mendadak begitu cantik? Apa yang salah?   Sean kemudian masuk dibagian pintu kemudi, duduk di samping Adara kemudian menyalakan mesin sebelum menginjak pedal gas. Sepanjang perjalanan Sean berusaha dengan keras berkonsentrasi ke arah jalan raya tanpa menoleh ke arah Adara sama sekali. Akan tetapi entah mengapa perhatiannya selalu teralihkan pada Adara yang melakukan gerakan kecil, entah itu membasahi bibir, menyampirkan rambut, bahkan gerakan jemari Adara pada ponsel benar-benar mengganggunya.   Sean menghembuskan nafasnya kembali, tak tahan lagi untuk tidak menatap Adara. Sean menoleh ke arah perempuan itu kemudian mengulurkan tangan, meraih tangan Adara, menggenggam tangan perempuan itu dengan erat.   Adara terjengit, menatapnya dengan cepat. “Sean.”   “Aku hanya ingin menggenggam tanganmu Adara. Can I?”   Adara terdiam kemudian mengangguk seraya tersenyum kecil, membiarkannya menggenggam jemari itu sepanjang perjalanan.   . . .   Perjalanan mereka yang hanya di selimuti oleh keheningan akhirnya berakhir saat kendaraan tersebut berhenti di lobi kantor. Akan tetapi tangan Sean kembali tertaut pada jemari jenjang Adara yang sepertinya mulai saat ini akan menjadi candu untuknya.   Adara terkekeh kecil saat melihat Sean yang mengeratkan genggaman tangannya. “Aku tidak akan menghilang Sean. Kau tidak perlu meremat tanganku begitu.”   “Aku takut seseorang membawamu pergi.”   Adara  terkekeh kembali. “Kau ini kenapa? Melindur Sean? Hari ini kau benar-benar aneh.”   “Permisi Miss Adara.” Seorang resepsionis menghentikan langkah mereka.   “Kenapa?” tanya Sean, tak suka percakapannya dengan Adara di intrupsi.   Perempuan itu seketika membungkuk, meminta maaf pada Sean. “Maaf Mr. Archilles. Tapi Miss Adara memiliki tamu. Seseorang menunggunya.”   Kening Sean mengerut kemudian menatap Adara yang juga mengerutkan keningnya.   “Siapa?”   “Aku.”   Adara terjengit, ia kemudian berbalik menatap pemilik suara itu. Mata Adara seketika membesar, menatap sosok perempuan yang bahkan dalam mimpinya saja tak ingin ia temui. Claretta Austin, tunangan Gabriel.   “Siapa? Kau mengenalnya Adara? Kenapa wajahnya sangat asing.” Tanya Sean. “Kalau kau tak mengenalnya kau tak perlu menemuinya. Biar aku panggilkan petugas keamanan.”   “Tidak Sean ... aku mengenalnya. Dia ... adik tunangan sahabatku, Kaia. Dari Florida. Kau kenal Kaia bukan? Seseorang yang pernah menyukai Gerald.”   “Ah! Kai.” Sean mengangguk kecil. “Yasudah. Kau bisa menemuinya. Jangan terlalu lama hm ... .” ujar Sean lagi seraya mengusak puncak kepala Adara. “Aku akan merindukanmu jika kau pergi.”   Adara mendesis kemudian terkekeh kecil. “Cheesy. Sudah, sana.” ujar Adara kemudian melepaskan genggaman tangan tersebut.   Setelah Sean benar-benar pergi, menghilang dibalik pintu lift. Barulah Adara berbalik ke arah Claretta lagi kemudian mempersilahkan Claretta untuk mengikuti langkahnya menuju bagian belakang kantor, mencari tempat duduk nyaman tanpa harus banyak orang memperhatikan.   “Silahkan duduk.” Ujar Adara sebelum mendudukkan dirinya, berhadapan dengan tempat duduk Claretta.   Adara menatap datar Claretta yang menatapnya dengan tatapan dingin. “Apakah ada hal penting yang ingin anda bicarakan Miss Claretta?”   “Kalian ... benar-benar pandai bermain peran Adara.”   Kening Adara mengerut, sebelah alisnya naik menatap heran ke arah Claretta. “Saya tidak mengerti maksud anda Miss.”   “Kau tahu betul aku bukan cuma adik dari tunangan sahabatmu Adara. Aku tunangan Gabriel.”   Adara menghembuskan nafasnya perlahan dengan senyuman yang perlahan luntur, menghilang dari wajahnya. “Lantas?”   “Kau masih menerimanya setelah tahu dia bertunangan denganku?”   “Aku tidak pernah menerima Gabriel. Sampai detik ini aku selalu menolaknya.”   “Bohong.”   Adara tertawa masam. “Jika kau tidak percaya kau bisa tanyakan sendiri pada Gabriel, tunanganmu itu.” balas Adara sarkas.   Adara menghembuskan nafas berat kemudian berdiri. “Hanya ini yang ingin kau bahas?”   “Aku bisa saja melaporkan permainan kalian pada Kakek dan aku tak akan segan menghancurkan perusahaan keluargamu Adara.” Ujar Claretta seraya mendongakkan kepalanya. “Aku datang tak hanya untuk mengatakan itu, tapi untuk memberimu peringatan. Berhenti mendekati Gabriel.”   Adara maju dua langkah kemudian membungkuk menatap Claretta dengan jarak yang sangat dekat. “Silahkan lakukan, karena dengan begitu Gabriel akan sangat membencimu dan tak ada lagi alasan untuk mempertahankan hubungan kalian.” Desis Adara diiringi dengan sebuah seringaian.   Tangan kanan Adara maju, menepuk-nepuk bahu Claretta sesaat seolah menghilangkan kotoran di kedua bahu itu. “Berhati-hatilah denganku, perhatikan setiap tingkah lakumu Claretta. Aku memang tidak memiliki kekuasaan, tapi aku ... memiliki hati dan seluruh cinta Gabriel.” Desis Adara sebelum menegakkan tubuhnya, berdiri seraya menarik ujung bibirnya, menyeringai puas ketika melihat bola mata Claretta yang memerah, menahan marah.   “Saya rasa kita berdua tak perlu bertemu lagi Miss Claretta. Selamat tinggal.” Ujar Adara kemudian melangkahkan kakinya, meninggalkan Claretta seorang diri, berjalan ke arah lift menuju ruang kerjanya.   Adara menekan tombol lift bersamaan dengan seseorang yang juga menekan tombol yang sama. Adara terjengit, ia menoleh ke kanannya.   Seketika bola mata Adara membulat ketika melihat seorang perempuan yang sangat tak asing berdiri tepat di sampingnya.   Adelia.   “Hi! Adara ... Long time no see.” Sapa Adelia seraya memberikan sebuah seringaian padanya.   Nafas Adara tertahan dengan mata yang masih membulat. Terkejut.   Apa lagi ini?          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN