Chapter 12

1654 Kata
“Aku tidak menyangka kau benar-benar bekerja di sini Adara.”                     “Tidak menyangka aku kerja di sini atau tidak menyangka aku bisa bekerja?” tanya Adara sarkas, yang dihadiahi kekehan kecil oleh Adelia.   “Keduanya. Aku pikir sekalipun kau bekerja kau akan bekerja di perusahaan orangtuamu sendiri.”   Adara menyunggingkan senyuman tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar monitor yang mulai menyala. “Aku juga tidak pernah bermimpi akan bekerja di sini. Semua ulah Kakakmu yang sangat mendendam padaku, dia sepertinya sengaja ingin menjebakku di sini dan menyiksaku, Miss Adelia.” Ujar Adara, dengan jemari yang secara lincah mulai melakukan pekerjaannya.   “Berhenti memanggilku Miss Adelia, kau seperti meledekku. Panggil aku Adelia, bukankah biasanya kau mengumpatiku di akhir namaku?”   Lagi, Adara hanya menarik ujung bibir tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor, mulai membuka beberapa dokumen yang harus ia kerjakan hari ini. “Aku pikir Mr. Archilles memberitahumu aku bekerja di sini. Padahal aku pikir kau juga ikut andil dalam menyiksaku.”   Adelia terkekeh kecil. “Untuk apa? Urusan Sean hanya urusan Sean. Tidak akan menjadi urusanku.”   “Kau benar ... itu berarti Mr. Archilles masih memiliki dendam pribadi padaku.”   “Bukankah kalian dekat? Aku lihat Sean sering menjemputmu Adara? Jangan berusaha menyembunyikan hubungan kalian dariku.”   Adara menarik ujung bibirnya seraya melirik Adelia sesaat. “Sean masih sangat membenciku karena insiden itu. Sepertinya dia masih berpikir Gabriel pergi meninggalkanmu karena aku, jadi dia melakukan segala cara agar aku tersiksa.”   “Sean tidak selicik itu. Mungkin saja kau yang memanfaatkan kesempatan membalas dendam karena Sean dulu menculikmu.” Cerca Adelia. “Jangan bilang kau mendekati Sean karena ingin melakukannya? membalas dendam sakit hati?”   Adara menatap Adelia kemudian tersenyum lebar. “Aku tidak pernah berusaha mendekati siapapun Adelia, Tapi Sean yang berusaha mendekatiku.”   “Kau terdengar sangat sombong Adara.”   Adara mengedikkan bahu. “Itu kenyataan. Aku hanya berbicara fakta yang ada. Jika kau tidak percaya tanyakan saja pada Sean. Aku yang mendekatinya atau dia yang mendekatiku? Aku ... sebagai karyawan yang baik hanya menyambut baik sikap baik Mr. Archilles. Karena aku ... tidak mau terkena masalah yang lebih rumit. Aku ingin segera menyelesaikan kontrak kerjaku dengan tenang, lalu pergi.”   “Jangan dekati Sean.”   “Aku sudah bilang ... .”   “Jangan merespon setiap sikap baiknya.”   Adara mendongak menatap Adelia sesaat, sebelum menyunggingkan senyuman. “Baik. Aku tidak akan melakukannya jika itu yang kau inginkan.”   Adelia mengerutkan kening lalu menaikkan satu alisnya, heran mendengar ucapan Adara yang menyetujui ucapannya begitu saja.   “Kau tidak menolak?”   Adara menyunggingkan senyumannya. “Untuk apa aku menolak? Lagipula Mr. Archilles mendekatiku hanya untuk tujuan yang buruk, hanya ingin menyakitiku dan hanya untuk mencampakkanku. Tak ada alasan bagiku untuk mempertahankannya.”   “Berhenti mengatakan hal buruk tentang Kakakku! Sean tidak mungkin seperti itu.”   Adara menyunggingkan senyumannya lagi. “Kau yang terlalu naif Adelia. Kau tahu ... tidak ada manusia yang benar-benar baik. Akan ada pikiran buruk dan sifat jahat dalam diri setiap orang, sekalipun perempuan yang tampak baik sepertimu. Sementara aku? Semua yang ada pada diriku sudah tampak jahat dan buruk. Tak heran akan ada banyak orang yang meragukan kebaikan dan kejujuranku.”   “Pikirkan baik-baik Adelia, siapa yang benar-benar jahat? Apakah benar aku atau Sean? Kau cerdas, aku yakin kau bisa menemukan jawaban terbaikmu.” Adara meraih dokumen yang baru saja ia cetak. Setelah itu ia berdiri lalu menatap ke arah Adelia lagi seraya tersenyum.  “Aku ke ruangan Mr. Archilles dulu Adelia. Jika kau masih ingin berbicara denganku, kau bisa menunggu.” Pamitnya seraya beranjak memasuki ruangan Sean. Memberikan dokumen, laporan hasil meeting kemarin.   Adelia tak tinggal diam, ia mengikuti Adara beranjak masuk ke dalam ruangan Kakak-nya itu. Mengamati gerak-gerik Adara yang berinteraksi dengan Sean.   “Mr. Archilles, ini dokumen yang harus anda perikasa hari ini.”   “Hm. Simpan di atas meja.”   “Baik. Apakah ada yang anda butuhkan Mr. Archilles?”   “Tidak. Selesaikan saja pekerjaanmu.”   “Baik. Kalau begitu saya undur diri kembali ke meja saya.” Pamit Adara kemudian beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut melewatinya.     Adelia menghembuskan nafasnya perlahan. Tak ada yang spesial dari interaksi mereka, tapi mengapa ia mendapat beberapa foto keakraban mereka di luar kantor? Siapa yang sebenarnya memiliki tujuan jahat? Benarkah Kakaknya sendiri yang justru berniat jahat pada Adara?   “Adelia? Tumben. Ada apa?” tanya Sean setelah menyadari kehadirannya.   Adelia melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup kembali. Kemudian duduk di sofa yang berada di tengah ruangan. “Seseorang mengatakan Adara Rexford bekerja di sini. Aku hanya penasaran dan ingin memastikannya saja. Ternyata gadis manja itu benar-benar bisa bekerja?”   “Sedikit membantu. Hasil kerjanya juga tidak buruk.”   Adelia menatap Sean yang tampak sibuk dengan dokumen di hadapannya. “Sean ... aku ingin berbicara serius denganmu. Jawab aku dengan jujur sebelum aku tahu kebenarannya dari oranglain. Apa tujuanmu mendekati Adara?”   Sean tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari dokumen dihadapannya.   “Aku tak ada waktu untuk membicarakan hal lain selain masalah bisnis.”   “Sean!”   “Kalau kau ingin bicara tentang keluarga, kita bicarakan di rumah.”   “Aku tak akan datang ke kantor jika kau memiliki waktu di rumah!”   Sean menghembuskan nafasnya lagi kemudian mendongak menatap Adelia. “Kau bisa menemuiku di ruang kerjaku nanti. Di rumah.”   Adelia mendengus kemudian berdiri lagi, berjalan ke arah sang Kakak. “Baik. Aku akan menunggumu di rumah Sean. Tapi ingat! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah setuju jika kau benar-benar mendekati Adara! Aku pergi.” Pamit Adelia kemudian beranjak pergi meninggalkan Sean.   Sean menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menatap kepergian Adelia dalam diam. Setelah itu ia memejamkan mata,lalu menghembuskan nafasnya lagi.   Selama ini ia dan Adelia hampir tak pernah berdebat. Ia bahkan tak pernah tidak memenuhi keinginan adiknya itu. Tapi mengapa sekarang ia justru membuat adiknya pergi dalam keadaan marah? Seharusnya ia katakan saja kalau ia tidak benar-benar sedang mendekati Adara. Ia hanya ingin mempermainkan perempuan itu. Tapi mengapa hatinya mendadak tak rela? Mengapa perasaannya terganggu ketika ia harus mengatakan hal itu? Apalagi ketika bayangan senyum manis dan binar mata Adara yang begitu dekat dengannya pagi tadi kembali terbayang dalam benaknya. Apa yang salah dengannya?   Clek!   “Sean, aku berpapasan dengan Adelia. Kalian bertengkar?”   Sean menghembuskan nafasnya lagi kemudian membuka matanya, menatap ke arah Rose yang kini tengah berjalan ke arahnya, layaknya model di atas panggung peragaan. Iris mata Sean membesar saat melihat penampilan Rose yang tampak lain. Rambut yang selalu tergerai kini di ikat tinggi di belakang, kaki jenjang yang biasanya tertutupi celana kini terbuka, hanya mengenakan rok di atas lutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya.   “Ada apa dengan penampilanmu Rose?”   Perempuan yang sudah berdiri di sampingnya itu mengerut. “Ada apa?”   “Kenapa kau menguncir rambutmu?”   “Ah ... ini. Aku ingat, kau pernah mengatakan lebih suka melihatku mengikat rambutku daripada di gerai.”   “Lalu kenapa dengan rok mu ini?”   Rose tersenyum tipis. “Bukankah kau juga pernah bilang, ingin melihatku mengenakan rok?”   Sean mengerutkan keningnya, masih heran dengan tingkah asisten pribadi sekaligus pengawalnya itu. “Biasanya kau menolak. Kenapa mendadak berubah?”   Rose tersenyum lagi. “Kau sudah tahu aku mencintaimu Sean. Kenapa kau masih bertanya? Tentu saja untuk menarik perhatianmu.”   Sean menyandarkan punggungnya lagi, menatap Rose dalam diam dengan tatapan yang begitu dalam. “Apapun yang sedang coba kau mainkan ini tidak lucu Rose. Kita kenal seumur hidup, kau tak mungkin tiba-tiba jatuh cinta padaku, apalagi dinding yang kau bangun selama ini sangat tinggi.”   Senyuman Rose menghilang, dengan gerakan cepat perempuan itu memutar kursinya, lalu menumpukan kedua tangan pada lengan kursi yang sedang ia duduki, lalu mencondongkan tubuh, menatapnya dengan tatapan tajam penuh intimidasi.   “Sejak kecil aku dilatih seperti ini. Tingkah kasar, tatapan tajam dan sikap yang dingin. Aku tidak pernah tahu cara menunjukkan kasih sayang, apalagi cinta selain dengan bercinta dan memuaskanmu. Kau pikir ada perempuan yang ingin merelakan dirinya secara cuma-cuma?” Rose menarik ujung bibirnya. “Aku menyingkirkan seluruh perempuan yang ada di sekitarmu karena aku ... cemburu. Aku hanya ingin kau untukku dan menjadi milikku.”   Bruk!   Sean mendorong Rose dengan gerakan cepat hingga perempuan itu terhempas ke dinding dengan kedua tangannya yang berada di bahu perempuan itu.   “Jangan bermain-main denganku Rose.”   “Aku sedang tidak bermain Sean. Aku berkata jujur.”   “Tidak! Kau pasti sedang merencanakan sesuatu setelah tahu aku benar-benar tertarik pada Adara.”   Rose terdiam, iris matanya bertatapan langsung dengan iris mata penuh amarah yang Sean berikan. Setelah itu Rose memalingkan wajahnya. Menghindari tatapan Sean. “Kau ... benar-benar tertarik pada Adara, Sean?”   “Ya ... aku memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius dengannya.”   Rose meneguk ludahnya kasar lalu menatap ke arah Sean lagi. “Kalau begitu kita harus berhenti.”   Iris Sean membesar. Cengkraman di bahu Rose pun mengendur. “Apa maksudmu?”   “Jika kau memutuskan untuk jatuh cinta dan berhubungan serius dengannya kita harus berhenti Sean. Hubungan kita ... ah ... salah. Maksudku kegiatan kita selama ini.” Rose tersenyum tipis seraya menepuk bahu Sean sesaat sebelum mengelusnya.   “Kau benar ... .”   Rose tersenyum tipis seraya mengalihkan tatapannya lagi ke arah lain, kemanapun asalkan bukan iris mata Sean.   “Tapi jika kau tidak keberatan ... aku ingin sekali lagi Sean. Sebagai tanda perpisahan kita. Agar aku pun ... bisa benar-benar melepaskanmu dan melupakan semua perasaan yang kumiliki.”   Deg!   Sean tertegun, ia menunduk menatap Rose yang kini terus menghindari tatapannya, bahkan kini mendorongnya menjauh dengan air muka lain, tampak sendu, tidak sedingin seperti biasanya.   “Rose ... .”   Perempuan itu menghentikan langkah tanpa berbalik.   “Kau benar-benar menyukaiku?”   Rose tak menjawab, perempuan itu kemudian melangkahkan kakinya lagi ke arah meja kerja. Duduk di sana, menatap layar monitor tanpa mengindahkannya sama sekali.   “Rose aku bertanya padamu!”   Rose menghembuskan nafas perlahan lalu menatap ke arahnya lagi dengan tatapan dingin seperti yang selama ini perempuan itu miliki.   “Aku sudah mengatakan semuanya dengan jelas.”   ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN