Dingin. Tak ada keakraban sama sekali di dalam ruangan itu. Sejak pagi hingga menjelang makan siang tak ada percakapan antara Sean dan Rose seperti biasanya. Rose bahkan tidak mengeluarkan suaranya sama sekali saat memberikan beberapa file, dia hanya memberikan file tersebut tanpa mengatakan apapun lalu beranjak pergi kembali ke arah mejanya. Sean pun sama, ia sama sekali tidak berinisiatif untuk berbicara, ia hanya mendiamkannya hingga ruangan itu hampir berubah seperti dalam lemari pendingin.
Sean mendengus kecil kemudian berdiri, lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan itu tanpa memedulikan Rose yang diam-diam melirik Sean dengan ujung matanya.
Rose menghembuskan nafas perlahan kemudian meraih ponsel yang tegeletak di atas meja.
“Awasi Mr. Archilles. Dia keluar tanpaku.” Ujar Rose setelah panggilan itu tersambung.
“Baik Miss.”
Setelah panggilan itu berakhir Rose menghembuskan nafasnya perlahan lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi seraya memejamkan mata.
“Apa lagi yang harus kulakukan?”
.
.
.
Sean melangkahkan kaki mendekat ke arah Adara yang masih tampak sibuk dengan beberapa dokumen. Ia kemudian menghentikan langkahnya tepat di depan Adara, membuat perempuan itu mendongak kemudian berdiri.
“Ada yang dapat saya bantu Mr. Archilles?”
“Temani aku makan siang.”
“Maafkan saya Mr. Archilles saya tidak bisa makan siang dengan anda. Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya.”
Kening Sean mengerut mendengar penolakan yang diberikan Adara, ditambah senyuman perempuan dihadapannya ini pun hilang. Terlihat datar, dan dingin. Sangat berbeda dengan dirinya pagi tadi.
“Apa yang salah Adara? Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa kau mendadak seperti ini?”
Adara menatapnya dengan tenang. “Anda tidak melakukan kesalahan apapun Mr. Archilles. Hanya saja saya mulai menyadari bahwa saya memang tak pantas berada di samping anda, apalagi masuk ke dalam keluarga Archilles.”
“Rose melarangmu dekat denganku lagi?”
“Tidak. Miss Rossean tidak pernah melarang saya.”
“Adelia?”
Adara tak menjawab. Ia hanya menghela nafas kemudian membasahi bibirnya sesaat.
“Adelia benar-benar melarangmu?”
“Lebih baik anda tanyakan saja pada adik anda sendiri Mr. Archilles.”
“Lupakan. Ayo makan siang bersamaku.” Sean menarik lengan Adara, akan tetapi Adara dengan segera menepis tangan Sean.
“Berhenti Sean! Jangan mempersulit keadaan!”
“Aku hanya ingin makan siang denganmu, apanya yang mempersulit?”
“Kau pikir tak sulit jadi aku? Dikelilingi banyak orang yang bahkan tidak mempercayaiku! Sejak awal anda yang mendekati saya tapi Adelia mengira saya yang melakukannya. Dia bahkan menghina saya. Anda pikir posisi saya tidak sulit? Jika saya tetap bersama anda apa yang akan Adelia pikirkan? Dia mungkin akan mengira aku menjadi jalangmu Mr. Archilles!”
“Siapa yang berani mengatakan itu padamu?!”
Adara menghembuskan nafas seraya melepaskan genggaman tangannya. “Sudahlah tak perlu di perpanjang Sean. Lepaskan tanganku, aku terima dengan baik maksud baikmu untuk memperbaiki hubungan kita berdua. Tapi aku tidak bisa menghadapi sikap Adelia. Selama dia tidak bisa menerima kehadiranku aku tidak akan mau lagi berdekatan denganmu. Jadi sebelum kau mendekatiku lagi sebaiknya kau jelaskan semuanya terlebih dulu pada adikmu.”
“Jadi Adelia mengatakan hal seperti itu padamu?”
“Tanyakan sendiri pada adikmu Sean. Pergilah ... aku akan kembali bekerja.”
“Ini saatnya makan siang Adara.”
“Aku tahu ... aku akan makan siang sendiri. Kau bisa pergi dengan Rose jika memang ingin teman untuk makan siang.” Adara kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Itu ... Miss Rossean. Miss Rossean!” panggil Adara.
“Kenapa Miss Adara?”
“Mr. Archilles ingin makan siang denganmu. Pergilah.”
Sean dan Rose saling melirik beberapa saat, kemudian Rose mengangguk. “Aku akan menemaninya. Mari Mr. Archilles.”
Adara menghembuskan nafas perlahan kemudian mendudukkan tubuhnya kembali setelah Sean pergi bersama dengan Rose. Iris matanya memindai punggung bidang itu, menatapnya dengan tatapan dingin. Iris matanya bahkan bertemu dengan iris mata Sean saat lelaki itu memasuki lift, ia memalingkan wajah ketika menyadari tatapan sendu yang lelaki itu berikan. Setelah di rasa Sean dan Rose menghilang di balik pintu lift itu ia kembali berbalik menatap lift tersebut, menatapnya dengan lamat lalu menyeringai, tersenyum penuh kemenangan.
***
Gabriel menatap ponselnya dengan tatapan dingin ketika mendapatkan beberapa laporan dari kaki tangannya pagi ini. Jemarinya bergulir menyentuh layar ponsel pintar itu dengan cepat, menggulir satu persatu potret dua perempuan yang sedang duduk berhadapan.
“Mr. Tyrone, Miss Claretta datang untuk makan siang bersama.”
Gabriel segera mematikan layar, kemudian berdiri. “Dimana dia sekarang?”
“Private room, restoran di samping kantor.”
“Aku akan kesana sekarang.” Ujar Gabriel kemudian berdiri bersiap pergi.
“Mr. Tyrone ... .”
“Jangan menyakiti Claretta sekalipun kau sudah tahu semua kebenarannya.”
...
Gabriel melangkahkan kakinya dengan lebar, melangkah lurus menuju satu-satunya meja yang berada di ruangan itu. Tempat dimana Claretta datang, dan menunggunya.
“Sepertinya waktumu sangat luang Claretta.” Ujar Gabriel seraya duduk dihadapan parempuan itu.
“Aku sengaja meluangkan waktu untukmu Gabriel. Ayo makan. Aku sudah memesankan beberapa makanan kesukaanmu.”
“Maksudku pagi ini. Kau bilang ada pasien yang harus segera mendapatkan penanganan tapi ternyata pasiennya ada di Archilles?”
Claretta menyimpan kembali garpu dan pisau dari tangannya. lalu menatap kearah Gabriel.
“Kau mengawasiku?”
“Tidak.”
“Kau mengawasinya?”
Tak ada jawaban. Claretta menarik ujung bibirnya sesaat lalu menatap Gabriel yang menatapnya dengan tatapan tajam. “Kenapa? Kau marah aku menemui selingkuhanmu Gabriel?”
“Aku marah karena kau berbohong.” Ujar Gabriel penuh tekanan. “Jika kau memang ingin menemui Adara aku bisa mempertemukan kalian secara langsung. Kau masih mau bertemu dengannya lagi?”
“Kau menemuinya secara diam-diam. Salah jika aku mengikuti caramu?”
Gabriel menarik ujung bibirnya. “Oh ... jadi kau sudah tahu?”
“Aku bahkan melihatmu berciuman dengan perempuan itu dihari pertunangan kita Gabriel. Jangan kau berpikir aku diam tanpa tahu apapun. Aku diam hanya karena aku tak ingin menciptakan keributan.”
Gabriel menghembuskan nafasnya. “Jika kau melihatnya kenapa kau tak minta hubungan kita berakhir saja Claretta? Aku sudah bersikap b******n karena mencintai perempuan lain dibelakangmu. Seharusnya kau memilih lelaki yang lebih baik, yang mencintaimu dan bisa menjagamu dengan sepenuh hatimu.”
“Agar kau bisa bersamanya?”
“Agar kau bisa bahagia.” sergah Gabriel dengan tenang. “Sejak awal hubungan kita adalah sebuah kesepakatan Claretta, hanya karena kita sama-sama tahu bahwa kita akan di jodohkan. Kita sepakat untuk memulai berhubungan dengan harapan kita akan saling mencintai. Tapi nyatanya aku tidak berhasil mencintaimu. Sekalipun kita bersama kau tak akan merasa bahagia Claretta. Kau hanya memiliki ragaku, tapi tidak dengan hatiku.”
“Tapi aku mencintaimu Gabriel.”
“Aku tahu ... karena itulah aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja. Hubungan ini aku yang memulai, jika aku tidak mengajukan kesepakatan itu kau mungkin memiliki kesempatan untuk jatuh cinta pada orang lain dan mungkin kau sudah akan menemukan orang yang kau cintai. Aku bertanggung jawab atas perasaan yang kau miliki, aku harus setidaknya ... bisa meninggalkanmu tanpa melukai hatimu. Aku harus melihatmu bahagia bersama seseorang yang akan menjagamu, yang bisa mencintaimu dan menjadikanmu ratu dalam kehidupannya.”
Gabriel menghembuskan nafas perlahan, menjeda kalimatnya. “Kau tahu kenapa aku berpikir sampai sejauh itu?”
“Karena kau ingin bersamanya.”
“Karena aku peduli padamu. Aku memang ingin bersamanya, aku tak akan menyangkal. Tapi aku juga harus memikirkan perasaanmu karena aku peduli.”
Claretta terkekeh sengau. “Peduli ... atau kau takut menyakitiku karena takut pada Kakek? Kau tidak perlu berpikir terlalu dalam lagi Gabriel. Tidak perlu berpikir terlalu keras. Karena masalahmu akan segera berakhir.”
Kening Gabriel mengerut. “Apa maksudmu?”
“Hubungan kita akan di publikasi malam ini dan pernikahan kita akan di gelar dalam waktu dua bulan.”
“Apa?! Claretta ... .”
“Tidak hanya kau yang bisa berbuat seenaknya di belakangku Gabriel. Aku pun bisa melakukan apapun yang kuinginkan di belakangmu.”
“Claretta! Kau ... .”
“Jangan salahkan aku. Kau yang memulai semua ini Gabriel. Aku hanya mengikuti jalan yang kau buat.”
Gabriel menghembuskan nafasnya perlahan kemudian mengangguk kecil. Setelahnya ia berdiri. “Baik. Lakukan saja sesukamu.” Ujar Gabriel sebelum melangkah pergi seraya mengeluarkan ponselnya.
“Hallo Mix, siapkan mobil dan belikan apartemen baru untukku. Aku akan pindah hari ini juga.”
...
Claretta menatap punggung Gabriel dengan tatapan nanar, mulai buram, berembun hingga akhirnya air mata yang terasa begitu panas meluruh, jatuh membasahi kedua belah pipinya. Dadanya sesak, sakit, perih serasa terhimpit dinding penuh duri yang begitu tajam.
Apakah usahanya selama ini akan berakhir begitu saja seperti ini? Apakah ini yang namanya belum jodoh? Sekuat apapun ia memaksa tetap saja akan lepas, tidak akan pernah bisa ia miliki.
Isak tangis terdengar semakin nyata, Claretta mulai menunduk, membenamkan kepalanya di antara kedua tangan, mulai menangis tersedu dengan punggung yang bergetar hebat. Meratapi masa depannya yang hancur, menghadapi semua yang sudah ia bangun susah payah hancur tepat di depan matanya.
Tak lama setelah itu sebuah langkah kaki terdengar mendekat, disusul sebuah helaan nafas berat ketika langkah itu terhenti.
“Sudah kukatakan padamu Claretta, jika kau membangun sesuatu dengan pondasi yang lemah, semuanya akan mudah hancur. Aku juga sudah mengingatkanmu sejak awal, sandiwara dan kebohongan tidak akan pernah membantumu mendapatkan kebahagiaan yang selama ini kau harapkan.”
***
Sean benar-benar makan siang bersama dengan Rose. Kedua orang itu duduk berhadapan di kursi dekat jendela restoran tepat di depan kantor.
“Ini ... silahkan.” Ujar Rose seraya memberikan steak yang baru saja selesai ia iris dan cicipi untuk Sean.
“Kau tak perlu selalu melakukannya Rose. Aku bisa melakukannya sendiri.”
“Jika kau berpikir aku melakukannya untuk mencari muka, dugaanmu salah Sean. Aku melakukan ini karena ini tugasku sebagai pengawal. Aku harus memastikan keadaan makananmu aman tanpa ada racun di dalamnya.” Jelas Rose tanpa memberikan ekspresi yang berarti.
“Berhenti membuatku bingung Rose, aku sudah cukup gamang dengan perasaanku terhadap Adara.”
“Aku tidak sedang membuatmu bingung Sean, aku hanya berusaha menyesuaikan diri. Aku akan tetap profesional dalam pekerjaanku sekalipun kau tidak membalas perasaanku.”
“Sean ... aku ... .”
“Sebenarnya apa maumu?”
“Hm? Mauku?” Rose mendongak menatap ke arah Sean yang kini tengah menatap ke arah jendela. Ia mengalihkan pandangan menatap ke arah pandang Sean, ternyata di sana ada Adara dan Gabriel bertemu. Di toko roti tepat di samping kantor.
“Jadi ... dia menolakku untuk menemuinya?”