Adara menangis kembali begitu sadar, perempuan itu terus merancau, berkata tidak jelas dengan sesekali histeris ketakutan. Claretta bahkan datang dengan obat penenang tapi Gabriel menahannya, karena ia tahu ... obat tidak akan menyembuhkan apapun. Sehingga ia hanya memeluk erat Adara dengan sesekali mengecup puncak kepala perempuan itu. “Gabriel aku takut ... bagaimana dengan Papa dan Mama mu? Bagaimana Kakek? Kakek pasti akan berubah pikiran. Kakek pasti tidak akan suka melihat berita itu. Kakek pasti akan marah. Kakek pasti akan melakukan hal yang dulu Kakek pasti.” Gabriel menggeleng seraya menciumi puncak kepala Adara tanpa henti. Ia belum mengatakan apapun, ia hanya memeluk Adara dengan erat dan semakin erat lagi, juga mencium puncak kepala Adara semakin dalam. “Gabri

