Rose mendengus lalu mendelik ketika melihat Sean yang hanya duduk melamun dengan tangan mengelus betisnya. “Sudahlah—.” “Kalau tidak mau memijat kakiku sebaiknya kau menyingkir Sean, aku bisa meminta Ren melakukannya.” sindir Rose seraya menarik kakinya dari tangan Sean. Sean terperanjat, menatap Rose tidak terima. “Tidak. Tidak. Aku akan melakukannya.” “Yasudah pijat! Aku sudah katakan kakiku sangat pegal. Punggungku juga pegal sekali. Oh!” “Tapi ... aku ... .” “Apa? Kau tidak bisa melakukannya? Ya sudah. Aku bilang lebih baik aku meminta Ren saja yang sudah jelas-jelas ahli dan tidak akan menolak permintaanku.” Mata Sean membulat. “Ren selalu melakukannya?” “Kau pikir saat aku pegal aku diam dan menikmati rasa pegal saja? Tentu saja tidak Sean. Dan ya ... aku

