Sepasang insan ini bergegas memasuki rumah yang masih saja selalu sepi sebab teman-teman Jefrry masih dalam masa libur panjang akhir semester genap. Keduanya sepakat untuk ke kost Olive siang ini untuk mengambil pakaian ganti Olive beserta perlengkapan membuat proposal tugas akhir Olive. Keduanya bergegas ke kamar, Olive segera meraih tas dan memasukkan beberapa barang yang mungkin diperlukan diperjalanan seperti dompet, air minum dan yang paling penting ponselnya yang hampir terabaikan sejak bersama Jeffry. Olive hanya mengecek pesan-pesan yang masuk selebihnya semua untuk kebersamaannya dengan Jeffry.
“Uda siap-siapnya sayang?” tanya Jeffry lembut pada Olive.
“Uda nih...yuk kita jalan” sahut Olive tersenyum lembut menatap Jeffry.
Jeffry segera merangkul pundak Olive dan mendaratkan kecupan hangat dikeningnya, Olive hanya memejamkan matanya dan tetap tersenyum lembut merasakan hangatnya. Jeffry kemudian menuntunnya berjalan keluar kamar menuju sepeda motor. Setelah memastikan semua pintu terkunci keduanya segera meninggalkan rumah itu, ya rumah dimana keduanya merasakan cinta dan sayang tanpa gangguan sedikitpun. Keduanya mulai merajut benang-benang kasih menumbuhkan dan mulai memupuknya hingga keduannya merasa nyaman di hari-hari kebersamaannya.
Jeffry tidak peduli dengan kenyataan dimana Olive telah dijodohkan, dia hanya peduli jika saat ini dirinya sangat mencintai Olive yang dari dulu sudah diimpikan dan dirindukannya. Kini keduanya masih dalam perjalanan menuju kost Olive, Olive merangkul erat perut rata Jeffry dan menempel indah pada punggung Jeffry dengan manja. Seakan tak ingin berpisah lagi.
Olive segera meloncat turun dari motor ketika menyadari mereka sudah berhenti di depan kosnya. Dia berdiri memandangi Jeffry yang sibuk memarkirkan motor disisi kiri jalan,sebab kos Olive tidak memiliki halaman terasnya langsung menempel dibadan jalan untungnya ini bukan jalan raya hanya gang yang lumayan lebar dan buntu. Jefrry selesai memarkir motor terkejut mendapati Olive yang mematung menatapnya.
“ Ada apa sayang? Kenapa kamu serius seperti ini?” tanya Jeffry beruntun.
“Eh... ga apa-apa, kamu tunggu disini ya, aku masuk siapkan semuanya” tutur Olive sambil menunjuk teras yang sekaligus menjadi ruang tunggu di kos ini.
“Oke... sayang, Jawab Jeffry pelan”.
Olive segera berlalu menuju pintu kamarnya lalu segera membuka gembok dengan kunci yang dari tadi sudah disiapkannya. Pintu kamar pun terbuka, Olive segera masuk dan membuka lemari pakaiannya. Kemudian mengambil beberapa potong kaos, kemeja, celana panjang dan pendek serta pakaian dalam.
Kemudian Olive mematut dirinya di cermin memperhatikan bibirnya dan wajahnya yang sudah tidak suci lagi, seluruh wajahnya sudah menjadi bulan-bulanan Jeffry. Olive ingin menangis mengingat dirinya saat ini. Kenapa aku tidak bisa melawannya? Kenapa aku tidak lagi mampu menjaga diriku? Padahal selama bertahun-tahun jauh dari keluarga aku selalu menjaga pesan-pesan ibuku supaya aku menjaga diriku. Olive terduduk lemas dan tak mampu menahan tangisnya dia mulai menangis terisak-isak dia bahkan melupakan Jeffry yang sedari tadi menuggunya di ruang tunggu, dia semakin larut deangan tangisnya yang tak mampu lagi dibendungnya, dia merasa sangat bersalah pada orang tuanya.
Setelah puas meluapkan rasa sedihnya Olive mulai berusaha bangun dan kembali mematut dirinya di depan cermin lalu menyisir rambutnya kemudian menjepit dibagian belakang kepalanya. Olive bergegas menuju kamar mandi, dia mencuci mukanya dengan sabun supaya tak terlihat orang jika dia habis menangis.
Jeffry menunggu dengan gelisa dia berkali-kali berdiri dan melongokan kepalanya kearah kamar Olive namun Olive belum juga muncul. Akhirnya Jeffry memutuskan untuk memanggil Olive. “Olive...Olive... uda siap apa belum?” panggilnya namun tak ada sahutan kos ini benar-benar sepi gumam Jeffry, Olive...liv...kamu kemana? Panggil Jeffry lagi namun tetap tak ada jawaban...Jeffry membedakan diri masuk dan melihat keadaan Olive namun Olive tidak ditemukannya di kamarnya dengan hati yang semakin tak menentu Jeffry berjalan ke arah belakang dan betapa terkejutnya Olive ketika mendapati Jeffry sudah berdiri didepannya tanpa bicara apapun Olive segera menarik tangan Jeffry untuk segera kembali ke ruang tunggu sebab akan sangat berbahaya jika ada penghuni kos lain yang melihat Jeffry masuk hingga ke depan kamar mandi, satibanya di ruang tunggu yang sekaligus ruang tamu barulah Olive melepaskan tangan Jeffry. Jeffry tersenyum melihat Olive yang panik, “makanya klo dipanggil jawab dong...inilah jadinya jika kamu tidak memberi tahu kenapa kamu begitu lama dan ketika dipanggil tidak ada jawaban” ucap Jeffry panjang lebar. Olive yang masih belum bisa menenangkan hatinya tidak menjawab apapun melainkan beranjak ke kamarnya mengambil perlengkapanya kemudian bergegas mengunci pintu kamarnya. Kini Olive kembali lengkap dengan semua keperluannya. “ Yuk kita jalan” ucap Olive singkat sambil menatap Jeffry. Tanpa menunggu, Jeffry segera berdiri dan melangkah menuju motornya yang terparkir di pinggir jalan. Olive mengikuti langkah Jeffry dari belakang dan segera duduk di jok belakang Jeffry.
Sepeda motor yang membawa mereka kini mulai bergerak meninggalkan kost Olive. Sepanjang jalan seperti biasa Olive memeluk dan menempel indah dipunggung Jeffry sambil sesekali berbincang tentang kuliah yang sebentar lagi akan masuk semester baru, Jeffry selalu memegang jemari Olive jika ada kesempatan dan Olive semakin manja memeluk Jeffry.
Jeffry mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang, hingga mereka bisa menikmati suasana Jogja yang nyaman dan damai di sore hari ini, Jogja yang terkenal jauh dari kemacetan dan kebisingan dan sangat indah membuat kedua insan ini lupa pada banyaknya mata yang memandang iri akan kemesraan mereka, Jeffry yang tampan begitu juga dengan Olive yang cantik dan manja membuat pasangan ini terlihat sangat serasi, tak heran meskipun banyak teman sekampus Jeffry yang menyukainya namun Jeffry tetap menjatuhkan pilihan pada Olive yang sangat dirindukanya dari dulu sejak Jeffry masih duduk di bangku SMP.
Foto keduanya sewaktu masih kecil selalu Jeffry pajang di kamar tidurnya agar dia bisa memandang wajah Olive yang saat itu terpisah jauh darinya, kini Jeffry merasa sangat beruntung bisa bertemu dan memeluk pujaan hatinya.
Benarlah kata pribahasa yang mengatakan asam di gunung garam di laut dalam kuali bertemu jua, dan inilah kenyataan hidup yang dialami kedua insan ini.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka kembali tiba di kost Jeffry, hari mulai gelap saat keduanya tiba.
Olive segera turun dari sepeda motor dan menunggu Jeffry yang segera membuka pintu kemudian Olive masuk diiringi Jeffry yang menuntun sepeda motornya untuk diparkir di ruang tamu. Setelah menyalakan lampu di semua ruangan mereka masuk ke dalam kamar masing-masing.
Jeffry segera meraih handuk dan bergegas mandi, sementara Olive memanaskan air untuk mandi, dia masih saja kedinginan jika mandi air dingin apa lagi sekarang ini musim hujan cuaca tidak bersahabat membuat Olive sering merasa kedinginan. Beruntung kini Olive berjumpa Jeffry yang selalu setia menjaga dan merawatnya.
Tak lama berselang, Jeffry kembali ke kamarnya setelah mandi dan menimba air untuk Olive, Jeffry kini menemui Olive dengan kaos merah marun dan celana panjang jeans berwarna hitam, “sayang kamu mandi ya, aku uda siapin air buat kamu” ucapnya lembut. Olive hanya mengangguk menjawab ucapan Jeffry, diam-diam Olive memperhatikan pakaian yang dikenakan Jeffry sambil tersenyum dan berkata” kamu terlihat gagah sayang” mendapat pujian dari Olive Jeffry yang sedari tadi sudah gemes ingin memeluk Olive langsung menarik pinggang Olive kedalam pelukannya sambil mencium bibir Olive lembut seraya berucap “makasih sayangku sekarang kamu mandi ya, aku temani”. “Oke…” ujar Olive sambal tersenyum kemudan langsung melepaskan dekapan Jeffry perlahan untuk mengambil perlengkapan mandinya lalu melangkah menuju kamar mandi, Jeffry segera mengikutinya sambil membawa air panas yang tadi dimasak Olive. Jeffry segera menuang air panas yang dibawanya ke bak mandi mencampurkannya dengan air yang tadi ditimbanya. “sayang airnya sudah siap, ayo kamu mandi sini” ucap Jeffry singkat. Tanpa menjawab ucapan Jeffry Olive segera melangkah masuk ke kamar mandi tersenyum manis pada Jeffry, Jeffry sekali lagi mengecup bibir milik Olive sebelum meninggalkan kamar mandi, “ makasih sayang” ucap Olive sambal menutup pintu setelah Jeffry keluar “sama-sama sayang” jawab Jeffry yang juga tersenyum yang tak kalah manisnya. Jeffry dengan setia menunggu Olive mandi, tak pernah dia meninggalkannya sedetikpun begitu sayangnya dia pada Olive, begitu juga dengan Olive selalu menerima semua kekurangan Jeffry inilah yang membuat keduanya merasa cocok.
Beberapa saat berlalu Olive segera membuka pintu kamar mandi dan bergegas masuk ke rumah lengkap dengan peralatan mandinya, Jeffry tersenyum melihat Olive yang setengah berlari menuju kamar sebab Olive hanya mengenakan piyama pink dengan list putihnya. Setelah mengunci pintu belakang Jeffry segera menyusul Olive namun Jeffry terlambat Olive sudah mengunci pintu kamarnya akhirnya Jeffry harus sabar menunggu di ruang tamu.
Tak lama berselang Olive keluar dengan kaos ungu dan celana jeans panjang biru. Jeffry tersenyum lembut menatap Olive yang masih sibuk dengan handuk untuk mengeringkan rambut panjang ikalnya, “sayang kita jalan yuk… kita makan malam supaya ntar kamu tidak kedinginan terkena angin malam” ucap Jeffry singkat sambil mendekati Olive dan merangkul pinggangnya dengan mesra...” Oke...tapi tunggu rambutku kering sebentar lagi ya sayang” jawab Olive singkat dan menatap Jeffry menuntut. “Baiklah sayang keringkan rambutmu dulu” jawab Jeffry sambil mencium rambut Olive yang wangi shampoo sementara Olive tetap sibuk dengan rambutnya.
Setelah dirasa rambutnya sudah setengah kering Olive segera melepaskan handuknya kemudian perlahan melepaskan rangkulan Jeffry seraya berkata ”sayang boleh lepas dulu tangannya? aku mau jemur handuknya” Jeffry segera meraih handuk dari tangan Olive lalu dia berjalan menjemur handuk Olive ke tempat jemuran, sementara Olive melanjutkan aktivitasnya dengan menyisir rambutnya dan memakai pelembab wajah dan lips ice yang berwarna peace natural menambah sensual bibir tipisnya.
Jeffry yang dari tadi sudah kembali setelah menjemur handuk, hanya duduk memperhatikan Olive yang sedang mendandani dirinya “sayang aku sudah siap, kita jalan sekarang yuk” ajak Olive setelah mengakhiri kegiatan berdandannya.
Jeffry segera berdiri mendekati Olive dan tanpa basa-basi Jeffry segera mengurung Olive dalam dekapannya dan segera mengecup lembut bibir Olive yang sangat harum dan lembut dengan balutan lips ice. Jeffry mengecupnya lagi dan lagi membuat Olive tak bisa berkutik hanya bisa menikmati sentuhan lembut bibir mereka Jeffry memperlakukan Olive dengan lembut bahkan sangat lembut, hingga Olive pun kini balik memeluk Jeffry dengan erat dan ini membuat Jeffry semakin tak mampu menahan diri untuk mengakhiri lumatannya, bahkan Jeffry melumat dengan sangat lama dan kuat membuat mereka berdua terengah-engah setelah Jeffry melepaskan lumatanya.
Olive bingung mendapati bibir bawahnya serasa menebal lalu segera menghadap cermin dan benar saja kini bibirnya kebas dan bengkak, Olive berbalik menatap Jeffry tajam dan itu membuat Jeffry bingung, “sayang kamu kenapa tiba-tiba cemberut? Mau dicium lagi?” tanya Jeffry beruntun. Sontak Olive memukul pundak Jeffry. “cium apaan? ga lihat bibirku kini bengkak dan kebas?” Ucap Olive kesal. Jeffry segera mendekati Olive untuk memastikan apa yang Olive ucapkan barusan namun Olive buru-buru mendorongnya.
“sayang aku ga akan cium lagi, aku mau lihat bibirmu yang katanya bengkak itu” ucap Jeffry sambil tetap mencoba mendekati Olive, namun Olive kembali mendorongnya seraya berkata ”sayang ih... makanya klo cium kira-kira dong… aku khan malu mau keluar dengan bibir begini” Jeffry tersenyum geli melihat Olive yang kebingungan. “sayang... kok malah senyum-senyum gitu? Senang ya lihat aku susah?” ucap Olive makin kesal.
‘Bukan gitu sayang, kita khan keluar bareng meskipun bibirmu bengkak sedikit itu ga masalahlah, khan ada aku yang menjagamu” ucap Jeffry santai masih dengan tersenyum menggoda kemudian dia mendekati Olive dan merangkul perutnya dari belakang lalu berbisik lembut di telinga Olive ”sudah ya sayang itu tidak akan lama dan kamu tetaplah Olive ku yang cantik dan aku sayang, sekarang ayo kasih lips ice lagi biar makin segar” Olive hanya mengangguk dan mulai memoles bibirnya dengan lips ice lagi.
“ Uda sayang?” tanya Jeffry memastikan dan dijawab Olive dengan anggukan. Melihat respon Olive, Jeffry segera melepaskan rangkulannya dan menggandeng Olive untuk segera beranjak meninggalkan kost ini.
Keduanya bergandengan mesra berjalan keluar kamar dan kini mereka mulai bergerak meninggalkan kost untuk mengisi perut yang sudah keroncongan dari tadi.
Kali ini Jeffry yang menentukan mereka akan makan dimana, Jeffry mengarahkan sepeda motornya ke arah kota dan ternyata Jeffry membawa Olive ke Malioboro daerah pertokoan yang melegenda di Jogja ini, namun Jeffry tidak berhenti disini dia masih melajukan motornya ke arah keraton yang hanya berjarak kira-kira lima ratus meter dari Malioboro, akhirnya Jeffry menghentikan motornya tepat di depan lesehan yang sudah di penuhi beberapa pasangan anak muda lainnya. Olive dan Jeffry segera memilih tempat duduk yang menurut mereka nyaman, kemudian mereka segera memesan makanan. Ada banyak pilihan makanan dan minuman disini ada baso, soto, pecel ayam, pecel bebek dan lele tak lupa tempe, tahu penyet bahkan sate usus, telur puyuh dan hati rempelo juga ada, begitu juga dengan jenis minumannya, mulai dari teh, soda, jahe, s**u dan jus juga ada.
Kali ini mereka memesan menu makanan yang sama sebab semuanya pilihan Jeffry.
Jeffry memilih pecel bebek sebagai menu utama dengan jus alpukat dan air mineral untuk minumannya.
Tak berapa lama pesanan pun tiba, keduanya langsung menyantap hidangan dengan bersemangat, namun Olive tidak membubuhkan sambal pada makanannya, dia harus menahan diri karena sakit yang di deritanya, disisi lain Jeffry menambahkan sambal begitu banyak pada makanannya bahkan sambal bagian Olive ikut dihabiskannya, Olive heran mengetahui betapa sukanya Jeffry makan cabe sedang dirinya tidak berani menyentuhnya.
Beberapa menit berselang mereka sudah menuntaskan acara makan malam ini, hanya Olive yang masih menikmati Jus alpukatnya.
“Sayang kita makan apa lagi sekarang? Lihat deh disana ada jagung bakar, roti bakar, bakso bakar, ikan bakar dan juga empek-empek bakar” tanya Jeffry yang sekaligus menjelaskan. Olive diam sejenak lalu menjawab” sepertinya aku kekenyangan, kita beli buat di makan di kos aja ya sayang” usulnya kemudian.
“ Oke sayang... kita mau pesan apa aja?” tanya Jeffry lagi.
“Jagung bakar dan empek-empek bakar aja” jawab Olive singkat.
Jeffry segera berdiri lalu memesan apa yang diminta Olive.
Tak berapa lama pesanan pun tiba, Jeffry segera mengeluarkan uang untuk membayarnya, namun Olive lebih duluan menyerahkan uang pada si penjual, Jeffry terkejut “sayang biar aku yang bayar ya, malam ini aku yang traktir semua, simpan uang mu ya”. Ucap Jeffry lembut. Olive tersenyum menatap Jeffry sebab Jeffry memberi isyarat supaya Olive mengurungkan niatnya, akhirnya Olive mengangguk tanda setuju dan menyimpan kembali uangnya, Jeffry segera membayar pesanan mereka.
“Setelah ini kita mau kemana sayang?” tanya Jeffry lagi. “kita langsung pulang aja ya aku capek bolak-balik seharian ini” jawab Olive singkat.
“Baiklah kita pulang supaya kamu bisa melepas lelah” ucap Jeffry menimpali.
Keduanya bergegas menuju sepeda motor tak lupa Olive menjinjing plastik makanan yang tadi dibeli.
Mereka segera meninggalkan keraton menuju kos Jeffry. Sepanjang perjalanan seperti biasa Olive menempel indah pada punggung Jeffry begitu pula dengan Jeffry selalu menyatukan jari-jemari mereka, membuat perjalanan semakin nyaman dan mesra.
Lima belas menit berselang Jeffry menghentikan sepeda motornya tepat di depan pintu kosnya.
Jeffry bergegas membuka pintu, setelah pintu terbuka Olive segera masuk dan menyalahkan lampu disusul Jeffry yang menuntun sepeda motornya lalu menutup dan mengunci kembali pintu rumah.
Kini keduanya sudah kembali ke kamar namun Jeffry tidak seperti biasanya dia tidak langsung ke kamarnya melainkan ikut masuk ke kamar di mana Olive biasanya tidur. Hal ini membuat Olive bertanya-tanya dalam hati, apakah Jeffry akan tidur disini juga?.