C H A P T E R XII

2104 Kata
Olive Pov Aku terkejut ketika aku membuka mataku mendapati tangan kekar Jeffry yang merangkul indah perutku.Aku hanya bisa menarik napas dalam berkali-kali, ingin sekali rasanya melepaskan tangan itu namunaku takut membangunkannya, dia tertidur pulas aku memandangi wajahnya yang damai membuatku bertanya-tanya dalam hati ada apa dengan kami berdua? Apa yang sedang terjadi sesungguhnya? Kami tidur sekamar dan satu kasur bahkan saat ini dia sedang memelukku dan beberapa jam lalu dia mencium bibir ku. Aku memegang bibir ku tanpa mengalihkan pandangan ku dari wajahnya. Aku benar-benar tidak mengerti Jeffry, kami saat ini bahkan tidak tahu apa status hubungan kami…yang pasti aku ingin bangun dan pulang secepatnya pikir ku. Aku tidak ingin jika terjadi hal yang lebih jauh lagi, apa lagi Jeffry sampai saat ini tidak pernah mengungkapkan perasaannya kecuali dia mengatakan sayang. Kata sayang khan bisa untuk siapa saja, beda dengan kata CINTA. Bagi ku kata cinta sangat istimewa yang dapat mengubah sebuah hubungan biasa menjadi luar biasa singkatnya berteman dengan berpacaran sangat jauh berbeda. Tapi kenapa aku dan Jeffry sepertinya memiliki hubungan yang bukan sekedar berteman atau bersaudara seperti yang aku pikirkan pada awal kami berjumpa?. Baiklah aku akan mencoba menyingkirkan semua pikiran ini dan aku akan segera bangun untuk bersiap pulang. Aku bangun dan duduk dengan hati-hati, sementara mata ku masih tertuju pada tangan Jeffry yang merangkul perut ku, perlahan aku mencoba menyentuh jarinya ingin memastikan bagaimana responnya. Ternyata dia tidak memberi respon apa-apa jadi aku bisa segera bebas dan kabur, baiklah kali ini aku harus mengangkat dan memindahkan tangannya supaya aku bisa bebas pikir ku lagi dengan bersemangat.  Segera ku pegang pergelangan tangannya lalu dengan sangat perlahan aku mengangkat dan memindahkannya, namun betapa terkejutnya aku Jeffry tiba-tiba kembali meletakkan tangannya diposisi semula seraya berkata “Mau kemana sayang? Kenapa uda bangun?” aku hanya diam dalam bingung dan berusaha meninggalkan tempat tidur kami, namun Jeffry segera menahan pergelangan tangan ku dan menariknya perlahan hingga aku jatuh kembali tepat di dadanya. “Jeff lepas… aku mau ke toilet” ucapku memohon. “Janji ya ga kabur kayak tadi?” ucapnya menggoda ku sambil tersenyum menatap ku yang masih menempel di d**a bidangnya. “I..iya…aku janji Jeff” jawabku pelan. Jeffry melepaskan tangan ku namun segera beralih memeluk ku erat… aku makin gelisah dengan perlakuannya, aku tidak bisa nyaman dengan keadaan ini, Jujur aku tidak pernah bertemu dengan orang seperti ini sebelumnya. Meskipun aku sudah dijodohkan  namun kami tidak pernah sepertu ini, kami hanya sebatas bertemu dan bercerita layaknya orang berpacaran. Sikap Jeffry selalu di luar dugaan ku, aku terkejut berkali-kali dengan ulahnya yang sangat membingungkan ku. Setelah meyakinkan Jeffry aku segera membeaskankan diri ku dari dekapannya yang sangat hangat yang mampu membuatku nyaman namun hati ku menolak sebab Jeffry tidak mencintai ku. Aku bergegas menuju toilet. Tak lama aku kembali ke rumah, aku tidak kembali ke kamar dimana Jeffry menunggu ku namun aku masuk ke kamarnya dan beristirahat disana menenangkan pikiran ku yang gundah gulana. Sengaja aku tidak mengunci pintu supaya Jeffry tidak sulit menemukan aku. Aku selalu berpikir bagaimana caranya aku bisa kabur sebab barang-barang ku ada di kamar dimana Jeffry berada. Berkali-kali aku menghela napas ku dalam namun percuma aku tidak menemukan solusi selain bicara baik-baik dan minta diantarkan pulang. Baru saja aku berniat bicara padanya kini dia sudah berada di hadapan ku tersenyum menggoda seraya berkata “Sayang… kamu kenapa disini? Aku tungguin dari tadi kok ga balik ke kamar, kirain kamu uda kabur..” ucapnya lembut dan tersenyum manis padaku. “ Jeff… antar aku pulang ya…”ucap ku lirih. Tanpa .menjawab pertanyaan Jeffry “Apa…pulang?...jadi kamu mau pulang sekarang? Mau ninggalin aku sendirian ya? Jawabnya yang dipenuhi pertanyaan. “Bukan gitu Jeff… aku merasa apa yang kita lakukan ini sudah ga benar Jeff… jadi sebelum kita makin salah melangkah lebih baik aku… pu…”  belum selesai aku bicara Jeffry langsung mendekap ku dan mencium bibir ku tanpa ampun…aku meronta berusaha membedakan bibir ku, namun Jeffry menahannya dengan tangan kekarnya memegang kepala bagian belakang ku. Berkali-kali aku mendorongnya namun tidak berhasil…setelah berlangsung kira-kira sepuluh menit Jeffry mulai mengurangi ciumannya dan perlahan melepaskan lumatannya. Kami berdua spontan terengah-engah menarik napas berkali-kali menetralkan pernapasan kami yang tadi tidak normal. Jeffry masih mendekap ku erat… lalu mengelus rambut ku dengan lembut. Aku yang sangat marah dengan perlakuannya memukul lengan dan dadanya semampu yang aku bisa, aku lemah sangat lemah pikir ku… aku menangis dan bertanya-tanya dalam hati… kenapa aku harus seperti ini? Aku harus sakit dan semua tenaga ku hilang tanpa bekas… hingga aku tak memiliki kekuatan sama sekali untuk melawan Jeffry. “Jeff tolong lepaskan aku, jangan lakukan ini pada ku jika kamu tidak mencintai ku, biarkan aku pergi aku mau pulang”. Ucapku lemah. “Olive…sayang…haruskah aku mengatakan cinta padamu? Tidak cukupkah kata sayang ku untuk mu? Apa kamu mengerti bahwa rasa sayang ku pada mu melebihi rasa cinta, artinya cinta yang sesungguhnya untuk mu aku buktikan dengan semua kasih sayang ku. Apa sekarang kamu mengerti Liv? Jelasnya panjang lebar dan pertanyaan terakhirnya itu segera membuatku merespon dengan mengangukkan kepala ku pelan. Jeffry merenggangkan dekapanya dan mengangkat dagu ku supaya aku melihatnya, namun aku segera menundukkan kepalaku lagi bersembunyi di antara lehernya yang  jenjang. Jeffry heran melihatku lalu bertanya. “ Sayang… masih kesal?... Ayo sini lihat aku supaya kamu percaya bahwa aku benar-benar menyayangimu”. Ucapnya lembut sambil kembali merenggangkan dekapannya… kali ini dia tidak sekedar mengangkat dagu ku dengan tangannya namun dia mendekap kedua pipi ku dengan kedua telapak tangannya lalu mengecup lembut bibir ku. Jujur aku malu sangat malu harus menatap Jeffry dalam keadaan begini… namun hati ku sangat bahagia sebab ternyata dia benar-benar menyayangi ku. Seketika aku mendekapnya erat dan berbisik di telinganya aku juga sayang kamu Jeff. Tanpa menjawab ucapan ku kini Jeffry kembali merenggangkan tubuh kami tersenyum hangat menatapku, lalu segera melumat kembali bibir ku… aku terkejut sesaat namun kali ini aku mulai menikmati lumatanya meski aku tidak tahu harus berbuat apa, yang aku bisa lakukan hanya memeluknya. Jeffry merebahkan tubuh kami, hingga kami pun kini berbaaring di kasur Jeffry, tiba-tiba dia kembali bertanya “Sayang… masih ragu?” tanyanya lembut sambil mendekap dan menatap ku lembut. Aku hanya menggelengkan kepala ku malu. “Ih jangan lihatin aku seperti ini Jeff… aku malu” ucap ku sambil menyembunyikan wajah ku di dadanya yang bidang. “Makasih saying akhirnya aku mendapatkan mu setelah sekian tahun aku berjuang dan menantikan mu” ucapnya seraya melumat kembali bibir ku hanya sesaat. Meskipun sesaat sungguh terasa sangat hangat menenangkan hati ku. “ Sayang kita makan ya, lalu aku antar kamu pulang ambil pakaian ganti mu trus kemari lagi, temanin aku disini ya”,  Ucapnya meminta. Aku yang tak menduga jika dia akan mengatakan itu segera menatapnya tanpa bisa berkata apa-apa. Aku memikirkan alasan apa yang bisa aku gunakan supaya aku tidak kembali kesini. Akhirnya aku mencoba memberi alasan padanya, “Jeff… aku ga bisa disini terus… aku harus membuat proposal Tugas Akhir ku aku khan sudah semester lima jadi harus sudah mengajukan proposal Jeff”, jelasku singkat. “ Kebetulan disini khan ada komputer jadi aku bisa bantu ketik, gimana mau khan?” tanyanya menuntut. Dalam hati aku mengeluh… aduh aku salah bikin alasannya ucapku dalam hati, tanpa menghiraukan pertanyaan Jeffry hingga membuatnya kembali bertanya. “Sayang… gimana? Kamu mau khan?” bujuknya lagi. Dengan berat hati aku menganggukkan kepala ku. Seketika bibir ku kembali diserbu dan dilumatnya yang penuh kelembutan dan kehangatan. Kemudian perlahan dia melepaskannya lalu berkata, “Sayang makasih banget ya… mau temanin aku lagi” kemudian mendaratkan kecupan lembut di keningku yang membuatku memejamkan mataku. Namun kemudian Jeffry mencium kedua pipi ku lalu turun ke bibir melumat lembut sesaat lalu melepaskannya perlahan. Aku hanya memandanginya diapun menatap ku lalu berbisik pelan, “Olive sayang… ayo balas dong” ucapnya lirih. Aku terkejut dan bingung “Balas apa Jeff?”, tanyaku pelan tak mengerti apa yang dia maksud. “Aduh sayang… balas ciuman ku dong”, keluhnya setengah berbisik. “A…apa? Caranya gimana?” tanya ku masih bingung. “Apa kamu ga pernah berciuman?” bisiknya pelan. “Ga pernah”jawabku singkat. “Pernah nonton film BF?” tanyanya lagi. “Film apa lagi itu Jeff?” tanyaku makin bingung. “Aduh…jadi kamu ga tau itu semua sayang?” tanyanya heran. “Ga tau...” jawab ku polos. “Sayang dengar ya” ucapnya serius. “Jadi jika aku cium bibir mu yang mungil ini kamu balas cium aku, kamu boleh kecup, isap dan apa yang kamu suka… semua boleh sayang. Nah soal film BF, itu film porno yang berisi adegan-adegan panas layaknya suami-isteri tapi percuma aku jelasin jika kamu tidak pernah melihatnya kamu tetap tak akan bisa memahaminya. Nanti jika kamu mau kita bisa nonton berdua, bisiknya menggoda ku mengakhiri penjelasannya. “ Ih… apaan aku ga mau” balasku tegas. “Ga mau ga apa-apa … tapi jika aku lumat kamu harus balas ya” jawabnya menuntut. Aku diam menatapnya tak mengerti harus bagaimana. Jeffry kembali menyerang ku dengan kecupan dari kening, pipi turun ke bibir dan kali ini dia kembali melumat bibir ku dengan lembut, aku masih belum membalasnya lantaran tidak mengerti, dia kembali menjeda ciuman kami lalu katanya, “Ayo sayang balas aku sebisa mu” keluhnya lirih. Lalu kembali melumat bibir ku, aku yang semakin bingung berusaha membalasnya meskipun pelan dan kaku aku mencobanya. “Iya sayang benar begitu… teruslah aku suka sayang” ucapnya bersemangat ketika mejeda lumatannya lagi. Aku hanya terdiam kaku mendapati diriku saat ini mulai belajar berciuman bibir. Seketika aku menarik bibir ku menghentikan ciuman kami. Jeffry yang kebingungan menatapku heran lalu bertanya “Liv…ada apa sayang?” tanyanya kemudian. “Bukan apa-apa Jeff…tapi rasanya ga nyaman, aku takut... takut sekali” jawab ku tiba-tiba. Jawaban ini jelas membuat Jeffry heran. “Takut apa sayang?” tanyanya tak mengerti. “Takut kamu ga serius saying sama aku”, ucapku lirih. “Liv… aku kenal kamu dari kecil… aku sayang kamu sejak aku mengerti menyayangi lawan jenis, dan aku mencari mu dari waktu ke waktu  lalu apa mungkin aku tidak serius? aku menyimpan semua foto masa kecil kita berdua, sayangnya aku tidak membawanya kemari, semua aku pajang rapi di kamar ku. Jadi percayalah aku sangat sayang dan sangat serius menyayangi mu Liv”, tuturnya panjang lebar. “Iya Jeff aku percaya… tapi apakah kamu tidak punya kekasih disini atau disana?” tanyaku ragu. “Aku pria bebas sayang… kamu bebas memiliki aku dan aku juga berharap bisa bebas memiliki mu”, ucapnya tegas. Membuat ku semakin yakin jika dia benar-benar menyayangi ku. “Jadi sekarang sudah percaya? Tidak ada keraguan lagi?” tanyanya menuntut “Iya Jeff aku percaya kamu”, jawabku singkat. Mendengar jawaban ku dia segera melumat kembali bibir ku tanpa ampun aku sampai tak bisa bernapas aku mendorongnya berkali-kali namun tetap saja gagal tak lama dia mulai mengurangi dekapannya dan melepaskan lumatanya membuat kami sama-sama terengah. “Sayang aku sangat merindukan mu”, ucapnya masih mendekap ku hangat. Lalu perlahan melumat kembali bibir ku yang masih terasa kebas dan bengkak akibat isapan dan lumatannya yang cukup kuat dan lama. Aku mulai mempelajari bagaimana dia menlumat ku aku mengikuti gerakannya perlahan namun pasti kami saling melumat lembut, makin lama makin panas. Jeffry mulai terengah-engah napasnya memburu membuat aku bingung… “ Jeff jika kamu capek istirahat dulu” ucap ku mengingatkan, “Sayang aku ga capek tapi aku senang” jawabnya yang lebih tepatnya berbisik itu. Aku terdiam.menyaksikan kenyataan ini, Jeffry melepaskan lumatannya, kemudian mencium leher ku membuatku menggeliat geli dan sesekali menahan kepala Jeffry supaya berhenti. “Jeff hentikan…aku geli…sangat geli “ bisikku memohon namun Jeffry tak peduli dia semakin menjadi-jadi mencium semua leher dan sesekali menghisapnya yang membuat ku sangat geli. Belum lagi habis terkejut ku kini Jeffry mengangkat kaos yang ku kenakan lalu menciumi seluruh d**a dan perut ku, aku semakin geli dan tak mengerti apa yang dilakukannya aku berkali-kali coba duduk ingin membebaskan diri ku namun ditahannya. Dia selalu berhasil membuatku tak berdaya. “Jeff hentikan…Jeff…teriakku pecah ketika Jeffry membuka paksa bra yang aku kenakan, aku benar-benar terkejut ketika dia mengangkat bagian bra yang menutup kedua p******a ku. Aku tidak rela dia menyentuhnya. Aku berteriak sekeras-kerasnya hingga dia segera menutupnya kembali dan menghentikan semua gerakannya. Aku terdiam kaku memandangnya, dia lemah seketika lalu merebahkan dirinya disamping ku. Kami sama-sama terdiam mematung sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Namun tak lama kemudian Jeffry membuka suara sambil memelukku masih diposisi menyamping. “Sayang kepala ku pusing…” keluhnya tiba-tiba. “itu mungkin karena kita belum makan dari pagi Jeff”, jawab ku singkat. “Bukan sayang”, ujarnya lagi. “Lalu kenapa?” Tanyaku tak mengerti. “Pusing karena itu…” ucapnya lirih. “Karena apa Jeff? Tanya ku makin tak mengerti. “itu sayang…sakit karena ga jadi cumbuin kamu sampai tuntas” ucapnya sedih. Aku terbelalak tak percaya… selesai seperti apa pikir ku bingung, lalu ku coba kembali bertanya. “Selesai bagaimana? Bukannya kita sudah selesai melakukannya”, ucap ku mengingatkannya. “Sayang kasih aku ya…” sekali aja ucapnya lirih. “Kasih apa Jeff?” tanya ku heran. “ Sayang kamu benar-benar menyiksa ku, aku ingin kita b******u dan saling memuaskan” ucapnya lirih. “Ih…sudah Jeff kita cari makan dulu ya… aku pusing dengan kata-kata mu, aku ga ngerti kamu bicara apa” nanti aja ya kita bahas lagi jika uda selesai makan” ujarku mengalihkan perhatiannya. Jeffry mengangguk cepat tanda setuju. Kemudian setelah merapikan pakai dan rambut kami yang berantakan kami pergi mencari tempat makan siang. Kami makan disebuah rumah makan dekat kampus Jeffry, menunya lumayan banyak dan bervariasi. membuat selera makan kami yang memang sudah sangat lapar bertambah. Ada ayam, ikan, udang serta aneka sayur dan gorengan tak ketinggalan sambal goreng khas Yogya. Setelah makan kami bergegas pulang ke rumah kos Jeffry.                  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN