ku terkejut tak menyangka Olive akan merespon sepert ini, aku mencium rambutnya yang harum berkali-kali sambil tetap memeluknya erat. aku tak bisa menahan hasrat ku rasanya kepalaku mulai pusing, tidakkah Olive tahu Junior ku di bawah sana sudah berdiri tegap? aku mencoba menjauhkannya dari tubuh Olive aku takut olive akan berteriak histeris jika mengetahuinya.
Tidak perlu menunggu lama Olive sudah terlelap, napasnya terdengar beraturan, mungkin terlalu lelah sepanjang hari ini. Aku masih memeluknya dan kemudian menciumi rambutnya yang wangi.
Ketika matahari memancarkan sinarnya menembus gorden jendela kaca kamar aku terbangun ternyata hari telah berganti, hari ini hari pertama di tahun yang baru, sungguh suatu moment yang tak akan ku lupakan, aku terbangun mendapati Olive yang masih terlelap dalam dekapanku.
Ada satu hal yang belum mampu aku ucapkan, beranikah aku mengucapkannya? Bahwa aku ingin dia menjadi kekasihku...Olive...andai kamu tahu. Apa yang akan terjadi? Apakah kamu akan membalas cinta ku? atau malah membenci ku?. Pikiranku berkecamuk tidak menentu. Aku terdiam menatap wajah manis yang masih terlelap tenang dalam dekapan ku.
Perlahan aku melepaskan dekapan ku, berharap dia tidak terbangun, aku beranjak menuju pintu kamar membuka kuncinya dengan sangat hati-hati supaya tidak menimbulkan bunyi yang dapat membangunkannya, setelah pintu terbuka aku segera keluar dan perlahan menutupnya kembali.
Aku menuju kamar ku mengambil perlengkapan mandi, tidak lupa aku membawa piyama mandiku, takut kejadian tadi malam terulang lagi bisa-bisa Olive murka padaku, sebab aku sudah berjanji padanya bahwa aku tidak akan mengulanginya.
Aku berjalan menuju kamar mandi, lalu meletakkan semua perlengkapan mandikku pada posisi yang seharusnya. Setelahnya aku mulai menimba air dari sumur, bak penampungan sudah penuh aku pun menutup pintu kamar mandi lalu menanggalkan semua pakaianku. Aku mulai mengguyur air ke seluruhan tubuh ku, terasa sangat sejuk. Selesai mandi aku mengeringkan tubuh ku dengan handuk ku yang berwarna biru tua, ini warna kesukaan ku, kemudian aku mengenakan piyama mandi ku lalu segera menuju rumah dengan membawa semua perlengkapan mandi ku.
Olive sepertinya belum terbangun saat ini, aku masuk ke kamar ku lalu segera meraih kaos hitam dan celana jeans hitam ku yang sengaja aku robek di bagian lututnya. Segera aku mengenakan pakaian ku setelah menggunakan deodorant dan parfum kesukaan ku yang khas wangi pria modern.
Setelah semua beres aku bergegas menuju kamar dimana dia masih terlelap, aku membuka pintu perlahan dan benar saja dia masih meringkuk di bawah selimut yang dipakainya sejak semalam, aku tak mengerti di Yogya sepanas ini dia selalu tidur dengan selimut hangat, apakah dia benar-benar kedinginan?, atau memang kebiasaannya yang pasti hanya Olive yang tahu.
Aku mendekatinya kemudian merapikan rambut yang menutupi sebagian wajahnya, seketika Olive membuka mata membuat ku terkejut setengah mati, aku membangunkannya? Pikirku, aku menarik tanganku secepatnya supaya dia kembali terlelap namun Olive menatapku lembut dan tersenyum manis sekali memamerkan giginya yang putih dan rapi,
“selamat pagi Jeff” bisiknya lembut.
“Pagi juga Liv, gimana pagimu, apa kamu merasa lebih baik? Tanyaku beruntun sambil menatapnya lembut.
“Iya aku baik kok, Jeff... aku boleh minta tolong ambilkan minum?”Bisiknya lembut.
“Oke...tunggu ya”, jawabku cepat seraya berjalan mengambilkan minum untuknya, dia meminum air itu hingga tak tersisa.
“Liv... Apa kamu begitu haus?, tanya ku heran.
“Iya Jeff, menurut dokter aku harus minum saat bangun tidur paling tidak satu gelas, untuk membersihkan ginjal ku, itulah sebabnya aku terbiasa minum banyak saat bangun tidur.
“Oh gitu...”, jawabku sambil mengangguk.
“Kamu uda wangi, sedang aku belum mandi”, ucapnnya lagi sambil tersenyum malu, wajahnya seketika merona membuatku gemes tak tahan melihat wajah cantiknya yang merona ini.
“Mau mandi...?”, tanyaku berusaha menahan diriku untuk tidak mengecup bibirnya yang merah.
“Iya...tapi...aku sangat lapar Jeff, pasti aku kedinginan jika mandi dengan perut kosong”.
“Mau makan nasi atau sarapan biskuit dulu?” tanya ku lagi.
“Biskuit aja” sahutnya senang lalu memeluk ku dan mencium pipi ku. Aku segera membalas pelukan dan ciumannya, ku kecup keningnya berkali-kali lalu menatapnya dalam, bola mata coklatnya yang tajam menembus hatiku yang sangat ingin mengatakan aku mencintaimu, namun aku ragu, takut dia akan menjadi marah.
Junior ku tidak pernah bisa berkompromi disaat aku menatap Olive, dia pun ikut menegang membuatku hampir tak dapat lagi menahan diri untuk benar-benar memiliki Olive.
“Jeff...bisiknya lembut, mana biskuitnya, kenapa dari tadi kamu hanya memandangiku aku malu tau” ucapannya membuatku tersadar seketika.
“ Eh...iya...tunggu aku ambil di kamar ku” aku bergegas mengambil biskuit lalu kembali dan membukakan untuknya.
“Ini Liv...kamu suka?” tanya ku ragu.
“Iya Jeff...aku suka semua biskuit” sahutnya dengan tersenyum.
“ Ini Liv... Sudah siapa dinikmati” ucap ku seraya menyerahkan biskuit padanya setelah membukanya.
“Kamu tunggu bentar ya, aku mau memanaskan air untuk membuat teh hangat” ujarku sambil beranjak menuju meja.
“Aku juga mau air hangat Jeff” ucapnya meminta.
“Baiklah...tunggu aja ya...” sahutku sambil memanaskan air.
Tidak berapa lama aku kembali membawa dua gelas air yang satu gelas air teh hangat untukku dan yang lainnya air hangat biasa untuk Olive.Aku segera meletakkan keduanya di atas meja.
“Liv sini kita sarapan...” ajak ku setelah aku duduk di bangku.
“iya...” sahutnya seraya berjalan menuju ku.
Aku benar-benar bingung ketika Olive tiba-tiba duduk dipangkuanku,
“Numpang ya...salah sendiri bangkunya hanya satu” ucapnya menggodaku sambil tersenyum dipangkuanku. Aduh...Olive pagi-pagi kamu terus aja menggoda ku, juniorku mulai menegang di bawah himpitanmu keluhku dalam hati.
“Oke...aku ambil lagi ya...kamu duduklah disini”, bisik ku persis di telinganya.
“Kenapa?...kamu ga suka aku duduk di sini?”Tanyanya sambil menatapku tajam.
“Bukan gitu Liv...aku suka...tapi aku takut kamu susah duduknya sambil makan” ujar ku dan langsung memeluk perutnya yang sangat rata,
“Aku suka Olive bahkan sangat suka kamu dipangkuanku”, bisik ku mesra. dia hanya tersenyum tersipu.
Aku meraih biskuit yang dari tadi di tangannya lalu menyuapkan ke mulutnya dengan hati-hati, dia segera membuka mulutnya dan menggigit biskuitnya hingga setengah bagian, kemudian aku mengarahkan sisanya ke mulut ku namun tiba-tiba dia merebut potongan itu lalu menyuapkan ke mulutku, spontan aku membuka mulut ku biskuit pun kini menghilang di balik bibir ku.
Olive tersenyum manis menatapku, aku pun demikian, saat berikutnya kami berdua tertawa geli, mentertawakan tingkah kami sendiri.
Kami terus melakukan kegiatan saling menyuapi hingga biskuit dan minum kami habis. Aku sangat bahagia melihat sikapnya yang semakin memperhatikan kasih sayangnya pada ku. Aku masih memeluk perut indahnya dan sesekali merapikan rambutnya yang aut-autan sebab belum disisir, rambutnya panjang, ikal dan pirang.
“Liv...belum pengen mandi?”, tanya ku menatapnya lembut dengan tangan kami yang kini sudah menyatu, jari-jari kami saling mengait satu sama lain.
“Mau...tapi kita panaskan air dulu aku takut mandi air dingin” ucapnya lirih.
“Oke... Kita akan panaskan dulu”, bisik kusambil mengecup kening dan kedua pipinya, dia segera turun dari pangkuan ku ketika aku selesai menciumnya.
Aku segera berdiri namun duduk lagi, “Paha ku Liv...pegal sekali ringis ku”,Olive segera menghampiri ku dengan wajah sendu.
“Ini gara-gara aku yang membuat mu sakit”, ucapnya sedih.
“Ga apa kok Liv...aku senang melakukannya...sebentar lagi juga pegalnya akan hilang”, jawab ku berusaha membuatnya tenang. Olive segera mengulurkan tangannya untuk memijat paha ku, tapi tiba-tiba dia menariknya sambil menatap ku bimbang.
“Uda... jangan lakukan jika tidak yakin” ucap ku menggodanya...Olive menunduk malu, wajahnya segera memerah, aku tertawa geli melihatnya...
“Kamu makin bikin gemes sayang”, ucapku sambil mengecup keningnya lalu menarik tangannya hingga aku berdiri di hadapannya. Aku mendekapnya erat, Olive membalasnya dengan hangat, aku sangat khawatir dengan junior ku, yang semakin memberontak di bawah sana, setelah mengecup keningnya lagi, aku segera melepaskan dekapan ku pelan tapi pasti, kemudian aku segera meraih teko elektrik lalu bergegas menuju sumur setelah mengisi teko hingga penuh, aku kembali ke kamar dan segera menyambungkan kabel teko ke sabungan listrik.
Saat menunggu air mendidih kami berdua duduk di kasur, entah kenapa aku tak ingin melewatkan sedikit waktu pun inginnya selalu bersama dan memandang wajah Olive. Kami bercerita tentang perjalanan kami selama di Yogya ini, Olive kali ini duduk di hadapanku dengan punggungnya menempel indah di d**a ku, kedua tangannya memegang kedua lengan ku yang merangkul perut indahnya dari belakang, terasa begitu nyaman dan mesra. Aku berkali-kali mencium rambutnya yang harum.
Olive kemudian menggeser punggungnya lalu berputar memiringkan tubuhnya untuk dapat melihat ku, lama dia menatapku dengan tatapan yang tak bisa aku artikan.
“Kenapa...kok tiba-tiba kamu menatap ku seperti ini?”, tanya ku tak mengerti.
“Eh...ga..bukan apa-apa, hanya ingin melihat mata mu”, Jawabnya datar.
“Ada apa dengan mataku?”, mata mu indah aku suka bisiknya manja sambil tersenyum menatap ku. Aku semakin yakin jika Olive memikirkan sesuatu tapi apa?
“Liv...”, bisikku sambil meraih tangannya dan menyatukan jari-jari kami seperti yang sering ku lakukan.
“ Iya...”, sahutnya lembut.
“Apa kamu punya kekasih?”, tanyaku ragu. Meski pun takut mendapat jawaban yang tidak ku harapkan aku harus tahu kebenarannya.
“Aku ga tahu Jeff...”, sahutnya lirih.
“Apa... ? maksudnya gimana Liv? Aku benar-benar terkejut mendengar ucapannya.
“Iya...saat ini aku tidak tahu apakah kami masih sepasang kekasih ataukah sudah berakhir”, jawabnya sendu, terlihat wajahnya sangat sedih ketika mengatakan hal itu.
“Kenapa bisa seperti itu? Siapa dia dan dimana dia Liv?”, Tanyaku tidak sabar.
“Bisa Jeff...kami berpacaran sejak aku SMP kelas tiga, dan itu diawali dari perjodohan pada saat aku kelas satu SMP, namun setelah kelas tiga kami baru memulai hubungan kami. Dia mengirimkan surat pada ku setiap dua minggu sekali dan aku pun demikian, sebab dia tinggal di Medan, kami hanya bertemu satu kali ketika kami kelas tiga SMA. Ibunya tante ku, saudara dari Ibu ku, dulu ibunya ini murid terpandai di sekolah yang Bapak ku pimpin, itulah sebabnya dia bermaksud menjodohkan kami, Ibunya memberikan segala hal yang tak pernah aku pikirkan, dia memberiku pakaian, perhiasan bahkan makanan khas Medan jika mereka datang. Hampir setiap malam mereka sekeluarga mengelponku ketika aku masih SMA. Ketika kami lulus SMA, aku menyampaikan maksud ku padanya jika aku akan kuliah kemari, dan dia pun mengatakan jika dia akan kuliah di Jakarta, Aku berangkat lebih duluan kemari, lalu dia menyusul ke Jakarta, aku pernah bertemu dengannya di Jakarta sebanyak dua kali dan pada pertemuan kedua itu aku melihat banyak perubahan dalam dirinya. Singkatnya dia jarang berkabar setelah itu. Aku disini merana ga karukaruan aku mendengar dari ibunya jika dia sekarang pulang ke Medan, tidak jadi kuliah di Jakarta, sebab dia di ganggu seorang banci yang membuatnya jadi paranoid. Aku berusaha menerima semua selama dua tahun ini, namun hingga saat ini aku tak mendapat kepastian, suratnya terakhir aku terima sungguh tidak menyenangkan hatiku, aku tak ingin membalasnya dan tak ingin lagi menelponnya sebab dia tak pernah peduli lagi pada ku. Aku membiarkan semua, bahkan jika memang harus berakhir maka biarlah semua berakhir.
Olive terlihat sangat sedih ketika mengisahkan semua itu bahkan terkadang dia menahan napas dan menelan liurnya agar tidak mengeluarkan air mata meskipun matanya berkaca-kaca, aku tak habis pikir kenapa bisa terjadi seperti itu, aku memeluknya erat tanpa peduli jika dia masih memiliki kekasih. Aku ingin membuatnya tenang dan tersenyum kembali ceria seperti dulu ketika aku sering memperhatikannya diam-diam saat jumpa masa SMA. Jadi inilah alasan Olive selalu menghindari ku dari dulu? Pikirku teringat bagaimana aku diabaikan Olive sekian lama. Heeemmm tak sadar aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Saat ini Olive diam dipelukkan ku, aku pun tak berniat menanyakan lebih jauh lagi, aku tidak ingin Olive semakin sedih.
Tiba-tiba aku menoleh ke arah pemanas air yang sudah mendidih hingga airnya mulai bergejolak bahkan sebagian keluar dari mulut teko.
“ Liv...airnya sudah mendidih tu... kamu mandi dulu ya”, ucapku tergesa-gesa.
“ Eh...iya... Jeff...”, aku melepaskan pelukan ku perlahan kemudian segera membawa air panas tersebut ke kamar mandi kemudian menimba air hingga bak penuh, Olive menyusul lengkap dengan perlengkapan mandinya.
“Bisa khan campurin airnya?”, tanyaku sebelum olive masuk ke kamar mandi.
“Iya bisa... makasih Jeff”, sahutnya singkat.
Olive segera masuk dan menutup pintu kamar mandi, aku berjalan menuju kandang kelinci yang ada di samping rumah, memberinya makan dan minum setalahnya aku kembali ke sumur untuk mencuci tanganku, aku kembali berjalan menuju kamar ku untuk mengecek ponsel ku, hanya ada beberapa pesan dari ibu ku, setiap pagi beliau selalu menanyakan kabar ku, apakah aku uda makan dan sedang melakukan apa? Terkadang beliau menelpon ku. Setelah membalas pesannya aku segera beranjak ke ruang tamu berniat memanaskan mesin motor, aku mencari kontak motor namun tidak ku temukan. Saat aku sedang bingung mencari Olive muncul dia sudah rapi dan wangi...aroma shampoo dan sabun mandinya yang lembut menambah anggun penampilannya, rambut yang ikal dan pirang tergerai hingga pinggang dengan kulit yang sangat putih bersih yang di tumbuhi rambut-rambut halus pirang yang tersusun rapi, semua terlihat begitu nyata ketika dia mengenakan celana jeans pendek di atas lutut dan kaos merah ketat membentuk tubuh indahnya. Saat aku memperhatikannya ternyata Olive menyadari bahwa dirinya jadi pusat perhatian ku.
“Jeff ... , kamu kenapa sih? Dari tadi bengong gitu?”sungutnya yang menyadarkan aku dari pikiran ku.
“ Heeemm...kamu cantik banget Liv... aku jadi tak bisa mengalihkan pandangan ku dari kamu”, ucap ku jujur.
“Ih...kamu ya seperti baru melihat ku saja”, sahutnya sambil mencubit lengan ku. Kemudian dia segera meniggalkan aku menuju kamar.
“Liv...bantuin dong” teriak ku tiba-tiba. Olive segera membalikkan badannya dengan tatapan heran.
“Bantu apa Jeff?” tanyanya masih heran.
“Aku dari tadi nyariin kontak motor Liv tapi ga ketemu”, kamu ada lihat ga atau bantuin nyari dong...”, jelas ku singkat.
“Uda cek di motornya belum?”, ucapnya lembut.
“Belum ...”, jawab ku lalu berjalan menuju motor. Olive masih berdiri di tempatnya memperhatikan aku yang kini makin dekat ke arah motor.
“Wah... tebakan mu tepat Liv”, kamu kok tahu?” tanya ku yang gantian heran sambil berjalan mendekati Olive setelah mencabut kontak dari motor.
“Itu khan hanya dugaan saja, terkadang orang tanpa sadar meninggalkan motor begitu saja, persis yang kamu lakukan ini” Jelasnya singkat seraya tertawa mengejek ku. Mendapat ejekan Olive aku jadi makin gemes aja. Aku langsung merangkulnya dan menggendongnya menuju kamar. Olive terpekik berkali-kali sambil meronta dan minta diturunkan. Aku tidak peduli setibanya di kasur aku menurunkannya dengan hati-hati.
“Jeff...kamu jahat...bikin aku jantungan tau”, Sungutnya yang disertai pukulan dan cubitan yang bertubi-tubi di d**a dan lengan ku.
“ Awww...aduh, Liv sakit hentikan...” tapi dia tak berhenti meskipun aku berkali-kali meringis. Malah kini dia membuatku makin jadi.
“Makanya kamu jangan suka iseng ... kamu harus dibikin kapok !”, Ucapnya sambil menarik ku hingga aku jatuh di atas kasur kemudian dia segera menindih ku dan menggelitiki aku hingga aku susah bernapas.
“Liv...Liv...ampun...serius aku janji ga iseng lagi”, teriakku di selah-selah napas ku yang terengah-engah menahan geli yang tidak tertahankan.
“Benar... serius ga iseng lagi?”, Ucapnya serius dengan tatapan tajamnya.
“Iya...iya serius”, jawab ku serius.
Olive langsung menghentikan aksinya lalu merebahkan dirinya samping ku.
Aku langsung menyergapnya dengan dekapan ku lalu mencium bibirnya yang dari tadi membuat ku gemas... junior ku kini sudah benar-benar memberontak. Olive mendorong ku sekuat yang dia bisa tapi aku tidak peduli, akhirnya Olive memukul d**a ku dengan kuat dan itu menyadarkan ku bahwa dia benar-benar marah.
Aku melepaskan ciuman kami, lebih tepatnya ciuman ku sebab Olive tidak merespon sedikit pun, Olive meronta ingin membebaskan dirinya. Kami sama-sama terengah, secepat kilat Olive berdiri merapikan semua barangnya lalu berlari meninggalkan aku. Aku yang masih berbaring menyadari kemarahan Olive segera mengejarnya sebelum dia benar-benar keluar dari rumah ini, beruntung pintu depan dalam keadaan terkunci hingga langkahnya terhambat sebab harus membuka pintu terlebih dahulu. Aku berlari secepat yang aku bisa, lalu memeluknya erat dari belakang. Liv...Liv..Please jangan pergi ya... kita bicarakan ini di kamar yuk”, bujuk ku lembut.
“nggak...ga ada yang perlu dibicarakan lagi...sudah jelas kamu mau merusak ku”, sahutnya dengan nada tinggi.
“Aku minta maaf Liv... ak...aku... benar-benar tak tahan melihat mu...please Liv maafkan aku”. Jelas ku singkat.
“Lalu apa lagi yang mau kita bicarakan?”, tanyanya ketus sambil berusaha membebaskan dirinya dari pelukan ku.
“Lepaskan aku... kamu tak pernah bisa pegang janji...kamu jahat”, ucapnya dengan suara serak , lalu mulai menangis di d**a ku... aku membimbingnya berjalan ke kamar kemudian mendudukannya di kasur. Namun Olive tiba-tiba merebahkan dirinya dan membenamkan wajahnya di bantal. Dia menangis sejadi-jadinya, aku merasa sangat terpukul dan bersalah. Aku membuatnya kecewa, ya... aku melupakan janji kami.
Aku duduk di samping Olive menunggu sampai tangisannya mereda. Rambutnya yang terurai panjang dan berantakan, membuat tangan ku mulai berusaha merapikannya dengan jari-jari ku dan mengelus kepalanya lembut, berharap dia mau memaafkan ku.
Setelah tangisannya mereda aku mencoba mengajaknya bicara.
“ Sayang... kamu masih marah?” tanya ku pelan. Hening tidak ada jawaban.
“Sayang...jawab aku dong”, ucapku memohon. Namun tetap tidak ada jawaban, aku berusaha membalikkan tubuhnya dan ternyata dia tertidur pulas. Aku tersenyum melihat wajahnya yang sembab, hidung dan kelopak matanya merah, itulah tandanya jika dia menangis...hal ini terlihat sangat jelas efek dari kulitnya yang putih kemerahan. Aku menutup pintu kamar lalu ikut merebahkan tubuh ku disisinya.