Jeffry Pov
Aku membuka chat yang masuk satu persatu, selanjutnya membalas chat yang ku anggap perlu aku balas, mataku menatap satu pesan yang dikirimkan Robert,
“Bro kamu lagi apa? Kalau ga ada kerjaan kemarilah kita bakar-bakar di gereja ku, ada jagung, ikan dan saksang”. Pesan Robert sangat menarik. Selesai membaca pesannya aku segera menuju kamar Olive, "Liv... kita keluar yuk”, ajak ku.
“ lho...kamu ga jadi tidur?” sahutnya bingung.
"Ga...aku ga bisa tidur jam segini, ini ada chat Robert katanya ada acara di gerejanya sekarang”, ujarku tanpa berpikir panjang.
“Emang acaranya dari jam berapa?, ini uda hampir jam dua puluh tiga Jeff... pasti acaranya hampir selesai, aku ga mau ih... kemalaman malu tau, apa lagi aku ga tau sama sekali suasananya disana”. Alasan Olive panjang.
“Anggap aja gereja sendiri Liv...aku juga jarang ke sana, ayolah... dari pada kita bengong di sini lebih baik kita ke sana Liv... bisa kenal dengan teman-teman kampus ku, jelasku panjang lebar.
“Kamu ga malu bawah aku?” tanya Olive ragu.
“Kenapa harus malu”?, Kamu cantik...kamu baik... kamu juga teman dekat Robert, jadi kenapa aku harus malu?”, tanya ku balik yang sekligus mencoba menenangkan Olive. Ku lihat Olive berkali-kali menarik napas dalam kamudian kembali menghembuskannya kemudian dia berkata.
”Baiklah jika itu mau mu sekarang kita ke sana, tapi ingat kita harus melihat pesta kembang api di Mallioboro.
“Oke... sekarang kita jalan yuk”, ajak ku bersemangat.
Kami segera berangkat satelah memastikan semua pintu terkunci dengan baik dan hanya lampu teras yang menyala. Lima menit berlalu kami tiba di gereja Robert. Lebih tepatnya sekretariat gereja, sebab tempat ibadahnya berbeda tempat. Kami menjabat tangan semua orang disini, Robert terkejut melihat Olive datang bersamaku.
” Jeff.. kamu bawa Olive?” tanyanya curiga.
“Iya Bro... tadi siang aku jemput mau nonton pesta kembang api” sahutku asal. Robert segera menjabat tangan Olive, Olive dan Robert sama-sama tersenyum akrab... Apa kabar Liv... uda sehat?” tanyanya pada Olive.
“ Lumayan Bert... masih lemes dikit-dikit” jawab Olive khas biacara orang Bengkulu, Robert dan Olive pernah berteman dekat selama SMA, keduanya tinggal di asrama gereja, itulah sebabnya mereka berdua aktif di gereja, Robert aktif malayani dalam bidang musik, sedang Olive dalam bidang pemuda, tak heran mereka sangat akrab, baru jumpa sudah langsung terlibat obrolan seru... sampai Olive sepertinya melupakan aku. Beruntung aku sudah mengenal teman-teman disini yang juga teman-teman kuliah ku. Setelah berbincang kira-kira lima belas menit kami di persilahkan untuk makan, Robert mengatakan bahwa semua sudah selesai makan, maka sekarang kalian berdua harus makan, Olive tidak mau makan nasi, alasnya masih kenyang, sedangkan aku langsung meraih piring lalu mengisikan nasi serta semua lauk paku yang tersedia... aku tahu Olive malu sekali... berkali-kali Olive malirik padaku memberi kode supaya aku tidak malu-maluin, aku hanya tersenyum padanya. Robert yang menyadari gerak-gerik Olive segera menetralkan suasana.
“Live kamu ga makan, rugi lho... disini santai aja Liv... ga perlu malu anggap saja rumah sendiri”, ucapnya lugas. Olive tersenyum lalu meraih satu potong semangka.
“iya Bert...ini aku uda makan”, sahutnya sambil melirik ke arah robert.
“Itu bukan makan Liv... itu namanya cuci mulut”, ucapnya sambil terkekeh melihat tingkah Olive. Olive akhirnya ikut tertawa mendengar ucapan Robert.
“Makanya ayo makan Liv” ajak ku lagi. Namun lagi-lagi Olive menggeleng, bibir mungilnya makin merah ketika dia menikmati potongan semangka yang sangat merah, Olive semakin menggemaskan saja pikirku sesaat, lalu aku mengalihkan tatapanku ke arah Robert berusaha melupakan pikiran ku.
Setelah makan kami bergabung ke ruang depan bercengkrama bersama teman-teman dan jemaat lain. Waktu menunjukkan pukul dua puluh tiga lebih empat puluh lima menit, Olive mulai gelisah, berkali-kali dia memberi ku kode, kemudian aku bicara pada Robert, “Bert... kami jalan dulu ya, Olive pengen lihat pesta kembang api di Mallioboro”, ucapku pada Robert. “Lho sebentar banget Jeff, kirain mau ikut doa bersama disini”, tanya Robert terkejut. Maaf Bert jika aku yang memutuskan untuk tidak pergi Olive pasti marah, coba kita panggil dia dulu kita untuk memastikannya, aku memanggil Olive yang sudah manatap ku tajam sedari tadi dengan melambaikan tangan ku sebab tidak ingin mengganggu yang lain. Olive segera bergerak mendekat ke arah kami, Robert segera menanyakan hal keinginan Olive menonton pesta kembang api.
“Liv... kalian serius mau ke Mallioboro sekarang? Ujarnya yang membuat Olive terkejut dan seketika menatapku penuh tanya.
“ Tadi aku mengatakan pada Robert bahwa kita mau nonton pesta kembang api”. Makanya kami panggil kamu Liv...
” Oh itu... benar Bert, kenapa?”, Tanya Olive balik bertanya pada Robert.
“Gini Liv... kita disini belum berdoa tutup tahun, sengaja tunggu hingga pukul nol-nol. Jadi maksud ku bagaimana jika kalian ikut doa dulu Liv? ” Robet mengutarakan maksudnya singkat.
“Emmm... gimana Jeff? Apa kita batalkan saja ke Mallioboronya”. Tanya olive yang kembali menatapku, menunggu jawaban ku.
“ Jika kamu tidak keberatan kita ikut doa aja dulu, nanti setelahnya kita kesana”. Jawabku singkat.
“ Oke... setuju tidak ada masalah”, sahutnya santai.
“ Makasih Jeff, Olive... kalian mau datang dan ikut doa bersama malam tahun baru ini, membuatku merasa seperti berada ditengah keluarga di kampung”, ucap Robert terharu. Kami berdua juga tak kalah terharunya... senang rasanya bisa bertemu teman sekampung yang sangat baik.
Robert memang teman bahkan bisa di bilang kami adalah sahabat, dari kecil kami tumbuh bersama di sebuah kampung, meskipun dia adalah kakak kelas ku namun Robert selalu peduli pada ku, bahkan yang selalu memberi informasi Olive pada ku juga dia, padahal Robert tak pernah tahu jika aku selalu menari kebaradaan Olive, tapi entah kenapa Robert yang sering berkunjung ke gereja Olive selalu saja bercerita tentang Olive padaku, tak ketinggalan ketika Olive sakit ketika bertemu dia langsung mengabarkan pada ku bahwa Olive sedang di rawat, aku memang tidak diberi tahu dari kapan Olive di rawat namun aku akhirnya minta nomor ponsel Olive, Robert selalu memberikan padaku, termasuk ketika tahun-tahun lalu aku mencoba menghubungi Olive itu juga karena informasi dari Robert.
Aku yakin saat ini Robert tidak begitu heran jika aku mengajak Olive, Olive juga pernah membicarakan soal Robert yang mengunjunginya ketika di rawat di rumah sakit, begitulah Robert yang sudah ku anggap saudara sendiri, dia peduli dengan kami tidak hanya seperti teman namun dia lebih dari itu.
Tibalah detik-detik pergantian tahun, kami semua sudah berkumpul untuk berdoa bersama, intinya bersyukur. Semua rentetan acara sudah selesai satu persatu orang-orang mulai meninggalkan tempat ini, aku dan Olive segera berpamitan pada Robert.
“Bert kami jalan dulu ya”, ucapku
“Oke bro... makasih ya sudah datang, Olive sering-sering ya main kemari, supaya Jeffry rajin ibadah...”, tuturnya sambil tertawa ke arah Jeffry.
“Bert...ih..apaan sih.., jangan disini bilangnya, banyak yang dengar, sahutku setengah berbisik.
Robert dan Olive tertawa bersamaan saraya menatapku.
“Uda ngaku aja”, ucap Olive mengejek.
“Iya ...aku ngaku deh...”, sahut ku malu.
“ Makanya Liv sering-sering ajak dia ibadah, biar tobat dia”, ucap Robert menambahkan.
“Oke Bert... tapi takut ada yang sewot klo aku sering kemari Bert, maklumlah... kali aja ada yayangnya...”, Jawab Olive menekankan dan jangan lupakan tatapannya yang tajam kerarahku.
“Heeemm... sudah... sudah, kita jalan dulu Liv”, ujarku mengalihkan. Soalnya pembicaraan mulai menjurus ke pribadi ku.
“ Oke” sahut Olive cepat, yang langsung memakai helm.
“Kami pamit Bro...”, ujarku sambil menjabat tangan Robert yang disusul Olive.
“Oke hati-hati”, jaga Olive ya ... ucapnya lagi mengingatkan ku.
“ Tenang saja...” sahut ku tersenyum ke arahnya.
“Daag... Robert”, ucap Olive sambil melambaikan tangan padanya, yang dibalas lambaian juga oleh Robert.
Kami segera berlalu, namun kami tidak ke Mallioboro melainkan kembali ke kos ku. Olive mengatakan bahwa dia ngantuk dan lagi pesta kembang api pastisudah berakhir. Seperti biasa kami segera masuk ke kamar masing-masing setelah memarkir motor di ruang tamu dan mengunci semua pintu.
Olive yang sudah ngantuk segera mencuci muka dan sikat gigi sebelum dia benar-benar tertidur, begitu juga dengan ku. Olive segera menutup pintu kamarnya suasana sangat sunyi. Olive pasti sudah tertidur pulas saat ini, pikir ku. Aku berusaha memejamkan mata ku namun selalu saja wajah Olive yang terbayang, aku benar-benar tidak mampu melupakannya.
Tiba-tiba aku mendengar pintu kamar Olive dibuka, tak lama pintu kamar ku di ketuk. Tok... tok...tok.. dibarengi suara Olive yang memanggilku.
" Jeff..buka pintu" ujarnya pelan. aku sengaja tidak segera menjawab.
"Jeff... buka pintu" ujarnya lagi kali ini lebih keras, aku segera menjawabnya tak tahan hatiku membuatnya menunggu ku.
"Iya Liv tunggu...", sahutku seraya berjalan menuju pintu. ketika pintu terbuka kudapati Olive yang berdiri dengan wajah pucat, aku terkejut... Liv...kamu sakit? tayaku.
"Ngga Jeff aku baik, sahutnya lemah... kok muka kamu pucat banget?", yanyaku lagi.
"Mungin karena kelelahan", jawabnya datar.
" Jeff... temani ke toilet ya... aku takut ujarnya lagi.
"Ayo" sahutku singkat. Kami segera berjalan segera berjalan beriringan menuju toilet.Setelah Olive keluar kami kembali masuk ke dalam rumah.
"Liv... aku temanin kamu ya... aku ga bisa tenang lihat kamu gini", ucapku memohon.
"Kenapa Jeff? tanyanya singkat.
"Aku takut kamu kenapa-kenapa, jika aku dekat aku bisa tahu kamu perlu apa-apa, kamu cukup bilang pada ku", jelasku singkat.
"Iya... tapi jangan macam-macam lagi ya ", ucapnya mengingatkan.
"Siap... boss...", sahutku senang.
Aku segera menutup pintu kamar ku dan kembali ka kamar dimana Olive saat ini kembali merebahkan tubuhnya.
"Liv aku boleh baring juga ga", tanyaku ragu.
"Lho...jika kamu ga tidur lalu kamu mau apa? ini khan masih malam Jeff", sahutnya singkat. Namun sangat besar maknanya bagiku.
Segera aku mendekat ke kasur yang saat ini di tiduri Olive, lalu aku merebahkan diri berbaring di sebelah Olive. Aku mencoba memeluknya, aku sangat takut Olive akan marah, ternyata dia tidak bergeming sedikitpun, mungkinkah dia sudah kembali terlelap? tanyaku dalam hati.ketika menyadari olive tidak memberontak aku pun memeluknya lebih erat. Olive menggerakkan tangannya dan memegang tanganku, oh...Olive sunggu bahagianya hati ini bisikku dalam hati, lalu ku oba membalikkan tubuhnya yang membelakangiku, Olive segera berbalik menghadapkan tubuhnya ke arah ku. Kemudian menyembunyikan wajahnya di dadaku. aku terkejut tak menyangka Olive akan merespon sepert ini, aku mencium rambutnya yang harum berkali-kali sambil tetap memeluknya erat. aku tak bisa menahan hasrat ku rasanya kepalaku mulai pusing, tidakkah Olive tahu Junior ku di bawah sana sudah berdiri tegap? aku mencoba menjauhnnya dari tubuh Olive aku takut olive akan berterika histeris jika mengetahuinya.