C H A P T E R IX

1677 Kata
Jeffry  Pov Hari-hariku terasa kembali berarti dengan kehadiran Olive, tak terasa kami sudah melewati sepanjang hari ini dan malam ini kami kembali bersama untuk menghabiskan malam tahun baru ini, aku merasa semakin nyaman bersamanya... relung hatiku yang selama ini terasa kosong dan hampa kini mulai ditumbuhi semangat yang menggebu-gebu sejak kami bertemu lagi tadi pagi. Perjalanan kami berdua hari ini sangat berkesan dihatiku, entah kenapa rasanya aku tak ingin jauh-jauh darinya, hingga saat ini aku kembali akan membawanya berkeliling kota ini. Aku tahu Olive pun mulai nyaman bersamaku, kini dia tak lagi meronta ketika aku memegang tangannya dan menyatukan jari-jari kami, aku semakin yakin akan hal itu sebab di perjalanan ini dia tak lagi menjaga jarak dengan punggungku. Bahkan kini dia mulai berani memeluk ku, sungguh saat ini aku sangat bahagia akhirnya dia mau memeluk ku seperti ini, jika saja tidak sedang di atas motor aku pastikan akan memeluknya erat sangat erat.   Aku sangat merindukan kebersamaan kami lima hari yang lalu, meskipun dia menolakku namun aku tidak akan pernah marah padanya sebab itu haknya, dia bahkan belum berstatus sebagai pacar ku. Oh iya apakah saat ini dia mau menerima ku? Apakah ini sebuah pertanda bahwa aku tidak bertepuk sebelah tangan?... tak ku sangka akhirnya penantianku yang sekian lama kini mulai memberikan respon positif, malam ini aku bertekad bahwa aku akan memintanya menjadi kekasihku aku harus melakukannya. Ayo Jeffry ... kamu pasti bisa... tuhan beriaku keberanian untuk mengatakan padanya bahwa aku sangat mencintainya dan aku ingin menjadikannya kekasih hatiku. “Liv... ?” panggilku. “iya” sahutnya cepat.  “Kamu tidak capek?” tanyaku sebab dari tadi Olive hanya diam menyandarkan tubuhnya pada punggungku. “lumayan” jawabnya lagi. “Jika kamu capek kamu harus istirahat Liv, aku takut kamu sakit lagi” ujarku mengingatkan. “Nanti aja, kita khan mau menghabiskan malam ini berdua”, jawabnya datar. Aku tahu saat ini Olive benar-benar lelah. “ Gimana jika kita ke alun-alun utara aja, jadi kamu bisa duduk selonjoran di lesehan sambil makan jagung bakar dan minum sekoteng” ujarku menawarkan. “Ga Jeff... aku hanya ingin melihat pesta kembang api di Mallioboro”, ucapnya pasti. Baiklah sekarang kita ke mallioboro ya, tapi disana pun pasti sesak Liv bahkan kendaraan pasti tidak diperbolehkan lewat. ”, jelasku singkat. “Jadi sekarang gimana Liv?” Tanyaku meminta dia memberi masukkan. “ Kalau begitu kita ke Galeria aja Jeff, nanti sebelum pukul nol-nol  kita jalan ke Mallioboro” ucapnya singkat. “Kamu yakin Liv?” tanyaku memastikan “ Iya Jeff”, sahutnya singkat namun pasti. Aku membelokkan arah motor ku ke jalan yang menuju Galeria, Olive kembali diam entah apa yang dia pikirkan, sedangkan aku khawatir, sebab dia tak seceria tadi siang... aku yakin dia ga fit. “Liv...” panggilku pelan, namun tak ada jawaban, “ Liv...” panggilku lagi, namun tetap tak ada jawaban. Aku segera menepikan motorku lalu menopang dengan standar, Olive tetap tak bergeming. Kuraih jarinya yang menempel indah di pahaku perlahan aku membalikkan tubuhku untuk memastikan apa yang terjadi padanya. Tiba-tiba Olive tersadar saat hidungku tak sengaja menyentuh hidungnya yang sejak tadi bertengger di bahu kiri ku.  “Eh...emm...Jeff kenapa berhenti disini, ini kan belum galeria?”, tanyanya gugup. “Iya Liv...aku tahu, tapi kamu tadi tidur saat kita jalan, apa kamu yakin kamu kuat?” “ Ma... maafkan aku Jeff, aku benar-benar ngantuk”, sahutnya lirih. Aku segera merangkulnya menahan supaya dia tidak jatuh. “Sekarang kita ke kos ku aja ya, supaya kamu bisa tidur dulu sebelum jam nol-nol, aku janji kita akan keluar melihat kembang api sebelum jam, nol-nol... gimana mau ga?” “ ta..tapi..kamu janji ya... ga macam-macam seperti waktu itu,” ucapnya sambil memelototkan matanya kearahku. Dalam hati aku berkata Olive klo marah serem juga ya...  “iya aku janji ga akan macam-macam”, sahutku pasti.  “Apa kita balik ke kos ku aja Jeff, biarlah aku tidur sendirian malam ini, rasanya aku capek sekali, kamu juga capek khan perlu istirahat. Ucapnya memberi alternatif... ”Ga gitu Liv... jika kamu pulang dan sakit tidak akan ada yang menolongmu, kecuali mbak Monic di rumah dia yang akan membantu mu”. Jelas ku  mengingatkan.  “Benar  juga ya...” jawabnya lirih mengingat yang ada di kosnya hanya tante Wati yang tidak bisa diandalkan, mengingat kondisinya yang kurang normal dalam hal berfikir. ”Ya uda ikut ke kos ku aja ya, lagian aku juga belum mandi Liv... aku bisa mandi dulu jika kita ke kos ku”, jelasku memastikan. “ Baiklah... asal ingat janji mu tidak beoleh dilanggar lagi”. Sungut Olive tegas. “ Oke non... janji”, sahutku seraya mengacungkan jari telunjuk dan tengah ku kearahnya supaya dia percaya. Akhirnya Olive setuju ke kos ku untuk mengistirahatkan  tubuhnya yang letih dan ngantuk. Aku sangat takut dia akan tidur lagi di punggun ku kami bisa jatuh jika dia benar-benar terlelap, aku sengaja sesekali menarik tangannya untuk membuatnya tetap tersadar meskipun tubuhnya sudah menempel indah dipunggungku. Aku merasakan kehangatannya setiap kali dia menempelkan tubuhnya ke punggungku, hatiku sangat bahagia merasakan keintiman yang terbangun diantara kami. Tidak butuh waktu lama untuk tiba di kos ku hanya dua puluh menit perjalanan tibalah kami di rumah kos ku yang kini terlihat gelap, aku lupa menyalakan lampu terasnya sebelum berangkat tadi. Aku menghentikan motor ku tepat di teras Olive segera turun dan memberi jarak dengan motor supaya aku bisa leluasa memarkir motor. Setelah memarkir motor aku segera merangkul pundak Olive lembut seraya berkata” masuk yuk” dia hanya mengikuti langkahku berjalan dengan gontai seperti tenaganya hilang tak bersisa... aku merogoh kunci rumah di saku celanaku, kemudian segera membuka pintu dan menyalakan lampu, seketika keadaan berubah terang. Kembali aku merangkul Olive dan mengajaknya masuk.  Aku langsung membuka pintu kamar temanku yang kemarin menjadi tempat tidur Olive eh tempat tidur kami berdua, walau sebenarnya Oliv tak senang dengan keberadaanku yang tidur di sampingnya saat itu. Olive segera menuju kasur dan langsung merebahkan tubuhnya tanpa menghiraukan aku, menit berikutnya napasnya terdengar beraturan pertanda dia sudah benar-benar terlelap, aku mengambil selimut tebal yang ada di ujung kakinya, kemudian membuka lipatannya untuk menyelimuti tubuh Olive. Setelah mengecup keningnya dan menutup pintu aku segera keluar untuk memindahkan motor kedalam ruang tamu, sebab jika aku mandi tidak ada yang menjaganya Olive sudah terlelap. Pintu ruang tamu segera ku tutup ketika motor sudah berada di dalam, setelah memastikan keadaan aman aku membuka pintu kamar ku lalu menyalakan lampu, kemudian aku bergegas menuju kamar mandi tak lupa aku membawa perlengkapan mandi ku. Air yang mengguyur seluruh kepala dan tubuhku terasa begitu sejuk membuat hatiku yang sedang berbahagia ini semakin nyaman. Ku gosok sabun mandi yang wanginya mulai memenuhi ruang, ya wangi  lemon yang sangat menyegarkan. Selanjutnya ku tuang shampooh seperlunya ke telapak tanganku lalu segera ku ratakan ke bagian rambut ku yang lumayan gondrong ini. Aku bergegas keluar kamar mandi setelah membilas semua busa di tubuh ku dan membungkus tubuh bagian bawah ku dengan handuk. Aku melangkah menuju pintu rumah yang tadi ku tutup saat aku mandi, perlahan aku mendorong daun pintu. “ Aaaaa...tidak...” terdengar suara terikan menjauhi pintu belakang. Aku tercenung sejenak, namun segera menyadari bahwa itu pasti teriakan Olive. Tapi apa dia sudah terbangun? Kenapa sangat cepat? Begitu banyak pertanyaan di benak ku hingga aku masuk tergesa-gesa ingin memastikan keadaan Olive. Namun ketika aku sampai di pintu kamar ku, Olive kembali berteriak...  “Cepat pakai baju mu Jeff... itu tidak lucu”. ucapnya cepat. Kemudian berlari kekamarnya dan segera menutup dan mengunci pintunya dengan cepat pula. Aku yang menyadari kesalahanku langsung masuk ke kamar ku, setelah memilih pakaian yang cocok dari lemari pakaian ku aku segera mengenakanya. Sesaat kemudian aku berjalan ke luar kamar dan menuju kamar Olive, ku ketuk pintu kamarnya seraya memanggilnya pelan “Liv...buka pintunya dong, ini aku uda rapi”, Ucapku meyakinkannya. “Kamu ga bo’ong khan?”  Tanyanya dari dalam "Ga Liv ini kamu lihat saja sendiri”, sahutku lagi. Perlahan pintu kamar terbuka, Olive mundur menjauhi pintu. Aku sangat tahu dia tidak akan percaya begitu saja pada ku. Dia berhenti mundur ketika melihat aku benar-benar telah berpakaian lengkap. Aku tersenyum menggodanya melihat tingkahnya yang menurutku sangat lucu ini.  Sesaat kemudian aku langsung menariknya untuk duduk, sebab sedari tadi dia masih tetap berdiri, Olive terkejut, namun segera duduk di samping ku. “Heemm...uda ga ngantuk?” tanyaku memastikan sambil memeluk perutnya yang sangat rata, tanpa lemak sedikit pun. “Masih” sahutnya lemah. “Lalu kenapa bangun?” aku terbangun dan bingung soalnya pintu kamar mu tertutup tidak terkunci, waktu aku buka ternyata kamu tidak di dalam, aku bermaksud memastikan kamu ke kamar mandi ta...tapi... “Heemm...ta..tapi apa? Aku datang hanya dengan handuk gitu?” ucapku menggodanya, aku tertawa terkekeh melihat mukanya yang mulai bersemu merah. Dia mulai mencubiti lengan atas kanan ku, membuat ku meringis kesakitan,  “Aduh...aduh...Liv... hentikan sakit” ucapku meminta dia menghentikan serangannya. “Makanya jangan suka meggoda ku, itu hukuman buat yang suka jahil”, sungutnya kesal.  “Iya...iya ...maaf aku tadi tidak bermaksud membuat kamu seperti itu Liv, aku pikir kamu akan tertidur lebih lama, makanya aku tidak membawa piyama mandi ku”, jelasku singkat. “Iya, heeemm... lain kali ga boleh gitu Jeff...”, ucapnya pendek. Kali ini tidak terdengar nada ke kesalan yang seperti tadi. “Jadi sekarang mau lanjut tidur atau gimana?” tanyaku memastikan. “Ngantukku uda hilang sulit untuk tidur lagi” jelasnya datar. “Oke , sekarang gimana jika kita keluar lagi menuggu detik-detik pesta kembang api?” tanyaku setengah menjelaskan.  “ Kamu belum istirahat Jeff... kamu juga perlu istirahat”, sahutnya mengingatkan ku. “ Baiklah jika mau aku istirahat berarti aku tidur disini saja ya...”, ucapku menggodanya. “Kamu apaan sih Jeff...selalu saja ada akal bulus mu buat melanggar janji”, sungutnya kembali muncul. “Eh...itu khan bukan melanggar janji Liv, jika aku tidur dan tidak mengganggu mu itu artinya aku tidak bersalah Liv”, ucapku menuntut. “Tidak bisa, kamu harus tidur di kamar mu, titik”, sungutnya  tegas. “Iya deh, aku ngalah... ya uda sekarang aku balik ke kamar ku” ucapku seraya berjalan meninggalkan Olive. Olive tidak menjawab ku, dia hanya diam menatap ku yang berlalu meninggalkannya. Aku masuk ke kamar ku lalu merebahkan tubuhku, kemudian meraih ponsel yang ku abaikan dari tadi.  Aku membuka chat yang masuk satu persatu, selanjutnya membalas chat yang ku anggap perlu aku balas, mataku menatap satu pesan yang dikirimkan Robert,  “Bro kamu lagi apa? Kalau ga ada kerjaan kemarilah kita bakar-bakar di gereja ku, ada jagung, ikan dan saksang”. Pesan Robert sangat menarik. Selesai membaca pesannya aku segera menuju kamar Olive, "Liv... kita keluar yuk”, ajak ku. “ lho...kamu ga jadi tidur?” sahutnya bingung.  "Ga...aku ga bisa tidur jam segini, ini ada chat Robert katanya ada acara di gerejanya sekarang”, ujarku tanpa berpikir panjang. “Emang acaranya dari jam berapa?, ini uda hampir jam dua puluh tiga Jeff... pasti acaranya hampir selesai, aku ga mau ih... kemalaman malu tau, apa lagi aku ga tau sama sekali suasananya disana”. Alasan Olive panjang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN