Amanda melihat Viki sedang berada di taman belakang mansion dengan segelas teh hangat herbal. Amanda mendekat dan mengelus kepala Viki lembut, Viki menoleh dengan cepat dan tersenyum. “Mi, sudah lama?” “Mami baru datang.” senyum Amanda dan duduk di kursi di hadapan Viki. “Bagaimana keadaanmu?” “Masih terasa lemas.” “Jadi itu benar?” “Gejalanya sama persis sewaktu mengandung Evan.” Lirih Viki. Amanda menghela napas, “Adrian sangat sedih. Kami semua pun demikian. Kenapa, Nak? Bukankah Evan sudah lebih dari cukup? Jika memang kamu tidak memiliki riwayat itu, tak masalah memiliki anak lebih dari satu tetapi…” Amanda tak mampu melanjutkan kata-katanya. “Adrian selalu menginginkan Evan memiliki saudara karena Adrian tak ingin Evan tumbuh sendirian seperti dirinya. Sejak kecil, dia diisolas

