BAB 4

3830 Kata
“Hamil?” Grace masih tak percaya apa yang didengarnya. “Ya, Nona. Adik anda mengandung.” “Ta… Tapi… Wait…” Grace memegang kepalanya yang perlahan pening. “Wait… dokter tahukan dari penampilannya pun adik saya… haa…” Grace tertawa bingung. “Ini tidak mungkin, Dok. Mungkin anda salah.” Dokter menarik napas panjang, “Nona… jika anda kurang yakin, setelah adik anda bangun, saya menyediakan test kehamilan ini.” Dengan tangan gemetaran Grace mengambil 4 jenis test kehamilan dengan berbagai merek. “Pastikan adik anda memperhatikan kesehatannya dan jangan bekerja terlalu keras mengingat kandungannya sangat rentan.” Grace terdiam hingga dokter berlalu dari hadapannya. Dirinya terlampau syok. Grace melangkahkan kakinya kedalam kamar dan duduk di sebelah Viki yang terlelap. Wajahnya Viki terlihat sangat pucat. Tangan Grace terangkat mengusap wajah saudari kembarnya itu dengan penuh kasih. Perlahan air mata Grace terjatuh, siapa yang berani memperdaya adiknya yang polos ini? Bahkan hingga mengandung. Viki berbeda dengannya. Dari dulu Viki memang sangat brilian tetapi soal pria dan romance, dia sangat tidak bisa apa-apa. Grace masih menatap wajah Viki, dia memijat kepalanya yang perlahan sakit. Bagaimana cara dia mengatakan itu kepada kedua orangtuanya? Bahkan mereka baru saja mencapai usia 19 tahun. Malam harinya, Viki terbangun dengan kepala yang sangat pening. Grace memasuki ruangan dengan semangkuk bubur hangat dan air mineral berada diatas nampan. “Hey.” Sapa Grace. “Hai.” Viki perlahan bangkit dan duduk bersandar pada dinding tempat tidurnya. “Are you okay?” tanya Grace lembut dan duduk di sebelahnya. “Not really. Kata dokter apa?” tanya Viki bingung. “Later.” Grace mengambil meja kecil dan meletakkan di depan Viki. “Makanlah dulu. Tubuhmu membutuhkannya.” Viki mengangguk dan menghabiskan buburnya. Grace tersenyum melihat adiknya yang makan secara lahap meskipun lidahnya pahit. Sejak mereka kecil Viki yang selalu memperhatikannya dan sekaranglah giliran dirinya yang memperhatikan Viki. Setelah selesai Viki memutuskan untuk mandi dan Grace mempersiapkan teh herbal untuk Viki. Viki merasa lebih segar, Viki berjalan menuju dapur dan di sana Grace sudah menunggunya. Grace tenggelam dalam pikirannya. Teh hangat terhidang untuknya. Viki perlahan duduk di hadapan Grace dan meraih tehnya. Teh tersebut pahit, Viki harus meminumnya perlahan demi perlahan untuk mengurangi rasa pahitnya. “So, apa kata dokter?” Viki menatap penasaran Grace yang masih terlihat setengah melamun. “Sebelum itu, aku ingin bertanya.” Grace menarik napas panjang, “Apa kamu memiliki kekasih yang tidak aku ketahui?” Grace menyelidik. “Ha? Apa maksudmu? Tentu saja enggak ada.” Viki menatap aneh Grace. “Itu enggak mungkin, Victoria.” Seketika amarahnya timbul. Jika Grace sedang serius, dia akan memanggil nama adiknya dengan nama lengkap. “Apa sih maksudmu? Kamu tahu bahwa aku seperti ini.” Viki membela dirinya. “Lalu bagaimana kamu bisa hamil?” Mendengar itu mata Viki membelalak tak percaya, “Ha… hamil?” “Iya. 8 minggu. Look! Aku enggak ngerti sama sekali karena kamu enggak pernah terlihat memiliki kekasih.” Viki hanya terdiam, pikirannya tenggelam mengingat pertemuannya dengan Adrian dua bulan lalu. Mengingat nama Adrian, hatinya menghangat. Dia dan Adrian akan memiliki anak. “Victoria… Papi Mami belum mengetahui ini dan pastinya mereka akan sangat gusar.” Grace meraih tangan Viki, “Victoria, siapa ayah bayi itu? Let me help you, okay?” bujuk Grace. Air mata mata Victoria tiba-tiba mengalir. Mengingat sosok Adrian kembali hatinya teriris. Bagaimana Adrian membohonginya, dia tak ingin kembali lagi. Tetapi bagaimana dengan bayi ini? Perlahan tangannya menyentuh perutnya. “A… Apa kamu yakin aku hamil?” tanya Viki dengan suara bergetar. Grace mengangguk, “Awalnya aku juga belum yakin, sebaiknya kita test secara langsung. Dokter memberiku bermacam-macam alat test kehamilan berbagai merek.” Grace menuntun Viki terbangun dan mereka melakukan test itu di dalam kamar Viki. 10 menit kemudian, hasil test tersebut keluar dan seluruh hasilnya positif. Viki terduduk di lantai kamar mandi tak percaya. Dia menangis sekeras-kerasnya, Grace memeluknya dengan erat. Grace tak ingin mental adiknya menjadi terguncang dan membahayakan dirinya. “Please… Victoria, siapa ayah anak ini?” tanya Grace lembut. Viki menggeleng kuat, dia tidak ingin memberatkan siapapun bahkan Adrian yang adalah ayah dari bayi yang dikandungnya. “Kamu tidak akan menyelesaikan masalah apapun jika kamu tidak memberitahu kami.” “No… Please… aku mau istirahat.” Viki menguraikan pelukannya dan bangkit berdiri. Grace menghela napas panjang dan membiarkan Viki beristirahat. Esoknya Grace memberitahu mengenai keadaan Viki kepada kedua orangtua mereka. Leo dan Amanda sangat terkaget bahkan mereka terbang menemui Viki secara langsung berharap akan mendapat jawaban yang mereka cari. Mengenai ayah bayi itu, bahkan Leo mengutus detektifnya namun tidak membuahkan hasil. Mengingat Viki tidak pernah terlibat dengan pria manapun. Waktu berlalu dengan cepat, bahkan saat usia kandungannya memasuki 12 minggu. Viki sangat bahagia melihat keluarganya sangat mendukung secara moril terutama mereka berhenti menanyakan mengenai ayah bayi ini. Viki pernah hampir menemui Adrian tanpa sepengetahuan keluarganya namun bukannya dukungan yang didapatnya tetapi fakta menyakitkan. Viki sedang mengerjakan urusan bisnis dan takdir membawanya ke kantor Adrian. Saat itu Adrian sedang berada di lobby kantornya bersama seorang wanita tinggi dan cantik, wanita itu terlihat seperti model. Viki bersembunyi dan mendengarkan percakapan mereka. “Aku hamil.” Kata wanita itu. “Stop membuat kebohongan Quin. Aku selalu berhati-hati dalam berhubungan seks. Kamu tidak bisa membodohiku.” “Tapi ini benar!” Quin mulai berteriak keras. “Pelankan suaramu.” Desis Adrian dan mencengkram tangan Quin sangat keras. “Aku bukan sembarang pria yang bisa kamu bodohi dengan kelakuan busukmu.” Quin meronta dan Adrian menghempaskannya ke lantai. Viki syok melihatnya. “Kamu tega sekali.” Quin bangkit dengan air mata deras mengalir dipipinya. “Bagaimana jika suatu saat ada wanita yang benar-benar mengandung anakmu?” “Aku akan membunuh bayi itu, aborsi. Tidak akan ada wanita yang membuatku terjebak di antara jemari mereka bahkan jika suatu saat satu dari mereka mengandung anakku.” Jawab Adrian angkuh. Kaki Viki lemas seketika, tubuhnya luruh ke lantai. Air matanya mengalir deras. Adrian akan membunuh darah dagingnya. Viki menyentuh perutnya dengan tangan gemetaran. Tangannya yang ringkih meraih handphonenya, seketika semua tenaganya hilang. “Demi.” Bisik viki pelan saat Demi menjawab teleponnya. “Hey... Are you okay, Viki?” Demi merasakan ada hal yang tidak beres. “No, please take me out from here.” Suara Viki gemetar. “Oh my... Wait, where are you?” Demi segera meraih kunci mobilnya dan menuju alamat kantor yang diberikan Viki. Sesampainya di sana Demi menemukan Viki terduduk di salah satu lorong. Tubuhnya masih bergetar. Begitu melihat Demi, Viki memeluknya erat. Demi mengetahui bagaimana Viki sedang mengandung dan tubuhnya sedang lemah. “Ayo kita pergi dari sini.” Ajak Demi. Begitu sampai di mobil Demi, Viki segera masuk beruntung pengawalnya tidak melihat mereka. Akan gawat nantinya jika pengawalnya melapor apabila melihatnya seperti ini. Demi membawa mobilnya menuju salah satu restoran. Mereka memesan minuman hangat untuk menenangkan Viki. Setelah itu Demi masih menatapnya serius. “Demi...” panggil Viki. “Ya?” “Jadilah sekretaris pribadiku.” “Why?” “Aku memang masih mengenalmu 3 bulan lamanya tetapi aku sudah menganggapmu sebagai kakak. Sejujurnya kehamilan ini sangat menekan batinku. Aku tidak sanggup sendirian.” Demi menghela napas panjang. “So tell me.. Ayah bayi ini berada di kantor tadi?” Viki membelalak menatap, “how?” Demi tersenyum, “Itu perkara mudah. Jadi benar?” Viki mengangguk, “Dia tidak menginginkan bayi ini. Meskipun aku jujur, dia akan menyuruhku mengaborsinya.” “B*jingan.” Pekik Demi. “Bagaimana mungkin darah dagingnya?” Demi menggeleng marah. “Keluargaku terus mendesakku, aku tak sanggup. Tapi aku mencintai bayi ini. Seiring waktu rasa sayangku terhadapnya tumbuh. Aku tidak bisa membiarkan ayahnya memaksaku membunuhnya. Jika memang itu keinginannya, lebih baik dia tidak pernah tahu bahwa dia memiliki anak.” “Victoria, you can do it. Kamu bisa bertahan. Bayi ini membutuhkanmu lebih dari siapapun.” Air mata Viki kembali mengalir, “Kamu benar.” “Jika ayah bayi ini tidak menerimanya, kamu bisa membesarkanya dengan baik sehingga dia tidak pernah kekurangan kasih sayang. Anggap pengalaman ini sebagai pengalaman berharga. Dirimu pantas bahagia begitu juga bayi ini. Dia tidak bersalah, dia tidak meminta dilahirkan ke dunia.” “Aku tahu.” Viki menghapus air matanya dan tersenyum. “Itulah mengapa aku menginginkanmu menjadi sekretarisku. Aku mempercayaimu.” “Thanks, Viki. Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Sejujurnya melihatmu mempercayaiku seperti ini, aku seperti memiliki keluarga lagi.” “Kamu memiliki aku dan keluargaku pasti akan menyukaimu.” Viki menggenggam jemari demi erat. Sementara di sisi lain, 3 bulan lalu Adrian bangun dengan senyuman di wajahnya. Ini adalah tidur terlama dan ternyenyak semenjak dia lulus sekolah menengah akhir. Lengannya yang besar dan panjang meraih spot di sebelahnya mencari tubuh Viki. Begitu merasa spot di sebelahnya dingin, matanya terbelalak kaget. “SH*T!!!” Adrian bangkit dengan telanjang bulat, “VICTORIA!” gelegarnya dengan marah. “VICTORIA!!!!” Kali ini suaranya lebih besar dan kakinya melangkah menuju kamar mandi tetapi kamar mandi itu kosong. Adrian mulai menyisir rambutnya frustasi. Di mana wanita yang membuatnya sangat bahagia tadi malam? Bagaimana mungkin dia menghilang begitu saja tanpa memberitahunya. Adrian memakai celana kainnya kembali tanpa kemeja dan melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Dipanggilnya seluruh pengawalnya untuk menghadapnya. 6 pengawalnya berdiri dengan hormat. “Di mana wanita yang bersama saya tadi malam?” tangannya terkepal dengan marah. “Tadi malam nona Gennie datang menemui anda saat wanita itu masih di sini. Kami mendengar sayup-sayup pertengkaran itu dan kemudian wanita itu keluar dan pergi beberapa di menit kemudian. Sekitar jam 2.” “DAMN!” maki Adrian, dia meraih handphonenya dan menghubungi detektifnya. “Aku membutuhkan data mengenai tamu tadi malam yang bernama Victoria. Secepatnya!” desisnya marah melalui telepon. Adrian kembali menghadap pengawalnya gusar. “Kenapa kalian tidak menahannya, HAH?” “Tuan tidak pernah tidur satu malam dengan seorang wanita hingga pagi. Jadi kami membiarkannya.” Jawab salah satu pengawalnya gemetar. Sudah menjadi rutinitas Adrian jika dia membawa pulang satu wanita, Adrian tidak akan membiarkan wanita itu tidur di tempat tidur yang sama. Adrian akan menyuruh pengawalnya untuk menyeret wanita-wanita itu kembali ke kediaman mereka masing-masing sebelum pagi. Adrian menatap tajam pengawalnya dan menyadari kesalahannya, dia tidak menyangka jika kemarin malam adalah malam terindahnya bersama seorang wanita. Sekarang melihat fakta wanita itu meninggalkannya, membuat hatinya terciut. Apa auranya sudah menghilang? Semua apa yang diinginkannya selalu terpenuhi tanpa kata ‘no’. Adrian kembali ke dalam kamarnya dengan langkah berat. Hatinya panas. Bagaimana mungkin seorang wanita meninggalkannya? Mencoreng egonya. 30 menit kemudian setelah mandi dan bersiap menuju kantornya, teleponnya berbunyi. “Tuan… Victoria yang hadir ada 15 orang tadi malam.” Lapor detektifnya. “Lalu bagaimana dengan CCTV?” “Kami tidak bisa menangkap jelas spot wajahnya saat anda membawa wanita itu.” “Kirimkan nama wanita-wanita itu beserta fotonya.” “1 menit seharusnya sudah di email anda.” “Oke.” Adrian menutup teleponnya. Adrian menunggu dengan sabar sembari duduk di dalam mobilnya menuju kantor. Diraihnya iPadnya dan membuka email tersebut. Dari ke 15 orang tersebut, tidak ada yang mirip dengan Victorianya. Mengapa bisa terjadi?! Victorianya hadir di sana, pastilah dia salah satu alumni MIT. Namun jika harus mencari data itu ada ribuan nama Victoria di sana. Adrian semakin frustasi. Sesuai fakta yang tidak diketahui Adrian, pada malam itu Grace yang memegang kartu undangannya. Viki diijinkan masuk duluan sementara Grace masih di luar bercakap dengan seorang pria. Setelah bercakap Grace menuju mobil pria itu dan tidak jadi masuk kedalam aula sehingga secara tidak langsung Viki dan Grace tidak terdaftar. “Dia hanya satu dari sekian wanita, Bro. Lupakan saja.” Kata Lewis cuek saat mereka sudah berada di dalam kantor Adrian. Sementara Adrian hanya terdiam. Apa yang dikatakan Lewis benar, dia hanya wanita. Oleh karena satu malamnya begitu menyenangkan tidak akan mempengaruhi malam lainnya. Adrian masih bisa mendapatkan wanita manapun yang disukainya tanpa harus terjebak dalam ikatan sebuah hubungan. 5 tahun kemudian. Hari ini ulangtahun Adrian ke 30. Acaranya diselenggarakan besar-besaran. Seluruh orang penting rekan bisnis ayahnya di undang. Adrian masih di dalam kamarnya merapikan dasinya ketika ibunya, Cecile masuk dengan dress rancangan Osc*r De La Renta. “Hey, Nak.” Kecup Cecile di pipi Adrian. “Hey, Mi.” “Happy birthday.” “Thanks.” “Mami tidak menyangka kamu bisa sebesar ini sekarang.” “Mami selalu ngomong seperti ini tiap tahun.” Adrian tertawa kecil. “Jadi apa ada seorang wanita spesial yang akan hadir malam ini?” Adrian menggeleng sambil tertawa, dia berjalan menuju gelas whiskinya dan meneguk sedikit. “Well… kami menanti loh.” Lanjut Cecile. “Papi sama Mami enggak muda lagi. Jadi kapan kami melihatmu bertahan dengan satu wanita?” “Never.” Jawab Adrian ringan dengan senyuman dan meraih tangan ibunya untuk berjalan keluar kamar. “Haaa.” Lelah Cecile. “Mami cape berdebat dengan Papimu untuk membelamu. Sudah 5 tahun ini Papimu menyodorkan banyak wanita tapi selalu berakhir dengan menyedihkan.” “Mami… aku belum siap.” “Jadi kapan kamu siap?” “Entahlah…” jawab Adrian menerawang. “Aku juga menunggu.” Adrian menatap Cecile lembut. Mendekati pukul 9 malam, seluruh tamu undangan hadir. Mereka berdansa dan menikmati sajian hidangan. Adrian sibuk menyalami satu persatu tamunya yang notabene model-model cantik yang berusaha merebut perhatiannya. Mereka berharap bisa tidur malam ini dengan Adrian. Sementara Adrian memiliki perawakan semakin dewasa. Matanya yang setajam elang menjadi daya tarik misterius sekaligus maskulin. “Pi.” Sapa Adrian kepada ayahnya. Mereka berpelukan dengan hangat. “Happy birthday, Son.” “Thanks.” “Well… keluarga Vinc ada di sini.” Ayahnya menuntun Adrian menuju sebuah lingkaran kecil di tengah. “Oh ya?” “Kapan terakhir kamu bertemu dengan mereka?” “Entahlah… 10 tahun? Aku sering bertemu dengan Grace semenjak dia di dunia modeling.” Paul mengangguk kecil dan menatap lurus. “Leo.” Sapanya dengan suara berat. Leo yang mengenakan tuxedo Arm*ni, Amanda yang mengenakan dress Pr*da, Grace yang mengenakan dress Vers*ce dan Aiden yang mengenakan tuxedo Alex*nder McQueen. Satu lagi wanita yang baru dilihatnya, Demi yang menggunakan dress F*ndi. “Hey… Paul.” Mereka berpelukan erat. Tak lama Cecile pun bergabung dan mereka terlibat obrolan hangat. “Sepertinya kalian kehilangan satu anggota keluarga.” Kata Cecile kemudian. “Ya. Victoria akan menyusul.” Jawab Amanda. “Dia pasti sangat sibuk yah.” Kata Cecile kemudian. “Dia sangat suka bekerja.” Jawab Leo dengan suara baritonenya dingin. Adrian menangkap gelagat aneh namun mengabaikannya. Adrian memilih pamit sementara kedua orangtuanya masih bercakap dengan keluarga Vinc. Adrian berkeliling dan membalas sapaan satu persatu yang hadir. Tubuhnya mulai lelah, dia memilih duduk di bar dan menikmati whiskinya. Musik semakin mengalun sedikit lebih keras semenjak waktu semakin malam. Beberapa keluarga mulai meninggalkan tempat acara dan hanya anak-anak mereka yang tinggal menikmati alunan musik. Tak lama mata Adrian menangkap sebuah sosok yang dikenalnya keluar dari kamar mandi. Adrian beranjak cepat dan mendekati sosok itu. Semakin dekat, jantungnya semakin berdengup kencang. Dia mengenali sosok itu. “Victoria.” Bisik Adrian setelah berhasil meraih lengan wanita itu. Wanita itu berbalik dan menatapnya tepat dimanik mata. “Victoria?” Adrian mengulanginya lagi. Wanita itu terdiam dengan wajah dingin dan melepaskan cengkraman Adrian. “Kamu Victoriakan?” Adrian mengulang pertanyaannya. “Ya.” Jawab Viki dingin. Ekspresi dan bahasa tubuhnya sangat berbeda dari 5 tahun lalu. “Lama tak jumpa.” Wajah Adrian kembali berseri. “Oh ya?” jawab Viki cuek. “Anyway… happy birthday.” Viki  terlihat sangat cantik di mata Adrian dengan menggenakan dress dari G*cci. “Aku mencarimu kemana-mana setelah malam itu. Kenapa kamu pergi tanpa pesan?” “Bukankah itu yang kamu inginkan?” balas Viki. “Maksudmu?” “Kamu tidak suka dengan segala macam bentuk hubungan.” Melihat ekspresi dingin Viki, wajah Adrian memerah. Lagi-lagi egonya tercoreng oleh wanita ini. Hanya dia wanita yang selama ini bisa melakukan itu. mengembalikan kata-katanya tepat diwajahnya seperti tamparan. “Itu memang benar.” Jawab Adrian dingin. “So?” Viki berjalan gemulai mendekatinya hingga bibir mereka berjarak hanya beberapa centimeter, Adrian bisa merasakan hembusan napas wangi segar buah milik Viki. Adrian kembali dibuatnya mabuk kepayang. “Mari lupakan malam itu.” bisik Viki ditelinganya. “Baik aku dan dirimu, tidak melibatkan perasaan.” Setelah mengatakan itu Viki tersenyum kecil dan berjalan meninggalkan Adrian yang terpaku bagai kerbau yang di cucuk hidungnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia mematung dan tidak dapat berkata apa-apa. Selama ini wanita-wanita itu yang mengejarnya sampai mati, bersedia memberikan apapun dari diri mereka. Adrian menatap tajam pinggul seksi Viki yang mengayun indah semakin meninggalkan dirinya. Viki yang dikenalnya 5 tahun lalu bertumbuh menjadi wanita dewasa yang sempurna. Baik tubuhnya maupun tatapan matanya sangat berbeda. Tubuhnya terisi di bagian tertentu sedangkan matanya bukan lagi sepolos yang dulu. Adrian terbangun dari lamunannya dan mengejar Viki yang semakin berjalan jauh menuju kerumunan orang. Adrian mengabaikan panggilan wanita-wanita yang berusaha menghentikannya. Adrian melihat Viki berhenti dan bergabung di lingkaran keluarga Vinc dan orangtuanya. Mereka mengobrol dengan akrab. Bagaimana mungkin? Apa wanita itu mengenal keluarganya dan keluarga Vinc? Masih tenggelam dalam pikirannya, begitu melihatnya Cecile menuntunnya bergabung kembali dalam keluarga itu. “So Victoria… kamu cantik sekali sekarang.” Kata Paul kemudian. “Terima kasih.” Jawab Victoria sambil meminum champagnenya anggun. Tatapan Adrian mengikuti gerak tubuhnya. “Adrian… kamu masih mengenal Victoria?” tanya Cecile. “Huh?” Adrian menatap bingung namun ekspresinya berubah wajar ketika seluruh mata menatapnya menunggu jawaban. Kepalanya kemudian mendapat titik temu. Victoria 5 tahun lalu adalah Victoria dari keluarga Vinc. Mengetahui itu, Adrian masih menatap tak percaya. “Te… tentu saja.” Adrian memperbaiki suaranya. “Kamu terlihat berbeda.” “He…” tanpa sengaja Demi tertawa kecil. Adrian menatap tajam Demi. Siapa dia berani menertawakannya? “Kamu benar-benar berubah sayang. Tante masih ingat waktu kamu suka baca buku dengan kacamata kesayanganmu.” Tambah Cecile. “Saya masih mengenakan kacamata dan membaca buku kok Tante.” Jawab Viki halus. Bahkan suaranya bagai senandung merdu ditelinga Adrian. Mereka lanjut mengobrol kecil namun kali ini mereka memilih duduk, tak lama Demi bangkit dan membisikkan sesuatu di telinga Viki. Mata Adrian terus mengikuti gerak tubuh Viki. Dia masih tidak mempercayai apa yang dilihatnya, Viki yang polos dan kutu buku menjadi secantik ini bagai seorang dewi. Bahkan jika dia berniat menjadi model, dia akan menjadi model yang sukses. Viki pun bangkit dan mengundurkan diri untuk pulang terlebih dahulu, dia segera berjalan keluar dengan cepat mengikuti Demi.  Adrian pun mengundurkan diri dengan maksud mengejar Viki. Begitu tiba di parkiran, Viki sudah akan memasuki mobilnya namun tangan Adrian cepat meraih lengannya. Adrian menariknya dan tubuhnya menabrak tubuh Adrian. Tanpa sengaja tangannya memeluk tubuh Adrian agar tubuhnya tidak terjatuh kelantai. Begitu sadar dia segera melepaskannya namun Adrian sudah memeluk pinggangnya erat. “Lepaskan!” desis Viki. “Ada yang belum kita selesaikan.” Bisik Adrian dan menatap tajam Demi dan beberapa pengawal Viki. “Kalian mundur. Aku yang akan mengantarkannya pulang.” “Anda…” desis Demi. “Lepaskan dia!” pengawal Viki yang berjumlah 4 orang maju ingin merebut Viki namun 6 pengawal Adrian menghadang mereka. “Kamu tidak ingin mereka terluka bukan?” bisikku ke tubuh Viki yang bergetar menahan marah. Viki menoleh kearah Demi dan mengangguk. Ke empat pengawalnya mundur, Adrian kemudian meraih tubuh Viki dan menariknya masuk kedalam mobilnya. Didalam mobil Adrian tidak juga melepaskan tubuh Viki meski Viki meronta. Sepanjang perjalanan mereka terdiam. Hati Adrian bergejolak, dia tidak tahu jika wanita yang selama ini dicarinya ternyata tak jauh darinya. Dia ingin marah dan mengutuk sekaligus lucu. Bagaimana mungkin Victoria tumbuh secantik ini? Mengingat Grace, dia baru menyadari kebodohannya. Selama ini dia selalu dikelilingi banyak wanita cantik tapi menyadari kemurnian sosok Viki membuatnya terkecoh. “Apa maumu?” Viki menatapnya tajam ketika mereka tiba di mansion pribadi Adrian. Mereka masih terdiam di dalam mobil. “Dirimu.” Mendengar itu, Viki mendorong tubuh Adrian keras sehingga pelukan Adrian di pinggangnya terlepas. Viki sudah akan keluar dari mobil ketika kembali lengan besar Adrian memeluknya dan membuatnya duduk. “Apa yang salah?” tawa Adrian sinis. “Kita sama-sama suka. Kamu bahkan tidak menolak sewaktu memberiku keperawananmu.” Tambah Adrian. Viki kembali menatapnya tajam, hatinya tersayat mendengar jawaban Adrian. 5 tahun ini dia berusaha bangkit dan sampai batas ini dia berhasil. Viki menutup matanya menenangkan hatinya, dia mengingat bagaimana Demi menolongnya untuk berubah dan menjadikannya wanita yang kuat. “Lalu?” tanya Viki tenang. “s*x buddy.” Suara seksi Adrian membuat Viki merinding. “Jadilah pemuas napsuku. Dan kamu juga bisa menikmati tubuhku. Aku bisa melihat bagaimana kamu sangat menikmati seks sama seperti dulu.” terang Adrian. Tangan Viki terkepal marah, bahkan 5 tahun ini hanya Adrian yang pernah berhubungan badan dengannya. Adrian memandangnya sebagai b***k seksnya. Melihat reaksi diam Viki, Adrian kembali memeluk erat tubuh Viki sehingga wajah mereka hanya beberapa centimeter. Viki menarik napas panjang, “Lalu apa keuntungannya bagiku?” “Aku akan memuaskan napsumu hingga kamu tidak bisa lagi memikirkan apapun. Aku pun mendengar kamu belum memiliki pasangan sejauh ini.” Bisik Adrian di telinganya. “Aku adalah salah satu pria yang kini sangat digilai. Tubuhku bisa memuaskanmu. Kamu bisa mengingatnya dulu bukan?” “Bagaimana dengan hubungan?” “Kita tidak akan terikat hubungan apapun. Hanya sebagai teman ranjang. Kita tidak perlu tahu urusan pribadi masing-masing. Meski keluargamu adalah sahabat baik keluargaku, aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini.” “Jika aku menyukai oranglain?” “Kamu bisa menemuinya tetapi tidak dengan hubungan seks. Selama kita dalam perjanjian ini milikmu hanya untuk juniorku.” Viki menatap Adrian lama, mencari sisa-sisa kejujuran di sana namun pria di hadapannya ini begitu dingin. “Aku akan menghubungimu kapanpun dan di manapun yang aku mau selama aku membutuhkanmu. Kamu harus memuaskan birahiku tanpa kata tidak.” “Dan jika aku yang membutuhkanmu?” balas Viki tajam. “Ingat baby… di sini akulah yang memegang kendali. Jika waktuku tersedia maka aku akan memuaskanmu.” Adrian mulai mengecup leher Viki basah. “Pertanyaan terakhir.” Viki menarik lehernya dan menatap dalam Adrian. “Mengapa kamu memilihku? Kamu cukup memiliki banyak wanita.” Adrian tertawa pelan, “Tubuhmu sangat seksi, wajahmu cantik, kamu cerdas... jauh dibandingkan wanita-wanita yang pernah aku tiduri dulu. Dan yang paling aku sukai bahwa kamu tidak seperti wanita yang mengejar pria sepertiku. Kamu mandiri dan bisa bertahan sendiri. Dari situ pastilah kamu sama seperti diriku yang tidak ingin bertahan dalam suatu hubungan.” Mendengar itu, Viki hanya mengangguk pelan. Viki menyadari jika perjanjian yang diinginkan Adrian hanya sebatas kepuasan tubuhnya tidak dengan hatinya. Dari dulu hingga sekarang Adrian tidak punya hati. Sejauh itulah yang dikenalnya dari sosok Adrian. “Baiklah, s*x buddy.” Viki tersenyum kecil, dia tidak lagi ingin berharap. Di dalam pikirannya cukup sudah. Toh selama dia masih berusia 24 tahun, tidak ada salahnya menikmati masa lajangnya dan entah sampai kapan. Sampai hatinya lelah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN