Kabut birahi yang menggelora memenuhi ruangan itu. Viki sudah tidak menyadari ketika dia hanya mengenakan bra dan celana dalam. Tangannya yang kecil sudah membantu Adrian melepaskan kemeja dan celananya hingga hanya meninggalkan celana dalamnya. Ciuman panas itu terus berlanjut. Viki merasakan bibirnya yang memar, tetapi dia sudah tidak peduli lagi, usapan dan remasan tangan Adrian di seluruh tubuhnya membangkitkan sisi lain yang selama ini terpendam dalam dirinya.
Viki merasakan miliknya yang semakin basah ketika Adrian membuka branya dan menghisap puncak dadanya yang sudah mengeras. Erangan demi erangan terlontar setiap kali Adrian menghisap dengan keras.
Mata Adrian lapar menatap gunung kembar ranum Viki. Di remasnya dengan lembut, Adrian berusaha bersikap se-lembut mungkin. Dia ingin menjaga janjinya di awal. Namun begitu tangannya menyentuh bagian montok itu, sesuatu merasukinya. Sikap posesif itu. Milik Viki adalah d**a paling indah yang pernah dilihatnya. Menjadi petualang dari tempat tidur ke tempat tidur yang lain dengan wanita-wanita yang berbeda membuatnya gampang menghakimi penampilan seseorang.
Milik Viki tidak kecil namun besar alami. Satu tangannya yang besar cukup untuk meremasnya seluruhnya. Adrian tidak terlalu menyukai wanita yang melakukan operasi untuk memperbesar miliknya. Gunung kembar sebesar melon bukan seleranya. Apalagi saat mereka sedang berhubungan badan, sulit bagi Adrian untuk meremasnya jika bagian itu terlalu besar.
Diarahkannya mulutnya yang hangat dan mengulum puncak Viki. Desahan demi desahan semakin membuat Adrian hilang kendali, tangannya yang aktif membuka celana dalam Viki dan celana dalam miliknya. Mata Viki terbelalak melihat miliknya yang gagah, besar dan terlihat marah. Melihat ketakutan itu Adrian tersenyum kecil dan menuntun tangan kecil Viki menyentuh kebanggaannya. Viki menurut dan meremas kecil milik Adrian, nyaris tidak memenuhi tangannya karena ukurannya yang besar.
“Ini tidak akan muat.” Lirih Viki.
“Trust me… it will.” Adrian kembali mengulum bibirnya. Adrian mengarahkan bibirnya ke leher jenjang Viki dan menyedot keras di sana, meninggalkan bekas panas. Dari dua puncak erotis itu dan sampai pada l**************n Viki yang sudah menyerbakkan aroma khas. “Oh god… I love this.” Adrian merentangkan paha Viki dan mulai menjilat dengan buas milik Viki, membuat Viki kehilangan akal sehatnya. Pria inilah yang pertama kali melihat bagian paling tersembunyi dari dirinya.
“No… itu kotor.” Viki menolak dan menutup kedua pahanya.
Adrian tersenyum genit, “Kamu akan menyukai ini, Baby. Tutup mata kamu dan nikmati.” Adrian mulai menjilat perlahan. Semakin lama semakin liar.
“Yes… Yes… There...” Viki bahkan mencengkram keras rambut Adrian, kenikmatan itu baru pertama kali dirasakannya. Kepuasan puncak pertama kali seumur hidupnya hampir tiba. Adrian semakin buas memainkan lidahnya. “Akh….” Erangan kenikmatan lepas dari bibir manisnya beriringan dengan lengkungan tubuhnya yang tak sanggup dia kuasai.
Adrian menyantap seluruh cairan itu hingga tak tersisa. Tubuh Viki terus bergetar hebat. Napasnya memburu. Gelora pertama itu menguras seluruh kekuatan tubuhnya. Viki tergeletak tak berdaya dengan mata tertutup. Adrian mengangkat wajahnya dan menatap Viki dari ujung rambut hingga kaki. Menikmati betapa tubuh wanita di hadapannya ini sangat sempurna, sangat pas dalam pelukannya. Bahkan membayangkan dia berada pada pelukan pria lain membuat darahnya perlahan mendidih. Padahal dia baru saja bertemu dengan gadis ini. Yang benar saja. Adrian berusaha mengontrol dirinya yang tidak seperti biasanya. Apa ini pengaruh alkohol juga?
“Kita baru saja mulai sayang.” Bisik Adrian mesra. Viki baru akan membuka matanya ketika dia merasakan sebuah benda keras menyeruak kedalam miliknya yang sempit. Rasa sakit terlahir di sana membuatnya meronta dengan keras.
“Stop! Stop!” Adrian terus memeluk tubuhnya dan mengecup dalam bibirnya, meredakan protes itu. Air mata Viki keluar tanpa bisa dibendung, tubuhnya seperti terbelah menjadi dua. Sekali hentakan seluruhnya masuk membuat Viki terpekik nyaring. Air matanya semakin deras. Dengan penuh kelembutan Adrian mengecup wajahnya dan menghapus air matanya.
“I am sorry, Baby… Aku tidak bisa menahan diriku lagi. Aku hilang kendali.” Adrian menenangkan Viki yang menatapnya dengan mata polos penuh deraian air mata. Adrian merasa iba dan mengecup kening Viki lama. Otot miliknya memijat senjata Adrian dengan erat membuat sang pemilik mengeluh kenikmatan.
Dengan pelan Adrian menggerakkan maju mundur, awalnya Viki masih mngeryit nyeri namun semakin lama rasa sakit itu tergantikan dengan rasa nikmati. Cairan mereka berdua membuatnya licin dan mengurangi gesekannya. Kaki Viki melingkar erat di pinggang Adrian, menolak milik Adrian meninggalkan miliknya. Peluh membasahi kedua tubuh mereka. 10 menit kemudian Adrian melepaskan benihnya di dalam tubuh Viki diikuti klimaks kedua Viki.
Tubuh Adrian jatuh menimpa Viki, sekali lagi dikulumnya dalam bibir Viki yang sudah memar akibat ciuman panas mereka berulang-ulang sebelumnya. Viki menatap plafon kamar itu dengan bermacam-macam pikiran. Meski kandungan alkohol masih mempengaruhi sebagian pikirannya dan membuatnya hanya diliputi napsu. Diliriknya Adrian yang sudah meninggalkan tubuhnya dan tertidur tenang di sampingnya.
Viki teringat akan Grace dan bangkit dengan panik. Dia belum memberitahu Grace tentang ini. Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Grace pasti sudah pulang. Viki bangkit dari tempat tidur dan merasakan nyeri di area privatnya tetapi dia tidak menghiraukannya. Saat akan beranjak berdiri dia menyadari bahwa dia tidak membawa handphone.
Sebuah lengan besar kembali memeluk pinggangnya. Adrian menatapnya dengan tatapan ngantuk dan menariknya tidur dalam pelukan Adrian. Viki terbaring dalam pelukan itu lama dengan bermacam-macam gejolak, dia masih berpikir apa Adrian jujur terhadap dirinya? Apa benar Adrian menyukainya yang seperti ini? Pelukan Adrian yang semakin erat menyakinkannya. Namun matanya tidak dapat menutup, dia hanya terdiam menikmati hangatnya tubuh Adrian. Napas Adrian yang teratur menyapu keningnya.
1 jam kemudian, Viki melerai pelukan Adrian dan beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan tubuhnya. Guyuran air hangat merilekskan tubuhnya yang lelah. Miliknya masih nyeri namun mengingat pengalaman itu sebelumnya, wajah Viki kembali memerah. Dia menyerahkan hal yang berharga darinya untuk pria yang disukainya. Masih tenggelam dalam khayalannya, sebuah tangan besar kembali memeluknya erat dari belakang.
“Adrian?”
“Kenapa kamu meninggalkan tempat tidur?” balas Adrian dengan suara ngantuknya. Wajahnya berada di leher Viki dan mulai mengecupnya pelan.
“Tubuhku terasa lengket.”
“Hem.” Hanya itu jawaban Adrian dan tangannya perlahan bergerilya di bagian depan tubuh Viki. “God… I love this so much.” Bisik Adrian dan meremas lembut membuat Viki mengeluh. Viki merasakan milik Adrian menusuk bokongnya. “Ronde dua?” desah Adrian.
“But…” protes Viki, Adrian segera mengecup bibirnya cepat. Adrian membuat Viki membungkuk dan memasukkan miliknya dari posisi belakang. Viki mengeluh nikmat, senjata Adrian begitu besar dan padat memasuki miliknya. Protes itu berubah menjadi erangan demi erangan seiring hujaman-hujaman keras Adrian.
“Sh*t. Sempit banget.” Merasakan sempitnya milik Viki, Adrian tidak bisa lagi menahan dirinya. Dengan segera dinaikkan tempo dorongannya. Dicengkramnya b****g Viki yang padat.
15 menit kemudian Adrian mengeluh keras dan lagi-lagi mengosongkan benihnya di dalam tubuh Viki tanpa rasa kuatir. Tubuh Viki sudah akan jatuh ke lantai jika bukan lengan Adrian yang memeluk tubuhnya erat. Napasnya memburu dengan cepat, kakinya bergetar hebat begitu pula dengan seluruh tubuhnya. Adrian membalikkan tubuh Viki sehingga mereka berhadapan. Adrian tersenyum dengan setulus hatinya.
Baru kali ini dia banyak tersenyum. Selama ini dia bahkan lupa kapan dia terakhir tersenyum. Adrian meraih wajah memerah Viki dan mengelus pipinya lembut. Ditelusurinya wajah Viki dengan seksama yang kini tidak menggunakan make up namun itulah yang menjadi daya tariknya. Adrian terpukau dengan itu. Air menghapus jejak penghalang itu.
“Aku menyukai matamu.” Kata Adrian pelan, “Dan bibir ini.” Ibu jari Adrian mengukir mengikuti bentuk bibir Viki dengan lembut. Hati Viki berdetak sangat kencang. Dia bukan saja menyukai pria di hadapannya ini tetapi lebih dari itu, dia mencintainya.
Tangan Viki terangkat dan mengelus pipi Adrian lembut. Adrian memejamkan matanya dan menikmati elusan pelan Viki. Adrian mendesah tanpa sadar. Baru kali ini ada wanita yang menyentuh wajahnya selain ibunya. Dia tidak pernah mengizinkan wanita lain namun dengan Viki entah mengapa dia menyukainya.
Jemari kecil Viki mengikuti bentuk mata, hidung hingga bibir Adrian. Dengan pelan Adrian menghisap ibu jari Viki yang berhenti di kedua bibirnya. Tatapan tajam Adrian menghujam matanya yang tulus seakan menguak kepolosan dirinya. Adrian kembali tersenyum dan terus menghisap ibu jari Viki bahkan mengkombinasikannya dengan gigitan kecil. Viki tertawa kecil. Mendengar tawa Viki bagai music indah di telinga Adrian.
“Kamu mengingatkanku pada seseorang...” Kata Adrian kemudian.
“Si… Siapa?” Viki mulai merasa kecewa. Ada sosok bayangan wanita lain yang menghiasi hati Adrian.
“Seseorang…” Adrian menghentikan perkataanya. Cukup sudah dia terlalu nyaman dengan wanita ini dan mulai membongkar rahasianya satu persatu. Bahkan dia sudah melanggar beberapa peraturan hari ini, jika dibiarkan… dia pasti akan mulai berpikir untuk memulai sebuah ‘hubungan’ yang notabene adalah hal yang dihindarinya. Adrian berdehem membersihkan tenggorokannya, dia harus segera sadar dan kembali membentengi dirinya. “Nanti kamu kedinginan.” Kilah Adrian dan mulai meninggalkan Viki yang menjadi sedih.
Viki menatap punggung Adrian yang berlalu menjauh, ditariknya napas dalam. “Mungkin itu adalah wanita yang dicintainya.” Lirih Viki.
30 menit kemudian, Viki keluar dari kamar mandi dan mendapati Adrian kembali berbaring dengan mata tertutup. Viki duduk di sisinya dan melihat bagaimana napas Adrian perlahan teratur, dia tertidur. Viki mengelus pipi Adrian lembut. Viki memilih berbaring.
1 jam kemudian, dia tidak kunjung mengantuk. Jam menunjukkan pukul 2.30, Viki bangkit dan berjalan keluar kamar. Saat di luar kamar dia dikagetkan dengan seorang wanita tinggi berdiri. Wanita itu beberapa langkah darinya. Tinggi tubuh Viki lebih dari wanita itu.
“Siapa kamu?!” tanyanya tajam.
“Kamu?” tanya Viki berhati-hati. Ditutupnya tubuhnya yang hanya mengenakan kemeja Adrian.
“Aku Gennie. Tunangannya! YOU!!!” Gennie tiba-tiba maju tanpa di duga dan menampar Viki. Beruntung Viki menangkap tangannya dan memegang erat.
“Tu… tunangan?” tanya Viki tergagap dan melepaskan tangan Gennie.
“Ya. w************n!” Gennie membentak Viki.
“Tidak mungkin.” Viki menatap Gennie tak percaya.
“Heee. Tanyakan saja pada Adrian. Kamu tidak melihat kami di banyak majalah?” sinis Gennie. Tiba-tiba Viki teringat akan foto Adrian dengan beberapa wanita dan Gennie salah satunya. Seketika air mata mengumpul di pelupuk matanya. Adrian sudah memiliki tunangan, lalu bagaimana dengan penyataannya sebelumnya bahwa Adrian menyukai dirinya? “Pergi sekarang juga sebelum Adrian mengusirmu!”
Viki tidak bisa menahannya lagi terlebih saat dia mengingat momen mereka di kamar mandi dan Adrian mengatakan bahwa dia mengingatkan pada seseorang. Air matanya mengalir. Viki berlari kedalam kamarnya dan melepas kemeja Adrian. Dengan tangan gemetaran dia membuka kancing kemeja Adrian satu persatu dan mengenakan kembali dress-nya.
Setelah selesai dilihatnya Adrian yang masih terlelap. Hatinya semakin terluka, dia bahkan memberikan keperawanannya. Bagaimana mungkin? Viki berlari keluar dengan isak tangis tidak menghiraukan Gennie yang berdiri dengan senyum kemenangan.
Viki melajukan mobilnya tanpa tujuan, dia hanya ingin lari sejauh mungkin. Dia sudah mempercayai Adrian namun ternyata Adrian memiliki tunangan, bagaimana bisa dia sebodoh itu? Tentu saja sosok seperti Adrian digilai banyak wanita. Viki terus melajukan mobilnya tanpa henti. Angin dingin menyapu kulitnya yang terbuka dengan dress minim. Tetapi tubuhnya tidak merasakan dingin itu lagi. Hatinya membuatnya mati rasa.
Jam menunjukkan pukul 4 subuh, dia tidak menyadari jika dia sudah mengendarai mobilnya selama 1 jam 30 menit. Viki melihat sekeliling dan menemukan hamparan padang yang subur. Viki merasakan matanya membengkak dan panas karena menangis terus menerus. Dia kembali menyalakan mobilnya dengan kencang. Air matanya kembali mengalir dan membuyarkan pandangannya.
“BRAKKKKK!!!” mobilnya menabrak sesuatu. Viki terkaget dan terdiam sesaat, dia berusaha menghapus air matanya dan melihat banyak keranjang terhampar di jalanan. Langit masih gelap, Viki menuruni mobilnya dengan terburu-buru. Berkat penerangan lampu mobilnya, dia melihat seorang gadis tersungkur di depan mobilnya.
“Oh my God….” Viki membantunya berdiri. “Kamu enggak apa-apa?”
Gadis yang terlihat seusianya tersenyum, “Ya.”
“Tapi… keranjangmu.” Viki melihat dengan panik.
“Tak apa…”
Viki segera meraih keranjang itu yang berisikan banyak buah apel. “Aku akan mengganti ini.” Kata viki.
“Thank you.” Jawab gadis itu tersenyum.
“Ah… maaf… aku lupa mengenalkan diri. Victoria.” Viki mengulurkan tangannya.
“Demi.” Jawab gadis itu.
“Ini masih jam 4. Apa yang kamu lakukan?”
“Aku bekerja di pagi hari.”
“Aku akan mengantarmu pulang.”
“Rumah penginapan aku tak jauh dari sini. Kamu ingin singgah? Justru kamulah yang terlihat butuh bantuan.” Kata Demi sambil tersenyum.
“Ah…” Viki tersadar. “Thanks.”
Viki melajukan mobilnya menuju penginapan Demi. Penginapan itu besar dan bersih. “Anggap rumah sendiri. Ini rumah milikku. Maaf tidak mewah.”
“No… No… ini sudah bagus.” Viki melihat sekeliling. Demi tersenyum dan menuju dapur. Tak lama dia kembali dengan segelas teh hangat.
“Kamu baru di sini?” tanya Demi kemudian.
“Ah ya... aku kesasar.” Jawab Viki asal.
“Kesasar atau melarikan diri?” tanya Demi.
“Well…” jawab Viki kikuk.
Demi tersenyum, “Kamu bisa tinggal di sini. Aku memiliki baju yang sepertinya sama dengan size milikmu.”
“Thanks… But… aku harus pulang.”
“Tinggallah. Aku juga tinggal di sini sendirian. Kedua orangtuaku tidak ada. Kamu terlihat sangat terguncang, aku tidak bisa membiarkanmu menyetir sepagi ini.” Viki terdiam dan termenung, Demi pun tidak ingin menganggu Viki yang sedang tenggelam dalm lamunannya. “Istirahatlah. Aku memiliki kamar lain. Kamu bisa tidur di sana. Wajahmu sangat pucat.”
“Thanks, Demi.”
“No problem. Aku akan menyerahkan buah-buahan dan sayuran ke pasar dulu. Setelah kamu tenang, kamu bisa bercerita.” Demi bangkit sambil tersenyum. Viki mengangguk dan membalas senyum Demi. “Aku akan menyiapkan baju milikku di dalam kamar.” Setelah beberapa lama, Viki melangkah menuju kamar tamu Demi. Kamar itu kecil namun bersih, jendelanya yang besar membuat ruangan itu memiliki sirkulasi udara yang bagus. Viki duduk di pinggir tempat tidur. Hatinya benar-benar hancur. Hatinya perih mengingat dia baru saja diperdayai oleh Adrian.
Harusnya dia menerima saran akal sehatnya sebelumnya, dia tahu bagaimana Adrian tidak pernah bertahan pada satu wanita. Mengingat itu kembali air matanya mengalir keras, dibiarkannya isaknya terdengar. Dia tidak peduli lagi, dia ingin melepaskan beban ini. Rasa sakit ini begitu mengerogoti hatinya.
Bahkan setelah mengganti bajunya, Viki tidak juga dapat tidur. Matanya terasa sangat perih dan panas karena terlalu banyak menangis. Udara hangat perlahan masuk melalui jendela. Viki mendengar sepeda Demi yang terparkir, Viki bangkit dan memilih keluar kamar.
“Hey.” Sapa Demi ketika dia baru saja meletakkan roti di atas meja. “Aku baru saja akan membuatkan sandwich untukmu. Kamu ada alergi tertentu? Vegetarian maybe?”
Viki menggeleng pelan dan duduk di hadapan meja dapur sambil memperhatikan Demi yang membuatkannya sandwich. “Thanks, Demi. Kamu bahkan tidak mengetahui siapa aku.”
Demi tertawa kecil, “Kita semua punya masalah, Victoria. Bukan hanya dirimu. Melihatmu pagi ini menangis seperti itu menyentuh hatiku. Itulah yang aku alami 3 tahun lalu. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian.” Demi tersenyum sedih.
Mereka menyantap sandwich itu dalam diam dan menikmati matahari pagi di balkon. Viki dan Demi duduk berhadapan dengan teh hangat di tangan mereka masing-masing.
“So… apa yang terjadi?” tanya Viki mulai tertarik.
Demi tersenyum dan menarik napas panjang, sulit untuknya bercerita namun melihat wajah Viki, dia yakin bisa mempercayai Viki. “Orangtuaku meninggal saat aku masih kecil namun mereka meninggalkan sejumlah uang dari kompensasi asuransi.” Demi meminum tehnya, “Usiaku masih 18 tahun saat itu. Aku gadis dari kampung, aku berjualan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari meski kebun yang kurintis sudah cukup untukku bertahan. Lalu aku bertemu dengan pemuda desa yang menolongku berkebun saat itu. Karena kebersamaan kami, ada perasaan suka yang timbul. Hubungan kami semakin dalam, aku bahkan menyerahkan keperawananku padanya. Singkat cerita semuanya indah, tetapi beberapa bulan kemudian aku mendengar dia akan menikah. Awalnya aku tak percaya namun tunangannya mendatangiku bersama orangtuanya. Mereka memukulku secara brutal. Pada saat itu aku tidak mengetahui bahwa aku sedang mengandung 3 minggu. Sangat sayang bayi kami tidak bisa bertahan dan aku keguguran. Seluruh warga desa itu membenciku dan aku memutuskan menjual seluruh lahan dan pindah kemari.” Diakhir ceritanya Demi meneteskan air mata. Entah kekuatan apa yang mendorong Viki. Dirinya sudah sudah memeluk Demi erat. Mereka menangis dalam diam. “Well… aku rasa kasusmu sepertinya sama.” Demi tertawa kecil disela menghapus air matanya.
“Ya. Kurang lebih.” Jawab Viki. “Pasti sangat berat untukmu.”
Demi menggeleng dan memandang matahari yang perlahan terbit. “Tidak ada yang kusesali. Itu semua harus terjadi.”
“Apa kamu memiliki telepon? Aku harus menghubungi kakakku.”
“Tentu saja.” Demi beranjak kedalam rumah dan kembali dengan handphonenya. Viki bangkit dan menuju ruangan lain, dia menekan beberapa tombol dan tak lama suara Grace terdengar.
“Kamu di mana? Aku mengkhawatirkanmu. Pengawal mulai curiga. Jika Papi tahu, dia akan menurunkan polisi bahkan tentara untuk mencarimu.” Suara melengking Grace memenuhi ruangan.
“I am okay. Aku berada di suatu desa, aku ingin menenangkan diri,”
“WHAT? WHY? ARE YOU OKAY?” suara Grace semakin meninggi.
“I am okay. Just stress out. Pokoknya aku baik –baik saja.”
“Terus ini nomor siapa?”
“Dia yang menolongku. Namanya Demi, aku akan pulang setelah beberapa hari.”
Grace terdiam lama, “Oh… okay.” Setelah itu Viki menutup telepon dan kembali menuju balkon. Demi masih terdiam menatap langit di sana.
“Thanks.” Viki menyerahkan handphone Demi.
“No worries. Kita harus menghilangkan bekas ciuman itu.” goda Demi. Viki segera menutup lehernya malu.
“Dan banyak di bagian lain.” Jawab Viki memerah.
“3 hari akan hilang dengan sendirinya jika kamu ingin yang alami.”
“Aku akan kembali beberapa hari lagi. Aku pikir aku akan membiarkannya hilang sendiri.”
“Anggap saja rumah sendiri.”
1 minggu Viki menenangkan diri dikediaman Demi. Disitulah hubungan keduanya semakin akrab. Viki mengetahui bahwa Demi pernah menjadi siswa teladan di sekolah menengahnya dulu. Viki menawarkan pekerjaan kepada demi. Namun Demi menolaknya dengan sopan, dia masih ingin berada di tempat yang damai dibanding di perkotaan. Viki sudah mempersiapkan diri dan berdiri di samping mobilnya. “Jangan lupa menghubungiku, Demi. Jika kamu berubah pikiran aku akan menjemputmu.”
“Iya,” Demi tersenyum, “Kamu tak usah kuatir.”
“Terimakasih sudah merawat beberapa hari ini.” Viki tersenyum tulus.
“Aku senang membantumu. Apapun yang terjadi kedepan, aku hanya ingin mengatakan bahwa kamu adalah wanita yang berharga. Meskipun pria itu sudah melukaimu, tetapi nilaimu tidak akan berubah. Kamu wanita yang hebat.”
Viki memeluk Demi, “Kamu seperti kakakku yang lain.” Viki tertawa.
“Kamu bisa datang kapanpun kemari, kamu selalu diterima. Dan satu lain…” Demi menarik ikat rambut yang mengkuncir rambut Viki sehingga rambut gelombangnya terurai. “Kamu sangat cantik, jangan biarkan komentar orang lain mempengaruhimu. Dengan atau tanpa pria itu, kamu tetaplah Victoria.”
Setelah mengatakan perpisahan, Viki melajukan mobilnya meninggalkan rumah Demi. 2 jam berkendara akhirnya Viki sampai di mansion miliknya. Saat mobilnya memasuki bagasi, ibunya keluar dengan tergopoh-gopoh.
“Nak…” dipeluknya Viki erat.
“Okeh, Mi… I miss you too.” Viki berusaha melepaskan pelukan ibunya.
“Grace bilang kamu mengasingkan diri.”
“What? No.” Viki melangkah masuk.
“Seriously?”
“Iya, Mi. Ngapain juga mengasingkan diri.” jawab Viki cepat.
Amanda memandang menyelidik. “Papi akan segera tiba dari Barcelona malam ini.”
“Ck.” Viki berdecak. “Jangan bilang kalian panik termakan omongan Grace?”
“Kami mengkhawatirkanmu, Nak. Kamu berbeda dengan Grace.”
“Oke… oke… Fine.” Viki memilih mengalah. “Aiden juga datang?”
“Aiden sedang ujian tengah semester, dia harus fokus.” Viki mengangguk, sudah lama dia tidak bertemu dengan adik bungsunya. Aiden meneruskan kuliahnya di Oxford University. Sama seperti Viki, diusia 13 tahun dia sudah mendapat kehormatan menjadi mahasiswa karena prestasinya. Aiden pun tumbuh sangat tampan, ibu mereka Amanda semakin kerepotan dibuatnya.
Bahkan ketika Aiden memutuskan berkuliah di luar negeri, Amanda sempat masuk rumah sakit. Hubungan persaudaraan mereka sangat baik, Aiden selalu menjadi kesayangan Viki. Dari kecil Viki sudah membantu mengasuh adik bungsunya itu.
Malam harinya ketika Leo tiba, Viki harus menahan telingannya yang panas habis-habisan dikarenakan omelan ayahnya. Sebenarnya ayahnya mengetahui di mana dia berada mengingat berapa banyak dektektif yang dimilikinya. Hanya saja Viki mengancam jika mereka menjemputnya paksa, Viki akan kabur kedaerah yang lebih jauh lagi.
“Kamu itu aneh. Kita punya villa pribadi di Santorini, kenapa kamu enggak kesana?” omel Leo. “Di sana safe dan semua fasilitas ada.”
“Ya elah, Pi. Gimana mau kepikiran ke Santorini sih? Jauh banget, Pi.” Viki mengambil buku bacaannya dan mengabaikan kedua pasang mata orang tuanya yang menatapnya tajam.
“Kamu berbeda dengan Grace, Vik…” ayahnya menarik napas panjang.
“I know, Pi… Grace lebih berpengalaman untuk melakukan hal-hal nekat, aku tahu itu hingga kalian sangat protektif terhadapku.” Viki menutup bukunya lagi. “Aku cuma butuh waktu untuk tenang.”
“Dari apa?” Amanda mendesaknya lembut.
“Dari pekerjaan.” Kilah Viki.
Ayahnya sudah akan menjawab ketika Amanda menggeleng pelan. “Baiklah, Papi anggap ini selesai.”
“Papi kan sudah mengecek background Demi juga, dia anak yang baik.”
“Ya, Nak. Background dia bersih, hanya saja kami sebagai orangtua tetap mengkhawatirkanmu karena ini pertama kalinya kamu melakukan itu.” balas Amanda sebelum suaminya kembali terpancing. Viki memilih diam, “Istirahatlah.” Kemudian Amanda mengakhiri diskusi itu. Viki bangkit dan mengecup pipi kedua orangtuanya.
2 bulan kemudian, Viki merasakan perubahan pada tubuhnya. Bahkan saat melakukan meeting direksi, tiba-tiba dia pingsan di dalam ruangan. Beruntung pengawalnya sudah menangkap tubuhnya dengan sigap. Grace yang sedang berada di pergelaran fashion show dengan terburu-buru pulang untuk menemani Viki. Sementara Viki menolak dibawa kerumah sakit dan hanya memanggil dokter pribadinya ke mansion mereka.
Saat Grace tiba, dokter sudah menunggunya di ruang tamu dan Viki tertidur di dalam kamarnya.
“Jadi adik saya kenapa, Dok?”
“Dia kelelahan akhir-akhir ini. Tekanannya turun dan dia butuh banyak cairan.”
“Hanya itu?” Grace menatap bingung. “Adik saya sangat suka bekerja seperti yang dokter tahu dan ini baru pertama kalinya dia pingsan.” Dokter menatapnya lama. “Beritahu saya yang sebenarnya.” Desak Grace.
Dokter menarik napas panjang, “Adik anda hamil. Kandungannya memasuki 8 minggu.”
Grace tidak yakin apa yang didengarnya, “A… apa? Hamil?”
Dokter mengangguk yakin. “Bagaimana mungkin?”