Save Me 9

1801 Kata
Aku tidak menyangka, ternyata rubah yang sedari tadi berada di pangkuan gadis itu ternyata bisa berbicara. Aku melihat ke arah gadis itu. Dia menatapku kembali. “Jadi, sedang apa kau disini dan kenapa kau ingin sekali mengetahui namanya?” Aku menggaruk kepalaku saat rubah itu mulai mendekatiku. Beberapa saat kemudian, dia berubah wujud menjadi seorang wanita paruh baya. Melihat dia yang tiba-tiba berubah membuatku benar-benar terkejut. Aku terjungkal dari kursiku. Wanita paruh baya itu berjalan dan duduk kembali di samping gadis itu. *** Jong Gu berjalan dengan menendang-nendang batu yang ada di jalan. Ji Sin yang melihat Jong Gu terlihat begitu frustasi, merasa sangat kesal dengan Jong Gu sekarang. Apakah dia benar-benar sedang patah hati sekarang? Pikir Ji Sin. “Jong Gu-ya! Berhentilah menendang-nendang batu itu!” Ji Sin berjalan di depan Jong Gu. Jong Gu terus berjalan tanpa menggubris Ji Sin yang berjalan di depannya. “Sebenarnya ada apa denganmu sekarang ini. Kau tidak biasanya merasa begitu khawatir dengan seorang gadis. Dan lagi ini, bahkan kau tidak mengenalnya dengan baik.” Kali ini Jong Gu berhenti saat mendengarkan perkataan Ji Sin. Benar, mengapa dia perlu sebegini khawatirnya dengan orang yang baru saja di temuinya? Lagipula Jong Gu merasa masa sekolahnya ini lebih baik dari pada kemarin. Setidaknya Jong Gu masih bisa melihat ibu dan berkelahi dengan adiknya. Ji Sin pun ada menemaninya. Jong Gu melihat ke arah Ji Sin yang berjalan lemas di depannya, Dia berlari kecil menuju temannya. “Ji Sin-a, apa kau tidak lapar? Bagaimana kalau toppokki? Oke?” Jong Gu menggandeng bahu Ji Sin, Ji Sin terlihat masih kesal dengan Jong Gu. “Ayolah, temani aku makan dulu sebelum pulang ke rumah.” Jong Gu membujuk Ji Sin. Ji Sin pun akhirnya mengangguk ajakan temannya dan mereka berjalan bersama mencari kedai toppokki yang ada di pinggiran jalan yang mereka lewati. Setelah beberapa menit berjalan, mereka akhirnya menemukan satu kedai toppokki di dekat jalan menuju rumah mereka. Jong Gu dan Ji Sin memesan satu porsi toppokki pedas dengan eomuk (sate ikan) nya juga. Mereka memilih untuk makan disana, Jong Gu dan Ji Sin mencari tempat duduk kosong yang ada disana. Untungnya ini masih belum terlalu malam untuk makan toppokki di tempat. Jong Gu dan Ji Sin akhirnya duduk di salah satu kursi menunggu pesanan mereka datang ke meja mereka. “Ji Sin-a aku ingin bertanya kepadamu.” Jong Gu memulai pembicaraan saat mereka baru saja duduk di kursi. Ji Sin menaikkan sebelah alisnya sebagai jawaban dari ucapan Jong Gu. “Apa kau percaya dengan penjelajah waktu atau orang yang bisa mengulang waktu seperti itu?” Jong Gu melanjutkan pertanyaannya kepada Ji Sin. Ji Sin melihat ke arah Jong Gu dengan kebingungan. Ji Sin merasa temannya ini sudah menjadi benar-benar aneh saat ini. “Jong Gu-ya. Apa kau benar baik-baik saja?” Ji Sin bertanya ke arah Jong Gu dengan pandangan kasihannya. Jong Gu tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Ji Sin. Da jelas baik-baik saja sekarang. Jong Gu yang ingin membalas ucapan Ji Sin, menghentikan ucapannya karena makanan yang mereka pesan sampai di mejanya saat ini. “Terimakasih.” Ji Sin berbicara kepada ajumma (bibi) yang membawakan makanan mereka. Ji Sin mulai memakan toppokki yang ada di depannya pelan-pelan. Jong Gu mengambil satu buah toppokki dan memakannya. Wah ini adalah toppokki terpedas dari semua toppokki yang dia makan. “Ji Sin-a, aku benar-benar ingin tau apa kau percaya dengan hal-hal semacam itu?” Jong Gu bertanya dengan menahan rasa pedas dari toppokki. “Aku tidak tau, aku pernah membacanya di sebuah buku, tapi aku tidak percaya dengan hal semacam itu. Jika pun itu benar-benar ada, siapa orangnya yang mau berputar-putar di waktu seperti itu.” Ji Sin kembali memasukkan eomuk kedalam mulutnya. Jong Gu terdiam mendengar perkataan temannya itu. Benar, jika dia menceritakannya kepada orang lainpun tidak akan ada yang percaya. “Tapi Jong Gu, kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” Ji Sin melihat Jong Gu dengan raut penasaran. Jong Gu menggeleng dan tersenyum melihat ke arah Ji Sin. Jong Gu berdiri dan berjalan kembali menuju ajumma yang berada di meja depan. “Ya! Mau kemana kau?” Ji Sin memanggil Jong Gu yang berjalan menjauh dari meja mereka. “Aku ingin membungkus satu lagi untuk dibawa pulang kerumah.” Setelah itu Jong Gu menuju meja depan untuk memesan satu porsi lagi untuk ibu dan adiknya yang berada dirumah. Saat hendak memesan kepada ajumma, tiba-tiba dia mendengar suara seseorang yang ikut memesan juga. “Tolong bungkus satu lagi.” “Ajumma, toppokki satu!” Jong Gu dan orang yang berada di sebelahnya ini berbicara dengan bersamaan. Jong Gu melihat ke arah sampingnya saat mendengar suaranya. Su Ran berada di sana dengan memakai celana jeans dan hoodienya saja. Su Ran menatap Jong Gu dengan tatapan yang seakan-akan berkata ‘Kenapa?’ dengan matanya itu. Jong membuang matanya dari Su Ran dan melangkah mundur kebelakang, membiarkan Su Ran untuk memesan terlebih dahulu. Su Ran hanya melihatnya dengan bingung. Jong Gu tidak tau, apakah dia mengambil keputusan yang benar atau tidak, jujur dia masih mengingat kata-kata amethyst, tapi dia tidak ingin mengubah kepribadiannya hanya karena wanita yang ada di hadapannya saat ini. Bukan, lebih tepatnya dia ingin menikmati masa ini lebih lama lagi. Jong Gu tidak ingin cepat kembali kepada masa yang sedang dijalaninya sebelumnya. “Terimakasih.” Setelah mendengar Su Ran yang berterimakasih kepada ajumma itu, sekarang Jong Gu melangkah kedepan dan mulai memesan apa yang tadi ingin di pesannya. “Kenapa kau begitu lama sekali memesan toppokki saja?” Ji Sin bertanya kepada Jong Gu yang begitu lama memesan toppokkinya. “Tidak apa-apa, tadi di depan sangat ramai.” Jong Gu kembali duduk dan meneruskan kembali makan toppokki yang masih cukup banyak di piringnya. Setelah selesai menghabiskan toppokki, Ji Sin dan Jong Gu akhirnya kembali kerumah mereka masing-masing. Jong Gu berjalan sendirian menuju rumahnya. Di tengah perjalanan, tanpa Jong Gu sadari, amethyst sudah ikut berjalan di sampingnya. “Jadi kenapa kau menjauhi Su Ran?” Jong Gu terjungkal ke arah sampingnya saat menengar suara amethyst yang berada di sampingnya saat ini. “Dari mana kau datang?” Jong Gu berdiri kembali dan membersihkan bajunya yang terkena noda tanah. Amethyst melihat Jong Gu dengan tatapan yang agak menyeramkan. Jong Gu terdiam, aura di sekitarnya berubah menjadi menyeramkan. Jong Gu berjalan terlebih dahulu di depan Amethyst yang mengikutinya di belakangnya. “Apa kau ingin mengingkari perjanjian kita?” Amethyst kembali berbicara kepada Jong Gu yang berjalan terus menuju rumahnya. “Aku tidak bermaksud untuk mengingkari perkataanku kepadamu, tapi kau tau sendiri kan bagaimana dia kepadaku?” Jong Gu terdengar seperti sedang mengadu saat ini. Amethyst tertawa mendengar Jong Gu. “Dan kau akan menyeradh begitu saja dengan dia? Ingat Jong Gu, kau tidak bisa keluar dari sini jika tidak bisa menyelamatkan nyawanya, dan kau akan terjebak selamanya disini. Apa kau mau seperti itu?” Jong Gu yang mendengar itu langsung dari Amethyst menjadi merasa bimbang. “Ya. Aku tidak apa-apa. Tidak ada salahnya kan mencoba untuk sesuatu yang baru?” Jong Gu berbicara ke arah Amethyst. Jong Gu kembali berjalan. Amethyst tidak mengikuti Jong Gu berjalan. Beberapa menit kemudian, Jong Gu sampai di depan rumahnya. Dia melihat ibunya yang sedang membuka pintunya. “Ibu!” Jong Gu memanggil ibunya dengan berteriak, untunglah ibunya itu mendengarnya dan melihat ke arah Jong Gu sekarang. Jong Gu berlari menuju rumahnya. Ibu Jong Gu berdiri di depan pintu menunggu anaknya yang baru pulang itu. “Bu, aku bawa toppokki.” Jong Gu berbicara dengan terengah-engah saat berada di hadaan ibunya. Jong Gu menunjukkan tangannya yang membawa kantong plastik berisi toppokki yang tadi di belinya. “Wah, kelihatannya enak. Ayok kita masuk dan makan bersama adikmu juga.” Jong Gu masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, kemudian ibunya menyusul di belakang. Dia melihat Jong Soo yang sedang menonton telivisi sendirian di ruang tamu. Saat melihat ibu yang lewat di depannya membawa sesuatu, Jong Soo langsung menghampiri ibunya. “Wahh! Ibu bawa apa?” Jong Soo terlihat sangat antusias melihat bungkusan yang sekarang di letakkan di meja oleh ibu. “Kakakmu tadi katanya membeli toppokki, taruhlah ini di piring kemudian panggil kakakmu untuk makan bersama.” Jong Soo bersorak kecil saat ibu berkata toppokki. Setelah menaruh toppokki itu di dalam piring besar, Jong Soo memanggil Jong Gu untuk makan bersama bertiga. “Kak! Cepat keluar!” Mendengar teriakan adiknya, Jong Gu yang baru saja hendak merebahkan badannya setelah selesai mandipun akhirnya keluar dari kamarnya menghampiri keluarganya. Mereka berkumpul dengan toppokki yang ada di tengah meja ruang tengah mereka. Jong Gu sengaja membeli 3 porsi yang dijadikannya menjadi 1. Dia tau Jong Soo sangat menyukainya. Jong Gu bahagia melihat wajah senang dari ibu dan adiknya. Ya, benar inilah yang dia inginkan. Dia hanya perlu bersabar dan dari sini dia bisa mengubah masa depannya. “Bu, tadi aku dan teman-temanku main ke museum baru yang ada di dekat kantor walikota.” Jong Soo berbicara kepada ibu. Jong Gu yang berada di sana mendengarkan Jong Soo yang makan sambil bercerita. “Lalu ada apa saja disana?” Ibu Jong Gu yang merasa tertarik akhirnya bertanya kepada Jong Soo. “Disana itu museum tentang teknologi terbaru bu, aku bahkan tidak menyangka mereka juga memajang mesin pemutar waktu.” Jong Gu tersedak makanannya saat mendengar Jong Soo berbicara. “Apa? Kau bilang itu mesin pemutar waktu? Maksudmu mesin waktu?” Jong Soo tersenyum lebar saat Jong Gu mengatakan nama mesinnya itu dengan benar. Jong Gu kembali menusukkan satu buat toppokki dan memasukkannya kedalam mulutnya. “Tapi, Jong Soo-ya. Apa kau benar-benar percaya dengan hal yang seperti itu?” Jong Gu ingin tau bagaimana pendapat adiknya tentang sesuatu yang berbau seperti itu. Jong Soo menatap kakaknya dengan heran. Sejak kapan kakaknya ini tertarik dengan hal semacam ini? “Aku percaya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini bukan? Aku saja disana tadi bisa berkomunikasi dengan alien kok.” Jong Gu memelototkan matanya saat adiknya mengatakan alien. “Tapi apa kau tidak berfikir kalau itu aneh Jong Soo?” Jong Gu benar-benar merasa sedang berada lautan luas dan terombang-ambing begitu saja. “Memang terdengar aneh, tapi dunia paralel itu menurutku benar-benar ada.” Jong Soo kembali memasukkan satu potong toppokki ke dalam mulutnya selesai berbicara seperti itu kepada kakaknya. “Kalian ini sebenarnya sedang membicarakan apa? Ibu tidak mengerti sama sekali apa yang sedang kalian bicarakan.” Jong Gu melihat ke arah ibunya yang terlihat sangat kebingungan. “Tidak apa bu, ibu banyak-banyak makan saja. Ini sungguh enak.” Jong Gu kembali memasukkan satu potong kedalam mulutnya. Jong Gu melihat lurus ke arah televisi yang sedang menayangkan acara komedi kesukaan Jong Soo. Benar, jika dia tidak bisa membuat dirinya bahagia dimasa depan, dia akan memilih untuk membahagiakan dirinya di masa lalu ini. Tiba-tiba Jong Gu mendengar suara amethyst menggema di dalam kepalanya. “Jangan menyesal dengan apa yang sudah kau putuskan.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN