Setelah menghabiskan bulan madu singkat, terpaksa selesai lebih awal dari rencana. Kami kembali ke rutinitas biasa. Agni mulai bekerja sebagai pegawai bank dan aku mulai sibuk berdinas. Yang berbeda hanya lah, kami lebih sering bertemu di rumah, lebih sering berbincang, dan banyak hal yang biasanya kami lakukan sendiri kini dilakukan bersama-sama.
"Mas, nanti kalau jam 5 Agni belum pulang, Agni sudah menyiapkan makanan, tinggal dipanasin aja," pesannya sembari merapikan tas kerja.
"Memangnya mau pulang malam?"
"Iya, ini akhir bulan, Mas. Waktunya tutup buku untuk bulan ini," jawabnya, santai.
"Ya sudah, nanti pulangnya hati-hati, ya. Kalau nggak berani lewat jalan timur itu. Mampir aja ke 413, minta salah satu yang ada di sana untuk mengantar kamu pulang. Atau bisa telpon mas," pesanku mengkhawatirkannya. Pertama kali. Jalanan di daerah timur kompleks rumah kami memang minim penerangan.
"Berani kok, Mas."
Aku tahu Agni adalah perempuan pemberani, tapi malam-malam sendirian melewati jalan sepi tetap mengaduk-aduk kekhawatiranku.
"Tetap saja Mas khawatir. Nanti kamu mampir aja ke 413. Mas jemput."
Agni menghela napas. Dia paham kalau setiap apa yang aku katakan sekarang wajib dia turuti. "Iya, nanti Agni kabarin." Mendekatiku. "Pamit dulu, ya? Assalamualaikum." Mencium tanganku.
"Hati-hati, wa'alaikumsalam," balasku mengantarnya sampai ke depan gerbang rumah.
***
Masih jam enam pagi tapi aku sudah di panggil Danton untuk menghadap.
"Nanti kamu satu regu ke Yonif 411 menggantikan regu yang tidak bisa datang karena masih di Malang!" perintah Danton padaku.
"Siap, izin petunjuk!".
"Ada latihan rutin bersama," jawabnya, "Sampaikan ke regu yang lain dan anggota. Surat perintahnya ambil di kantor!"
"Siap!"
Latihan sudah menjadi hal utama yang wajib prajurit laksanakan, guna meningkatkan kemampuan dan juga menjaga kesiapan seorang prajurit menghadapi segala sesuatu yang mungkin terjadi tanpa permisi. Memang tak pernah ada peperangan yang mengetuk pintu terlebih dahulu.
Setelah memberi kabar pada reguku dan regu lainnya, aku baru ingat kalau harus menjemput Agni nanti. Aku mencoba menghubunginya tetapi tidak ada balasan, bahkan berulangkali. Ia pasti sibuk sekali dengan lapirabnya.
"Izin. Kenapa, Ndan?" tanya Bagas yang sedari tadi memerhatikanku.
"Ini Agni tidak mau angkat teleponku," keluhku semakin frustasi.
"Memangnya kenapa telpon Teteh? Toh, nanti malam juga pulang, Ndan, cuma latihan ringan anti teror saja kok."
"Sudah bilang mau menjemput Agni nanti, dia pulang malam. Khawatir kalau dia lewat jalan timur itu sendirian. Tahu lah pernah ada begal di sana," jelasku masih mencoba menelepon Agni lagi.
"Sekhawatir itu, ya?"
"Iya lah, kamu nggak punya istri sih, jadi nggak ngerti."
"Siap, salah, Ndan!"
"Kirim pesan saja, Ndan. Terus minta Pratu Denja untuk mengantar Teteh pulang. Nanti malam beliau jaga malam di utara," usul Bagas.
Usulan yang tepat. Aku saja yang terlalu panik sehingga tidak berpikir demikian. Cepat saja aku hubungi Pratu Denja, teman nongkrong semasa masih tinggal di barak bersama yang lainnya tentu.
Agni, maaf nanti Mas nggak bisa jemput di 413. Mas ada latihan di Yonif 411. Nggak sampai satu hari dua hari kok, nanti malam juga pulang. Mas sudah minta Pratu Denja untuk mengantarkan kamu pulang. Jadi, jangan pulang sendiri ke rumah, mampir dulu di utara.
Tidak ada jawaban bahkan sampai aku berangkat dan tiba di kota tujuan.
***
Pukul 00.10 WIB aku baru tiba di rumah. Sepeda Agni juga sudah berada di garasi, aku yakin istriku sudah terlelap. Membuka pintu pelan-pelan, takut membangunkan Agni. Ia pasti lelah seharian ini bekerja membuat laporan. Seharusnya jika Agni sudah tidur, semua lampu mati kecuali halaman depan. Tapi yang kulihat semua lampu masih menyala. Di ruang keluarga pun berserakan kertas-kertas dan laptop yang masih menyala.
Aku mencari di mana pemilik laptop. Ketemu. Dia sedang di dapur tanpa kerudungnya dengan rambut yang dikuncir dan gelas di tangan kanannya. Langkahku terhenti, melihatnya dari belakang saja membuat lelahku hilang. Begini rasanya menjadi suami, ketika pulang kerja dan mendapati istrinya di depan mata. Senyumku mengembang lalu mengatup tidak tega karena kini tangan kiri Agni memijat tengkuknya sendiri. Dia pasti kelelahan.
"Capek, ya?" tanyaku yang langsung menggantikan tangan kiri di tengkuknya.
Dia terkejut lalu berbalik. "Kok nggak ngucap salam sih, Mas?" protesnya menjauhkan tanganku dari tengkuknya. "Nggak capek kok, Mas. Mas ini pasti yang capek habis latihan." Bangkit dari tempat duduknya. Mengambil gelas dan air minum, memberikannya padaku.
"Jangan bohong." Memaksanya duduk, tidak menerima segelas air minum darinya. Memutarnya, memunggungiku lalu memijat tengkuknya lembut. Dia tidak berkutik sama sekali. "Sampai keras banget kaya gini, ngetik terus, ya?"
"Iya dari tadi pagi."
"Kalau kerja jangan terlalu dipaksakan, Agni. Kasian tubuhmu."
"Mas saja kalau kerja juga dipaksakan," balas Agni.
"Ya kan, beda, Agni. Tentara harus bekerja keras, agar terlatih. Masa iya perang capek terus istirahat dulu, kalah cepat kita sama musuh. Makan saja kita bergantian dan siaga," jelasku.
"Ya sama, Mas. Agni dikejar deadline."
Aku mengalah, tidak mau memperkeruh suasana. "Habis ini juga masih mau ngetik lagi? Apa belum selesai laporannya?"
"Nggak kok, Mas. Sudah selesai. Sudah Agni kirim juga," jawabnya.
Aku menghembuskan napas lega tanpa pernah berhenti memijat tengkuknya dengan lembut.
"Mas mandi sana gih! Agni buatin makan malam biar perutnya keisi, tidurnya juga lebih nyenyak." Berdiri menatapku.
"Tengah malam gini mandi nggak bagus buat tulang," balasku duduk di posisinya tadi, meminum segelas air putih
"Ya sudah, bersih-bersih saja dulu," usul Agni lagi.
"Iya. Tapi Mas tadi sudah makan nasi kotak. Maaf ya."
"Alhamdulillah kalau sudah makan, langsung istirahat aja setelah bersih-bersih,Mas. Agni mau beresin berkas dulu." Meninggalkanku, menuju berkas dan laptopnya.
***
Minggu pagi pertamaku bersama Agni. Seperti hari sibuk biasanya sebenarnya, Agni selalu bangun sebelum subuh, beres-beres dapur, rumah, dan baru membangunkanku 5 menit sebelum azan Subuh. Aku benar-benar bersyukur atas takdir hidupku ini. Perempuan yang selalu di dekatku sebagai sahabat, dengan segala macam perjalanan persahabatan kami, ternyata dia lah jodohku.
Setelah pekerjaannya di dalam rumah selesai, Agni melanjutkan kegiatannya di luar rumah. Menyapu halaman rumah, mencabuti rumput yang tumbuh di sekitar taman kecil. Sementara aku biasanya sibuk melakukan olahraga pagi.
"Biar Mas saja yang menyapu halaman, kamu duduk dulu sana! Istirahat!" Aku rebut sapu lidi di tangannya, usai lari pagi di sekitar rumah.
"Mas nyuci mobil aja gih, mumpung lagi sempat." Merebut kembali sapunya.
"Bisa nanti agak siang." Aku merebut lagi sapunya.
Kami macam anak kecil sekarang, saling berebut sapu lidi yang tidak berdosa dan tidak tau apa-apa. Aku hanya tidak tega melihatnya bekerja keras untuk mengurus rumah dan mengurusku. Atau mungkin aku yang tidak terbiasa melihatnya seperti ini. Selama ini aku hanya menjadi sahabatnya, setiap kali bersama hanya duduk-duduk manis, santai, tidak melakukan hal yang berat.
"Kamu buatin kopi aja deh, Mas tunggu di sini." .
"Iya, Mas," balasnya meletakkan sapu di tepi teras lalu masuk ke dalam rumah.
Sigap lah aku sebagai tentara yang biasa hidup mandiri di barak. Menyapu saja sangat ringan bagiku.
Agni keluar dengan segelas kopi di tangannya. Diam tersenyum sendiri. "Kamu pasti bakalan sering kaya gini nanti, Mas," tebaknya lalu meletakkan gelas di atas meja teras.
"Sekarang kita sudah hidup berdua, akan lebih baik kalau apa-apa juga dikerjakan berdua, Agni," ujarku menyelesaikan tugasku.
Agni tersenyum.
"Kata Papa kamu suka manja sama Papa, tapi kenapa nggak manja sama suamimu?"
"Hanya belum terbiasa, Mas," jawabnya enteng.
"Hemm. Mulai sekarang biasakan, ya? Kalau memang capek bilang, kalau memang butuh bilang, kalau lagi pengen manja bilang. Mas juga bukan komputer yang ngerti semua kode, jadi bilang kalau ada apa-apa, jangan Mas yang harus cari tahu sendiri. Mas kalau ada apa-apa juga pasti bilang sama kamu."
Tanpa aba-aba dia langsung memelukku, singkat. Dia bilang sudah beberapa hari ini ingin melakukannya tetapi tidak berani. Padahal sekadar memelukku saja.
"Ehemmm." Seseorang berdeham di belakangku, saat kami masih saling pandang usai pelukan. "Kalau mau beradegan romantis jangan di depan kita-kita lah, Bang, kita kan masih di bawah umur," sahut Bagas yang suaranya saja langsung membuatku tahu dan saat berbalik memang benar, ada Bagas, Cakra, Sapta dan Chandra.
Mereka datang membawa banyak sekali kantong plastik belanjaan. Dari penerawanganku mereka baru saja dari pasar.
"Kalian aja yang masuk nggak pakai permisi," ujarku.
"Izin, gimana mau bilang permisi kalau buka gerbang langsung dapat tontonan, Ndan." Chandra yang menjawab ku.
"Oke oke." Aku sedang tidak mau berdebat dengan mereka.
"Mas lupa bilang kalau seharian ini, mumpung tidak ada tugas mereka mau main ke sini."
"Oh, masuk kalau gitu, Om." Agni mempersilakan mereka dengan malu-malu karena ketahuan usai memelukku.
"Siap, Teh. Btw, sudah sering dibilang, manggilnya jangan Om kalau di luar batalyon. Kaya agak kurang dekat." Bagas mendahului yang lain. Lalu duduk di kursi teras.
"Baik, baik. Yang namanya masuk itu di dalam, Bagas, bukan di luar," kata istriku menekan.
"Di luar aja, Teh, mau menikmati udara kebebasan," jawab Bagas yang langsung disetujui yang lainnya.
"Memangnya selama ini udara nggak bebas, ya?"
"Nggak, Mbak, kita kan dikurung mulu di barak," keluh Cakra.
"Tahu jadi tentara nggak bebas, kenapa masuk tentara?" sahutku ikut duduk bersama mereka.
"Soalnya begini, Bang. Kita memang kehilangan kebebasan dan cerita masa remaja kita yang seru tapi kita dapat cerita hebat yang nggak orang lain dapatkan. Keren." Bagas, memuji diri sendiri.
"Nah itu, Ndan." Yang lain angkat bicara.
"Ya sudah lah, ya, terserah kalian." istriku mulai muak. "Mau minum apa?"
"Em. Apa aja, Teh," jawab Bagas yang langsung disetujui rekannya.
Aku sibuk mengobrol dengan anggota reguku. Banyak hal dan terkesan seru. Mereka jauh lebih muda dariku, tidak tahu kenapa seru saja jika bersama mereka. Mungkin karena sering jadi penasihat hubungan mereka kali. Biasa lah yang paling tua dan yang sudah menikah. Padahal pengalamanku menikah juga masih cetek, baru juga satu Minggu. Tapi soal pacaran, aku sudah seperti playboy dulu.
"Teh," panggil Bagas pada istriku yang baru saja keluar dengan nampan penuh gelas.
"Ya?" Menengok ke arah Bagas.
"Sebentar lagi ada kemungkinan Bang Gibran tugas di luar, kalau Teteh hamil pas Abang tugas luar gimana, Teh?" tanya Bagas tanpa melalui penyaringan.
Agni langsung kaku, begitu pun aku. Kata hamil itulah yang membuat kami berdua diam. Sejujurnya satu Minggu menikah aku juga belum berbuat apa-apa dengan Agni. Berbuat apa-apa dalam tanda kutip. Sama sekali. Aku hanya tidak berani melakukan itu. Bagaimana bisa hamil?
Semua anggota menanti jawaban sambil memandangku dan Agni bergantian.
"Ah, itu kan sudah risiko." Agni menjawab. "Memangnya mau ada tugas di mana?"
Beberapa hari lalu tersiar kabar perihal pengiriman berdinas di luar. "Baru kabar saja, nanti Mas jelaskan. Lupa ngasih tahu."
"Katanya apa-apa harus bilang," sindirnya berlalu pergi, masuk ke dalam rumah.
Aku langsung melempar benda yang ada di depanku ke arah Bagas, kantong belanjaan Bagas dan yang lainnya.
"Apa sih, Bang?" Bagas tidak peka.
"Kalau sampai nanti malam aku berantem, sikap taubat kamu!" ancamku marah.
"Siap salah, Bang," nadanya melempem.
Sedikit melupakan kekesalanku pada Bagas. Kami, aku, anggota yang datang ke rumahku dan juga istriku melewati pagi hingga siang hari dengan makan-makan bersama. Mulai dari rujak sampai masakan istriku. Semua bahan tentu dari bahan masakan yang dibawa anggotaku.
Malam tiba, sudah kuputuskan untuk menghabsikan waktu bersama istriku. Sekadar duduk, menonton tv, makan camilan bersama, bahkan sekarang, nonton drama Korea kesukaan Agni.
"Mas," panggilnya yang sedari tadi tidur di pangkuanku.
"Hemm..."
Dia bangkit. Duduk merapat padaku. "Tugas luar kapan?" tanyanya dengan tatapan sedih.
"Bulan depan, mungkin," jawabku santai.
"Kok nggak bilang?" protesnya.
"Maaf, lupa. Toh, baru kabar, Agni. Belum ada surat perintagnya."
"Sampai kapan?" tanyanya lagi, mulai memainkan jari jemariku.
"Kalau biasanya sampai akhir tahun," jawabku.
"Lama banget," keluhnya dengan suara paraunya.
Aku tersenyum tipis. "Katanya tadi sudah risiko."
Agni diam, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku, melingkarkan tangannya di lenganku. Apakah begini saat ia manja?
"Kapan-kapan ke rumah Mama, ya?" pinta Agni masih dalam pelukanku.
"Iya," jawabku mengusap punggungnya.
Hari-hariku sekarang jauh lebih indah bersama Agni. Meskipun terkadang waktu tidak banyak memberi kesempatan untuk berbincang. Terkadang Agni pulang terlalu malam, kami sama-sama lelah, dan tidur. Dan terkadang, aku yang harus dinas malam sehingga tidak bisa menemaninya di rumah. Sulit memang, tapi indah sekali rasanya. Apalagi saat kami hanya bisa mengirim pesan-pesan perhatian, menanyakan keadaan atau yang lain sebagainya, membuat rindu kecil itu terkesan menyenangkan. Padahal tinggal bersama, tetapi bisa menciptakan rindu. Bagaimana jika tugas di luar nanti?
***