Pejam mataku berat untuk dibuka, terlebih sentuhan jemari lembut di lenganku semakin membuat tidurku nyaman malam ini. Beginikah rasanya memiliki seorang istri? Tidur berdampingan dengan nyaman, dan tentu merasa lebih tenang. Benar, menikah itu menyempurnakan. Tidak hanya agama, tetapi semuanya, semua yang ada pada diriku terasa lebih sempurna. Meskipun masih terasa aneh, menikahi sabahat sendiri.
"Mas." Lembut sekali merasuk ke dalam, menyentuh gendang telinga, menjalar ke seluruh tubuhku, semacam ada labirin terlembut dari dadaku yang tersentuh. Sungguh, betapa berlebihannya saat mataku terpejam. "Mas Gibran, bangun."
Aku membuka mataku berat. "Sudah subuh, ya?" tanyaku bangkit, memaksa mataku membuka.
"Sebentar lagi, tapi Mas harus menyiapkan baju yang diperlukan. Kita tidak punya banyak waktu," kata Agni panik.
Tersenyum. Mengapa aku baru menyadari bahwa Agni terlalu menggemaskan ketika sedang panik? Padahal aku selalu membersamai kepanikannya dalam hal apapun. "Kita punya banyak waktu kok, Mas kan masih cuti," jelasku menenangkannya.
"Lihat!" Menunjukkan dua kertas di depan mataku. "Kita berangkat jam enam pagi dan sekarang sudah jam empat kurang tapi kita belum apa-apa, Mas."
Mataku terus berkedip. Samar-samar yang kulihat itu adalah tiket kereta tujuan Bandung. "Dari siapa?"
"Ini dari Kak Satya," jawabnya.
"Masa?" Aku tak percaya.
"Iya, Agni juga baru tahu dari Mama, barusan Mama dari sini, antar sarapan. Sekarang Mas mandi terus ke masjid. Biar Agni yang packing!" perintahnya merubah gerak lembut menjadi sigap. Agni ini bisa jadi bermuka dua, ia akan sigap dan galak pada saat-saat tertentu, tetapi ia akan sangat lembut juga saat-saat tertentu. Bermuka dua tidak selalu berarti negatif, bukan?
Aku mengangguk bangkit. Cukup lama di kamar mandi, begitu keluar aku melihat Agni sedang membagi pakaianku ke dalam koper dan ke dalam almari. Dia sangat telaten.
Mataku membulat. "Biar aku yang packing ini." Merebut pakaian dalam yang baru saja disentuhnya.
"Malu?" tanyanya menggoda. "Padahal hanya kain," lanjutnya menertawakanku.
Mungkin biasa bagi sebagian orang, tapi entah kenapa aku merasa malu. Mungkin karena aku terbiasa menyembunyikan itu dari Agni. Terbiasa menyembunyikan barang-barang pribadi. Bukankah begitu biasanya pasangan sahabat? Saling menyembunyikan yang menurutnya teramat pribadi. Maksudku pasangan sahabat lawan jenis, mungkin berbeda jika sesama jenis.
***
Waktu subuh masih berjalan ketika kami harus berangkat ke Stasiun Balapan Solo. Kami bahkan tidak dapat menikmati sarapan dengan layak. Jangankan, aku bahkan tak sempat beristirahat sekembalinya dari masjid. Jadwal kereta terlalu pagi bagi kami. Sepanjang jalan menuju stasiun, Agni juga tidak berhenti meminta maaf karena keteledorannya tidak membuka kado dari Kak Satya. Bukan, bukan kesalahannya. Kami sama-sama tidak tahu jika isi kadonya ialah tiket perjalanan ke Bandung.
Sesampainya di stasiun, mentari baru saja menggantung di ufuk timur, malu-malu. Andaikan ini di Karanganyar, sudah pasti arunika nampak jingga sempurna dari balik Gunung Lawu. Kami masih harus menunggu untuk beberapa saat. Baru pukul 06.31 WIB, kereta jurusan Solo-Bandung meninggalkan Stasiun Balapan Solo.
Belum ada setengah jam perjalanan, aku sudah mulai bosan, tapi Agni tidak. Pastilah perasaannya sekarang menggebu, bisa melakukan perjalanan panjang ke kota impiannya. Hati mana yang tak akan meletup bahagia. Hingga ia lupa ada aku di sebelahnya. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya, sekadar bertanya apa aku mengantuk saja tidak. Apa ia masih menganggapku sahabatnya? Tak apa lah, apapun asal ia bahagia, aku pun bahagia. Bukankah begitu semboyan klasik pasangan baru?
Aku memutuskan untuk bermain ponsel. Mengecek beberapa pesan ucapan selamat dan beranda f*******: banyak membicarakan pernikahanku. Mulai dari letting, atasan hingga anggotaku. Satu hal yang membuatku tersenyum dan berbunga-bunga. Unggahan Agni di laman Facebooknya. "My handsome husband." Begitulah keterangan dalam unggahannya, fotoku mengenakan PDU berkalung bunga melati. Diunggah semalam.
Aku memandang sang pemilik unggahan. "Your handsome husband?" godaku padanya.
Ia menoleh saat aku mendekatkan wajahku, mengangkat kedua alisnya, tak mengerti. Aku menunjukkan unggahan yang ia buat semalam, membuat Agni tersenyum malu menutup pipinya yang memerah dan langsung merebut ponselku. Menggerak-nggerakan layar dan berhenti saat sebuah pesan masuk.
Kesempatan terakhir-ku untuk memilikimu telah habis. Selamat atas pernikahan-nya kemarin, istrimu cantik walaupun tidak secantik aku. Oh, bukankah dia wanita yang menjadi penghalang hubungan kita? Aku pikir kamu benar-benar hanya berteman dengan dia. Ah sudahlah, ya. Selamat menempuh hidup baru, Pak Tentara. Semoga langgeng, ya.
Aku tidak bisa memrotesnya, bagiku tak masalah jika ia membuka ponselku. Toh, dia istriku. Apa yang mau aku sembunyikan, tetapi masalahnya isi pesan itu semacam tidak seharusnya tidak ia baca saat hatinya tengah meletup-letup.
"Ini Tika mantanmu yang perawat itu, kan?" tanya Agni menghilangkan senyum di bibirnya.
"Ah, iya," jawabku berhati-hati.
"Balas dulu, gih!" Memberikan ponsel padaku. "Aku memang selalu menjadi penghalang hubunganmu." Terdengar kesal, kembali menatap ke luar jendela.
"Tidak perlu. Sudah ada kamu aku tidak peduli pada orang lain," balasku.
Agni tidak membalas dan memilih diam. Dia cemburu. Seperti anak kecil yang sedang merajuk. Sepanjang perjalanan, bahkan aku goda pun hanya diam. Aku baru berhenti menggodanya saat ia tiba-tiba limbung di bahuku.
***
Bandung menyambut kami dengan suasana romantisnya, setidaknya itu bagi Agni. Jika orang menganggap Yogyakarta ialah kota dengan seribu satu romansa, maka bagi Agni kota seribu satu romansa ialah Bandung. Kota Kembang selalu menyimpan banyak hal manis bagi Agni, padahal ini pertama kalinya. Ia hanya banyak membayangkan sebab Bandung selalu menjadi impian. Terlebih baginya yang begitu mengidolakan Maung Bandung.
"A Gibran sama Teh Agni, kan ya?" tanya laki-laki yang menyambut kami dengan ramah.
"Iya," jawabku.
"Saya Asep. Yang akan menjadi pemandu selama Aa dan Teteh di Bandung." Logat khas Sunda begitu kental.
"Iya nuhun, tapi punten panggilnya, Akang atau Aa?" tanya Agni mengikuti logat Sunda, namun justru terdengar aneh bagiku.
"Akang saja, Teh," jawabnya sopan.
"Oke, Kang Asep, ke mana kita setelah ini?" tanyaku to the point.
"Kita ke hotel dulu, A, istirahat dulu. Nanti malam kita baru akan menikmati suasana malam kota Bandung."
"Oh, oke oke," jawabku paham dan Agni hanya mengangguk.
"Mangga, A. Mangga, Teh. Mobilnya ada di sebelah sana." Menunjuk ke tempat parkir.
Sampai di hotel bintang 4, kami langsung beristirahat. Agni juga langsung membuka kerudungnya tanpa ragu, padahal semalam ia tak membuka kerudungnya.
"Mas mau minum?" tawarnya, berdiri.
"Boleh," jawabku memejamkan mata tetapi tidak tidur. Hanya menikmati waktu istirahat.
Penuh perhatian Agni menyiapakan minum untukku. Air mineral satu liter yang kubeli pagi tadi di minimarket. Setelah memberiku minum, Agni duduk di tepi ranjang, menatap ke luar jendela takjub. "Keren juga ya, Mas?" katanya tak menatapku.
"Iya." Kini aku duduk di sampingnya, menatapnya dalam. "Sudah tidak marah?"
"Marah sih tidak, hanya cemburu." Menegak minum.
Tangan kiriku bergerak merangkulnya. "Sejak kapan kamu mencintaiku?" Akhirnya aku menanyakan pertanyaan yang aku pendam beberapa bulan terakhir.
"Aku tidak tahu sejak kapan yang pasti sejak kamu selalu pergi jauh. Aku merindukanmu lebih dari seorang sahabat merindukan sahabatnya, layaknya seorang perempuan yang merindukan laki-laki yang dia cintai," jawabnya menatapku dalam. Meski tanpa panggilan manisnya.
Aku tersenyum.
"Lalu apa alasanmu menikahiku?" Pertanyaan yang aku takutkan akhirnya terlontar dari mulut Agni.
Aku diam. "Awalnya karena ibu yang memintaku memilihmu atau yang lain atau dijodohkan."
"Terpaksa?"
"Tidak. Eh, tapi Awalnya iya, aku tidak bisa memilih orang lain. Setelah itu aku baru tahu kalau aku punya perasaan lebih dari seorang sahabat denganmu. Nyaman berada di dekatmu, tidak pernah bosan bersamamu, jadi yang lebih baik karena kamu, selalu merindukanmu. Akhirnya aku yakin untuk melamarmu malam itu." Membawanya ke dalam pelukanku. Ini pelukan pertama kami.
Rasanya nyaman sekali saat kepala Agni terbenam tepat di antara bahu dan leherku, tangan lembutnya juga melingkar di pinggangku.
"Kamu bisa merasakan sesuatu?" tanyaku saat Agni masih dalam pelukanku. Mendorong tubuhnya semakin dalam ke pelukanku.
"Jantungmu berdetak kencang," jawabnya cepat.
Aku tertawa. "Sekarang hanya kamu, tidak ada orang lain. Kamu percaya, kan?"
"Aku percaya pada Allah Swt. Kalau memang kamu yang terbaik untukku Allah Swt. pasti menjagamu," jawaban yang sungguh menenangkan jiwa dan raga.
Aku mengelus lembut rambutnya. Wangi.
"Udah ah, Mas. Mandi dulu sana!" Melepaskan pelukannya. "Habis ini cari makan di luar. Laper banget soalnya."
Menurut apa yang dia katakan, meski aku masih terlalu nyaman memeluknya.
***
Malam telah tiba, sudah waktunya kami jalan-jalan untuk pertama kalinya, berdua di Bandung. Meskipun diantar oleh pemandu tetapi dia menunggu di mobil. Membiarkan kami menikmati malam-malam bersama sebagai pengantin baru.
"Besok ke Lodaya, ya?" pintanya padaku. Lodaya? Daerah yang tidak pernah kubayangkan akan aku kunjungi. Tempat yang sama sekali tidak menarik minatku sebagai salah satu bagian dari Jakmania.
"Ya, Mas, ya?" rengeknya manja.
"Ngapain coba?" Mencari alasan untuk menolak. "Lagian Kang Asep mana mau?"
"Kan tadi Kang Asep bilang terserah kita mau ke mana. Mas nggak mau?" Agni melepas lingkar tangannya dari lenganku.
"Bukannya nggak mau, Agni. Mas kan...."
"Mas kenapa? Karena mas sama aku berbeda jersei? Mas orange dan aku biru? Iya?" serbunya sedikit ketus. "Ya, memangnya kenapa sih, Mas? Lagipula, selama ini tidak masalah, kan? Kalau Mas main ke Lodaya saja tidak mau karena alasan jersei, bagaimana yang lain mau damai sama seperti kita? Aku bosan deh, Mas, jujur. Gara-gara berbeda warna jersei saja berantem sana-sini kalau ketemu. Ah tahu lah! Nggak jelas!" Agni meninggalkanku sendirian. Berjalan cepat seolah tahu jalanan kota Bandung.
"Agni," panggilku tetapi tak ada balasan. Agni memang paling sensitif jika sedang membahas sepak bola apalagi soal suporter yang saling bermusuhan. Itu hal yang paling dibencinya dalam sepak bola Indonesia. Rivalitas hanya 90 menit, itu hukum mutlak bagi Agni. "Agni," panggilku lagi membuntutinya. Kuraih tangannya. "Iya besok kita ke Lodaya. Tempat latihan Persib."
"Beneran?"
"Iya, nanti kita tanya Kang Asep, jam berapa Persib latihan," jawabku.
"Makasih, Mas, jadi makin cinta," godanya kembali bergelayut mesra di lenganku.
***
Setelah banyak tempat yang aku kunjungi bersama Agni. Mulai dari tempat wisata sederhana seperti Alun-alun Kota Bandung, Gedung Sate, wisata kuliner hingga berburu oleh-oleh. Sore ini aku dan Agni menonton latihan Persib di Lodaya. Ia nampak begitu antusias menonton dari tepi lapangan, terlihat anggun dengan gamis biru dan kerudung besar model kekinian. Aku sendiri hanya terdiam dengan mata tak pernah berhenti mengikuti ke mana arah bola pergi dengan kebosanan yang setiap detiknya bertambah. Sesekali bosan itu hilang kala menatap wajah bahagia istriku.
"Teu, nyangka kalau Aa sama Teteh itu Bobotoh," ujar Kang Asep yang juga sama antusiasnya dengan Agni di sampingku.
"Haha saya..." Terhenti saat Agni menggenggam tanganku kencang. Itu maksudnya agar aku tidak berbicara bahwa aku bukan Bobotoh tetapi jakmania. Bukan apa-apa, jika Bobotoh yang lain mendengar, aku bisa babak belur di sini.
"Kenapa?" tanya Asep melihat tingkahku dan Agni.
"Tidak, Kang," balasku salah tingkah. "Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena Kang Asep sudah mau repot-repot membawa saya dan istri ke sini," lanjutku lebih tenang.
Asep tersenyum. "Itu kan tugas saya sebagai pemandu dan juga kawan baiknya Kang Satya"
Membuatku terkejut. Sudah hampir dua hari kami di sini dan baru tahu bahwa Kang Asep adalah teman baik Kak Satya. Kelihatannya masih seumuranku dan Agni. Tetapi memang Kak Satya, aku, dan Agni hanya selisih 2 tahun.
"Kok tidak pernah tahu, ya? Punten, Kang." Agni juga sama terkejutnya denganku.
"Saya yang seharusnya minta maaf, Teh. Beberapa kali saya diajak berkunjung ke Karanganyar tapi saya yang selalu sibuk dengan urusan bisnis."
"Punten pisan, Kang, punten. Jadi mengganggu kesibukan akang sekarang," ujar Agni yang telah mendahuluiku.
"Henteu. Sengaja meliburkan diri untuk memandu Teteh dan suami. Sebagai ganti karena kemarin berhalangan hadir," ujarnya sopan. "Eh, itu sudah selesai, Teh. Mau foto-foto sama minta tanda tangan ndak? Saya kenal sama salah satu ofisialnya mungkin bisa saya bantu."
"Boleh, boleh, Kang." Begitu bersemangat.
"Sok atuhlah kalau begitu." Kang Asep bangkit diikuti Agni.
Dengan langkah gontai aku mengikuti istriku, menjadi fotografer untuknya. Foto dengan Atep, Hariono, dan lain sebagainya, hampir seluruh pemain. Melelahkan, tapi semua luruh karena senyum Agni yang terus mengembang seharian. Bersamanya, semua terasa menyenangkan.
Tiba di hotel aku langsung limbung, sementara Agni sibuk dengan kamera dan bukunya. Menatap haru foto-foto juga tanda tangan dari pemain Persib. Ini kali pertama Agni dekat dengan pemain Persib, setelah beberapa kali hanya bisa melihat dari atas tribun.
"Makasih ya, Mas," katanya mendekatiku.
"Mas capek," keluhku berubah menjadi manja.
Agni mendekatkan wajahnya di sampingku. Berbaring di atas lenganku, lalu, ciumannya mendarat di pipiku. Sial, jantungku berpacu cepat. "Masih capek?" tanyanya.
Aku diam, masih mengontrol degup jantungku, tapi tidak bisa.
"Kamu gugup, ya?" tanya Agni setelah tangan kanannya mengecek dadaku.
"Iya," jawabku malu.
Agni tidak mengatakan apapun lagi. Dia langsung bangkit sembari menahan tawa dan mandi. Kemudian kami menikmati makan malam romantis di resto hotel.
***
Kling...
Ponselku berdering di pagi hari, bahkan belum sempurna matahari terbit di Kota Bandung. Aku dan Agni baru saja kembali ke kamar hotel setelah melaksanakan salat subuh di musala hotel. Sekarang bersiap untuk packing, tapi terganggu. Memang tidak bisa berlama-lama kami di Bandung, sebab aku harus kembali bertugas menjaga negara.
"Angkat dulu, Mas," tegur Agni sembari mengemas pakaianku yang tadi subuh kuacak-acak.
Aku mengernyitkan dahi kala melihat nama yang terpampang di layar ponselku. Tak kunjung kuangkat, jadi deringnya memenuhi kamar.
"Siapa mas?" tanya Agni melihatku mematung di tepi tempat tidur.
"Anak Bandung jam segini udah telpon," jawabku.
"Bagas?"
"Iya," benarku. "Halo, assalamualaikum," sapaku pada Bagas.
"Wa'alaikumsalam, Bang. Lama banget sumpah, nggak tahu apa ya kalau adiknya khawatir, kalau adiknya pengen denger suara Abang, kalau adiknya tuh pengen tahu kabar Abang, kal.."
"Diam! Abang jijik!" potongku ketus. Padahal aku sedang tertawa mendengar suara Bagas yang begitu antusias, sudah macam pembawa acara sepak bola tanpa jeda. "Mau minta dibawain apa?" Aku sudah tahu, pasti Bagas menghubungiku hanya untuk oleh-oleh.
"Ha ha ha. Tahu aja abangku yang satu ini." Pujian yang membuatku merinding.
"Hentikan Bagas, Abang jijik!" Kali ini aku benar-benar geli. Bagaimana bisa aku mendapatkan anggota yang semacam ini? Terbentur apa kepalanya saat berlatih?
"Oke oke, siap salah, Bang!" Bagas mengalah. "Bawain peyeum ya, Bang," pinta Bagas sedikit merengek.
"Ngapain? Di Karanganyar ada kali yang jual peyeum." a
"Ih, aku maunya yang asli Bandung, Bang."
"Tinggal beliin aja apa susahnya sih, Mas, pakai acara nggak mau segala. Dia bisa merengek sampai kita kembali ke Karanganyar." Agni ikut nimbrung.
Aku mendekatkan telunjukku ke hidung. Meminta Agni untuk diam. Aku hanya ingin menggoda Bagas. Nanti juga kubelikan.
"Abang!" Bagas berteriak, tak sabar menungguku bersuara lagi.
"Yang di Karanganyar juga asli Bandung. Itu yang di utara Alun-alun Karanganyar ada tulisannya peyeum asli Bandung. Yang di Mojolaban, Sukoharjo juga ada asli Bandung juga. Deket semua dari barak."
"Beda rasa, Bang."
"Apa bedanya?" tantangku.
"Ya, ada lah, Bang. Ayolah, Bang, kasihanilah adikmu ini. Ya, Bang, ya?"
"Nggak!" tegasku menahan tawa.
"Bang, sayang nggak sih sama aku?" Ini yang paling menjijikan.
"Gila! Nanti Abang beliin lah, tahu aja kalau Abang paling jijik sama pertanyaanmu itu!"
"Ha ha ha." Bagas tertawa puas. "Yang banyak ya, Bang."
"Iya, asal nggak pesen seblak sama cireng aja."
"Itu juga boleh, Bang"
"Bagas!" bentakku.
Selamat tinggal, Bandung. Terima kasih untuk secuil kenangan indahnya, terima kasih telah melukis senyum Agni untukku. Menjadikan kami semakin hangat sebagai pasangan, tak hanya sebagai sahabat yang 10 tahun telah bersama.