Just Married

1587 Kata
Aroma bunga melati di leherku begitu menyengat, bukan membuatku pusing justru membuat jantungku berpacu. Ini lebih menegangkan dibandingkan menghadap Panglima TNI. Di usia 25 tahun, kupikir aku tidak lagi gugup menghadapi hal semacam ini. Aku sudah terbiasa dengan keluarga Agni dan sudah terbiasa menghadapi berbagai macam perempuan. Namun kenyataannya tidak, tetap ada debar gugup yang kurasakan. Di dalam ruang berukuran 3 x 3 cm ini, Ibu sibuk menggodaku perihal aku yang gugup ini. Beliau mengatakan ini belum seberapa dibandingkan ketika Om Hanung menjabat tanganku. Akan tetapi, semua luruh bila kata sah telah digaungkan, memenuhi ballroom salah satu hotel di Solo ini. Tetap saja, aku belum bisa mengendalikan degup jantungku. Kata siapa tentara gagah tak pernah gugup, saat-saat beginilah gugup luar biasa itu datang. "Santai, Pak Tentara, ini perang batin untuk masa depan dan cuma berapa jam, masih lebih mengerikan perang senjata kok." Penata rias ikut nimbrung sambil memasangkan peci di kepalaku. "Mbak sih enak." "Siapa bilang enak, Pak, mempelai perempuan juga sama gugupnya. Takut kalau calon suaminya salah pas ngucap kalimat sakral," godanya cekikikan di belakangku bersama ibu. "Ya, kan, Bu?" Meminta persetujuan ibuku. "Iya, tadi ibu lewat di ruangan Agni, dia sama gugupnya kaya kamu sekarang. Jadi jangan salah ucap, ya?" Mengelus punggungku sekali lagi, lalu beliau pergi sambil mengecup kepalaku. Seperti masih anak kecil saja. "Atur napas, Pak," goda sang perias lagi. Tak lama, kakiku melangkah mantap menuju ke meja akad yang dikelilingi ratusan bunga berwarna putih. Agni sendiri yang meminta dekorasi serba putih. Diiringi kerabat yang tersenyum bahagia untukku. Aku yakin, semua berbahagia sama sepertiku. Duduk di depan Om Hanung yang nantinya akan menjadi mertuaku, juga naif dari KUA yang akan menuntun jalannya akad nikahku. Didampingi dua saksi di samping kanan dan kiri. Tak menyangka saja, setelah bertahun-tahun sebagai sahabat; setelah berhari-hari, berminggu-minggu pengajuan; setelah berbulan-bulan, menyiapkan acara. Hari ini semua yang kami usahakan akan kami sudahi. Berganti status dari lajang menjadi kepala keluarga. Perempuan cantik di balut kebaya modern berwarna silver dan kerudung berbetuk yang selalu menjadi mahkota di kepalanya. Berjalan bersama Sang Kakak dengan langkah anggun gemulai menuju tempatku duduk saat ini. Senyum cerah tergambar di bibirnya. Meski begitu, perempuan bernama Agni itu tak bisa menyembunyikan wajah gugupnya dariku. "Sudah siap, Mas Gibran?" tanya naif itu padaku. Usai menyiapkan semua mahar dan memastikan apa-apa yang perlu dipastikan terkait syarat dan rukun akad nikah. Aku menjawabnya dengan anggukan mantap. Benar kata ibu, rasanya sesak. Terlebih setelah Agni pun duduk di sebelahku. "Baik. Ananda Gibran Angkasa Nusa, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Agni Candrasa Eka Pertiwi binti Hanung Wiratama dengan mas kawin bendera merah putih, seperangkat alat salat dan cincin seberat lima gram dibayar tunai." Om Hanung begitu tegas, sedikit mengoyang tanganku. "Saya terima nikah dan kawinnya Agni Candrasa Eka Pertiwi binti Hanung Wiratama dengan mas kawin tersebut, tunai." Satu tarikan nafas aku menjawab. "Bagaimana saksi?" tanya naif kepada saksi. "Sah!" "Alhamdulillah," seru seluruh tamu undangan yang hadir.  Termasuk ayah-ibu, Om Hanung-Tante Kartika juga Agni yang terdengar lebih lega. Begitu melegakan satu prosesi terlewati dengan baik. Tentu, setelahnya dan untuk pertama kalinya aku mengecup kening Agni. Aku yang tidak pernah berani macam-macam dengannya, menghormatinya dengan baik, sebagaimana seharusnya laki-laki menghormati seorang perempuan. Sekarang aku bisa mengecupnya, menyentuhnya, memeluknya, tanpa pernah takut akan melukai atau menambah dosa kami. Agni nampak tegang ketika aku menyentyhnya dan mengecupnya tepat di kening. Aku tahu, dia tidak pernah begini sebelumnya. Dia tidak pernah berkencan dengan siapapun, dia hanya dekat denganku di antara semua teman laki-laki yang dia kenal. Bukankah aku beruntung? Tentu saja. Usai prosesi secara agama digelar, kini tiba saatnya menginjak pada prosesi militer. Bagiku yang termasuk golongan Bintara ini, akan menggunakan sangkur pora sebagai salah satu upacara dalam pernikahan militer. Proses yang panjang, sakral, hingga aku tidak bisa menceritakannya sebab teramat bahagia. "Selamat Abang." Bagas menyalami lalu memelukku. "Lepas Bagas, nanti dikira homo," bisikku risih di telinga Bagas. "Oh, oke. Bagas juga masih punya pacar,  Bang, pacarku cewek kok, santai-santai," katanya setelah melepasku. Lalu berpindah di depan Agni. Gantian Chandra, Cakra, Denja, bahkan Kapten Drajad yang merupakan Komandan Kompi, beliau datang terlambat.  Menjadi raja dalam semalam sangatlah melelahkan apalagi banyak prosesi yang harus dijalani. Sekarang aku, Agni, dan keluarga kami sedang berkumpul di sebuah kamar di hotel. Ayah dan papa mertuaku yang meminta. Padahal baik aku maupun Agni masih sibuk berganti pakaian juga membersihkan sisa make up, sementara semua keluarga sedang menunggu kami. Setelah selesai, aku duduk di sebelah Ayah, disusul Agni datang dengan gamis panjangnya juga kerudung kasual. Duduk di sebelah mama mertuaku. "Jadi, kita kumpul di sini karena ada yang mau disampaikan sama pengantin baru." Papa memulai pembicaraan. "Papa senang sekali hari ini, karena anak papa sudah menikah semua, tapi papa juga sedih karena Agni yang biasanya manja sama papa sekarang manjanya sama Gibran," lanjut papa membuat pipi Agni memerah. Tersenyum. Tidak bisa dibayangkan, Agni yang selama ini terlihat tangguh di mataku, akan bersikap manja padaku. "Papa dan ayah hanya bisa memberikan restu dan doa untuk rumah tangga kalian ke depannya, semoga sakinah mawadah dan warahmah." Papa menatapku dan Agni bergantian. "Tapi selain itu..." "Ayah, Ibu, Papa, dan Mama punya kado untuk pernikahan kalian," giliran ayahku. Beliau menatap dua kotak kecil di meja kamar hotel ini. "Silakan diambil!" Agni memandangku seolah memberi sinyal agar aku yang mengambilnya. "Silakan dibuka, Bran!" perintah papa. Mulai membuka satu kotak berwarna merah hati. Yang ada di dalamnya adalah kunci. Kunci apa? Aku angkat kunci itu, melempar tatapan bingung kepada kedua orang tua dan mertuaku. "Itu kunci rumah yang nantinya akan kalian tinggali bersama," kata ayahku. "Yah, Gibran bisa beli rumah sendiri, Yah. Ya, nggak sekarang tapi bisa kok," tolakku. Bukan, bukan tidak tahu kata terima kasih. Hanya saja, Agni sudah menjadi tanggung jawabku. Aku yang seharusnya menyiapkan tempat baginya untuk berteduh. Bukan orang tuaku atau mertuaku. "Bukan soal bisa atau tidak, tapi soal apa yang bisa ayah berikan untuk putra semata wayang Ayah dan Ibu. Sekarang ini uang Ayah kalau bukan untukmu mau buat apa? Zakat mal juga sudah Ayah penuhi, buat adikmu? Tidak punya adik kamu itu," ujar ayahku membuat seisi ruangan tertawa. "Diterima saja lah!" Ibuku nimbrung. "Itu tanah warisan dari Eyang. Eyang yang minta supaya tanah itu dibangun rumah untukmu." Aku terdiam. Bisa apa kalau sudah begini. "Terima kasih, Yah, Bu," ucapku. Diikuti Agni. "Punya Mama dan Papa dibuka dong, Bran." Mama mertuaku terdengar tidak sabar. Aku membukanya dan sama-sama berisi kunci. "Kunci lagi?" seru Agni. "Iya, itu kunci mobil buat kalian. Papa sama Mama sengaja beli buat kado pernikahan kalian," jawab papa. "Terima kasih, Pa, Ma" sahutku. "Kenapa hadiahnya begini semua?" "Nambahin kemacetan tahu, Pa," protes Agni. Aku melempar tutup kotak kado ke arah Agni. Maksudku mengingatkan Agni untuk tidak mengatakan seperti itu, tapi justru membuat orang-orang di sini tertawa. "Kalian itu sama saja, pantas berjodoh," seloroh Papa. "Anak Papa yang terakhir kan kamu, Agni. Kak Satya sudah dapat rumah dari Papa dan Mama. Berhubung kamu sudah dapat rumah dari mertuamu, ya, satu mobil yang ada di dealer bisa lah Papa berikan untukmu," lanjut Papa. "Terima kasih, Pa, Ma, Ayah, Ibu," ucapku. "Nggak enak jadinya, merepotkan." "Ah ..." balas semua orang. Satu persatu meninggalkan ruangan sebab hari sudah semakin malam. Kecuali Kak Satya, kakak iparku beserta istri juga anak perempuannya yang sudah tertidur dalam gendongan. "Ini dari Kakak." Kak Satya memberikan kotak panjang padaku. "Aduuhh ponakan Tante tidur." Agni justru menggoda ponakannya. "Iya nih, habis lihat tantenya yang cantik langsung tidur," jawab istri Kak Satya. Agni terlihat begitu gemas dan sayang terhadap ponakannya yang masih berusia delapan bulan. "Buruan tuh bikinin cucu buat Papa dan Mama," goda Kak Satya padaku. Aku hanya tersenyum. "Dibuka, ya?" Berganti topik lagi. "Memang nggak semahal hadiah dari ayahmu dan papa, tapi lumayanlah untuk menjernihkan pikiran," lanjut kak Satya lalu berpamitan pulang. "Terima kasih, Kak." Aku dan Agni juga segera berbenah untuk pulang menuju rumah baru kami, hadiah pernikahan tidak terduga dari ayah dan ibu. *** Setelah perjalanan cukup panjang dari Solo menuju ke rumah baru kami, yang lagi-lagi tidak kusangka dekat dengan tempat dinasku. Yonif 413/Bremoro. Hanya berjarak kurang lebih 800-900 meter. Rumah yang cukup untuk berdua, bau cat masih begitu menyengat. Banyak tanaman hias di depan rumah dan di samping terdapat tanah yang cukup luas dengan beberapa pohon buah-buahan. Eyang memang memiliki banyak tanah, maklum orang desa, terlebih petani. "Agni," panggilku pada Agni yang baru saja masuk ke dalam rumah. "Iya, Mas?" jawabnya. Ini kali pertama dia memanggilku dengan kata "Mas", ternyata terdengar begitu manis di telinga meskipun telinga bukanlah indera perasa. "Aku, anu, Mas mau antar Pak Sopir dulu pulang, kasihan jalan kaki. Berani kan di rumah sendiri?" kataku sedikit canggung. Agni mengangkat kedua alisnya. "Berani, Mas. Sudah biasa jurit malam juga," selorohnya. "Hati-hati, ya, Mas?" Mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil dan mengantar Pak Sopir pulang. Cukup jauh menurutku, karena harus melewati jalan-jalan rusak, sempit, dan gelap. Maklum jalan pedesaan. Sesampainya di rumah. Aku mengetuk pintu berkali-kali tetapi tiada jawaban. "Agni," panggilku di sela ketukan pintu. "Agni, ini Mas Gibran." Sekali lagi. Tetap tidak ada jawaban. Membuka pintu dan ternyata tidak dikunci. Keteledorannya masih awet. "Agni," panggilku lembut, memasuki rumah baru setapak demi setapak. Helaan napas panjangku akhirnya lolos, ketika mendapati Agni tertidur pulas di atas tempat tidur, tanpa selkmur dan masih mengenakan gamis panjang serta hijabnya. Ia pasti ketiduran menungguku. "Capek ya?" gumamku yang sudah jelas tidak butuh jawaban sembari mengusap lembut kepalanya. Tak kusangka, seorang perempuan yang selama ini kutemani sebagai sahabat, perempuan yang juga tak berani kusentuh ini kini menjadi istriku. Jika dilihat-lihat lagi, ia begitu cantik dan meneduhkan. Aku lah yang paling beruntung dalam hal ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN