Keyra terbangun dengan rasa pening menyerang kepalanya, ia mengernyit sebentar menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke matanya, belum lagi lehernya yang terasa pegal serasa kepalanya berbantalkan sesuatu yang keras padahal yang ia ingat semalam ia menaruh kepalanya diatas bantal. Keyra kemudian terdiam seribu bahasa ketika melihat wajah tenang Kenan, kadang Keyra bertanya didalam hati bagaimana Kenan bisa mendapatkan wajah yang semempesona itu, wajah yang menurutnya cocok dikategorikan dalam tipe apapun, fleksibel. Jantung Keyra juga berdegup kencang dan ia membiarkannya, terlalu bodoh masih mencintai Kenan, namun ia memang tak bisa mencoba melupakan jika masih berdekatan dengan pria itu. Tiba-tiba mata Kenan terbuka, tersenyum kecil, mendengus pelan dan memejamkan matanya. "Kamu terp

