Sejak malam itu, hubungan Keyra dan Kenan semakin dekat, Kenan memang terang-terangan mengatakan ia cinta pada Keyra, namun berbeda dengan Keyra yang menyembunyikannya dan menyatakannya dengan perbuatan serta perhatiannya pada Kenan.
Sebenarnya, ini hanya diantara mereka berdua, Keyra yang meminta, tapi Kenan bebal, ia sering mengunjungi divisi pemasaran dengan tujuan mendatangi Keyra, jelas saja Keyra selalu menghindar, apapun itu, ia hanya tak mau orang-orang berpikiran aneh tentang mereka. Mereka memang dekat, namun status itu belum ada.
Beberapa hari yang lalu, Kenan sering mengajaknya berkencang namun ia selalu diam atau terang-terangan menolak, namun sekarang ketika hatinya mantap, lelaki itu tak pernah mengucapkannya lagi.
Keyra sedang memakai headphone milik Lola dengan tangan bertopang dagu ketika Kenan masuk ke ruangan divisi mereka. Lola sudah memanggilnya namun suara musik yang terlalu keras mampu meredam semua suara diluar headphone, sampai tiba-tiba musik lenyap karena Kenan mencabut headphone berwarna cream itu dari kepala Keyra.
"Hah, p-pak Kenan," terkejut Keyra, sontak ia berdiri dan sedikit menunduk. "Ma-maaf, pak," ujarnya dengan nada penuh sesal, bagaimana tidak kalau ia bersantai mendengarkan musik disaat semua rekan kerjanya sedang sibuk bekerja.
Kenan tak menjawab, ia menatap Keyra sebentar sebelum memakai headphone itu ke kepalanya, membuat semua orang terkejut, apalagi Lola, mungkin nanti headphone itu tak akan ia pinjamkan ke siapapun lagi, alias hanya miliknya seorang.
"Oh lagu ini," gumam Kenan menatap Keyra dengan pandangan berbeda, pandangan yang penuh cinta, ia kemudian memasangkan kembali headphone tadi ke kepala Keyra dan mengecilkan volumenya. "Gak papa, tapi jangan terlalu kuat, sedang aja, gak bagus buat telinga," sambungnya mengedipkan mata lalu pergi dari sana diikuti asistennya.
Keyra meringis pelan ketika semua orang melihat ke arahnya, termasuk manajer mereka, apa ini? Kenapa Kenan sepertinya mulai terang-terangan? Keyra lalu melihat ke arah Lola yang terheran menatapnya, ia melepas headphone dan memberinya pada Lola, perempuan itu langsung menangkap headphone itu, memeluknya dan memakainya di telinganya sambil bergumam.
"Jangan terlalu kuat, sedang aja, gak bagus buat telinga."
Entah maksudnya ingin mengulang perkataan Kenan tadi atau mengejek Keyra, entahlah Keyra tidak tahu, ia lalu duduk kembali di kursinya dan melihat layar komputer dengan pandangan kosong.
*****
Malam ini, semua kembali lembur, ini akhir bulan dan banyak yang harus di selesaikan, membuat perusahaan begitu sibuk. Keyra dan Lola bahkan sudah tak kuasa menahan kantuk saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, lelah dan jenuh bercampur menjadi satu.
"Key, lo buatin kopi dong, sumpah mata gue gak bisa diajak kompromi lagi," ujar Lola dengan mata sayunya, kepalanya sudah berbaring di atas meja dengan lengan sebagai bantal.
Tapi Keyra segera menggeleng, ia tidak mau. Dari tadi, Kenan sudah mengirim pesan kalau Keyra jam delapan ke ruangannya, seperti biasa, menemaninya, tapi Keyra tidak mau, ia harus stay di ruang divisinya karena itu satu-satunya cara menghindari Kenan.
"Key!" Keyra terlonjak kaget mendengar suara Lola yang lebih ke membentaknya. "Key, sumpah gue gak tahan, ngantuk berat," gumamnya dengan mata yang mulai menutup.
"Buat sendiri gih, La, gue gak bisa," ujar Keyra mulai fokus dengan pekerjaannya, ralat, bukan fokus, tapi mencoba fokus karena melawan kantuk itu benar-benar cobaan berat.
Tak ada jawaban dari Lola, perempuan itu sudah jatuh tertidur namun tidak lelap, matanya terpejam tapi pendengarannya masih berfungsi karena bisa saja manajer masuk dan memergokinya serta menceramahinya tentang ini-itu.
"La, ayo cuci mata aja," ujar Keyra bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Eugh, plis lah gue ngantuk banget," erang Lola tapi tetap bangkit mengikuti langkah Keyra.
Bertepatan dengan itu, Kenan masuk ke ruangan divisi dan langsung melihat ke arah meja Keyra yang kosong, kemana perempuan itu? Batinnya.
"Kemana Keyra?" Tanya Kenan pada satu perempuan yang duduknya diseberang partisi Keyra dan Lola.
Perempuan yang tadinya sangat fokus itu jadi kaget mendengar suara Kenan, ia berdiri dari kursinya dan menunduk sebentar tanda hormat. "K-ke kamar mandi, Pak," jawabnya tergugu.
Kenan mengangguk sebagai jawaban, ia tak mempedulikan semua tatapan mengarah padanya dan berjalan ke arah kursi milik Keyra, ia duduk disana dan melihat hasil kerja Keyra yang memang patut diacungi jempol, rapi dan tidak pernah salah. Jarinya kemudian bermain diatas keyboard, pekerjaan Keyra tentu sangat mudah baginya, sedikit sentuhan pekerjaan itu akan selesai dan ia bisa membawa Keyra pulang.
"Ta, lihat, pak Kenan makin deket aja sama Keyra, jangan-jangan mereka ada hubungan spesial," bisik seseorang pada teman separtisinya.
"Maybe, gue sih yakin," jawab temannya. "Tapi yudah biar ajalah, kita urusin urusan kita aja."
Keyra keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lembab, begitupun dengan Lola, keduanya sedikit lebih segar walau tetap saja kantuk itu masih ada.
Kenan yang melihat Keyra berjalan ke arahnya tanpa menyadari kehadirannya langsung menghampiri perempuan itu dengan cepat dan menggenggam tangannya, membuat Keyra cukup kaget dan terperangah melihat Kenan didepan matanya.
“Kenan?” Gumam Keyra mengerjapkan matanya, tangannya yang di genggam Kenan juga bergerak samar, tatapannya meminta Kenan untuk segera melepaskan tangannya kalau tidak mau Lola dan yang lain semakin curiga.
“Pulang sekarang,” ujar Kenan menarik Keyra, cukup memaksa sebenarnya karena Keyra jelas tak mau, setidaknya untuk sekarang.
“Tunggu, kerjaan ak- saya belum-”
“Semua udah selesai, Keyra,” ucap Kenan menekankan ucapannya, kemudian ia menarik Keyra lagi setelah perempuan itu mengambil tas kerjanya, terburu-buru sebenarnya dan malah kunci apartemen yang belum sempat ia masukkan tas, jadi ia masukkan ke dalam saku roknya.
Mereka lalu pergi dari sana, meninggalkan sejumlah tanda tanya besar pada rekan kerja Keyra, apalagi Lola, perempuan itu terkelu dengan kekesalan yang tiba-tiba timbul karena Keyra tak pernah menceritakan tentang ini padanya, kantuknya bahkan benar-benar hilang sekarang.
Valen juga ada disana, ia calm tidak ikut terheran-heran karena sudah bisa menebak apa yang terjadi, ia masih diam untuk sekarang, melihat kemajuan hubungan Keyra dan Kenan seperti apa nantinya barulah ia bertindak. Lelaki itu lalu melirik ke arah gelang di tangan kanannya, gelang pemberian Mika yang memiliki dua mainan kembar, namun sayangnya yang satunya hilang entah kemana.
*****
Keyra menghentakkan keras tangannya dari genggaman Kenan, ia menatap lelaki itu dengan pandangan kesal. “Kenapa sih? Ada masalah?”
Kenan menghela nafas, tiba-tiba ia memeluk Keyra erat padahal mereka masih di parkiran. “Enggak ada apa-apa, Cuma kangen aja, dari pagi sibuk terus,” gumamnya menghirup aroma wangi dari rambut Keyra. “Aku nginep di apartemen kamu ya,” sambungnya melepaskan pelukan.
Keyra jelas menggelengkan kepalanya. “No, gak boleh. Kamu kan punya rumah sendiri, yauda pulang aja ke sana,” ujar Keyra sambil berbalik pergi.
Namun sebelum itu, Kenan tentu menarik lengan Keyra lagi dan menyeretnya untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah masuk, Kenan belum menstarter mobilnya seolah ada yang ia tunggu.
"Kenapa?" Tanya Keyra menoleh ke Kenan.
Kenan berdeham, ia kemudian ikut menatap Keyra serta menggenggam tangan perempuan itu. "Aku sayang sama kamu, Key, aku cuma ngerasa fall in love at the first sight sama kamu," ujar Kenan serius. "Dan kamu tau? Papa aku ngebet banget minta aku nikah, jadi-"
"Kenan," sela Keyra cepat, entah benar atau tidak tapi Keyra bisa menebak apa ucapan Kenan selanjutnya dan ia belum mau dengar, tak siap, mereka baru kenal. "Mm ayo pulang," sambungnya terkekeh, lucu melihat wajah masam Kenan ketika mendengar ucapannya barusan.
"Kamu mau jadi istri aku?" Tandas Kenan langsung, membuat Keyra terdiam dengan mata mengerjap pelan.
"Oke, Kenan, aku sayang sama kamu, tapi nikah? Aku belum bisa, itu jauh banget," ujar Keyra tersenyum minta maaf.
Kenan mengangguk perlahan, ia paham ini terburu-buru, namun desakan dari Papanya benar-benar hebat dan ia sudah sangat muak tentang itu. Kenan lalu melihat wajah Keyra yang nampak sekali canggungnya, ia mendekat dan dengan cepat mengecup pipinya dengan sayang.
"Gak perlu canggung, gak papa kok," ujar Kenan mengelus pipi yang ia cium tadi, membuat sebuah senyum terbit di bibir Keyra.
Tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras, namun Kenan tetap melajukan mobilnya membelah titik air yang menerpa bumi begitu kuat, tangannya juga setia memegang tangan Keyra yang membuat pipi sang empu hangat alias blushing.
Ia sadar, ia juga sayang pada Kenan dan mulai mencintainya. Ini cukup gila, baru enam hari ia bekerja tapi perasaan itu sudah tumbuh dengan pesat, ini disebabkan kegigihan Kenan juga sebenarnya.
Keyra menatap kaca jendela disampingnya dengan cermat, rintik-rintik hujan menjatuhkan diri lalu mengalir menyatu dengan yang lain, ia tersenyum samar saat melihat sepasang perempuan dan laki-laki sedang tertawa di pinggiran toko, meneduh karena hujan dan terlihat sangat bahagia. Keyra lalu menoleh ke Kenan, hanya berharap seperti itu juga nantinya ia dengan lelaki itu.
Keyra masih menikmati suara hujan ketika mobil berhenti tiba-tiba, cukup kuat hingga tubuh Keyra tersentak ke depan, untung saja ia pakai seat belt, kalau tidak, entah jadi apa kepalanya yang terantuk dashboard itu.
"Kenan, kenapa sih? Ngerem ngomong-ngomong dulu gitu," gumam Keyra kesal merapikan rambutnya sebentar lalu menoleh ke Kenan dengan tatapan heran. "Kenan?"
Kenan tak merespon, matanya menatap nyalang ke arah depan, dadanya juga tampak naik turun. Keyra menoleh ke depan juga, memicingkan mata karena semua terlihat blur oleh derasnya hujan.
"s**t!" Umpat Kenan yang mengejutkan Keyra, ia lalu menoleh ke arah Keyra dan mengarahkan telunjuknya ke perempuan itu. "Kamu disini aja, jangan keluar!" Sambungnya membuka pintu mobil, turun dan berlari ke arah beberapa orang yang sepertinya menghajar beberapa orang juga.
Keyra ikut turun, tak peduli hujan membasahi bajunya, ia berlari mendekati orang-orang itu, namun ia seketika terdiam saat melihat seseorang disana ternyata seorang perempuan, perempuan yang jelas masih diingat Keyra siapa, Gesya!
Jadi, Kenan? Kenan menembus hujan hanya untuk membela Gesya dan seorang lelaki yang bersamanya. Gesya berdiri dibelakang Kenan dan lelaki asing itu, mereka berdua menghajar balik orang-orang yang sepertinya para preman itu.
Lalu, dua orang dari para preman itu berbalik, melihat Keyra yang keluar dari mobil Kenan, pastinya sudah menebak kalau Keyra ada hubungannya juga dengan pria itu.
"Keyra! Masuk mobil!" Teriak Kenan yang diabaikan Keyra, jujur hatinya sakit sekarang, dan ia perlu pelampiasan!
Namun Keyra kurang sigap, satu dari mereka berhasil menamparnya dengan begitu kuat hingga sudut bibirnya berdarah. s**l, bahkan Keyra yang tak ada urusan dengan mereka pun juga terkena imbasnya, dan ini karena siapa? Kenan atau Gesya, Keyra tidak tahu.
Kenan yang melihat Keyra diserang tentu membela perempuan itu, sedangkan Gesya dibela oleh lelaki asing yang menjadi penyebab putusnya ia dengan Gesya.
"Keyra! Aku udah bilang masuk ke mobil!" Bentak Kenan diderasnya hujan.
"Aku bisa, Kenan!" Teriak Keyra sambil menendang perut salah seorang dari mereka. Keyra juga bisa beladiri asal Kenan tahu!
"Apa yang kamu bisa, hah?! Cuma itu?!" Bentak Kenan lagi dan kali ini ia mengambil alih, melakukan beberapa tinju maut dan tendangan super dahsyat hingga dua orang itu terkapar diatas jalan raya.
"Sekarang masuk ke dalam mobil, Keyra!"
Sialnya, mereka sekarang berada di area sepi penghuni, pengendara juga dari tadi hanya sedikit yang lewat itupun dari arah kanan, pastilah mereka yang melihat ke arah kiri juga buram karena terhalang air hujan atau embun didalam mobil.
Setelahnya, Kenan kembali ke sisi Gesya, melumpuhkan beberapa orang lagi lalu melihat ke Gesya yang tergeletak tak sadarkan diri dengan beberapa lebam di wajahnya. Perempuan itu memang diserang beberapa kali oleh orang-orang itu saat lelaki asing yang bersamanya tak mampu menghalau mereka semua.
"Kenapa bisa gini?!" Tanya Kenan keras dengan kepala Gesya di pangkuannya.
"Nanti gue jelasin, sekarang tolong tolongin kita! Mobil gue mogok."
Kenan menggeleng, dia dan Gesya sudah tak punya hubungan apa-apa lagi, ia juga seharusnya sudah tak punya rasa khawatir yang sangat seperti ini lagi. Tapi tak apa rasanya, membantu atas nama kemanusiaan. Ya, atas nama kemanusiaan, namun sebenarnya atas kekhawatiran hatinya.
"Gue sepupunya! Asal lo tau, gue sepupunya, dan lo asal mutusin sepupu gue gitu aja tanpa lo mau denger penjelasannya!" Teriak lelaki itu marah, ia hendak menggendong Gesya namun Kenan mengambil alih.
Kenan menggendong Gesya ala bridal style, ia berjalan cepat bahkan melewati Keyra begitu saja. Kenan meletakkan Gesya di bangku belakang bersama sepupu laki-lakinya dan Keyra duduk disampingnya, ia lalu melajukan mobilnya kesetanan, sangat kencang hingga Keyra memintanya untuk sedikit menurunkan tekanan pijakan kakinya.
"Kenan, plis pelan-pelan aja," pinta Keyra pelan.
"Gimana pelan-pelan aja, Keyra?! Gesya dibelakang udah kesakitan!" Bentak Kenan marah, kakinya semakin menekan pedal gas, membuat mobil semakin melaju kencang.
Keyra tersenyum kecut, hatinya sakit sekarang, dan ia membiarkannya, membiarkan rasa sakit itu menjalar ke seluruh hatinya, cukup marah juga kepada dirinya sendiri kenapa bisa jatuh dengan mudah pada lelaki seperti Kenan.
Punggung tangan Keyra mengusap darah di sudut bibir kirinya, sakit sebenarnya, pipinya juga masih terasa kebas, namun sakitnya masih bisa dikatakan seujung kuku dibandingkan sakit di hatinya sekarang.
Mobil lalu berhenti didepan sebuah rumah sakit sederhana, rumah sakit yang jaraknya sekitar 500 meter dari apartemen Keyra.
Kenan turun dari mobil, ia sangat cekatan membawa Gesya di gendongannya lalu mengunci mobil dan berlari ke dalam rumah sakit. Sedangkan Keyra dan sepupu Gesya berjalan di belakang Kenan dengan si sepupu yang sedari tadi melihat ke arah Keyra, seperti ada yang ingin ditanyakan olehnya.
"Apa?" Tanya Keyra langsung, ia paham arti tatapan itu.
"Lo siapanya Kenan?"
Bibir Keyra terkunci rapat. "Karyawannnya," jawab Keyra singkat, dan ia rasa memang seperti itulah seharusnya posisi ia sekarang.
Keyra melihat dengan jelas raut khawatir Kenan, ia yakin Kenan masih mencintai Gesya dan dugaannya pasti tidak meleset, hanya saja Keyra terlalu bodoh untuk menjatuhkan hatinya pada Kenan, dan sekarang? Ia menelan pahitnya sebuah hubungan tanpa status dengan kecemburuan sebagai garam diatas luka.
Keyra menghela nafas, ia mendekati Kenan yang duduk terdiam. "Kenan aku mau pulang," ujarnya.
"Iya," jawab Kenan singkat.
"Tapi hujan," kata Keyra kesal, ia tahu ini menyakitkan namun ia ingin lihat seberapa pedulinya Kenan terhadapnya ketika dalam situasi seperti ini.
Tak ada jawaban dan Keyra berbicara lagi. "Aku mau pulang, tas aku ada didalam mobil kamu."
"Yauda ambil, Keyra! Ambil terus kamu pulang, sendiri bisa, kan?" Bentak Kenan bangkit berdiri dari duduknya.
Keyra tersenyum miris, oh astaga, hatinya benar-benar sakit sekarang, Kenan keterlaluan, benar-benar tak memikirkan perasaan Keyra.
"Mobil kamu di kun-"
"Key plis diam, okey? Kepalaku pusing," erang Kenan seolah ia muak mendengar Keyra yang berbicara terus-menerus.
Keyra terdiam dengan kedua tangan mengepal geram, ingin rasanya menampar Kenan namun ia tak punya hak, harus ia sadari kalau ia tak punya status spesial dengan lelaki itu jadi tak sepantasnya ia merasa cemburu sekarang.
Keyra lalu berbalik pergi, percuma juga ia disana kalau hanya makan hati. Untung saja kunci apartemennya ada di sakunya dan untuk tas kerjanya yang masih didalam mobil Kenan yang terkunci, biarlah toh didalamnya hanya ada make up atau berkas-berkas tak penting, ia tak yakin juga Kenan akan mengembalikan tas lusuh itu padanya atau mungkin bahkan dibuang karena keberadaannya menyakitkan mata. Tidak tahu, Keyra benar-benar tak mau peduli sekarang.
Mata Keyra panas, hatinya yang sakit adalah penyebab utama ia ingin menangis, tapi Keyra tahan, ia pindah ke kota ini untuk bahagia, bukan untuk mencari air mata yang lain.
Keyra berjalan lambat menembus hujan menuju apartemennya, ia tak peduli orang-orang yang melihatnya kasihan karena sudah hampir larut malam, ada seorang gadis yang hujan-hujanan dengan pakaian kerja dan sendirian.
Setidaknya, dari sekarang, ia harus mulai menjauhi Kenan.
*****