Sinar mentari tampak terang benderang dari jendela dengan gorden yang sedikit terbuka, cahayanya tepat menerpa sepasang mata yang masih tertutup itu, masih dan sekarang mulai terbuka karena terganggu dengan silaunya.
Keyra menguap dan merenggangkan otot-ototnya sambil bangkit duduk dan menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur, matanya masih mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan cahaya kamar, ia juga merasa tidurnya sangat nyenyak padahal ia lembur tadi malam.
"Tunggu, lembur?!" Mata Keyra melotot dan punggungnya menegak, matanya mengerjap bingung, kenapa dia sudah di kamarnya? Bukannya tadi malam ia berada di ruangan Kenan, lalu apa yang terjadi kemudian? Ia sungguh tak ingat apa-apa, tapi ia memang sangat mengantuk tadi malam, apa ia tertidur? Lalu siapa yang membawanya sampai ke apartemennya?! Kenan?!
Keyra mengintip dibalik selimut dan sangat lega tak ada yang berkurang, ia juga masih mengenakan pakaian kerjanya. Keyra lalu bangkit mengecek wajah dan lehernya di cermin siapa tahu ada jejak sesuatu yang ia sama sekali tak ingin ada, dan menghela nafas lega ketika tak menemukan satupun yang aneh disana.
Keyra keluar dari kamar, ia melihat ke arah ruang tamu yang tak ada siapapun, sepi benar-benar tidak ada orang, ia lalu berlari kecil ketika melihat tas kerjanya tergeletak diatas meja sofa dengan isi yang tak ada kurang, semuanya pas, bahkan kunci apartemennya ada didalam.
Terus, kenapa pintu apartemennya juga terkunci? Keyra mendekati pintu itu dengan lesu, pikirannya ruwet, benar-benar ruwet, ini semua membingungkan untuk otak yang urat-uratnya belum bekerja semua seperti punya Keyra, satu-satunya jawaban hanyalah dari Kenan.
Keyra melirik jam di dinding, sepuluh menit lagi jam masuk kantor, sedangkan ia belum bersiap apapun, mood Keyra semakin jelek saja. Mau ijin, tapi dia masih karyawan baru, tak enak rasanya, kalau tetap dipaksakan masuk, yang ada ia terkena hukuman karena perusahaan itu begitu ketat dengan peraturan.
"Aish!"
*****
Kenan berdiri di balkon ruangannya, menikmati semilir angin pagi yang terasa begitu segar di kulitnya, sudah jam delapan pagi tapi ia belum melihat kedatangan Keyra. Sudut bibirnya kemudian tertarik saat mengingat cara perempuan itu tertidur yang seperti bayi, lucu dan menggemaskan sampai ia ingin menggigit pipinya.
Kenan kemudian menunduk, masih dengan senyumannya ia mengambil sebuah teropong dan mendekatkan ke matanya, melihat pada objek yang diperbesar juga diperjelas yang tak lain ialah Keyra yang barusan turun dari sebuah taksi.
Kenan mengambil ponselnya dari saku, menelepon pada seseorang untuk membiarkan Keyra masuk walau sudah telat dan menghubungi manajer kalau Keyra jangan dihukum apapun. Memang ia tak bisa mengatur ulang mesin otomatis yang menyala merah ketika seorang pekerja terlambat datang ke kantor, namun itu mudah saja untuknya merekayasa ulang.
Tidak akan ada yang berani protes karena perusahaan ini miliknya, selagi yang ia perbuat tidak merugikan siapapun, ia akan mengabaikan seluruh mulut yang membicarakan tentang kecurangannya.
Kenan hendak berbalik, ia ingin turun ke lantai empat karena ia yakin disana sedang terjadi sedikit kehebohan. Namun, langkahnya terhenti ketika ponselnya berdering dengan nada khusus yang ia buat hanya untuk Gesya. Lagi, hati Kenan terasa sakit mengingat pengkhianatan perempuan itu, ia lalu menolak panggilan Gesya dan meletakkan ponselnya diatas meja kerjanya dan pergi melangkah meninggalkan ruangannya.
*****
Keyra sekarang berdiri didalam lift, sendirian, ia cukup senang karena ia tetap diberi akses masuk walau telat belasan menit dari jam yang seharusnya, tapi itu tak cukup membuat wajahnya menjadi sedikit ceria karena tadi uangnya sudah terpakai banyak untuk taksi. Kalau saja ia tak telat, ia lebih memilih naik bis saja jadi ia hanya membayar setengah bahkan seperempat dari uang yang harus dikeluarkan untuk satu taksi.
Bagaimana pun, serendah apapun nilai mata uang tetap saja sangat berharga untuk Keyra yang sedang dilanda krisis keuangan.
Tak lama kemudian, Keyra sampai di lantai empat, ia berjalan cukup lesu karena pasti ia akan kena marah dan nasehat panjang lebar dari manajer, belum lagi hukuman yang ia akan dapatkan, entahlah Keyra ingin tenggelam di rawa-rawa saja.
Tapi sebelum itu semua, Keyra termangu saat melihat semua pasang mata melihat ke arahnya ketika ia baru saja masuk ke ruangan divisi, ia juga merasa bingung melihat tatapan Yafa yang sangat tajam ke arahnya dengan tangan memegang selembar kertas.
"Key," ujar Lola bangkit dari duduknya dan menghampiri Keyra serta memegang bahu perempuan itu. "Mending kita keluar dulu," ajaknya sambil menarik paksa Keyra dari sana.
Yafa sendiri menjerit pelan dengan tangan menggebrak meja. Ia kini dipecat! Ia awalnya juga kaget menerima surat penberitahuan ini dari manajer, dikatakan alasannya karena ia kurang kompeten, tapi tetap saja, Yafa yakin ini karena Keyra yang mengadu pada Kenan!
"Perempuan itu memang perempuan simpanan pak Kenan," gumam Yafa. "Kalian hati-hati sama dia, kelihatannya aja polos tapi busuk didalam!"
"Woi! Diam!" Valen berdiri tegak, terlalu cepat hingga kursi yang ia duduki tadi oleng dan jatuh mengenaskan. "Lo terima nasib aja, kalau dipecat yauda dipecat, gak usah nuduh orang lain!" Teriaknya marah.
"Ck, nah selain simpanan pak Kenan, dia juga simpanan Valen," ujar Yafa tersenyum miring. "Gak usah natap gue kayak gitu, Len, faktanya emang bener, kan? Sejak kematian Mik-"
"s**t!" Valen meringsek maju namun para lelaki disana segera menahannya dan memberi peringatan pada Yafa untuk tidak meladeni Valen lagi, apalagi menyebut nama seseorang yang sebenarnya tidak boleh disebut disana.
Yafa jelas sedikit ketakutan, Valen dikenal bringas dan kejam kalau sudah marah, ia tak pandang bulu mau lelaki atau wanita, kalau sikap atau perkataan orang itu benar-benar tak enak di hatinya, ia akan sedikit memberi pelajaran pada orang-orang itu, sedikit pelajaran yang mampu melebamkan wajah bahkan membuat trauma.
"Fa, mending lo cabut sekarang," ujar seseorang yang melihat Valen memberontak keras dalam pegangan para pria itu, jangan sampai Valen menyerang Yafa karena pasti divisi mereka juga yang akan terlihat jelek didepan banyak karyawan.
"Okey gue cabut!" Ujar Yafa menahan kesal sambil menenteng tasnya, ia melirik Valen sebentar sebelum benar-benar pergi menghilang dibalik pintu.
"Holy s**t!" Seru Valen memberontak sangat keras hingga semua pegangan padanya terlepas, ia kemudian melihat kepergian Yafa dengan tatapan misterius dan senyuman miring.
*****
Keyra terduduk lesu mendengar penjelasan Lola tentang apa yang terjadi pagi ini, ia hanya berpikir kalau Kenan tak mungkin kan melakukan itu hanya karena Yafa sedikit menganggunya tadi malam?
"Udah gak papa lah, Key," ujar Lola memegang pundak Keyra. "Emang apa yang terjadi tadi malam? Boleh dong cerita ke gue, pak Kenan deket sama lo tuh kok bisa?" Sambungnya penasaran.
"Ya gitu, La, gue juga gak tau gimana tiba-tiba deket gitu aja, tapi sumpah gak ada apa-apa kok," ucap Keyra tersenyum meyakinkan dan tentu Lola mempercayainya, dari ekspresi Keyra saja sudah dapat ditebak.
Keyra mengangguk memeluk Lola, ia tetap merasa bersalah untuk Yafa. Dari arahnya, ia bisa melihat Kenan yang berdiri disana juga melihat ke arahnya, namun sesegera mungkin ia membuang tatapannya karena entah kenapa ia juga tak mood melihat lelaki itu.
Kenan sendiri hendak menghampiri Keyra, namun tertahan ketika asistennya memanggilnya untuk sebuah rapat penting yang dihadiri oleh owner-owner perusahaan ternama, bahkan salah satu dari mereka ada yang dari luar negeri.
"Okey siapkan semuanya," perintah Kenan dan berbalik masuk ke dalam, sempat menoleh lagi ke Keyra namun perempuan itu benar-benar membuang pandangannya.
Kenan lalu masuk ke sebuah ruangan rapat yang didalamnya sudah menunggu dua orang terhormat, satunya ialah Valerio dan satunya lagi adalah tamu dari luar negeri, tepatnya ia adalah seorang pria blasteran Jerman-Indonesia yang wajahnya mampu menggelontorkan ucapan kagum dari semua orang, bernama Damian.
Mereka bertiga adalah rekan kerja yang baik, perusahaan milik ketiganya saling berhubungan agar semakin kokoh, apalagi ditambah perusahaan Damian yang go international, jelas itu mempengaruhi perusahaan Kenan dan Valerio.
"Maaf menunggu, jadi-"
Perkataan Kenan berhenti saat melihat kedua lelaki disamping kanan dan kirinya yang sama-sama berekspresi aneh, seperti ada hal penting yang dipikirkan oleh mereka dan tak mau pergi sebelum dituntaskan.
"Kenapa kalian?" Tanya Kenan melihat Valerio dan Damian bergantian. "Masalah perempuan?" Tebaknya yang pasti tak meleset karena kedua temannya itupun sama sepertinya, b***k cinta.
"Valerio?"
Valerio, pria berwajah tampan dengan rahang tegas itu mendesah pelan. "Alana kembali, dia- kenapa harus datang ketika aku udah sama Erica," ujarnya mengusap wajahnya. "Sori, Ken, kayaknya meeting gak bisa lanjut, otakku ruwet."
Kenan tersenyum tipis. "Mantan yah," gumamnya yang diangguki Valerio.
"Damian? How about you?"
Damian tampak diam tak menjawab, ia melihat ke ponselnya lalu bangkit berdiri dengan cepat. "Sori Kenan, tapi aku harus pulang, gadisku sudah menunggu," ujarnya.
"Wait, Dasha?" Tanya Kenan yang diangguki Damian sebelum keluar dari ruang meeting dengan tergesa-gesa. Dasha? Gadis yang masih duduk di sekolah menengah atas yang menjadi satu-satunya orang yang paling dicintai Damian.
"Kayaknya bubar aja," guman Kenan menatap Valerio yang ia rasa pikirannya sedang tak ada disana. "Percuma, kita sama-sama punya masalah yang harus segera diselesaikan dulu, baru bisa diskusi."
Valerio mengangguk lemah, ia kemudian berdiri. "Aku duluan, sori, Kenan."
Dan meeting pun tak ada hasil sama sekali.
*****
Sepulang dari kantor, Keyra berniat menghibur diri dengan mampir ke kedai ice cream, makan makanan-makanan kesukaannya yang low budget, dan semuanya, melakukan semua yang membuat hatinya sedikit lebih baik. Tak apa, uangnya semakin terkuras, setidaknya beberapa minggu lagi ia mendapatkan gaji pertamanya yang pastinya cukup besar.
Hujan turun membasahi bumi, Keyra berlari masuk ke lobi apartemennya dengan tangan memayungi kepalanya, ya jelas hal itu sia-sia karena bajunya tetap basah.
Keyra lalu berjalan cepat menuju flatnya berada, namun di lorong sepi itu, ia merasa ada seseorang yang mengikutinya, namun ketika menoleh ke belakang, tak ada siapapun!
Keyra membuka kunci pintu dengan cepat, namun sekali lagi ia mendengar suara langkah mendekat, ia menoleh dan terlonjak kaget ketika orang itu terlalu dekat dengannya dengan wajah gelap karena membelakangi cahaya lampu.
"Kenan?!"
Kenan tertawa, ia mendekatkan wajahnya dengan jemari mengelus pipi Keyra. "Good, jangan formal ya."
Keyra mengesampingkan pipinya, membuat tangan Kenan terlepas dari sana. "Ngapain kamu disini? Terus, kok bisa tau aku tinggal disini?"
Kenan pura-pura melihat ke kanan dan kiri sebelum kembali melihat Keyra dengan serius. "Aku tersesat."
Keyra mendengus, mana percaya dengan alasan konyol seperti itu. "Udah sana pulang, aku mau tidur," usirnya tak segan-segan.
"Gitu sikap kamu ke bos?"
"Bukannya bos-bawahan cuma berlaku di kantor? Kayak yang kamu bilang?" Ujar Keyra membuat Kenan menipiskan bibirnya geram.
Ketika Keyra sudah membuka pintu dan masuk ke dalam, Kenan dengan cepat menerobos saat Keyra hendak menutup pintu, ia bahkan mengunci apartemen Keyra kemudian melangkah santai ke arah sofa dan duduk disana, seolah ialah tuan rumah, bukan Keyra!
Keyra melengos, heran, bos yang ia sangka sangat berakhlak dan bermartabat ini ternyata benar-benar jauh dari ekspetasinya. Mungkinkah ini salah satu alasan kenapa ia putus dengan kekasihnya? Mungkin kekasihnya tak tahan dengan sikapnya ini? Batinnya.
"Aku tamu loh, kamu gak ada mau buat sesuatu gitu?" Tanya Kenan menatap Keyra yang ingin masuk ke kamarnya.
"Apa? Air putih itu ada di galon, tinggal ambil aja," ujar Keyra yang nampak sekali tidak pedulinya.
Tapi Kenan tidak tersinggung, ia malah tertawa kecil sambil membuka dasi yang mencekik lehirnya dan melepaskan dua kancing kemeja teratasnya, membuat dadanya yang memiliki sedikit belahan itu terlihat.
Keyra yang didalam kamar mengganti bajunya dengan cepat, tak lupa ia mengunci pintunya dulu tentu saja, ia lalu berbaring diatas tempat tidur sambil memainkan ponselnya, mencoba tak peduli dengan keberadaan Kenan di ruang tamunya.
Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu, tentang Yafa! Ya, ia harus menanyakan hal apa sebenarnya yang membuat Yafa bisa didepak dengan begitu mudahnya, padahal yang ia lihat beberapa hari ini, Yafa adalah pekerja yang rajin, ia juga smart, terus hal apa yang membuat Yafa bisa dipecat bahkan atas perintah Kenan langsung.
Keyra keluar dari kamarnya, matanya langsung tertuju pada Kenan yang menyandarkan kepalanya ke kepala sofa dengan mata terpejam serta tangan yang terlipat di d**a.
"Kirain tidur," gumam Kenan dengan mata yang masih terpejam. "Kirain gak bakalan keluar dari kamar," sambungnya kini dengan sebelah mata yang terbuka.
"Ada yang mau aku tanya," ujar Keyra serius dan duduk didepan Kenan yang kini duduk tegak dengan mata terbuka sempurna.
"Apa? Tanya aja," sahut Kenan santai, toh ia sudah menduga apa yang akan ditanyakan Keyra.
"Kenapa Yafa dipecat? Maksud aku, dia kayaknya gak ada salah deh, dia juga rajin, kompeten, kan? Terus kenapa?" Tanya Keyra menatap Kenan penasaran.
"Kayaknya, kan? Kamu gak tau gimana dia sebenarnya, dan untuk itu aku gak bisa sebutin sebelum kamu jadi kekasihku, okey?"
Perkataan Kenan membuat kekesalan Keyra memuncak, ia sudah sangat penasaran tapi jawaban lelaki itu malah terasa main-main di telinganya, padahal sebenarnya Kenan serius mengucapkannya.
"Yauda intinya aku punya alasan sendiri kenapa harus pecat dia," ujar Kenan yang sama sekali tak memuaskan Keyra. "Kenapa? Pengen tau banget ya alasan sebenarnya kenapa? Kalau gitu, buatin aku makanan, terserah apa aku udah lapar soalnya."
Keyra berdiri, ia menunjuk wajah Kenan dengan telunjuknya. "Janji ya," katanya dan diangguki mantap oleh Kenan.
Keyra bisa memasak, tapi bahan masakan sangat terbatas, hanya ada mie dan telur, jadi ia memutuskan untuk membuat mie dengan kuah saja, dan dalam lima menit semua selesai. Cepat dan praktis.
Keyra hendak berbicara kalau ini lah seadanya, namun Kenan segera menyerobot mangkuk di tangannya dan langsung menyantap mie itu dengan cepat, Keyra bahkan mengerjap beberapa kali karena heran seorang Kenan bisa makan seperti orang rakus, ia kira lelaki itu akan makan dengan anggun bak pangeran di istana kerajaan, nyatanya zonk.
Keyra bahkan baru menyuap satu sendok ketika Kenan sudah selesai dengan makanannya dan menenggak habis air putih yang disediakan Keyra, lalu mengelap bibirnya yang tiada noda dengan tissue yang ada diatas meja.
"Laper banget ya makanya cepet gitu makannya?" Tanya Keyra pelan, ada rasa bersalah yang menyusup, kalau saja ia tahu Kenan sangat kelaparan, mungkin dari tadi ia sudah membuatkan makanan untuk pria itu.
"Enggak juga." Kenan membantah. "Aku pengen lihat kamu makan," sambungnya tersenyum unjuk gigi.
Keyra lantas menaruh mangkuknya sedikit keras ke atas meja, kalau begitu ia akan berhenti makan saja, sama sekali tak suka kalau ada orang yang memperhatikannya dengan sengaja dalam waktu yang lama.
"Kenapa? Kamu malu ya?"
"Enggak."
"Terus? Kenapa berhenti makan? Biasanya perempuan itu malu kalau dilihatin sama orang yang dia suka, jangan-jangan kamu juga gitu."
Keyra mendengus, ia kemudian dengan cepat mengambil kembali mangkuknya, memakan dengan sangat cepat persis seperti yang dilakukan Kenan tadi.
"Sebenarnya, alasan aku pecat Yafa itu karena dia ganggu kamu," ujar Kenan. "Udah aku bilang, kan? Apa yang kamu udah perbuat sampai kamu dengan gampangnya ngambil hati aku," sambungnya menatap Keyra serius.
Keyra yang tadinya makan dengan rakus, kini melambat seperti gerakan slow motion, ia bahkan sudah tak selera lagi dengan mie nya.
"Aku gak suka ada orang ngeganggu orang yang aku sayang," ujar Kenan membuat jantung Keyra mulai berdegup kencang. "Jadi Keyra.." Kenan bangkit dari duduknya, namu hal itu membuat Keyra juga refleks bangkit dan pergi berlari ke dapur dengan tangan yang masih memegang mangkuk mienya.
Di dapur, Keyra mencoba memberhentikan detak jantungnya yang menggila, ia menaruh telapak tangannya disana dan debaran jantungnya sangat bisa ia rasakan lewat telapak tangannya itu.
"Gosh, gak mungkin, kan gue suka sama dia," gumam Keyra pelan.
Keyra lalu menarik nafasnya berkali-kali, mencoba menormalkan detak jantungnya yang percuma saja, sia-sia belaka karena jantung itu tetap berdebar kencang. Keyra kemudian berjalan ke arah ruang tamu, ia menatap Kenan yang memainkan ponselnya, sepertinya melihat diagram, tapi entah diagram apa.
"Mm Kenan, aku tidur duluan ya, kalau mau pulang panggil aku, nanti biar di kunci lagi," ujar Keyra sedikit terbata dan langsung masuk kamarnya begitu Kenan hendak menoleh menatapnya.
Kenan tersenyum kecil, mungkin Keyra masih awam padanya, namun kemudian senyum itu surut, ia menggeser layar ponselnya dan kini layar itu menampilkan sederetan pesan dari Gesya yang memintanya untuk bertemu agar ia bisa menjelaskan semuanya secara langsung. Alasan kedua Kenan ke apartemen Keyra juga sebenarnya ingin menghindari Gesya yang selalu gencar menemuinya.
Kenan tak akan pulang, ia putuskan akan menginap disini saja. Ia lalu berbaring dengan kepala berbantalkan lengan sofa, lengan kirinya ia letakkan diatas keningnya. Kepalanya pusing, ia sekarang benar-benar mengakui dan menyadari kalau ia mencintai dua perempuan.
*****
Keyra mencoba tidur, namun tak kunjung bisa! Sudah 20 menit berlalu namun hasilnya sama saja, matanya mau terpejam namun tak mau jatuh tidur, pikirannya masih melayang-layang tentang ucapan Kenan tadi juga hatinya yang menjerit kalau ia juga sepertinya menyukai Kenan.
"Argh! Shut f**k up, dude, kenapa jantung gue ngeri banget sih detakannya," gumam Keyra dengan bibir melengkung. "Btw dia udah tidur belum? Kan banyak nyamuk."
Keyra turun dari tempat tidur, ia membawa satu selimut yang ia ambil dari dalam lemari lalu keluar dari kamar dan menghela nafas melihat Kenan yang sudah pulas diatas sofa, terlihat kelelahan.
Keyra mendekat, ia menatap wajah damai Kenan sebentar dan tersenyum, ia kemudian merentangkan selimut dan menyelimuti Kenan, setidaknya ia mendapat pahala karena memberi tumpangan sementara pada lelaki yang ia yakin punya rumah sendiri sebenarnya. Keyra juga membawa mangkuk Kenan ke dapur dan akan mencucinya besok, mulutnya sekarang sudah menguap, matanya juga mulai panas, kantuk tiba-tiba datang menyerang.
Keyra masuk ke kamar, mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur, ia masuk ke dalam selimutnya dan memeluk gulingnya, kemudian jatuh tertidur dengan lelapnya.
Di luar, Kenan terbangun, matanya terbuka dan tersenyum lebar melihat sebuah selimut yang ada di atas tubuhnya. Kenan melihat arloji yang menunjukkan pukul sebelas malam, ia baru teringat kalau ada berkas yang harus ditanganinya di rumahnya dan itu berarti ia harus pulang sekarang.
Kenan kemudian bangkit berdiri, ia mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya yang tak lain ialah kunci apartemen Keyra yang sudah ia buat duplikatnya, hal ini tentu membuatnya dengan mudah keluar-masuk ke apartemen perempuan itu.
Kenan mendekat ke pintu kamar Keyra, ia memutar handlenya dan terkejut mengetahui pintu itu tidak terkunci, ada rasa marah dan senang mengetahui hal ini. Ia lalu mendekat ke sosok perempuan manis yang sedang terlelap itu, menunduk dan mengecup kening serta pipinya dengan sayang dan terakhir mengucapkan selamat malam, mimpi yang indah, kemudian pergi dari sana.
"I love you, Key," gumam Kenan sebelum benar-benar menutup pintu apartemen Keyra, menguncinya dari luar lalu pergi berlalu.