Keyra mengikuti langkah Kenan dengan pelan, menjaga jarak sekitar sepuluh meter entah apa alasannya yang penting ia tak ingin terlalu dekat dengan pria itu.
Kenan didepan berjalan dengan pikirannya yang ruwet, ia memikirkan rasa cemburunya yang mencekik pada seorang perempuan yang baru ia kenal dua hari, lalu desakan nikah dari Papanya dan juga putusnya hubungan dengan Gesya, tiga hal itu benar-benar menyita perhatian dan pikirannya sekarang.
Kenan masuk ke dalam lift, ia melihat Keyra yang terpaku sebentar sebelum ikut masuk ke lift. Ia tersenyum samar, apa yang ditakutkan Keyra? Ia bahkan belum berbuat apa-apa pada perempuan itu. Dan setelah Keyra masuk, Kenan menekan tombol duabelas, lantai dimana ruangannya berada.
Keyra mendongak menatap Kenan yang matanya lurus ke depan dengan tangan berada didalam saku. "Maaf, pak, tapi yang mau bapak bicarain itu apa?" Tanya Keyra lamat-lamat.
Kenan menoleh ke arahnya sebelum mendekat dan tiba-tiba memeluk Keyra. "Sst, bentar aja, Key," gumam Kenan dengan mata terpejam saat Keyra sedikit memberontak. "Udah aku bilang, kan? Jangan formal kalau cuma kita berdua dan diluar kantor, okey?"
Keyra terdiam, tubuhnya kaku dipeluk oleh tubuh keras itu. Sedangkan Kenan, ia merasa tubuhnya rileks karena memeluk Keyra dan merasakan aroma parfum perempuan itu, rasanya tenang, ini yang membuat Kenan semakin terpikat dengan Keyra, perempuan itu entah kenapa mempunyai aura yang sesuatu untuknya. Mungkin jika benar-benar disuruh memilih, seperti yang diucapkan Papanya, ia akan memilih Keyra, namun tetap saja sulit menyingkirkan Gesya yang lebih lama dengannya dan satu-satunya perempuan yang mampu bertahan disisinya serta yang paling mengerti tentangnya.
Kenan dilema!
Sampai ketika lift berdenting, Keyra cepat-cepat melepaskan pelukan Kenan dan menjauh hingga ia berdiri di sudut lift. Ia mendongak menatap Kenan yang lebih tinggi darinya dan menahan nafas saat lelaki itu menyugar rambutnya, pesona Kenan memang sulit ditolak, apalagi oleh perempuan yang tak sanggup melihat lelaki tampan sepertinya.
Kenan sendiri menatap Keyra dengan tatapan tertarik yang tak ia tahan-tahan, ia lalu mendekat dan dengan cepat mengecup pipi Keyra, membuat perempuan itu kaget dan refleks mendorong tubuh Kenan dengan cukup kuat, memang Keyra mengaguminya, tapi bagaimanapun juga Kenan hanya sebatas bos yang artinya sama sekali tak boleh ada kontak fisik dengannya.
"Cantik," gumam Kenan terseyum tipis. "Apa yang udah kamu lakuin, Key? Kenapa aku ngerasa pengen meluk kamu terus dan selalu sama kamu?" Sambungnya memicing menatap Keyra, membuat bulu kuduk perempuan itu merinding.
Kenan kemudian tertawa kecil, tangan kanannya merentang menghalang pintu lift yang hendak tertutup, sedangkan tangan kirinya memegang dagu Keyra, matanya menelisik wajah manis perempuan itu dan bibirnya tersenyum.
"Nanti malam lembur, beberapa orang dari divisi kamu dan termasuk kamu, prepare your self," lirihnya mengedipkan mata lalu pergi berlalu dari sana.
Keyra buru-buru menekan tombol empat, dan ketika lift tertutup, ia memegangi jantungnya yang berdegup kencang sampai-sampai rasanya ingin keluar dari tubuhnya. Apa-apaan itu tadi?! Kenan benar-benar mempermainkan perasaannya sekarang, membuat dirinya merasa terbang ketika mendengar perkataannya, terlebih lagi kecupan di pipinya yang masih terasa hangat sampai sekarang, apa Kenan ingin membunuh jantungnya?
"Terus tadi apa? Lembur?" Gumam Keyra lalu meringis pelan, lembur membuatnya lelah, namun ketika teringat gaji yang semakin naik ketika pekerjaan menambah membuat moodnya jadi naik kembali.
"Apaan sih cium-cium tadi," gumam Keyra mengusap pipinya sembari berjalan keluar dari lift, ia masuk ke ruang divisi dan sudah ada Lola dan Yafa disana, sepertinya menunggunya.
"Kenapa?" Tanya Keyra heran menatap dua orang didepannya.
"Pak Kenan naksir lo ya, Key?" Tandas Lola langsung, membuat Keyra tersedak ludahnya sendiri! Perkataan Lola itu juga membuat seluruh pasang mata menatap ke arahnya.
"Eh apaan haha, enggak kok, mana ada," sanggah Keyra tertawa dan melambaikan tangannya. "Tadi cuma bilang kalau ntar malam lembur," sambung Keyra berjalan ke kursinya, mencoba santai padahal gugup karena diperhatikan terus oleh rekan kerjanya.
"What?! Kenapa ngomongnya ke lo?" Tanya seseorang dari mereka.
Keyra mati kutu sekarang, ia merutuki mulutnya yang asal bicara saja, harusnya ia memikirkan dulu perkataan apa yang tepat.
Yafa juga menatap Keyra dengan pandangan bertanya-tanya, namun rautnya lebih ke kesal, pasalnya ia memang suka dengan Kenan dan selalu terhalang dengan keberadaan Geya, lalu sekarang? Keyra dengan mudahnya dekat dengan Kenan? Malah lelaki itu duluan yang sepertinya mendekati Keyra, what the hell it is!
"Guys guys, yaudalah, kebetulan aja mungkin, ya kan, Key?" Ujar Lola membela Keyra yang gugup setengah mati.
"Iya, gue juga gak tau kenapa tadi gitu," ucap Keyra membela dirinya.
Tiba-tiba manajer keluar dari ruangannya dan menepuk tangan keras. "Hey kerja! Kenapa malah ngerumpi!?"
Sontak saja, semuanya pada bubar dan duduk di kursinya masing-masing, tak ada yang berani bersuara lagi karena memang manajer mereka terkenal mengerikan kalau sudah marah. Lola sendiri ikut duduk di kursinya, namun ia menatap penuh makna pada Keyra yang juga ikut menatapnya, seolah perempuan itu meminta Keyra untuk menjelaskan semuanya padanya nanti dan Keyra membalasnya dengan mendesah pelan, ia tak mungkin memberitahu yang sebenarnya kecuali masalah lembur itu.
*****
Ya, benar, memang lembur dan beberapa orang dari divisi mereka yang juga lembur menatap heran dan curiga pada Keyra, membuatnya merasa aneh dan tersisihkan, ditambah lagi, Lola tak ada bersamanya, perempuan itu pulang dan ia ditugaskan untuk lembur, rasanya aneh tidak ada dia.
Keyra lalu menguap pelan, arlojinya menunjukkan pukul delapan, tapi ketika melihat task-task yang masih panjang di komputernya membuatnya lesu dan berpikir ini akan selesai dalam dua jam ke depan.
Lebih baik ia membuat kopi sekarang, bagus untuk menjanggal matanya yang sangat ingin tertutup. Keyra berdiri dan keluar dari ruangan, Yafa yang sedang mengetik melirik Keyra yang menghilang dibalik pintu dan ikut berdiri, begitupun Valen yang berada di ujung juga ikut berdiri.
Valen tersenyum miring, ini saatnya untuknya mencari muka pada Keyra. Ia tahu jelas apa yang dirasakan Yafa, iri dan dengki, ia rasa dunia memang seperti itu, seseorang akan terasa bersahabat ketika belum tahu seluk-beluk kita, dan ketika seluk-beluk tersebut terkuak dan tak tepat di hati mereka, mereka akan berbalik menjauhi atau bahkan menyerang kita.
Keyra berjalan di lorong sepi ketika Yafa menarik lengannya, membuatnya sedikit terkejut karena ia pikir itu seseorang yang jahat, kepikiran saja dengan kasus-kasus pembunuhan misterius yang sudah ia tonton.
"Fa? Kenapa?" Tanya Keyra heran sebelum matanya membesar terkejut saat Yafa mendorongnya ke dinding sampai ia merasa sakit pada kepalanya karena terantuk dinding yang keras.
"Bener pak Kenan naksir lo, Key? Jawab gue jujur," tanya Yafa menyelidik. "Kenapa harus lo sih? Asal lo tau dari awal gue udah suka sama pak Kenan, sayangnya dia gak pernah ngelirik gue, tapi lo? Lo yang kayak gini bisa ngerebut perhatian dia? Lo jual diri ya?"
Keyra terdiam, tak percaya dengan kata-kata yang dikeluarkan Yafa barusan, padahal ia kira Yafa adalah teman baru yang cocok dengannya, tapi? Sangat salah besar!
"Apa maksud lo ngomong gitu?" Muncul Valen yang mendorong mundur bahu Yafa karena perempuan itu mendesak Keyra di dinding. Valen membelanya padahal Keyra sudah hendak menyerang balik tadi.
"Lo gak perlu ikut campur," sinis Yafa mengibaskan rambutnya, namun kemudian ia terkekeh menunjuk Valen sambil menatap Keyra. "Apalagi ini, Key? Tiba-tiba Valen yang suka menyendiri, gak peduli sama orang lain, bisa bela lo? Apa jangan-jangan lo jual diri ke dia juga?"
"Jaga omongan lo, Keyra bukan perempuan kayak yang lo bilang tadi!" Valen tampak marah dan Keyra benar-benar kecewa dan sakit hati atas perkataan Yafa tadi.
"Lo keterlaluan, Fa. Gue kira lo orang baik, ternyata enggak, sama sekali enggak! Lo fitnah seenaknya padahal lo gak tau sedikitpun kehidupan gue kayak gimana," bentak Keyra menunjuk wajah Yafa. "Dan satu lagi, gue gak pernah jual diri gue kayak yang lo barusan bilang. Kalau Kenan suka sama gue kenapa memangnya? Lo iri? Iri tanda gak mampu, Fa, asal lo tau," sambungnya s***s dan pergi meninggalkan Valen juga Yafa disana.
Yafa mendengus kesal, ia menatap tajam kepergian Keyra. Beda lagi dengan Valen yang cukup kagum, Keyra mampu melawan balik, tidak seperti kebanyakan perempuan yang pasti akan menangis dan tak mampu berkata-kata kalau dikatakan jalang. Sepertinya rencana Valen terbalik, ia berencana membuat Keyra kagum padanya dan berakhir suka padanya, setidaknya itu bisa sedikit membalaskan dendamnya pada Kenan, namun kenyataannya malah ia yang terkagum dengan keberanian Keyra.
*****
Keyra melangkah menjauhi Yafa dan Valen, ia juga tak kembali ke ruang divisinya berada, namun tiba-tiba ketika Keyra melewati sebuah lorong gelap, tangannya tertarik dan ia hendak menjerit kalau yang menariknya itu tidam menutup mulutnya.
"Sst, Kenan," kata orang itu yang kemudian melegakan Keyra, untuk kedua kalinya, ia pikir itu orang jahat.
"Saya pikir siapa, kenapa-"
"Sst, inget kalau cuma berdua, gak perlu formal," ujar Kenan meletakkan jari telunjuknya di bibir Keyra. "Ayo ikut aku!" Sambungnya menarik tangan Keyra berjalan semakin jauh ke dalam lorong itu.
Mungkin ini karena Keyra masih baru disini, ia jadi sama sekali tidak tahu kalau ada lorong tak berguna yang mengarah ke lift. Ya, lift yang biasa ia pakai juga, jadi untuk apa lorong tadi? Apa termasuk konstruksi yang salah?
Keyra menunduk menatap tangannya yang digenggam erat oleh Kenan, berulang kali ia ingin melepaskannya namun tak bisa, tangan Kenan kuat sekali, tenaganya tak mampu mengalahkannya.
"Maaf, Pak, tapi-"
"Keyra!" Seru Kenan tak terima, sudah berkali-kali menyuruhnya untuk bicara informal tapi tetap saja, Keyra bebal juga ternyata.
Mereka kemudian masuk ke dalam lift, Keyra menghempaskan paksa tangan Kenan, kali ini lelaki itu menoleh dan mengernyit.
"Kenan, plis, hubungan kita itu cuma bos sama bawahan, gak ada yang spesial, temen pun enggak, jadi plis jangan kayak gini, yang lain pada mikir enggak-enggak, dan akhirnya aku yang disangka aneh-aneh," ucap Keyra dengan cepat dengan hembusan kesal di akhir.
Kenan tersenyum, ia sedikit menunduk dengan wajah yang hanya berjarak beberapa centi meter dari wajah Keyra sambil bergumam. "Kalau gitu, ayo buat hubungan."
Keyra melongo, jantungnya berdegup kencang dan darahnya berdesir, ucapan Kenan barusan sangat menggiurkan di telinganya, punya hubungan dengan bos besar itu sesuatu yang hebat menurut Keyra, entahlah tapi dari dulu ia memang memimpikan punya pasangan seorang pemimpin.
Tapi ia punya mantan! Ya, mantannya adalah perempuan kesayangannya, itu pasti jelas sulit dilupakan. Keyra mendongak menatap Kenan, mencari keseriusan dan memang hanya ada keseriusan disana, lalu Keyra harus jawab apa?
"Kenan-"
"Sst," Kenan lagi-lagi memotong ucapan Keyra, penyebabnya karena mereka sudah sampai di lantai teratas dimana ruangannya terletak, ia kemudian membawa Keyra berjalan kesana.
Kenan mengunci pintu, hanya agar tidak ada yang menganggunya. Ia lalu mendudukkan Keyra di sofanya dan ia berlutut didepan perempuan itu. Kenan memang tipe pria yang tak suka basa-basi, ketika ia merasa tertarik, suka dan jatuh cinta terhadap satu wanita, ia akan langsung mengungkapkan tanpa harus ribet ini-itu.
"Key dengerin aku, mungkin kedengeran aneh, konyol, semuanya, tapi aku suka sama kamu, aku udah ngerasain rasa sayang disini." Kenan menunjuk hatinya. "Aku udah putus sama Gesya, dan sekarang, aku tanya ke kamu, would you be my girlfriend?"
Kenan juga lelaki yang pintar, namun bodoh dalam hubungan, ia terlalu tidak memikirkan resiko. Di hatinya masih ada Gesya dan ia tentu masih menyayanginya, namun ketika hatinya berdebar pada perempuan yang lain, ia juga meminta perempuan itu menjadi kekasihnya, dan pada akhirnya, ini hanya akan menjadi sebuah kehancuran, khususnya untuk Kenan sendiri.
"Haha, maaf Kenan, tapi sorry, aku enggak bisa," ujar Keyra tertawa canggung.
Kenan tersenyum, berdiri kemudian duduk disamping Keyra, ia mengangguk paham. "Iya gak papa, paham kok," katanya seperti mereka sudah lama saling mengenal, sangat akrab. "Oh ya, perempuan tadi, satu divisi sama kamu? Yang bareng kamu di kantin, kan?"
Keyra jadi teringat Yafa, perempuan itu kenapa sangat jahat padanya hanya karena Kenan yang ia juga tidak yakin serius menyukainya atau tidak, tapi Yafa memang benar-benar keterlaluan. Tak apa, Keyra hanya tinggal menjauhi teman toxic seperti itu.
"Iya, dia mungkin salah paham," jawab Keyra pelan.
Kenan menatap lurus ke depan, mungkin dia harus sedikit bertindak untuk ini. Kenan kemudian menatap Keyra yang tak menatapnya, ia juga akan bertindak untuk meluluhkan hati perempuan disebelahnya ini, mungkin butuh beberapa waktu, tapi tak apa, ia yakin dengan hatinya.
"Sekarang kamu disini, temenin aku," perintah Kenan melepas jasnya dan menyampirkannya ke atas sofa.
"Loh tapi kerjaan aku belum selesai, Kenan," seru Keyra kesal, ia hendak bangkit namun ditarik oleh Kenan hingga perempuan itu kembali terduduk. "Kenan!" Ia bertambah kesal dan itu membuat Kenan tertawa karena merasa lucu dengan raut kesal Keyra.
Ya, ini yang harus dilakukan Kenan, mendekatkan diri dengan Keyra adalah jalan satu-satunya, perempuan ini berbeda dari perempuan kebanyakan, berbeda juga dengan Gesya yang dulu sekali ia minta untuk menjadi kekasihnya perempuan itu langsung mengiyakan dengan senang hati. Mungkin, untuk Keyra, ia harus berjuang sedikit.
"Tenang, pekerjaan kamu sekarang temenin aku, okey?" Ujar Kenan kemudian mengambil sebuah berkas dan mengeceknya, ia mencoba mengabaikan tatapan kesal Keyra yang benar-benar dilayangkan pada Kenan.
"Terserah ya, intinya pekerjaan aku selesai," gumam Keyra melipat tangannya di d**a dan bersender pada sofa.
Jarum jam terus berputar, mata Kenan memang berfokus pada banyaknya kertas diatas mejanya, namun sesekali ia melirik Keyra yang masih dengan posisi duduk yang sama, namun matanya tampak layu dan hendak menutup, sepertinya sangat mengantuk.
Keyra masih tersadar, walau hanya tinggal beberapa persen saja kesadarannya yang tersisa, namun ia masih bisa melihat kalau Kenan sedang menatapnya intens. Ia kemudian melirik Kenan dan bergumam, "kenapa?" Dengan suara seraknya.
Kenan menggeleng, ia mendekat ke arah Keyra, memiringkan kepalanya dan mengecup pipi perempuan itu dengan tangan yang mengelus pelan rambut Keyra. Sungguh, hal itu membuat Keyra berhenti bernafas dengan matanya yang sekarang melotot sempurna. Kenan benar-benar pandai memainkan hatinya!
"Kenapa malah melotot, ayo tidur, nanti aku bangunin," ujar Kenan santai dan kembali berkutat dengan pekerjaannya, ia benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu kalau Keyra sekarang melotot terdiam dengan jantung serasa berada di pacuan kuda.
Kenapa Kenan malah membuat semuanya semakin rumit, ia sekarang malah merasa nyaman dengan lelaki itu karena Kenan pandai membawa suasana agar terasa nyaman untuk mereka berdua. Oh what the hell are you doing, Kenan?!
*****