"Permisi Pak," Sahira masih di depan pintu ruangan. "Ya, masuk!" "Pak ini ramen yang kata Bapak kemaren," Sahira menyerahkan semangkuk Ramen yang dengan susah payah ia pelajari semalaman. Habis sholat subuh langsung ia buatkan untuk Agatha. Dengan keterampilan memasak yang biasa saja akhirnya ibunyapun ikut membantu dengan rasa penasaran kenapa Sahira membuat ramen pagi-pagi buta dan rasa pe asarn itu tidak di jawab Sahira. Ia pasrah jika ramen itu akan di buang oleh Bosnya sebab percobaan pertama mana bisa enak. Andai saja ia bisa menyewa seorang Chef. "Ya, taruh sajandi situ," Agatha melirik meja dekat sopa. "Pak mending langsung di makan keburu dingin," Kuah ramen yang baru ia panaskan dari dapur terlihat menguap, baunya semerbak menggugah selera. "Mmm," Agatha masih sibuk dengan

