****
"Aku harus segera pergi." gumam Yun Xiaowen pada dirinya sendiri.
Setelah menunggu berhari-hari untuk memulihkan tenaganya kini ia bisa bangun dengan tubuh sedikit terasa ringan. Tekadnya yang bulat membuat gadis itu kembali menjajal kekuatan dalamnya. Perlahan sang gadis membuka telapak tangannya, sebuah kekuatan yang menghuni dirinya kembali muncul.
Untuk sesaat keluar asap putih dari telapak tangannya, sebuah api yang yang sedikit demi sedikit mulai membesar kini ia pergunakan untuk melelehkan rantai yang mengikat kaki kirinya dan juga tangan kirinya. Usaha Nona Yun terasa sia-sia meskipun ia berusaha sekuat tenaga hingga peluh mengucur membasahi tubuhnya, mata rantai belum juga bisa terlepas.
"Qiang Wen, rantai apa yang kau gunakan untuk mengikatku? Dasar pecundang!" gumamnya kesal sambil memukul-mukul sprei yang ia duduki.
Sekali lagi Nona Yun berusaha menggunakan kekuatannya untuk memutus mata rantai, ia kembali menyabarkan dirinya berharap ada keajaiban yang akan terjadi menimpa dirinya.
Krieett.
Suara pintu kediaman didorong seseorang, mata merah Yun Xiaowen bergerak waspada. Ia bisa melakukan apa saja jika ia kembali dikuasai rasa marah dan kesal yang begitu dalam. Langkah kaki memasuki kediaman, ia bisa melihat keberadaan Selir Won yang kini berjalan mendekatinya dengan anggun dan tersenyum culas.
"Bagaimana kabarmu, Ratu Yun Xiaowen? Apakah kau tidur dengan nyenyak? Aku harap begitu." ucapnya menyapa lalu duduk di tepi ranjang dimana Yun Xiaowen dirantai.
Bibir gadis itu membisu, matanya masih merah. Dengan usahanya yang mati-matian ia mencoba mengontrol emosinya yang mulai tidak stabil karena selir sialan itu mulai mengusik hidupnya.
"Sayang sekali Liuu Qiang Wen justru menjadikanmu seperti anjing peliharaan. Kau tahu jika dia memang sayang dan cinta padamu, ia akan memberikan sisi kebebasan padamu. Seperti diriku, dia memberikan semua keinginanku dari harta yang melimpah dan kebebasan yang sama sekali tidak kau miliki. Mengenaskan sekali hidupmu, Ratu Yun Xiaowen." gumam Selir Won pelan lalu diiringi sebuah senyum meremehkan.
Wanita itu kembali bangkit dari duduknya, ia melangkah menuju ke meja rias dan melihat-lihat koleksi perhiasan Nona Yun yang tertata rapi di sana. Selir Won kembali tersenyum lalu menoleh ke arah Yun Xiaowen yang terus membungkam mulutnya rapat-rapat.
"Apakah cuma ini perhiasanmu, Ratu? Sedikit sekali. Hidupmu jauh lebih mengenaskan daripada selir seperti kami. Untuk apa menjadi ratu bahkan kau bisa dibilang miskin kekayaan. Perhiasanku jauh lebih banyak, pakaianku jauh lebih indah. Dan yang terpenting aku tak perlu bersusah payah bekerja untuk mendapatkan segala keinginanku. Kau memiliki takdir yang mengenaskan Ratu Yun Xiaowen." sindir Selir Won seraya membanting perhiasan Nona Yun sedikit keras.
"Lalu bagaimana dengan kabarmu Nona Won? Apakah kau yakin kau mempunyai keadaan sebaik itu? Aku percaya jika kau memiliki kekayaan lebih banyak dibanding diriku, aku juga tahu kau memiliki kebebasan yang cukup membuat iri diriku namun sudahlah sang kaisar memanfaatkan dirimu?" singgung Yun Xiaowen balik membuat mata Selir Won mendelik.
"Apa maksudmu?"
"Jika kau mengataiku sebagai anjing peliharaan bagaimana dengan dirimu? Ungkapan apa yang pantas untuk sosok seperti dirimu? Kau memang penjilat!" ucap Yun Xiaowen kasar membuat Selir Won melompat dan menggebrak meja.
"Jaga ucapanmu, gadis rendahan!"
"Jaga ucapanmu juga, Selir murahan! Kau sedang berbicara dengan siapa?!" balas Yun Xiaowen menghardik Selir Won hingga sang selir terbungkam.
"Baiklah! Emosimu memang tidak stabil, jika kau seperti ini setiap hari aku yakin kau akan gila, Ratu."
"Apa kau menyumpahiku?"
"Kau pikir saja sendiri." jawab Selir Won ketus lalu berbalik pergi meninggalkan Yun Xiaowen seorang diri.
Tak terima karena dihina habis-habisan, Yun Xiaowen menggunakan kekuatannya untuk menarik rambut Selir Won hingga tertarik ke arahnya. Suara jerit kesakitan yang ditimbulkan Selir Won benar-benar tak mempengaruhinya. Dengan kasar dan penuh rasa muak Yun Xiaowen membenturkan kepala Selir Won ke dinding berkali-kali menggunakan kekuatan hebatnya.
"Yun... Apa yang kau lakukan?" desis Selir Won kesakitan. Tapi kesakitan yang ditunjukkan Selir sama sekali tidak menimbulka efek kasihan dari hati Yun Xiaowen. Justru gadis itu semakin bersemangat menghancurkan raga cantik yang kini tak jauh dari jangkauan tangannya.
"Y.. Yun... Saaa.. Kitt..." ucap Selir Won parau ketika melihat darah menghujani bahunya akibat benturan keras di kepalanya.
"Rasakan pembalasanku! Kau tidak pantas menghinaku seperti itu." tegas Yun Xiaowen tanpa berhenti menyiksa Selir Won yang sudah terkulai lemas akibat dihantamkan ke dinding berkali-kali.
Selir Won berusaha berdiri, ia menjerit sekerasnya ketika melihat darah mengucur deras dari tengkuknya. Merasa tak terima, Selir Won meraih guci dan menghantamkannya ke kepala Yun Xiaowen. Gadis iblis hanya menangkisnya dengan tangan kanannya yang tak dirantai. Suara berisik akibat benturan guci dengan tulang tangan terasa begitu berisik hingga beberapa dayang istana dan penjaga kediaman berhamburan masuk. Mereka hanya menjerit melihat Selir Won dibantai habis-habisan oleh Ratu mereka.
Yun Xiaowen yang melihat kehadiran para dayang dan pengawal merasa tak suka, dengan kekuatannya ia menghentakkan tangannya yang berdarah-darah ke arah pintu. Tak lama kemudian deru angin kencang menyapu mereka semua agar keluar dari kediaman Yun Xiaowen, pintu yang terbuka menutup sendiri dengan kasar, mengunci rapat agar tidak ada satupun orang yang melihat kekejaman ratu iblis macam Yun Xiaowen.
"Semmmuanyaaa... Too.. Tollong.." rintih Selir Won sembari memegangi lehernya yang kini dicekik oleh Yun Xiaowen.
"Hari ini akan jadi hari kematianmu Selir Won. Takkan ada orang yang bisa menolongmu di saat sekarat seperti ini. Berteriaklah kalau kau mampu, berteriaklah yang keras. Kalau perlu teriaklah dan panggil Liuu Qiang Wen sekarang! Aku tidak takut." tegas Yun Xiaowen mengerikan.
"Y... Yun... Lep.. Lepaskan.. A.. Aaku." rintih Selir Won memohon ampun namun Yun Xiaowen tak menggubris. Jangankan melepaskan justru gadis itu mencekik semakin dalam dengan kuku panjangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi hingga kaki Selir Won tergantung tak memijak tanah.
"Y... Yunn..." gumam Selir Won kesakitan seakan menemui ajalnya saat itu juga.
Darah Selir Won mengucur mengalir ke tangan Yun Xiaowen, gadis itu telah merenggut nyawa salah satu selir suaminya dengan kejam. Setelah merasa nyawa Selir Won telah tiada, gadis itu segera menghempaskan tubuh menjijikkan itu dari tangannya.
Seperti melempar barang menjijikkan, Yun Xiaowen menghempas tubuh tak bernyawa itu ke arah pintu kuat-kuat hingga pintu kediamannya runtuh dan hancur seketika. Seluruh dayang dan pengawal yang berjaga di luar terlihat kaget lalu menangis sejadi-jadinya tatkala melihat jasad Selir Won yang mati mengenaskan.
"Bawa wanita busuk itu jauh-jauh dari kediamanku sekarang juga! Siapapun yang tidak menurut perintahku akan mati sama mengenaskannya dengan wanita itu. Pergilah!" ucap Yun Xiaowen dengan mata berkilat penuh dendam dan api.
Yun Xiaowen mengeluarkan kekuatannya menyapu seluruh dayang, pengawal dan jasad buruk itu jauh-jauh dari kediamannya dengan sapuan angin kencang yang menderu tak terelakkan. Gadis iblis itu kembali murka, entah siapa lagi yang akan jadi pelampiasan berikutnya. Mata merah dan rambut putihnya belum juga pudar dan itu pertanda bahwa Yun Xiaowen masih dalam keadaan murka.
Entah dengan apa ia akan kembali seperti semula, mungkin Liuu Qiang Wen yang bisa mengembalikannya atau justru tidak sama sekali.
Biarlah waktu yang membuktikan semuanya.
***
"Apa kau dapat dipercaya?" gertak Kaisar Qiang merasa kesal pada sang iblis yang kini meringkuk di hadapannya dengan penuh luka di sekujur tubuhnya.
"Untuk apa aku berbohong? Kau bisa mengambil nyawaku kapanpun jika aku berani membohongimu. Tanyakan saja pada ratu kami, iblis selalu setia dengan ucapannya. Selama nyawa kami masih tertanam, kami bersumpah apapun demi kesetiaan kami." ucapnya tak kalah teguh.
Liuu Qiang Wen seakan disambar petir, ia tidak menyangka jika orang yang selalu bersamanya, yang selalu ia lindungi dan menurut padanya bisa berubah dan menusuknya dari belakang. Sejenak tatapan Kaisar Liuu Qiang Wen beralih ke arah Panglima Xue yang menunggunya tak jauh dari tempat ia berdiri.
"Apa kau yakin? Katakan bahwa kau sedang berbohong padaku!" tegas Kaisar Liuu murka sembari menarik leher sang iblis dan mencengkeramnya.
"Sumpah mati Liuu Qiang Wen, aku tidak pernah berbohong sedikitpun. Apa yang aku ceritakan adalah kenyataan, aku juga tidak tahu bahwa dia tega menusukmu dari belakang. Dia terlihat jinak namun kenyataannya justru ia adalah ular berbisa. Kau pantas berhati-hati dengan orang semacam itu jadi bisakah aku bertemu dengan ratuku?" ucapnya tak kalah keras.
Liuu Qiang Wen masih belum bisa berpikir, ia sama sekali tidak menyangka tapi demi hubungannya dengan Yun Xiaowen ia harus menegakkan keadilan. Bagaimanapun ia tidak bisa kehilangan tujuan utamanya setelah sekian lama berusaha mencapai kesepakatan.
"Baiklah ikutlah denganku untuk bertemu dengan ratumu. Katakan padanya bahwa ada kesalahpahaman yang terjadi, setelah itu pergilah dan jangan berharap untuk membawa Yun Xiaowen kembali karena ratumu sudah menjadi ratuku." ungkap Kaisar Liuu Qiang Wen dingin sembari berbalik badan dan menghampiri panglimanya yang sudah menunggu.
"Tarik semua prajurit kita untuk kembali ke istana. Jangan ada peperangan lagi." perintah Liuu Qiang Wen dingin.
"Tapi Yang Mulia..."
"Kau masih menyanggah maka lidahmu akan benar-benar tertinggal di sini." sahut Liuu Qiang Wen sedikit menggertak.
"Ampun Yang Mulia." jawab Panglima Xue sambil membungkukkan badan lalu mengikuti langkah kaisarnya untuk bergegas menaiki kuda hitamnya.
"Bawa pimpinan iblis ini dengan rombongan kita. Sebelum itu aku ingin mengajakmu ke suatu tempat Panglima Xue." ucap Kaisar Liuu tanpa menatap ke arah Panglimanya.
"Baik Yang Mulia." ucap Panglima Xue patuh lalu menghalau kudanya untuk segera meninggalkan suasana perang dan mengikuti tuannya yang terlebih dahulu berkuda di depannya.
"Yang Mulia jika saya boleh bertanya akan kemanakah tujuan kita kali ini?" tanya Panglima Xue sambil berusaha menyejajarkan langkah kuda mereka.
"Kita akan ke kuil." jawab Kaisar tanpa berekspresi sama sekali.
"Ke kuil?" gumam Panglima Xue seakan berpikir sesuatu mengenai kuil. Sejenak otaknya mengira, jangan-jangan Kaisar akan....
"Apakah anda akan..."
"Tidak. Aku ingin berkunjung saja, setelah berperang bukankah sebaiknya kita berdoa." balas Liuu Qiang Wen tenang namun jawaban itu membuat Panglima Xue kembali berpikir keras.
"Jangan berpikir keras dengan hal yang bukan urusanmu Panglima Xue. Belajarlah netral maka hidupmu akan baik-baik saja. Sekarang ikutlah denganku dan jangan banyak bicara ataupun bertanya, sangat disayangkan jika akhirnya aku lepas kendali dan harus memotong lidahmu demi kepuasanku." peringat Kaisar Qiang Wen terdengar menyesakkan d**a Panglima Xue.
"Baik Yang Mulia." patuh sang panglima dengan hati kebat-kebit tak karuan.
Ada apa? Kenapa kaisar tiba-tiba ingin ke kuil? Benarkah pria bersurai kelam yang berkuda di depannya ini mulai mengakui adanya Dewa? Atau jangan-jangan ada maksud lain yang sedang disembunyikannya?
Perlahan mata Panglima Xue melirik ke arah pimpinan iblis yang dirantai dan berjalan diantara prajuritnya dengan penuh tanda tanya. Ada apa sebenarnya diantara Liuu Qiang Wen dengan iblis ini?
Dahi Panglima Xue mengernyit, dalam hati ia sangat tidak suka jika ada iblis di sekitarnya. Mereka sangat menjijikkan, golongan yang sangat ingin ia musnahkan sekaligus. Kenapa ia begitu membenci iblis? Karena sewaktu kecil Panglima Xue hampir kehilangan nyawa akibat keberingasan seorang iblis, itulah kenapa Panglima Xue ingin sekali membumihanguskan bangsa iblis.
Panglima Xue mendengus jijik lalu membuang tatapannya dari sang iblis, ia sangat kesal dengan keputusan kaisarnya untuk membawa iblis itu bersama rombongannya. Bagaimanapun ia tidak bisa berada sepihak dengan para iblis, sampai kapanpun.
"Jangan mengumpat terus-menerus atau kau akan tertinggal Panglima Xue." ucap sang kaisar sembari menoleh ke arah Panglima Xue yang tertinggal sedikit jauh darinya.
"Ba.. Baik Yang Mulia." jawab Panglima Xue lalu menghalau kudanya agar melaju lebih cepat untuk menyusul tuannya yang berkuda jauh di depannya.
Kaisar Qiang meliriknya tanpa minat, meskipun Panglima Xue cukup cerewet dan penuh perhatian padanya, ia takkan segan untuk membunuhnya apalagi untuk membantainya. Baginya, Panglima Xue hanyalah boneka yang suatu saat bisa ia tendang sejauh mungkin sesuka hatinya jika kedapatan berkhianat padanya.
"Akhirnya.... Hari ini adalah hari terakhirmu. Maafkan diriku yang tak bisa memaafkan penghianatanmu. Kau... Kau harus mati, sekarang juga!"
To be Continued
**********************************
Sebelum lanjut ke bab berikutnya, jangan lupa tap love cerita ini ya.
Terima kasih.