25. Matahari Telah Terbit

2082 Kata
**** Pagi itu sesampainya di kuil Kaisar Qiang segera menemui Selir Hana, selir keduanya yang sudah beberapa bulan ini ia ceraikan. Kedatangannya sempat membuat beberapa pendeta bertanya-tanya dan mulai berasumsi jika Kaisar Qiang akan mengajak rujuk sang selir. Meskipun begitu para pendeta lebih memilih diam dan memendam argumentasinya di dalam hati tanpa ingin mengungkapkannya ke permukaan. Mereka tahu apa akibatnya jika mengulik hal pribadi seorang kaisar keras seperti Kaisar Qiang Wen. "Yang Mulia." sapa Selir Hana sambil membungkuk hormat pada Kaisar Qiang yang menungguinya di taman kuil yang nampak begitu asri dan indah. Sang kaisar segera menoleh tanpa mengubah posisi tangannya yang masih ia sembunyikan dibalik punggungnya yang kekar dan kuat. Pria bersurai kelam menatap begitu dingin, tidak ada sapaan hangat atau sekadar senyuman khas sang kaisar. "Selir Hana, bagaimana kabarmu?" tanya Kaisar Qiang pelan. "Baik Yang Mulia." jawab Selir Hana sambil menundukkan kepalanya. Sang kaisar tak bersuara, ia menghela nafas seraya memperhatikan wajah Selir Hana yang sama sekali tidak berubah baik parasnya maupun setiap pahatan ciptaan Dewa yang terukir di wajahnya. Perlahan sang kaisar mendekati tubuh mantan selirnya lalu membuka telapak tangannya, ia memperlihatkan sebuah wadah kecil pada sang selir. "Apa kau tahu apa yang aku genggam tadi Selir Hana?" lontar Kaisar Qiang setengah berbisik di telinga kiri sang selir. Wajah Selir Hana terlihat gelisah, bibirnya yang merah jambu mendadak memucat dan sedikit bergetar tatkala ia harus menjawab pertanyaan sang kaisar. Biasanya jika sang kaisar bertanya demikian maka akan menjerumus ke suatu hal yang begitu sulit untuk dijabarkan oleh kata-kata maupun pikiran. "Saya tahu Yang Mulia." jawab Selir Hana lirih dengan perasaan kebat-kebit tak karuan. Sang kaisar berjalan pelan mengitari tubuh selir Hana yang mengaku karena terlalu gugup akibat hawa dingin yang ditimbulkan sang kaisar. Pria itu melirik ke arah tubuh Selir Hana, ia mampu menangkap bahasa tubuh wanita itu dengan begitu mudah. Kaisar Qiang tahu bahwa Selir Hana tengah berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. "Baguslah kalau kau tahu, aku tak perlu lagi bertanya padamu kenapa aku menunjukkannya padamu Selir Hana." ucap Kaisar Qiang tenang lalu berdiri di samping Selir Hana. Wanita itu semakin gugup, tanpa interuksi atau aba-aba tiba-tiba Selir Hana bersimpuh dan merangkul kaki Kaisar Qiang lalu menangis sejadi-jadinya. "Ampun Yang Mulia, bukan maksud saya untuk mengacaukan hidup anda. Tidak sama sekali Yang Mulia, maafkan saya." tangisnya seraya memeluk kaki sang kaisar kuat-kuat. Kaisar Qiang menghela nafas panjang, ia mendongak lalu menatap langit cerah pagi itu. Seakan menerawang jauh dan mengingat apa-apa yang sudah terjadi kala itu, Liuu Qiang Wen mulai mempertimbangkan apa saja yang akan ia lakukan setelah ini. Mungkinkah ia menghukum Selir Hana? Selir yang terkenal polos dan berhati baik sepertinya rupanya juga bisa menikamnya dari belakang. "Aku tidak menyangka jika gadis yang aku hargai kebaikannya bisa berbuat sefatal ini? Aku juga tidak menyangka jika dirimu bisa berbuat sejauh ini, Selir Hana. Apa... Apa yang sebenarnya kau pikirkan hingga kau memanfaatkan kebaikanku." ucap Kaisar Qiang rendah namun terdengar begitu sangat pahit di ulu hati. "Maaf Yang Mulia, saya khilaf. Saya hanyalah gadis yang terbuang, saya hanya merasa tidak berguna dan tidak beruntung. Saya tidak memiliki nasib sebaik selir lainnya, mereka hidup enak tanpa anda ceraikan sedangkan saya, saya harus bersusah payah tetap berada di samping anda. Meskipun saya sudah berbaik hati, anda tetap menceraikan saya hanya karena kejujuran saya dan kecemburuan saya. Maaf Yang Mulia, saya tidak bisa hidup diatas tawa orang lain. Saya bukanlah orang baik, saya hanya berusaha menutup diri tapi pada kenyataannya saya tetap tidak bisa. Saya mencintai anda, hidup berjauhan dengan anda membuat dunia saya mendadak gelap gulita. Apa artinya sebuah obor jika cahaya lilin seperti anda cukup mampu menerangi hidup saya? Ini terdengar konyol tapi saya mengatakan hal benar, saya berakhir tanpa anda." tangis Selir Hana menjadi-jadi. Kaisar Liuu Qiang Wen membisu meskipun tetesan airmata Selir Hana berkali-kali menetesi kaki sucinya hal itu tidak membuat sang kaisar bergeming. Pria dengan rambut kelam diikat tinggi-tinggi itu terus membungkam mulutnya seakan enggan menanggapi setiap ucapan sang selir yang begitu teramat sedih. "Aku membawa racun untukmu." ungkap sang kaisar menghujam d**a, suaranya yang berat seakan terdengar bagaikan tiupan terompet kematian. Selir Hana tercekat, ia lalu kembali memeluk erat kaki sang kaisar berharap pujaan hatinya itu mau mengampuni kesalahannya sekali lagi. "Yang Mulia... Ampuni saya..." "Seharusnya kau berpikir dahulu sebelum meminta maaf padaku Selir Hana, kenapa kau bisa berbuat sejauh ini padaku? Apa kau iri dengan Nona Yun? Apa kau sakit hati karena aku lebih memilih wanita iblis dibanding dirimu? Katakan padaku apa yang seharusnya kau katakan padaku Selir Hana. Jika kau memang mencintaiku menginginkan kebahagiaanku, kau takkan menimbulkan konspirasi sebesar ini! Aku tahu siapa dirimu Selir Hana, kau hanya wanita lemah yang tak bisa berbuat apa-apa meskipun aku menginjak kepalamu sekalipun. Namun apa yang telah kau lakukan saat ini semua pasti ada dalangnya, katakan padaku Selir Hana siapa yang sudah mengajarimu seperti ini?" ungkap Kaisar Qiang dengan tegas. Selir Hana tak menjawab, ia terus menangis sesenggukan hingga membuat Kaisar Qiang merasa jengah dan kesal bukan main. Pria itu menarik lengan Selir Hana sekasar mungkin, ia membawanya berdiri lalu mencengkeram rahang sang selir sekeras-kerasnya hingga sang selir memekik kesakitan. "Aku yakin ada seseorang dibalik punggungmu, katakan padaku dan jangan membuatku murka!" gertak Kaisar Qiang Wen menajamkan sorot matanya ke arah Selir Hana. Gadis itu tetap saja bungkam, ia memilih menerima kesakitannya dibanding berkata jujur pada suaminya. Selir Hana terus mengunci bibirnya meskipun Liuu Qiang Wen sudah berusaha agar Selir Hana mau memberitahu siapa yang sudah menimbulkan konspirasi sebesar ini. "Apa kau memang berniat ingin mati Selir Hana? Jika Ya, jangan menunggu lama. Segera penggal kepalamu atau tusuk tubuhmu hingga tak berbentuk." titah Kaisar Qiang mulai kehilangan kesabaran. Selir Hana masih saja menangis tanpa berniat untuk membuka suara, walaupun begitu titah kaisar tetaplah titah. Tanpa ragu Selir Hana mencabut pedang yang tersarung rapi di pinggang sang kaisar lalu menghujamkannya di perutnya sendiri berkali-kali. Selir Hana langsung roboh bersimbah darah, Kaisar Qiang hanya mampu melototkan matanya karena ia tidak menyangka jika wanita yang selalu berlindung di belakang punggungnya itu kini mempunyai nyali yang cukup besar apalagi sampai mau mengorbankan nyawanya hanya karena sebuah titah dari mulut sang kaisar. "Yang Mulia... Ma.. Maaf.... Sa.. Saya... Ti.. Tidak biss... Ssa me... Ngatakan.. Nya.... Ta... Tapi... Su.. Suatu... Ha... Ri... Nan... Ti.. An... Anda.. Pasti... Ta... Tahu... Ya... Yang Mu.. Mulia.. Saya... Men... Mencintai... An... Anda..." ungkap Selir Hana dengan susah payah. Tak lama kemudian gadis itu meregang nyawa dan meninggal. Kaisar Qiang tak bergeming, ia bahkan berpaling ketika Selir Hana masih mencoba untuk menggapai-gapai ke arahnya seolah ingin dipegang tangannya walau sebentar saja. Tak lama kemudian beberapa pendeta dan pengawal Kaisar datang menghampiri, mereka terheran-heran melihat Selir Hana menusukkan pedang ke perutnya. Walaupun begitu tak ada sebuah pertanyaan yang terlempar dari mulut masing-masing, mereka mencoba menulikan telinga dan membutakan mata mereka seolah tak terjadi apa-apa saat ini. "Pengkhianat pantas mati meskipun itu kekasih ataupun istriku sendiri." ucap Kaisar Qiang seakan memberitahu apa yang terjadi. Semua orang hanya membungkuk patuh tak berani berkutik, mereka merasa ngeri akibat hukuman yang dilakukan oleh Kaisar Liuu Qiang Wen pada selirnya. "Urus jasadnya setelah itu kita akan kembali ke istana secepat mungkin." **** Sedangkan di istana setelah menghabisi Selir Won, Nona Yun terus mengamuk tak karuan. Gadis itu menuntut kebebasannya, meskipun sang adik berusaha menenangkannya namun usahanya sia-sia saja. Pangeran Hong tetap dipukul bahkan dilemparnya dengan muak. Sungguh Nona Yun seperti bukan dirinya sendiri. Gadis bersurai putih itu terlihat acak-acakan, ia meronta dengan segenap kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya. Luka memenuhi tubuhnya, tidak ada satupun orang yang berani mendekatinya termasuk sang adik yang sudah babak belur akibat perbuatannya. Nona Yun Xiaowen menjerit, menarik tangan kirinya yang dirantai paksa oleh Liuu Qiang Wen dengan kasar. Seandainya saja tangannya tidak memiliki kekuatan mungkin tangan itu sudah patah dan hancur berurai. Mata merahnya masih membara, tanpa rasa menyerah Yun Xiaowen kembali berusaha menghancurkan rantai itu dengan kekuatannya. Ia sungguh ingin melepaskan diri namun pengaruh kekuatan Liuu Qiang Wen jauh lebih hebat darinya alhasil ia hanya mendapatkan luka goresan yang begitu dalam dan teramat ngeri jika dilihat. Bukan hanya dengan kekuatannya saja, gadis itu bahkan mengeluarkan sayapnya dan berusaha terbang. Seandainya bisa mungkin ia akan membawa ranjangnya turut pergi namun apalah daya, kekuatan Liuu Qiang Wen jauh di atasnya. "AKU BENCI PADAMU LIUU QIANG WEN!!" teriak beringas Yun Xiaowen mirip lolongan binatang buas yang haus akan darah sang mangsa. Semua orang sengaja tak menghampirinya, keadaan kamar dibiarkan kacau balau karena mereka takut akan jadi bahan pelampiasan ratu iblis tersebut dan akhirnya mati sia-sia seperti Selir Won. Karena wanita itu memaksa masuk dan menyogok penjaga kamar Yun Xiaowen akhirnya ia harus mati mengenaskan di kamar sang saingan. Brrakk. Yun Xiaowen akhirnya berhasil memutus tali rantai yang mengikat tangannya, harapannya kembali muncul. Dengan kekuatannya ia mengepakkan sayapnya dan berusaha terbang namun nihil rantai di kakinya cukup tebal dibanding dengan rantai yang ada di tangan, Yun Xiaowen harus kembali berjuang. Siang itu perjuangan Yun Xiaowen untuk bebas dan membunuh manusia kembali ditantang, rasa marahnya terus meluap-luap. Luka di tubuhnya menganga lebar, darahnya mulai mengering dan luka baru kembali menggores tubuhnya di tempat yang lain. Betapa perihnya tubuh Yun Xioawen saat ini. Kedatangan Kaisar Qiang Wen di istana bagaikan mentari terang di kala gerhana muncul, mereka mengelu-elukan kedatangan sang pemimpin dengan wajah berbinar. Wajah Liuu Qiang Wen masih saja misterius, dengan diikuti panglimanya ia melangkah menuju ke kediaman Nona Yun yang berserakan penuh dengan puing-puing ornamen kerajaan yang hancur. Tanpa peduli apapun Liuu Qiang Wen mendorong pintu masuk, menatap Yun Xiaowen yang balas menatap kedua bola matanya penuh kemarahan. Gadis berpakaian kusut dan robek sana-sini itu nampak bersimpuh di lantai, ia terlihat terengah-engah dengan peluh yang membasahi tubuh sintalnya. "Sampai kapan kau akan berhenti Yun Xiaowen?" tanya Kaisar Qiang dingin lalu mendekati tubuh Yun Xiaowen yang menyedihkan. "Sampai aku bisa menghabiskan seluruh manusia di permukaan bumi ini." jawab Yun Xiaowen penuh ambisi. Kaisar Qiang berjongkok di depan Yun Xiaowen, matanya yang tajam sejenak beralih ke arah pergelangan tangan gadis itu. Warna merah pekat dan juga goresan terlihat sangat mencolok, jika Yun Xioawen gadis biasa niscaya gadis itu sudah kehilangan sebelah tangannya atau justru mati sia-sia. Perlahan hati Kaisar Qiang Wen tergerak, ia menyentuh luka di tangan Yun namun oleh pemiliknya segera menepisnya kasar dan balas mencakar wajah Kaisar Liuu Qiang Wen. "Kau tak pantas menyentuhku." dengus Yun Xiaowen tak terima. Liuu Qiang Wen yang berpaling akibat cakaran di wajahnya kembali menoleh ke arah Yun Xiaowen. Perlahan luka Liuu Qiang Wen mengering dan hilang tak berbekas, wajahnya yang terluka kini kembali mulus seperti semula. "Darimana kau dapatkan kekuatan seperti itu? Kau tak pantas memiliki kekuatan seperti itu!" tuding Yun Xiaowen semakin putus asa. Liuu Qiang Wen tak menjawab, ia berusaha mengatur emosinya meskipun dalam dadanya kini bergemuruh hebat seperti guntur yang ingin menyambar apa saja. Pria itu hanya menghela nafas, walau tertolak ia mencoba membelai rambut kusut ratunya dan terus waspada kalau-kalau wanita itu kembali menyerangnya. "Aku punya hadiah untukmu, itu jika kau mau menahan emosimu beberapa saat saja. Mungkin aku bukanlah orang yang baik tapi aku kenal betul bagaimana menepati janji dengan baik. Istriku yang cantik, bisakah kau tenang sebentar saja dan mendengarkan ucapanku?" ucap Kaisar Qiang rendah sembari menatap dalam-dalam kedua bola mata Yun Xiaowen yang merah. "Jangan bermanis-manis di depanku Liuu Qiang Wen. Meski kau berbuat demikian itu tidak mengurangi takaran dosamu padaku." balas Yun Xiaowen bersikeras lalu menepis tangan pria itu dari kepalanya namun dengan sigap Kaisar Qiang menangkap tangan Yun. Mereka bertatapan cukup lama, mata merah penuh kemarahan beradu pandang dengan mata dingin namun menyejukkan milik sang kaisar. Liuu Qiang mengedipkan matanya beberapa kali lalu mengulas senyum termanis miliknya. Sejenak atmosfir dunia berubah, suasana yang panas berangsur mendadak dingin menyejukkan jiwa. Yun Xioawen masih terpaku oleh senyumnya hingga ia tidak sadar jika pria pemilik seribu kekuatan dan ketampanan yang teramat sangat itu adalah pria yang ia benci saat ini. "Dosaku padamu tetap pada hitungannya, Istriku. Aku tidak bermaksud bermanis-manis untuk mengurangi takarannya, jika kau mau tumpahkan semua kebencianmu padaku sekarang juga. Aku sama sekali tidak keberatan. Kelak jika dunia mengijinkan kau kau jatuh cinta padaku meskipun bukan pada pandangan pertama seperti diriku padamu, aku harap sudah tidak ada lagi kebencian yang menyelinap dalam hatimu. Agar kelak kita bisa melangkah bersama, selaras dan beriringan. Aku harap kelak kau mau menggenggam tanganku jauh lebih terbuka dan tulus daripada yang sekarang. Yun Xiaowen, semoga kelak tidak ada alasan lagi kau membenciku." To Be Continued. ***************************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN