****
"Kau takkan bisa membeli apa yang sudah kutetapkan termasuk membantai manusia siapa saja yang berjalan di muka bumi ini kecuali kau membuktikan padaku bahwa semua ini murni bukanlah kesalahanmu." tegas Yun Xiaowen tanpa mengedipkan dua bola matanya yang semerah darah.
Tatapan mereka masih berlanjut hingga pada akhirnya Yun Xiaowen memilih berpaling muka dan menarik tangannya dari genggaman sang kaisar. Ia sama sekali tidak boleh lengah apalagi tergoda dengan bujuk rayu si kaisar m***m. Cukup baginya merasakan kesedihan dan harus terus mengalah, tak ada salahnya bagi Yun Xiaowen memberontak. Gadis itu menginginkan kebebasan namun Liuu Qiang Wen selalu saja menghalangi keinginannya entah dengan berbagai cara.
"Aku dengar kau sudah membunuh Selirku, Nona Yun. Apa itu benar?" tanya Kaisar Qiang pelan tanpa melepaskan tatapan pada wajah Yun Xiaowen.
Gadis keturunan iblis itu menghembuskan nafasnya dengan kasar, tanpa ia sadari ia mengepalkan kedua tangannya begitu erat hingga terlihat begitu bergetar. Kaisar Liuu melirik tangannya sejenak, ia tersenyum miring namun terlihat samar.
"Apa kau ingin membelanya?" ucap Nona Yun balik bertanya dengan nada teramat ketus.
"Dia salah satu selirku, aku masih bertanggungjawab atas hidup dan matinya jadi...."
"Kalau begitu hukum saja aku, meskipun aku benar kau yang menganggapnya masih sebagai selirmu akan berusaha tetap membelanya." ungkap Nona Yun dengan wajah terlihat muak.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu?"
"Karena dia adalah selirmu." jawab Yun Xiaowen cepat tanpa menatap Liuu Qiang Wen yang masih berjongkok di hadapannya.
"Lalu jika ia selirku memangnya ada apa?" tanya Kaisar pelan dan tenang.
"Kau tetap akan membelanya mati-matian, meskipun ia salah tetap akan benar di matamu. Sudah tinggalkan aku, aku tidak ingin mendengar kau menyebut nama selir di depanku." tukas Yun Xiaowen kesal.
Gadis itu lalu beranjak berdiri, dengan kasar ia menarik-narik rantai yang masih mengait di kaki cantiknya. Ia sudah muak dirantai dan hal itu menambah kekesalan sang ratu iblis.
"Jelas saja kau akan tetap membela selirmu yang lemah itu dan merantaiku bagai binatang peliharaan. Jika kau tak melepaskan rantainya, aku bisa melubangi dindingmu atau merobohkan istanamu." ancam Yun Xiaowen lagi, hal itu membuat Liuu Qiang Wen harus menahan rasa geli yang menggelitiki perutnya.
"Katamu sudah tidak akan membahas selir lagi tapi kenapa tiba-tiba kau memulainya lagi? Apa kau cemburu?" tanya Liuu Qiang Wen perlahan membuat wajah Yun Xiaowen mendadak memerah padam.
"Tidak! Untuk apa aku cemburu dengan selirmu? Murahan sekali! Sekarang lepaskan rantainya atau aku akan merobohkan istanamu." ancam Yun sekali lagi, ia tengah berusaha menutupi rasa malunya.
Liuu Qiang Wen mengangkat sebelah alisnya, meski tak menjawab ia mengabulkan permintaan ratunya yang cukup b******k itu. Dengan kekuatannya, rantai yang mengait kaki Yun Xiaowen terlepas sendiri.
Gadis itu berbinar, ia lalu melangkah menuju ke luar kediamannya namun sesampainya di depan pintu ia terhenyak dan menghentikan langkahnya ketika tahu siapa yang kini tengah berdiri di hadapannya.
"Yang Mulia Ratu." sapanya dengan penuh hormat. Pria itu bersimpuh lalu bersujud di kaki Yun Xiaowen.
"Panglima Ming...." desis Yun Xiaowen seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Maafkan hamba Yang Mulia, hamba waktu itu sedang bertugas di perbatasan sehingga ketika mendengar kerajaan iblis diserang saya tidak bisa datang tepat waktu untuk menyelamatkan anda." ucap pria iblis yang dibawa rombongan Liuu Qiang Wen yang rupanya adalah panglima Ming, panglima Kerajaan Iblis.
Yun Xiaowen tak menjawab, ia tertegun dan terharu. Gadis itu lantas ikut bersimpuh dan memeluk sang panglima dengan erat. Sebuah perlakuan yang membuat Liuu Qiang Wen mengerutkan dahi dan mulai tidak nyaman.
"Tidak... Tidak apa-apa, Panglima. Melihatmu kembali membuatku sedikit tenang." ungkap Yun Xiaowen lirih tanpa melepaskan pelukan di tubuh panglimanya.
Liuu Qiang Wen mendadak resah, ia mengalihkan pandangannya namun apa yang terjadi di depannya memang cukup membuat dirinya terbakar.. Merasa tak tahan, Liuu Qiang Wen akhirnya meraih tangan Yun Xiaowen dan melepaskan pelukan mereka dengan kasar.
"Aku tidak ingin melihat kalian berpelukan, sama sekali tidak. Hei kau, ~ cepat katakan pada istriku apa yang sebenarnya sudah terjadi." ucap Liuu Qiang Wen kesal sambil mencengkeram pinggul Yun Xiaowen dan merapatkannya dengan tubuh kekarnya.
Plakk.
Yun kesal dan ia memukul kepala suaminya sedikit kasar, meskipun begitu Liuu Qiang Wen tak memperdulikannya. Ia terus mencengkeram tubuh Nona Yun agar gadis itu tak lepas dari sisinya.
"Kau terlalu berlebihan Liuu Qiang Wen." geram Yun Xiaowen kesal sembari mencoba melepaskan diri.
"Berlebihan darimana? Kau istriku, ingat kau istriku!! Jangan memancing emosiku dengan main pelukan dengan pria lain." ungkap Liuu Qiang Wen menggebu-gebu karena kesal.
"Kenapa kau melarangku? Kau berciuman dengan selirmu saja aku tidak keberatan. Lalu kenapa kau bisa seenaknya sendiri mengatur hidupku?" ucap Yun membalas.
"Itu... Itu aku...."
"Yang Mulia Ratu, saya merasa senang bisa berjumpa dengan anda. Beberapa hari ini ada kabar meresahkan tentang anda dan hal itu yang memicu kaum bangsa iblis memberanikan diri untuk memasuki wilayah manusia." jelas Panglima Ming seraya menundukkan kepalanya.
"Maksudmu?"
"Ada seseorang yang berkonspirasi ingin mengadu kaum iblis dengan manusia Yang Mulia. Mereka menyebarkan berita buruk tentang anda dan menimbulkan perpecahan. Jika anda berselisih paham maka hal ini sangat menguntungkan pihak ketiga." jelas Panglima Ming panjang lebar.
Yun Xiaowen yang mendengarnya sejenak tertegun, ia melirik sejenak ke arah Liuu Qiang Wen seolah merasa bersalah. Tapi bibir manisnya masih enggan untuk berkata maaf atau berlaku sedikit ramah pada Liuu Qiang Wen.
"Setelah melihat keadaan anda saya merasa yakin bahwa anda baik-baik saja selama di sini. Tidak perlu ada yang di khawatirkan lagi, meskipun kerajaan kita sudah hancur tapi melihat anda hidup ada rasa lega dalam hati." ucap Panglima Ming jujur seraya membungkukkan badan.
"Lalu siapakah yang sudah melakukan ini?" tanya Yun Xiaowen pelan dengan sesekali melirik ke arah Liuu Qiang Wen.
"Salah satu selir Yang Mulia." jawab Panglima Ming singkat.
"Sekarang pergilah, beristirahatlah di kediaman barumu. Biar penjaga yang memberitahu tempat peristirahatanmu." interuksi Yun Xiaowen terdengar datar.
"Baik Yang Mulia Ratu." patuh Panglima Ming lalu membungkuk hormat dan pergi undur diri.
Yun Xiaowen barbalik badan menghadap suaminya yang masih saja membungkam tak bersuara seraya bersedekap santai.
"Selir lagi, berapa banyak selirmu yang suka mencari gara-gara? Kali ini selir yang mana lagi?" emosi Yun Xiaowen kembali tumpah ruah.
"Apa itu penting? Perlukah aku menyebut namanya di depanmu?" ucap Kaisar balik bertanya.
"Apa kau sedang berusaha melindungi selirmu? Baiklah kalau begitu teruskanlah dan aku akan menghabisi seluruh selirmu yang berusaha mengusik hidupku." ancam Yun dengan berapi-api.
Gadis itu berbalik badan, ia melangkah pergi namun segera ditahan oleh tangan sang kaisar.
"Kenapa kau membuatnya membuatnya menjadi ruwet? Tadi kau tak ingin aku menyebut nama selirku sekarang kau justru ingin tahu siapa selir itu? Apakah kau sehat? Atau kau hanya sekadar sedang cemburu padaku?" ucap Liuu Qiang Wen sambil menahan tangan istrinya.
"Untuk apa aku cemburu? Aku hanya tidak suka disangkut pautkan dengan beberapa selirmu." tandas Yun Xiaowen mengelak.
Kaisar Liuu Qiang Wen mengangkat sebelah alisnya dan melepaskan tautan tangannya. Melihat reaksi Yun saat ini ia ingin sekali tertawa berguling-guling, bagaimana bisa ia dapat bersabar menghadapi sikap Yun Xiaowen yang menyebalkan itu? Sedikit marah sedikit kesal, daya tarik yang Yun Xiaowen tunjukkan kepadanya.
"Jangan menatapku seperti itu." tukas Yun memerah ketika Liuu Qiang Wen tak menjawab ucapannya dan justru memandanginya seolah ingin melucuti pakaiannya.
"Kau wanita yang sangat aneh, semakin aku mengikuti langkahmu aku semakin tak mengerti kemana arah tujuanmu." ucap Liuu Qiang Wen datar.
"Maka dari itu jangan mengikutiku." sahut Yun cemberut lalu melanjutkan langkahnya menuju ke luar kamarnya.
Liuu Qiang Wen terdiam, ia kembali bersedekap dan menikmati siluet bayangan punggung istrinya yang hilang setelah wanita itu menutup pintu kembali. Sesaat Liuu Qiang Wen tersenyum miring ketika menyadari kekonyolan yang baru saja terjadi.
"Anggap saja kau tengah malu karena kau sudah kalah dariku, Yun Xiaowen." gumamnya lirih.
Sang kaisar menghela nafas, ia berbalik dan melangkah menuju ke jendela. Ia tersenyum samar, menatap langit sore yang begitu indah dengan lukisan alam ciptaan sang dewa. Baru kali ini seorang Liuu Qiang Wen bisa menikmati hidupnya dengan penuh rasa meletup di d**a. Bagaikan kembang api, dadanya sering berdebar dan meletup tak karuan.
"Yun Xiaowen...."
Dan senyuman Liuu Qiang Wen sore itu kembali melebar.
******
Selir Sun tengah memainkan Ghu Zheng di kamarnya, alunan sedih mengiringi kesendiriannya kala itu. Meskipun beberapa dayang tengah menemaninya, ia terus larut akan kesedihan yang tidak seorangpun tahu. Lamunannya terus melayang, jauh tak terkendali sembari terus memainkan alat musik itu perlahan.
Apa yang sudah ia dapat selama ini?
Pikiran itu membawa seorang Selir Sun untuk kembali memikirkannya. Dulu sebelum wanita jalang itu hadir di istana ini, dialah satu-satunya wanita yang berkuasa diatas para selir lainnya. Dulu sebelum iblis betina itu hadir, ia adalah orang pertama yang selalu dituju Kaisar entah untuk membicarakan hal kenegaraan ataupun hanya sekadar bercengkerama biasa.
Dan sekarang....
Semua berbanding terbalik. Ia hanya manusia hidup yang tidak dilihat apalagi dilirik sang Kaisar. Selir Sun hanya dikenal sebagai selir yang payah, dibiarkan begitu saja dan mungkin lama kelamaan ia akan terbuang.
Apa? Terbuang?
Selir Sun menghentikan permainannya. Ia menyimpulkan bahwa ia tidak ingin terbuang sam sekali apalagi harus kalah dengan wanita bergolongan iblis semacam Yun Xiaowen.
Wanita yang sudah kehilangan suaranya itu membuang Ghu Zhengnya dengan kasar hingga suara ribut tercipta. Beberapa dayang yang menemaninya terlihat kaget dan memundurkan langkahnya.
"Nona Sun ada apa?" tanya salah satu dayang dengan wajah penuh khawatir.
Selir Sun hanya berdiri dari duduknya dan melirik sang dayang penuh kemarahan. Jika ia bisa bersuara ia pasti akan memaki dayangnya dengan kasar dan berkata, "dasar dayang hina, apa kau ingin meremehkanku? Apa karena aku tak bisa bersuara, kau seenaknya bertanya seperti itu?"
Selir Sun hanya mendengus kasar, gadis itu lalu keluar dari kediamannya yang megah. Di belakangnya beberapa dayang nampak berjalan mengekor. Meskipun tingkah laku Selir Sun sungguh menyebalkan, beberapa dayang tetap mengabdi dengan setia kepadanya. Bagaimanapun Selir Sun adalah tuannya yang pernah berjasa dalam hidupnya.
Lalu kemanakah Selir Sun pergi?
Sudah pasti jika gadis kasar itu menuju ke kediaman Yun Xiaowen. Walaupun ia tidak bisa berbicara, ia akan tetap menyuarakan suara hatinya.
Ia tidak ingin tergeser posisinya, baik selir lainnya ataupun Yun Xiaowen sendiri. Selir Sun akan mengatakannya sekarang, mengatakan apa yang ingin ia katakan.
Tanpa ia sadari, ia tengah mengantarkan nyawanya kepada sang pencabut nyawa Yun Xiaowen.
To be Continued
*******************************