****
BRAK.
Pintu itu didorong dengan kasar, Yun Qiaowen yang tengah merias diri dengan ditemani oleh salah satu dayang hanya meliriknya sejenak dengan tatapan tak berminat. Ia sama sekali tidak kaget ketika melihat kemunculan Selir Sun di kediamannya yang terbiasa sepi dan hening.
Wanita yang baru saja menemukan jati dirinya itu terus membisu, membiarkan Selir Sun bersikap tak sopan padanya dan tak menghargai statusnya di sini. Baginya, Yun Xiaowen tak lebih dari iblis maka dari itu hanya Selir Sun yang tidak mau tunduk atau setidaknya menunjukkan rasa hormat sebagai sesama wanitanya Kaisar.
Yun Xiaowen terus melanjutkan aktivitasnya, ia pura-pura tak peduli dengan kehadiran si bisu Selir Sun. Hingga akhirnya wanita berstatus selir tertua Liuu Qiang Wen datang menghampirinya dan menggebrak meja rias sang ratu.
Sang ratu masih mengunci bibirnya, ia hanya memperhatikan beberapa aksesorisnya yang berloncatan akibat gebrakan tangan sang selir yang lancang dan tidak menghargainya.
"Kau mau apa? Katakan saja. Jangan membuat jantungku melompat dari tempatnya." singgung Yun Xiaowen pelan dan terus menyisir rambutnya yang kini kembali menghitam.
Selir Sun menggeram kesal, tangannya mengepal erat. Ia menatap sekeliling dan menemukan secarik kertas, dengan terburu-buru Selir Sun menghampirinya guna menulis maksud dan tujuannya. Yun Xiaowen tersenyum miring, tangannya ia rentangkan sebelah dan membuka telapak tangannya. Dengan cepat kertas itu berterbangan ke langit tanpa ada angin yang meniupnya.
"Aku lupa bahwa aku tengah berbicara dengan salah satu selir Kaisar yang bisu." singgung Yun Xiaowen lalu membalikkan badan dan berdiri menghadap Selir Sun yang terlihat marah karena ucapan Yun Xiaowen yang begitu tajam.
"Daripada kau memohon padaku, kenapa kau tak memohon pengampunan pada Liuu Qiang Wen? Siapa tahu dia berbaik hati dan bisa mengembalikan suara emasmu." imbuh Yun Xiaowen pelan lalu berjalan mengitari tubuh Selir Sun.
"Tanpa kau bicara atau menuliskan apa maksud tujuanmu aku sudah mengerti Selir Sun. Kau berbuat salah dengan mendatangiku seharusnya kau datang pada Liuu Qiang Wen dan mengemis akan kehidupanmu yang lebih baik. Ingat Selir Sun, sudah dua selir yang aku habisi. Jangan membuatku harus menghabisimu juga bagaimanapun kau adalah wanita paling penting bagi Liuu Qiang Wen." ucap Yun Xiaowen lirih di hadapan Selir Sun.
"Aku mungkin tidak akan membunuhmu meskipun kau sering mengesalkanku tapi aku mungkin akan sedikit bermain-main dengan dirimu. Jika kau salah satu boneka Kaisar, aku juga pantas memainkan salah satu bonekanya bukan?"
PRANG.
Guci keramik harus rela pecah berantakan ketika benda mahal itu beradu dengan kepala Yun Xiaowen. Gadis itu hanya memalingkan wajahnya ketika Selir Sun menghantamkan guci itu ke salah satu sudut kepala Yun Xiaowen dengan cepat dan begitu keras.
Mata merah Yun Xiaowen menggelap, emosinya kembali naik namun seketika ia mampu mengontrol kembali emosinya dan yang terjadi mata merah itu kembali kelam nan tenang.
"Jangan gegabah Selir Sun, satu hal yang kau lakukan padaku justru akan menjatuhkan dirimu sendiri di hadapan sang kaisar." ucap Yun Xiaowen pelan lalu menyeka darah yang merembes keluar dari sudut keningnya.
Mata Yun Xiaowen menatap ke belakang Selir Sun, ia bisa merasakan jika pria m***m itu tengah menuju ke kediamannya. Ia tidak akan membalas apapun namun Liuu Qiang Wen tidak akan tinggal diam jika melihat hal ini dan benar saja, beberapa detik kemudian penjaga kediamannya melapor akan kedatangan Liuu Qiang Wen.
"Yang Mulia Ratu, Yang Mulia Kaisar ingin bertemu dengan anda." lapornya di luar kediaman Yun Xiaowen.
Wajah Selir Sun memucat, ia terlihat panik ketika tahu Liuu Qiang Wen tengah berkunjung. Wanita jahat itu menatap ke jendela yang terbuka, ia hendak melarikan diri lewat jendela namun Yun Xiaowen segera menangkap pergelangan tangan Selir Sun dan menahannya.
"Kau mau kemana wanita cantik? Seperti itukah caramu menyambut suami tercintamu?" ujar Yun Xiaowen lirih.
Sembari menahan tangan Selir Sun yang terus berontak, Yun Xiaowen mengarahkan kekuatannya untuk membuka pintu kediamannya lebar-lebar dan....
"Yun.... Ada apa? Kenapa kepalamu....."
Pertanyaan Liuu Qiang Wen terhenti melihat keberadaan Selir Sun dan guci yang pecah di kaki Yun Xiaowen. Seketika ia bisa menyimpulkan apa yang tengah terjadi diantara kedua wanitanya itu.
"Sepertinya Selir Sun sangat menyukaiku, Yang Mulia. Dia datang dan mengajakku bermain." lapor Yun Xiaowen terdengar begitu manis seraya membungkukkan badan pada Liuu Qiang Wen.
Pria itu mengerutkan dahinya, luka yang berada di kepala Yun Xiaowen hingga berdarah tidak bisa dibiarkan. Meskipun begitu pria itu masih berusaha mencerna asumsinya sendiri, kenapa Selir Sun berani menginjakkan kakinya di kediaman Yun Xiaowen? Apakah ia sudah lupa bagaimana cara Yun Xiaowen membunuh Selir Won?
"Jangan khawatir Yang Mulia, saya tidak akan membunuhnya sama seperti Selir Won. Saya hanya ingin membalas ajakan bermainnya, saya rasa dia selir anda yang cukup menyenangkan." imbuh Yun Xiaowen lagi dengan setengah berbisik.
Liuu Qiang Wen melirik Yun Xiaowen dengan tatapan tak suka. Ia berjalan mendekati Selir Sun yang memucat karena ia tahu Liuu Qiang Wen akan murka kepadanya.
Wanita itu lalu bersimpuh di hadapan Liuu Qiang Wen sembari menangis dan memeluk kaki suaminya dengan sangat erat seolah tidak ingin dihukum. Wanita itu berusaha mengeluarkan suaranya dengan susah payah namun hasilnya nihil. Melihat tatapan yang berbeda di mata Liuu Qiang Wen, Yun Xiaowen untuk sesaat merasa terganggu. Gadis iblis itu membuang tatapannya, ia lantas beranjak pergi dari kediamannya. Sulit bagi Yun Xiaowen untuk mengakui perasaan menggelitik dalam hatinya. Bagaimana bisa ia merasa aneh dan sedikit kecewa tatkala melihat Liuu Qiang Wen bersikap demikian? Bukankah sudah sewajarnya ia berlaku demikian karena Selir Sun juga istrinya?
Huh... Kenapa Yun Xiaowen harus pusing memikirkannya?
"Dayang, segera bersihkan kediamanku." interuksi Yun Xiaowen sambil berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Baik Yang Mulia." jawab para dayang yang menunggu di luar kediaman Yun Xiaowen sembari membungkuk hormat.
Sedangkan Liuu Qiang Wen menghela nafas dalam-dalam, ucapan yang ingin ia ucapkan mendadak sirna begitu saja. Ia melirik sejenak ke arah kepergian Yun Xiaowen lantas menghempaskan pelukan Selir Sun di kakinya dan mengikuti Yun Xiaowen.
Tidak ada gunanya menghukum atau tidak, ia sudah lelah harus bertengkar dengan Yun Xiaowen. Apapun yang akan ia lakukan, itu urusan nanti yang jelas ia harus menenangkan perasaan Yun Xiaowen saat ini.
****
Langkah Yun Xiaowen menapak dengan pelan, kaki-kaki mungilnya mengajak tubuhnya yang lelah menuju ke danau. Ia duduk di tepian danau sembari mengamati rembulan malam yang terlihat begitu jernih dan kemilau.
Nafasnya berhembus di udara ketika gadis itu mendongak dan bertopang dagu cukup lama. Ia sudah lama sendiri namun kenapa rasa itu belum juga menyatu dalam dirinya. Jika ia sendiri, ia terkadang merasa sedih. Mungkin karena terlalu sering berkumpul dengan manusia, sifat iblisnya mulai mengabur dan membuatnya sedikit lemah.
Yun Xiaowen terus menatapi sang rembulan penuh dengan kerinduan. Kedua tangannya masih setia menopang dagu cantiknya berlama-lama hingga akhirnya lamunannya tersadar ketika beberapa kelopak bunga plum menjatuhinya semakin sering.
Ratu bermata kelam penuh kesedihan itu menoleh ke belakang dan benar saja, di belakangnya Liuu Qiang Wen berdiri dan dengan kekuatannya ia menggugurkan bunga plum untuk menjatuhi tubuh Yun Xiaowen yang terlihat begitu sedih.
Pria berhanfu hijau itu tersenyum kecil ketika Yun Xiaowen tak habis-habisnya dalam menatapnya seolah rasa kagum ada di kedua bola matanya.
"Apa aku terlihat sangat gagah dan tampan?" lontar Liuu Qiang Wen membuat Yun mengedipkan matanya dan buru-buru berpaling.
"Tidak." sahut Yun Xiaowen sedikit ketus lalu kembali menatap ke arah danau yang berada di hadapannya sambil bertopang dagu.
Liuu Qiang Wen mengulum senyum, pria dengan surai kelam dan dibiarkan tergerai itu menghampiri ratunya lantas duduk di samping Yun Xiaowen. Pria itu memperhatikan Yun Xiaowen dengan seksama membuat gadis itu lama-lama tidak bisa berkonsentrasi dengan apa yang kini tengah ia lakukan.
"Jangan terus memandangku, apa kau tak punya pekerjaan lain?" tukas Yun Xiaowen salah tingkah.
Liuu Qiang Wen tertunduk sejenak, ia merasa sedikit malu ketika wanita yang dihadapannya persis terus menatap danau tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya. Sungguh Yun Xiaowen keterlaluan, jeritnya dalam hati.
"Kau terlihat sedih." ucap Liuu Qiang Wen sekenanya tanpa melepaskan tatapannya pada si gadis yang terus bertopang dagu dan memanyunkan bibir tipisnya.
"Kau bukan peramal, jangan sok tahu Tuan Liuu Qiang Wen." ucap Yun Xiaowen dengan ketus. Hal yang membuat Liuu Qiang Wen kesal-kesal gemas padanya.
"Malam ini sangat indah bukan?"
"Bilang saja kau rindu menempel padaku, jangan berbasa-basi lagi jika memang itu niatmu membuntutiku sampai ke sini." jawab Yun Xiaowen pelan. Jawaban yang lagi-lagi membuat Liuu Qiang Wen mati kutu.
"Hmm.. Bolehkah aku bermain musik? Sepertinya kau malas menemaniku berbicara." tutur Liuu Qiang Wen pelan.
"Terserah." jawab Yun Xiaowen ketus tanpa menatap Liuu Qiang Wen yang terus saja tersenyum geli.
Dengan kekuatannya, Liuu Qiang Wen menghadirkan alat petik itu di hadapannya. Perlahan sang kaisar berjuluk raja racun itu memetik alat musiknya dan menikmatinya meskipun ia tahu Yun Xiaowen bisa saja marah karena terusik oleh dirinya.
Suasana malam yang makin sunyi dengan hawa dingin yang semakin menggigit kulit tak menyurutkan sang kaisar dalam memetik alat musiknya dengan syahdu. Pria itu bermain musik dengan sepenuh hati, sesekali cahaya bulan yang berkilauan menyinari tubuh gagah dan wajah tampannya. Malam itu tidak terlihat sama sekali sisi kejam Liuu Qiang Wen, ia terlihat seperti dewa penuh cinta bermandikan cahaya rembulan.
Dengan sesekali menatap Yun Xiaowen ia memetik Guzhengnya dengan pelan dan mengena. Beberapa kelopak bunga plum sesekali menjatuhi mereka malam itu, sungguh suasana yang sangat teramat indah.
Yun Xiaowen yang semula berpura-pura tak memperdulikan permainan musik Liuu Qiang Wen perlahan sesekali melirik ke samping. Bagaimana ia bisa terus mengacuhkannya sedangkan permainan alat musiknya terdengar sangat bagus dan menyentuh hati.
Sesekali meskipun mereka bertemu tatap, Yun Xiaowen tetap berusaha se-biasa mungkin. Liuu Qiang Wen terus tersenyum dan memainkan Guzhengnya yang menghanyutkan.
Pria itu tak keberatan jika tak jauh dari mereka ada beberapa dayang dan pengawal yang turut mendengarkan permainan musiknya.
"Apa kau menyukainya?" tanya Liuu Qiang Wen ketika permainannya sudah selesai. Yun Xiaowen terdiam, ia tak menjawab sama sekali. Gadis itu tak bisa menyangkal jika permainan Liuu Qiang Wen memang bagus.
"Aku bisa mengajarimu memainkannya. Alat petik ini namanya Ghuzheng, alat musik manusia ketika ia tengah merindukan seseorang atau untuk mengungkapkan perasaannya. Aku rasa jika kau memainkannya, rasa sedihmu akan sedikit berkurang." tutur Liuu Qiang Wen dengan lembut.
Yun Xiaowen masih mengunci mulutnya namun dari tatap matanya ia memang ingin mencobanya apalagi di dunianya ia tidak menjumpai alat musik semacam itu. Alat musik yang menenangkan jiwa seperti ini. Hal itu membuat Liuu Qiang Wen harus berinisiatif lebih dahulu. Pria itu menggeser posisi duduknya, menempatkan posisinya di belakang Yun Xiaowen dan mulai mengajarinya.
"Kau tidak hanya sekadar memainkan alat musik tapi kau juga harus memainkan perasaanmu. Entah sedih, entah bahagia kau perlu mengikutsertakan perasaanmu bersama alunan nadanya." ucap Liuu Qiang Wen pelan sembari meraih jemari lentik Yun Xiaowen.
Gadis itu menurut, ia tak keberatan ketika jemari Liuu Qiang Wen yang kokoh menumpu tangannya dan mulai menjentikkan jari-jarinya sesuai dengan nada. Perlahan meski terdengar sedikit sumbang dan kaku namun Yun Xiaowen mulai menikmati alunan musik Guzheng yang diajarkan kepadanya.
Mereka bertatapan bersamaan dengan jemari terus bertaut dan memainkan alat musik Guzheng bersama-sama hingga malam kian larut. Baik Yun Xiaowen maupun Liuu Qiang Wen tak banyak bicara hingga akhir permainan selesai.
Mereka kembali bertatapan cukup lama, desiran angin terdengar jelas di telinga mereka ketika secara perlahan wajah mereka saling mendekat satu sama lain.
Liuu Qiang Wen meraih wajah Yun Xiaowen, mengelusnya dengan lembut dan penuh perhatian.
"Kau adalah wanita tercantik yang aku miliki, Yun Qiang Wen." bisik Liuu Qiang Wen terdengar setengah berbisik.
Yun Xiaowen hanya terdiam, ia membiarkan saja ketika Liuu Qiang Wen menarik kepalanya agar lebih mendekat. Sejenak ia memejamkan kedua bolanya cukup rapat, bibirnya yang mengatup tanpa sadar sedikit ia buka. Perlahan beberapa detik kemudian, sebuah bibir kenyal sempurna melekat di bibirnya.
Yun Xiaowen meremas hanfunya ketika bibir Liuu Qiang Wen mencecap ujung saraf di bibirnya. Darahnya berdesir hebat, sama desirannya dengan angin malam yang dingin menyapu wajah mereka beberapa saat lalu.
Yun Xiaowen membuka kedua matanya ketika Liuu Qiang Wen melepaskan ciumannya. Pria itu menggenggam jemari Yun Xiaowen dengan begitu erat seolah tak ingin dipisahkan.
"Jangan beranjak dahulu, aku ingin kita berlama-lama di sini." ungkap Liuu Qiang Wen pelan sembari menatap mata Yun Xiaowen.
"Aku tidak akan beranjak kemana-mana, Tuanku Liuu Qiang Wen." balas Yun Xiaowen terdengar begitu menyejukkan.
Liuu Qiang Wen kembali tersenyum, ia kembali meraih wajah istrinya dan kembali mencium bibirnya penuh cinta. Pria itu melumat bibir Yun Xiaowen cukup lama hingga tak terhitung seberapa lama pria itu menikmati bibir istrinya.
Suasana malam yang kian terang benderang karena adanya sang rembulan membuat mereka betah berlama-lama di sana. Beberapa dayang dan pengawal Kaisar pun harus ekstra sabar menunggui mereka yang entah sampai kapan lagi mereka akan mengakhiri pertemuan panas mereka.
Malam itu.... Hanya mereka sendiri yang tahu perasaan satu sama lain.
Dan jika malam itu mereka bisa bersama, mungkin perasaanlah yang membawa mereka untuk saling berkumpul dan mengungkapkan rasa.
Hanya mereka yang tahu.
To be Continued
*********************************