****
"Kita harus segera meminta pertimbangan Yang Mulia Kaisar. Kau tahu semenjak beliau mengenal gadis iblis itu aku merasakan pemerintahan negeri kita semakin oleng saja. Kalau kita tidak mendesak beliau untuk segera kembali ke tujuan awal, aku takut kita akan kehilangan tujuan utama kita untuk memakmurkan rakyat dan membawa kerajaan kita pada pemerintahan yang abadi." ucap salah seorang menteri dengan menggebu-gebu pada menteri yang lainnya.
Mereka tengah berjalan pelan menuju ke aula istana guna menuntut Kaisar Qiang Wen agar kembali ke tujuan utamanya. Mereka nampak berdiskusi dengan sangat serius hingga kehadiran Yun Xiaowen yang berdiri tak jauh dari mereka sama sekali tak dihiraukan.
Gadis bersurai panjang dengan rambut setengah disanggul itu hanya terdiam mendengarkan keluh kesah para menteri yang mulai tidak menyukai pemerintahan suaminya. Yun Xiaowen memutar tubuhnya, sejenak otaknya berpikir panjang. Ia tidak bisa mendengar bawahan menggunjingkan atasannya, jika para menteri tidak puas maka akan terjadi kudeta. Meskipun Yun Xiaowen tahu kemampuan mereka tidak sebanding dengan suaminya, namun mereka bisa merencanakan sesuatu yang lebih mengerikan dibalik punggung suaminya.
Nona Yun Xiaowen menghela nafas, ia memejamkan matanya sesaat. Kenapa? Kenapa ia merasa terbebani dengan apa yang sudah para menteri katakan tentang suaminya?
Tunggu!
Suami? Yun Xiaowen menganggapnya suami? Apa yang sudah terjadi pada dirinya hingga gadis itu mengakui keberadaan Liuu Qiang Wen sebagai suaminya? Yun Xiaowen membuka matanya dan menggeleng cepat. Rasa memiliki dalam hatinya harus segera dibuang, pekerjaannya harus segera dilaksanakan.
Gadis berhanfu emas lantas melangkahkan kakinya menuju ke singgasana Liuu Qiang Wen. Dengan ditemani para dayang, ia melangkah bak berlari hingga para dayang pun terengah-engah karena tidak bisa mengejar langkah sang ratu.
Yun Xiaowen menghentikan langkahnya ketika telah sampai di singgasana sang suami, tatapannya fokus ke depan dan melihat suaminya tengah membawa laporan dari Panglima Xue. Melihat kedatangan Yun Xiaowen dengan mimik wajah penuh serius, Liuu Qiang Wen lantas menggulung kertas di tangannya dan menyerahkannya pada sang panglima.
"Kita bahas lagi nanti, sekarang pergilah!" ucap Liuu Qiang Wen dingin lalu beranjak bangun dari kursi singgasananya yang begitu mewah.
"Baik Yang Mulia." jawab Panglima Xue patuh seraya membungkukkan badan dan undur diri dari singgasana kaisar.
Tatapan Liuu Qiang Wen tertuju penuh pada Yun Xiaowen yang kini berada di hadapannya, pria bertubuh kekar itu mendekat lantas meraih tubuh Yun Xiaowen dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu."bisik Liuu Qiang Wen di samping telinga Yun Xiaowen. Suaranya yang dingin terdengar hingga tembus ke dalam jantung Yun Xiaowen namun gadis itu tak menjawab, ia hanya bereaksi dengan sentuhan Liuu Qiang Wen di punggungnya yang terasa amat erat dan menyentuh jiwanya. Jika kondisinya tidak seperti ini, mungkin saja Yun Xiaowen bisa menghanyutkan diri dalam pelukan sang kaisar meskipun sesaat.
"Ada apa? Kau terlihat terburu-buru?" tanya Liuu Qiang Wen lalu melepas pelukannya, menatap istrinya dan menyingkap anak rambut yang jatuh di kening istrinya.
"Aku ingin segera memulangkan Pangeran Hong bersama Panglima Ming." jawab Yun Xiaowen pelan.
"Aku rasa aku tak keberatan jika Pangeran Hong ada di sini namun jika kau mempertahankan Panglimamu itu... Ehm,, aku merasa tidak rela. Suruh saja dia pulang." ucap Liuu Qiang Wen tanpa basa-basi.
Yun Xiaowen menggeleng pelan lalu menunduk. Perasaannya campur aduk ketika otaknya kembali memutar setiap ucapan para menteri yang ia dengar tadi. Berat sekali dadanya untuk mengungkapkan namun ia harus segera mengatakannya.
"Kau menginginkan tujuh dunia besar bukan? Inilah saatnya." ucap Yun Xiaowen lirih.
Liuu Qiang Wen hanya terdiam, ucapan Yun Xiaowen memang tak enak didengar dan ia mau tak mau harus menghadapi kenyataan bahwa ia kembali disadarkan oleh tujuan utamanya.
"Bukankah tujuan utamamu adalah menakhlukkan dunia? Bukankah tujuanmu menyekapku adalah untuk meminta bantuanku? Inilah saatnya Yang Mulia Liuu Qiang Wen." ucap Yun Xiaowen sambil menatap mata Liuu Qiang Wen.
Pria berpakaian emas dengan sulaman benang merah itu menghela nafas, jujur ia tidak ingin membahas hal itu lagi apalagi saat ini perasaannya benar-benar tidak bisa ditolong apapun selain hanya bersama Yun Xiaowen.
"Aku akan memulangkan Pangeran Hong dan Panglima Ming, setidaknya jika Panglima Ming berada di samping Pangeran Hong aku bisa tenang menjalankan tugasku. Ini akan menjadi peperangan panjang dan melelahkan, setidaknya jika aku fokus aku bisa kembali dengan...... Selamat."
"Bagaimana jika kau memiliki putera dariku? Itu tugas lebih mulia dibanding perang satu abad sekalipun." sahut Liuu Qiang Wen sembari menaut jemari Yun Xiaowen.
"Sejak kapan kau belajar bernegoisasi Liuu Qiang Wen?"
"Itu karena aku tidak ingin kehilangan kamu. Mungkin dengan memiliki bayi, kau tidak akan kesepian lagi. Kau tak perlu memikirkan tujuanku, aku bisa mewujudkan impianku sendiri tanpa merepotkan dirimu. Aku hanya minta beri aku putera mahkota dan itu cukup memberiku alasan untuk berjuang dan bekerja lebih giat."
"Kau bukan pria mandul, kau bisa mendapatkannya dari selirmu."
"Kenapa? Kau tak menyukaiku?" tanya Liuu Qiang Wen menggebu seraya menggenggam erat tangan Yun Xiaowen.
Gadis itu memalingkan wajahnya, ia bahkan merasa kesulitan untuk menjelaskan apa yang berada dalam pemikirannya saat ini.
"Aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena tujuanku di sini untuk membantumu meraih impianmu bukan untuk menghasilkan bayi seperti katamu."
"Yun Xiaowen....."
"Jangan bahas soal bayi lagi di depanku, aku tidak menyukainya. Jika kau tak menurunkan surat tugasku, tak masalah. Besok aku akan segera mengerjakan apa yang sudah jadi bagianku." ucap Yun Xiaowen bersikeras lantas melepaskan tangan Liuu Qiang Wen dan beranjak pergi.
"Apa kau tuli? Aku tidak ingin kau pergi. Tidak ingin sama sekali." ucap Liuu Qiang Wen setengah berteriak dan membuat Yun Xiaowen menghentikan langkahnya sejenak.
"Ingat Yang Mulia, anda menikahi anak dari seorang ksatria iblis dan bukan anak manja dari manusia. Anda tak punya kuasa untuk menghentikan saya." jawab Yun Xiaowen sembari menoleh lalu kembali melangkahkan kaki.
PRANG.
Liuu Qiang Wen membanting guci yang berada tak jauh dari singgasananya. Ia sangat kesal, entah kenapa perasaan marahnya bisa memuncak seperti ini. Selama ini ia cukup dingin dalam menghadapi permasalahannya namun kali ini ia sama sekali tidak bisa mengontrolnya. Semua itu karena penolakan Yun Xiaowen untuk memiliki bayi darinya.
"Yun Xiaowen...." desis Liuu Qiang Wen seraya menggenggam jemarinya erat-erat, ia sangat kecewa.
***
"Kakak, kau benar-benar ingin mengusirku dari sini." ucap Pangeran Hong dengan sedih.
"Iya. Segera kemasi barangmu yang sempat tertunda setelah itu segeralah pergi. Panglima Ming akan menemanimu." ucap Yun Xiaowen sembari menatap sejenak ke arah panglimanya.
"Setelah pernikahan Kakak, aku sempat berharap Kakak tidak jadi mengusirku tapi pada akhirnya Kakak memang benar-benar mengusirku." dengus Pangeran Hong kesal sembari berpaling dan menatap beberapa dayang yang sibuk mengemasi barang-barangnya.
"Aku tidak perlu diantar siapapun, Panglima Ming cukup handal untuk aku andalkan." ucap Pangeran Hong dengan cemberut.
Yun Xiaowen menghela nafas, ia berjongkok lalu mengusap pipi lembut adiknya penuh saya.
"Aku hanya memilikimu Pangeran Hong, aku tidak punya siapa-siapa lagi di keluarga kita. Jagalah dirimu baik-baik, tetaplah hidup untuk bangsa kita Pangeran Hong."
"Kau yang harus tetap hidup Kakak, permata merah itu di dalam tubuhmu. Kau punya tanggungjawab atas semua nyawa kaum bangsa iblis." tandas Pangeran Hong.
Yun Xiaowen terdiam, ia hanya mengangguk berat sambil melempar senyum. Pangeran Hong menatap kakaknya lalu mengelus pipi Nona Yun.
"Aku pasti akan merindukanmu, Yun Xiaowen." ucap Pangeran Hong lirih.
"Aku juga."
"Kalau begitu aku akan berpamitan dengan Kakak ipar dahulu." ucap Pangeran Hong lalu beranjak pergi dari hadapan Yun Xiaowen.
Pangeran kecil itu lantas berlari menuju ke singgasana Kaisar dengan penuh semangat, Yun Xiaowen menghela nafas lantas berdiri dari jongkoknya.
"Sebenarnya apa tujuan anda Yang Mulia?" tanya Panglima Ming ingin tahu.
"Apa maksudmu Panglima Ming? Aku hanya ingin melihat adikku bahagia dan tumbuh layak."
"Jika hanya bahagia dan tumbuh layak bukankah di sini cukup Yang Mulia? Pangeran Hong sangat bahagia berada di sini, apa lagi yang kurang?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin dia pergi, itu saja." jawab Yun Xioawen tak bisa menjawab lagi.
"Katakan padaku Yang Mulia, anda sepertinya memiliki beban berat yang tidak bisa anda simpan sendiri." desak Panglima Ming menyipitkan matanya.
Yun Xiaowen menghela nafas, ia mengibaskan lengannya memberi perintah agar para dayang segera keluar. Tak lama kemudian para dayang berjalan keluar dari kediaman Pangeran Hong dan menyisakan Yun Xiaowen dengan Panglima Ming.
"Aku akan membantu Liuu Qiang Wen menakhlukkan Tujuh dunia besar." ucap Yun Xiaowen membuka percakapan serius mereka.
"Apa?? Apa anda sehat?"
"Semua itu akan aku tukar dengan kebahagiaan Pangeran Hong beserta kejayaan bangsa kita, Panglima Ming."
"Tapi itu akan membahayakan nyawa anda Yang Mulia. Anda tidak bisa menakhlukkannya seorang diri maka dari itu ijinkan aku untuk membantu anda."
"Ada Pangeran Hong yang jauh lebih membutuhkanmu Panglima Ming." sahut Yun Xiaowen pelan.
"Tapi ini menyangkut nyawa anda Yang Mulia, kerajaan Iblis tidak boleh kehilanga ratunya setelah kehilangan raja yang terdahulu." sanggah Panglima Ming bersikeras.
"Yakinlah, aku pasti baik-baik saja."
"Aku yakin anda tidak baik-baik saja Yang Mulia." sahut Panglima Ming menbuat Yun Xiaowen menatap tajam ke arah panglimanya.
"Jika anda melakukannya sendirian, itu artinya anda akan bunuh diri. Tujuh dunia besar bukanlah dunia yang main-main Yang Mulia, dunia itu mencakup segalanya. Kaisar Liuu tidak tahu definisi tujuh dunia besar yang sebenarnya, jika anda memberitahunya aku yakin ia akan mengurungkan niatnya. Yang Mulia Tujuh dunia besar itu adalah nyawa anda sendiri." ucap Panglima Ming dengan serius.
"Itulah kenapa aku memintamu membawa Pangeran Hong pergi dari sini karena aku tidak ingin ia sedih melihat kematianku."
"Yang Mulia, jaga ucapan anda. Kami bangsa iblis tidak ingin kehilangan pemimpin lagi, jika Yang Mulia berkenan kami bangsa iblis bersedia berjuang bersama anda apapun rintangannya." ucap Panglima Ming lantas bersimpuh di hadapan Yun Xiaowen dan membungkuk dalam-dalam seakan menyerahkan seluruh pengabdiannya pada sang ratu.
"Kau ingin membantuku bukan? Jaga Pangeran baik-baik."
"Tapi Yang Mulia...."
"Segera siapkan segala sesuatunya Panglima Ming. Aku ingin adikku selamat sampai tujuan." sahut Nona Yun tak memberi kesempatan panglimanya untuk berbicara.
Gadis itu lalu berjalan keluar dari kediaman Pangeran Hong, tak memberi waktu untuk Panglima Ming menyanggah ucapannya lagi. Di sana Panglima Ming hanya tertegun, ia bahkan enggan untuk pergi meninggalkan ratunya yang kini berada di tepian jurang kemusnahan.
Nona Yun menuntun langkah kakinya menuju ke halaman istana yang ditumbuhi pohon plum. Ia mendongak menatap langit dan menghirup udara dalam-dalam. Besok mungkin ia tidak akan menikmati suasana seperti ini, tidak bisa memperhatikan bagaimana kelopak bunga plum jatuh dan bagaimana ia menatap langit mulai berganti.
"Liuu Qiang Wen, aku akan segera mewujudkan keinginanmu. Jangan berharap setelah aku memulainya kau memintaku untuk berhenti."
To be Continued....
*********************************
Jangan lupa tekan tanda love yang tersedia di awal cerita ya sayank. Terima kasih.