29.Cinta Tertahan

1936 Kata
*** "Siapkan diri kalian." interuksi seseorang terdengar pelan namun mantap. Semua prajurit yang tengah berlatih di alun-alun istana mendadak menghentikan latihannya. Mereka menoleh ke arah asal suara hampir bersamaan. Dapat dilihat bagaimana reaksi mereka, ada yang menganga heran dan ada juga yang menatap aneh. Yun Xiaowen bisa memakhlumi tatapan mereka yang polos dan Yun Xiaowen bisa mengerti kenapa mereka bisa menatapnya seperti itu. "Apa ada yang aneh?" ucap Yun Xiaowen melontarkan sebuah pertanyaan pada mereka. Menyadari kelancangannya, para prajurit secara serempak berlutut dan membungkuk dengan tatapan tertuju ke tanah penuh rasa berdosa. "Tidak Yang Mulia, ampuni kami yang sudah lancang menatap anda." ujar salah satu dari mereka dengan nada penuh penyesalan. Yun Xiaowen terdiam, ia memilih tak menghiraukan segala ucapan permintaan maaf dari para prajurit kepadanya. Dengan langkah yang begitu anggun, Yun Xiaowen membuka tangannya dan secara ajaib sebuah senjata berupa pedang keluar dari sela-sela tangannya. Tatapannya yang tajam tertuju penuh pada sang panglima yang turut serta berada di alun-alun istana guna membimbing para prajurit berlatih. "Berlatihlah seperti biasa seolah aku tidak ada di sini, Prajurit." titah sang ratu tanpa sedikitpun melepaskan tatapan ke arah panglima tampan. "Baik Yang Mulia." jawab para prajurit serempak. Mereka lantas berdiri dan membungkuk hormat pada sang ratu. Sesuai interuksi, mereka kembalu berlatih seperti sedia kala dan menyisakan sang ratu yang terus mengawasi sang panglima tampan. " Anda seharusnya tidak menatap saya seperti itu." tukas Panglima Xue tidak nyaman seraya menatap ke sisi lain guna menghindari kontak mata dengan Yun Xiaowen. Gadis itu mengukir senyum samar, ia melirik ke pedang yang kini tengah ia genggam erat-erat. Sambil memainkannya, Yun Xiaowen mendekati sang panglima hingga menyisakan jarak beberapa meter saja. "Aku tahu kau sangat membenciku, Panglima Xue. Aku juga tahu kau sangat jijik jika bertemu denganku. Tapi demi kaisarmu, Kaisar Liuu Qiang Wen mari kita tepiskan perasaan aneh masing-masing." ucap Yun Xiaowen pelan membuat Panglima Xue menatap Yun dengan heran. "Apa maksud anda?" "Bukankah dari dulu kau dan kaisarmu menangkapku hanya untuk memanfaatkanku, iya kan? Lalu kenapa tidak sekarang saja kalian memanfaatkanku? Buang saja egomu yang membenciku dan aku akan melupakan semua perlakuan kasarmu padaku waktu itu. Kita lakukan saja apa-apa yang menurut kita saling menguntungkan." ucap Yun Xiaowen mengajak berunding. Panglima Xue masih terdiam, ia belum memberi jawaban hingga akhirnya Yun Xiaowen kembali menghela nafas dan berjalan mengitari tubuh gagah sang panglima dengan anggun. " Aku tak memiliki surat tugas dari kaisarmu tapi aku akan tetap melaksanakan apa yang jadi tugasku, Panglima Xue. Mulai hari ini aku juga memiliki hak atas prajurit jadi.... Bersiaplah karena aku yang akan mengambil alih kepemimpinan." ujar Yun Xiaowen lirih namun terdengar begitu tajam dan tegas. Panglima Xue terdiam, ia hanya melirik ke arah Yun Xiaowen dengan tatapan tak suka. Berbeda dengan panglima tampan, Yun Xiaowen hanya melempar senyum termanisnya lalu beranjak pergi. Meski tak suka, Panglima Xue harus menyesuaikan diri apalagi harus berjuang bersama kaum iblis seperti Yun Xiaowen. Panglima Xue menggeram, tangannya mengepal erat sambil menatap kepergian ratunya dengan kesal. Entah esok, bisakah ia berjuang dengan seorang iblis seperti Yun Xiowen? Sedangkan tak jauh dari tempat sang panglima, Kaisar Qiang Wen harus rela menjadi pengintip. Pria itu harus repot-repot mengintai keberadaan Yun Xiaowen dan apa saja yang sudah istrinya lakukan. Melelahkan bukan? Padahal sebagai kaisar ia bisa memerintahkan siapa saja untuk melakukan tugas remeh seperti itu tapi bagi sang kaisar ia tidak akan puas sebelum melakukannya sendirian. Pria berjubah emas itu mendengus kesal, ia memalingkan wajahnya kasar dengan wajah dilipat. Jelas terlihat dari wajahnya ia sangat kesal pada Yun Xiaowen. "Apa sih maunya? Aku beri tugas yang lebih mudah tapi ia menolak. Jadi seperti ini kelakuannya, di belakangku berani-beraninya tersenyum pada pria lain sedangkan padaku saja tidak. Dasar wanita genit!" dengus Kaisar Qiang Wen pada dirinya sendiri. Kedua pengawal yang berdiri di belakangnya hanya saling bertatapan dan sejenak kemudian mereka menahan senyum geli tanpa sepengetahuan sang kaisar. Mereka tak habis pikir kenapa kaisarnya bisa berbuat aneh seperti itu bahkan tidak biasanya kaisar mereka bertingkah demikian. Cinta benar-benar membuat manusia repot dan terlihat kekanak-kanakkan. Meskipun seorang penguasa sekalipun, ia akan terlihat seperti orang bodoh. **** Yun Xiaowen menghela nafas, ia menutup buku kuno yang baru saja ia baca. Matanya membulat ketika melihat sosok Kaisar Qiang Wen sudah duduk manis di depannya sambil bertopang dagu. Gadis itu terheran-heran pasalnya ia sendiri tidak tahu sejak kapan Liuu Qiang Wen datang dan duduk di hadapannya. Pria itu terus menatapnya dengan wajah ditekuk, jika Yun Xiaowen tidak ingat siapa pria itu mungkin tangan Yun Xiaowen sudah melayang guna mencubitnya karena rasa gemas yang berlebihan. Yun akui, Liuu Qiang Wen semakin hari semakin terlihat tampan saja. "Jangan memandangku seperti itu, aku justru takut kalau sepasang matamu jatuh tepat di depanku." singgung Yun Xiaowen tanpa menatap wajah cemberut Liuu Qiang Wen sambil membuka buku kuno lainnya. " Justru aku senang karena mataku bisa memata-mataimu sehingga kau tidak bisa leluasa genit di belakangku." tandas Liuu Qiang Wen dengan sedikit sadis. Tatapan Yun teralih kembali ke arah Liuu Qiang Wen yang tak kunjung menurunkan tangan dari dagunya. Meski terdengar aneh, Yun memilih tak bertanya maksud dan tujuan Liuu Qiang Wen menyindirnya seperti itu. "Apa kau sudah kehabisan stok racun di tubuhmu? Atau justru racun dalam tubuhmu berbalik menyerangmu?" balas Yun pura-pura acuh membuat Liuu Qiang Wen semakin gemas. Secara refleks sang kaisar meraih wajah Yun Xiaowen dan mencubitnya keras-keras, terjadi pergolakan antar keduanya. Dengan susah payah akhirnya Yun berhasil melepaskan wajahnya dari serangan cubitan Liuu Qiang Wen. "Aku tidak suka kamu menggoda Panglima Xue. Kenapa kamu harus tersenyum padanya padahal kamu sendiri tak pernah tersenyum padaku. Apa maumu? Kau ingin membuat panglimaku tertarik padamu?" sembur Liuu Qiang Wen marah. Yun Xiaowen terdiam, ia menatap suaminya dengan alis diangkat sebelah. Jika suaminya bisa berkata demikian itu berarti.... " Kamu menguntitku?" tebak Yun membuat wajah kaisar memerah padam. "Ti... Tidak. Aku hanya lewat dan...." "Jika kau merasa paling tampan kenapa kau takut tersaingi oleh panglimamu yang hanya bertangan satu? Aku tidak berwajah cantik jadi kenapa kau khawatir jika panglimamu akan jatuh cinta padaku? Berpikirlah rasional, kau adalah kaisar. Jangan berbuat memalukan." singgung Yun Xiaowen pedas lantas menutup buku kunonya dan beranjak bangun dari duduknya. Gadis itu bersiap-siap untuk pergi namun Liuu Qiang Wen segera menangkap tangannya. Mereka bertatapan cukup lama hingga akhirnya Liuu Qiang Wen membuka percakapan diantara mereka. "Jangan tersenyum pada orang lain seolah memberi harapan, meskipun kau tak menyukaiku setidaknya kau menghargai perasaanku. Aku tidak nyaman dengan apa yang kau lakukan jadi aku mohon jangan lakukan lagi." ucap Qiang Wen pelan dan terdengar begitu tulus dari dalam hati. Yun Xiaowen menatap Liuu Qiang Wen tanpa jemu, tak ada suara hanya tangan yang saling bertaut satu sama lain. Tak lama kemudian Yun Xiaowen meraih tangan Liuu Qiang awen dan melepasnya perlahan. " Aku ingat siapa diriku, Yang Mulia. Aku adalah istrimu dan selamanya tetap istrimu." jawab Yun Xiaowen tersirat membuat perasaan sang kaisar sedikit lega. " Kau tak perlu curiga padaku apalagi takut aku jatuh cinta pada panglimamu." cetus Yun Xiaowen asal. Sang kaisar menahan senyumnya, ia merasa malu karena sudah ketahuan cemburu pada sang panglima. Begitu pun dengan Yun Xiaowen, ia juga tersenyum melihat tingkah konyol suaminya. "Maaf aku harus segera melatih kekuatanku, jadi bolehkah aku pergi?" ucap Yun Xiaowen dengan manis. Liuu Qiang Wen berdiri dari duduknya, ia menatap istrinya sepenuh hati. Tanpa berniat menjawab, sang kaisar segera meraih tengkuk istrinya dan menariknya hingga wajah mereka saling menyatu. Bibir basah mereka saling bersentuhan cukup lama, melampiaskan perasaan masing-masing yang tertahan. "Apakah kau menyukaiku?" tanya Liuu Qiang Wen setengah berbisik seusai mencium Yun Xiaowen. " Aku tidak tahu." jawab Yun sedikit ragu. " Kalau kau tak menyukaiku kenapa kau diam saja ketika aku menciummu?" tanya Liuu Qiang Wen terus mendesak gadis di depannya. Yun Xiaowen menutup bibirnya rapat-rapat, ia melepas tangan Liuu Qiang Wen dan tertunduk namun sang kaisar menahan wajahnya. "Kenapa kau suka sekali berpura-pura di depanku Nona Yun? Apa susahnya kau mengutarakan perasaanmu? Akan senang sekali jika aku bisa melihat bagaimana perasaanmu padaku." "Perasaanku tidaklah istimewa lalu kenapa kau sangat ingin mengetahuinya? Perasaanku tidaklah penting. Tugas lebih penting dari apapun, dari segalanya. Mulai sekarang jangan pernah mengorek perasaanku lagi." "Jujurlah padaku." desak Kaisar Liuu bersikeras seraya menatap kedua bola mata Yun Xiaowen yang menyiratkan sebuah kebimbangan. Yun Xiaowen terdesak, ia mencoba berpaling dan tak menatap wajah Liuu Qiang Wen namun pria itu lagi-lagi mendekatkan wajahnya dan menciumi Yun Xiaowen penuh sayang. "Nona Yun...." "Jangan mendesakku Yang Mulia. Aku hanya ingin menjalankan tugasku, itu saja." " Tapi....." " Sebaiknya kau tak banyak padaku, Yang Mulia." jawab Yun Xiaowen memutus ucapan sang kaisar. Gadis itu melepas tangan sang kaisar, dengan buru-buru ia lantas keluar dari perpustakaan istana meninggalkan Liuu Qiang Wen seorang diri dengan perasaan berkecambuk. "Maafkan aku Liuu Qiang Wen, meskipun aku menyukaimu aku rasa kau tak perlu tahu perasaanku. Jika kau tahu, aku takut kau akan jadi lemah dan lupa akan semangat juangmu. Sekali lagi maaf jika aku belum bisa membalas perasaanmu dan menggantung dirimu." **** Panglima Xue terdiam, ia mengamati beberapa persenjataan di gudang senjata. Sejenak pikirannya kembali melayang akan ucapan Yun Xiaowen beberapa waktu lalu. Tawaran yang wanita itu tawarkan masih terngiang jelas di telinganya. Sebenarnya ia tidak bisa melupakan apapun yang bangsa iblis lakukan pada dirinya maupun keluarganya namun kesetiaannya pada Bumi Qiang dan kaisar Liuu Qiang Wen membuatnya harus berpikir dua kali. "Panglima, Yang Mulia selir ingin bertemu." ucap salah seorang prajurit yang datang menghampirinya dan memecah lamunan panjangnya. Sang panglima menoleh ke arah prajurit dengan tatapan heran. Ada apa hingga selir repot-repot menemuinya? Meskipun banyak pertanyaan, panglima hanya berdiri dan bersiap menyambut salah satu selir tertua kaisar Liuu Qiang Wen. " Suruh beliau menemuiku." perintahnya pada sang prajurit yang disusul dengan anggukan sang prajurit. Pria itu membungkuk lantas pergi meninggalkan sang panglima. Tak lama kemudian sosok Selir Sun muncul di ambang pintu. Tanpa mengurangi rasa hormat, Panglima Xue membungkuk menghormat kepadanya dengan patuh dan hormat. " Ada apa Yang Mulia? Kenapa anda harus repot datang kemari?" tanya Panglima dengan terheran-heran. Sang selir belum menjawab, ia duduk di kursi milik sang panglima lantas mencabut pena dan menuliskan sesuatu di kertas yang sudah tersedia. Matanya yang jeli segera meliriknya, dengan tatapan misterius ia menunjukkan tulisan tangannya pada sang panglima. "Dulu kau adalah sahabat masa kecil selir Hana bukan?" tulisnya membuat wajah merah sang panglima memerah. Sang selir tersenyum lalu kembali menulis sesuatu di bawah tulisan tersebut. " Kau mencintainya bukan meskipun ia sama sekali tidak membalasmu? Kasihan sekali dirimu. Lalu apakah kau tak punya niat untuk membalas penderitaan kekasihmu selama ini?" tulis Selir Sun lalu ditunjukkan ke arah sang panglima. " Itu sudah masa lalu Yang Mulia. Saya sudah ikhlas jika Selir Hana lebih memilih Kaisar daripada saya." jawab Panglima Xue dengan perasaan tidak nyaman karena masa lalunya terus dikulik sang selir. " Kaisar tidak mencintainya, ia hanya dijadikan mainan. Apakah kau tidak kasihan?" tulisnya lagi " Apakah Yang Mulia menyuruh saya untuk memberontak?" tukas Panglima Xue tegas membuat sang selir kembali tersenyum lebar. " Aku tidak menyuruhmu memberontak, aku hanya menasehatimu agar kau menumpas si akar permasalahan. Kau harus melenyapkan Yun Xioawen secepatnya karena lambat laun dia akan menggeser posisimu sebagai panglima. Dia akan menyebabkanmu menderita, Panglima." tulis Selir Sun panjang lebar. Panglima Xue terdiam, ia mencerna segala ucapan Selir Sun dengan hati-hati. Jika ia pikir-pikir, apa yang diucapkan wanita itu memang benar adanya. Saat ini saja ia tengah mencampuri urusannya dalam memimpin prajurit lalu besoknya apa lagi? "Sejak awal aku melihatmu sudah tidak menyukainya, lalu sampai kapan kau akan menahan perasaan tidak sukamu padanya? Lenyapkan saja dia selagi ada waktu. Jika kau melakukannya, bukan kau saja yang bahagia namun aku juga. Lakukanlah, karena ini waktu yang tepat untuk melakukannya." To be Continued. ***********************************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN