****
Menghela nafas, Nona Yun menatap antusias pada Panglima Xue yang tengah berlatih pedang hanya dengan satu tangannya. Meskipun ia berlatih seorang diri, Nona Yun Xiaowen sengaja mengamatinya di atas pohon dan tak memecah konsentrasinya. Di balik tubuh gagahnya, Panglima Xue tetap saja hanyalah manusia yang tidak bisa menyeimbangkan diri karena hanya memiliki satu tangan.
Beberapa kali pria tampan itu menjatuhkan pedangnya karena merasa kelelahan. Memiliki satu tangan memang tidak ia harapkan tapi keteledorannya mengganggu wanita kaisar memang patut mendapat hukuman. Panglima Xue tidak keberatan kehilangan satu anggota tubuhnya asal sang kaisarlah yang mengambilnya.
Jenuh terus mengamati tingkah polah sang panglima, Yun Xiaowen melompat turun dari atas pohon dan berdiri tepat di hadapan Panglima Xue. Tingkat kewaspadaannya yang tinggi membuat Panglima dengan cepat dan sigap mengarahkan pedang tepat di depan leher Nona Yun. Keduanya terkesiap, panglima Xue tak menyangka jika Yun Xiaowen datang secara tiba-tiba dan Yun sendiri kaget karena pria itu tiba-tiba mengarahkan pedang ke arahnya sedemikian dekat.
" Nona Yun...." desis Panglima Xue menguasai dirinya lantas menurunkan arah pedangnya.
Yun Xiaowen menghela nafas kembali, ia mengedipkan kedua matanya beberapa kali lantas memulai percakapan diantara mereka.
"Apa kau kaget dengan kehadiranku, Panglima Xue? Seperti tawaranku kemarin, aku tidak ingin mengusikmu atau mengambil-alih posisimu. Aku hanya ingin membantu apa yang diinginkan suamiku, selebihnya itu.... Aku hanya ingin bebas jadi...." jeda sesaat, Nona Yun menatap tajam ke arah Panglima Xue." Mari kita saling bekerjasama." terusnya dengan serius.
Tak ada jawaban dari bibir sang panglima tampan. Pria itu terlihat ragu dengan apa yang akan ia katakan setelahnya. Melirik mimik wajah sang panglima, Yun Xiaowen tahu jika panglima suaminya itu kini tengah dirundung rasa bimbang.
Tak sabar dengan jawaban Panglima Xue, Nona Yun Xioawen membalikkan tangan dan membukanya. Sebuah pedang tiba-tiba muncul di telapak tangannya, dengan sigap ia membuka sarung pedang dan mulai menyerang Panglima Xue bertubi-tubi.
Panglima Xue terlihat kaget, dengan cepat ia menghindar dari serangan Nona Yun yang begitu mendadak. Ayunan pedang Nona Yun siap menebas leher sang panglima, pria itu segera menangkis pedang Nona Yun dan membelokkannya ke sembarang arah.
Tak mau kalah, Nona Yun menghentakkan tanah dengan kekuatan tangannya hingga terdengar suara dentuman dari dalam tanah. Panglima Xue mundur beberapa langkah, menghindar ketika tanah mulai merekah dan menciptkan jarak di antara mereka. Tersenyum, Nona Yun berusaha memancing emosi Panglima Xue.
" Hanya seperti ini kah kemampuanmu Panglima Xue?" sindir Nona Yun seraya menurunkan pedangnya dan tersenyum tipis.
Panglima menyipitkan matanya, nafasnya naik turun sehabis meladeni pertarungan dengan sang wanita kaisar. Nona Yun memiliki kekuatan yang patut diperhitungkan, tak salah jika Kaisar Liuu Qiang Wen rela memburunya guna melancarkan ambisi besarnya.
" Kau tak pantas disebut sebagai panglima jika hanya segini kemampuanmu, Panglima Xue. Lihatlah diluar sana banyak musuh yang jauh lebih hebat darimu, jika kau tak mengembangkan kemampuanmu aku yakin sebelum pertarungan selesai Kaisar Liuu Qiang akan menahan malu karena ketidakbecusan panglimanya." cebik Nona Yun asal.
Panglima Xue yang mendengarnya mendadak beremosi, ia lalu mengangkat pedang dan kembali menyerang Nona Yun. Wanita itu menanggapinya dengan santai, dengan sekali kibas angin menghantam tubuh Panglima Xue hingga ia mundur beberapa langkah dan akhirnya terjerembab ke tanah.
" Emosi akan melahap kemarahanmu Panglima Xue. Perang bukan soal kalah atau menang tapi perang adalah bagaimana dirimu memainkan peran. Kau seorang panglima tapi jika kau tak bisa mengambil kesempatan maka semua itu akan percuma saja." peringat Nona Yun sembari menatap Panglima Xue dalam-dalam.
" Katakan padaku, apa yang kau inginkan Nona Yun." desis Panglima Xue penasaran.
"Aku hanya menginginkan kebebasan Panglima, jadi bisakah kau membantuku?" ucap Nona Yun balik bertanya.
Panglima Xue terdiam, ia memilih tak menjawab seraya menata nafasnya yang masih terengah-engah tak karuan. Nona Yun kembali menebar senyumnya dengan penuh misteri.
" Mulai sekarang kita akan berlatih perang bersama, menyusun strategi bersama hingga akhirnya waktu berperang sudah ditentukan. Mari bekerjasama Panglima, simpan sebentar rasa bencimu padaku dan pada akhirnya kita akan sampai pada tujuan kita masing-masing."
****
Senja itu sang kaisar menatap langit dengan ditemani panglima Xue. Tak ada percakapan, hanya desir angin yang mengudara hingga keduanya larut dengan pemikiran masing-masing. Kaisar Liuu Qiang Wen memutar kepalanya, menoleh ke arah panglima Xue yang selalu setia berdiri di belakangnya dengan tatapan sedikit enggan.
" Bagaimana latihan hari ini?" tanya Kaisar lirih.
"Berjalan bagus Yang Mulia, Ratu juga ikut serta dalam membimbing prajurit berlatih pedang." jawab Panglima Xue seraya tertunduk patuh.
" Oh ya?" ucap Kaisar Liuu singkat seraya kembali menatap langit yang memerah.
" Yang Mulia, Sang Ratu memang sepertinya ingin berperang dan berada di pihak kita. Jika kita berlatih sedemikian keras, saya yakin tujuh dunia besar yang anda inginkan akan segera jatuh ke tangan anda." ucap Panglima Xue penuh keyakinan.
Kaisar Liuu masih terdiam, hanya helaan nafas panjang yang mampu ia hembuskan. Perlahan ia menyembunyikan kedua tangannya dibalik punggung nan gagah. Tak ada obrolan, ia hanya terus menatap langit dengan tatapan pudar dan sedih.
" Sebenarnya aku tidak ingin ia berperang, Panglima Xue." gumam Kaisar Liuu lirih tanpa menatap Panglima Xue yang kini terheran-heran akibat ucapan sang kaisar.
" Aku hanya ingin ia tinggal di sampingku, menjadi ratuku dan merawat putera-puteraku." imbuhnya lagi terdengar begitu sendu.
Terdiam, Panglima Xue mencoba mencerna arah pembicaraan sang kaisar. Sedikit banyak ia mulai menduga jika kaisarnya yang selalu ia junjung tinggi karena keteguhannya kini mulai kehilangan pondasi tujuan utamanya.
" Aneh, ini seperti bukan diriku. Aku tidak pernah selemah ini terhadap wanita namun melihat dirinya sejak semula ia datang, jiwaku yang keras perlahan luruh dan aku mulai kehilangan sosok hitam dalam diriku." ucap Kaisar Liuu Qiang Wen berusaha mengurai kebimbangan dalam hatinya.
Tatapan sedih sang kaisar kini beralih ke arah Panglima Xue yang terus menautkan alisnya karena ia sendiri bingung dengan maksud perkataan Yang Mulia Kaisar.
" Bagaimana jika diriku berubah , Panglima Xue? Bagaimana kalau aku tidak bisa mewujudkan ambisi besarku? Bagaimana jika terdapat pemberontakan besar yang ingin menggulingkanku karena aku dianggap tidak becus dan lemah hanya karena seorang wanita. Menurutmu akankah aku seperti itu?" tanya Kaisar Liuu terdengar begitu gusar.
"Yang Mulia ada kalanya seorang penjahat kembali ke jalan yang benar, ada juga seorang yang keras menemukan tujuan hidupnya dan mulai melembut seiring waktu. Yang Mulia apapun prinsip anda, selama itu tidak merugikan siapapun tidak masalah Yang Mulia." jawab Panglima Xue dengan penuh keyakinan.
Sekali lagi Kaisar Liuu Qiang Wen menghela nafas, meraba kemungkinan yang akan terjadi kelak jika ia benar-benar berubah dan memilih untuk menanggalkan tujuan utamanya namun...
"Tapi Yang Mulia, seorang kaisar dihargai karena ucapannya dan tindakannya. Jika saya boleh mengusulkan, sebaiknya anda tetap melaksanakan tujuan utama anda. Saya tahu, di dunia ini tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan sebuah perasaan cinta namun anda adalah kaisar saat ini. Sebaiknya anda bisa membedakan mana cinta mana tujuan anda Yang Mulia." saran Panglima Xue seraya membungkukkan badan ke arah sang kaisar.
"Aku akan tetap meraih tujuan utamaku, Panglima Xue. Aku tahu perasaan tak nyaman ini memang membuatku gila tapi ambisi tetap saja ambisi jadi...." jeda sesaat sang kaisar membalikkan badan dan menatap panglimanya tak kalah serius." Aku akan ikut berperang di samping Nona Yun. Aku akan menjadi rekan sekaligus suaminya. Aku tidak bisa membiarkan ia menderita seorang diri hanya untuk mewujudkan keinginanku. Dia berjuang untukku dan sudah sepantasnya aku juga berjuang untuknya."
****
Malam mulai membayang ketika semua orang mulai beristirahat berbeda dengan Yun Xiaowen, gadis keturunan iblis itu terus sibuk melatih kekuatannya. Ia mulai melupakan dirinya sendiri, melupakan waktu istirahatnya dan melupakan segalanya.
Menghentakkan tangannya, air di kolam ikan pecah seketika dan membelah menjadi dua. Percikan airnya membumbung tinggi, dengan satu tangannya Yun Xiaowen menahan air itu tetap di angkasa. Gerakan tangannya yang gemulai menciptakan keseimbangan yang maha hebat di udara. Dengan seijinnya, air yang ia kunci di udara bisa ia pindahkan dengan cepat dan....
Byuurr.
Air itu kembali jatuh ke kolam dengan suara sedikit nyaring dan berisik. Sejenak Yun Xiaowen menatap langit malam, tangannya yang kosong ia buka perlahan. Seperti sihir angin yang tenang mendadak datang dan berkumpul di atas telapak tangannya, bergumul hebat bak angin topan. Sekali hempas, angin itu mampu meniup air di kolam hingga terpercik kemana-mana.
Tanpa sedikitpun disadari oleh Nona Yun Xiaowen, Sang panglima menatapnya dari kejauhan. Pria tampan itu tidak pernah melepaskan pandangannya dari sosok Yun Xiaowen yang kini tengah menguji kemampuan dirinya. Rasa kagum yang tanpa ia sadari menyelinap dalam hatinya, menuntun langkahnya untuk mendekati Yun Xiaowen.
Sedangkan Yun Xiaowen yang kini gantian berlatih pedang tak menyadari jika Panglima Xue datang menghampirinya. Tubuhnya yang meliuk-liuk sesuai gerakan pedang terhenti sejenak saat mata pedangnya hampir mengenai leher sang panglima.
Yun Xioawen mengedipkan kedua bola matanya ketika dengan sigap Panglima Xue menangkap ujung mata pedang yang hampir melubangi lehernya dengan kedua jemarinya. Mereka saling berpandangan cukup lama hingga akhirnya Yun Xiaowen tersadar dan menurunkan pedangnya dengan segera.
" Anda belum tidur Yang Mulia Ratu?" tanya Panglima Xue pelan berusaha meruntuhkan kekakuan diantara mereka.
Melengos, Yun Xiaowen membalikkan badan dan menatap air kolam yang masih beriak karena perbuatannya tadi.
" Aku masih ingin di sini. Apakah aku mengganggu keadaan sekitar?" Yun Xiaowen balik bertanya sembari melirik ke arah Panglima Xue yang berdiri di belakangnya sedikit jauh.
" Sama sekali tidak Yang Mulia, hanya karena ini sudah larut malam apakah anda tidak ingin beristirahat?" tanya Panglima Xue dengan nada terheran-heran.
Yun Xioawen belum menjawab, ia menyarungkan pedangnya dan menyimpannya kembali di dalam telapak tangannya. Wanita itu kembali menatap air kolam dengan tatapan dingin.
" Langit sudah menakdirkan bahwa seorang iblis bernama Yun Xiaowen akan memiliki kehidupan yang panjang. Tidak bahagia tapi membahagiakan orang lain. Tidak akan sakit tapi akan menyakiti kehidupan yang lain. Panglima Xue, aku di sini bukan untuk tidur atau menikmati segala keuntungan. Aku di sini karena aku sudah diberi tugas semula oleh tuanmu jadi tak ada alasan bagiku untuk menyeleweng dari tugasku." tegas Nona Yun sambil membalikkan badan lalu menghujam mata sang panglima.
"Aku akan malu sebagai bangsa iblis jika tidak bisa menepati janjiku pada Tuanmu. Jadi jika kau berpikir kalau aku akan berpangku tangan di istana tuanmu maka tepis jauh-jauh pikiranmu itu. Aku tidak akan lama di sini, setelah peperangan selesai maka aku akan......" Nona Yun tak melanjutkan ucapannya. Ia tertunduk dalam, wajahnya terlihat semakin muram.
Kesedihan yang tergurat di wajahnya segera ia buang, dengan cepat ia menatap kembali mata elang sang panglima yang sedari tadi menunggu kelanjutan dari ucapannya yang terpotong.
"Kau tidak sibukkan? Kalau begitu bisakah berlatih denganku? Perjuangan kita akan panjang, banyak latihan aku rasa bisa sangat membantu kelak. Jadi bisakah kita mulai sekarang, Panglima."
*********×*****************