BAB 11

1205 Kata
"Maaf aku telat jenguk kamu." Kanza masih memandang tangan Giyan yang menggenggam erat tangan Haira.'Siapa dia?Kok Giyan kayak sayang banget ke dia?' Haira juga tahu jika Kanza memandang tangannya.'Nih!!Ini pacarnya Giyan!' "Iya nggak apa apa Giyan,tapi dia....."Kanza menatap Haira.Jelas menanyakan siapa Haira sebenarnya. "Ini Haira,pacar aku." DAMN hati Kanza langsung hancur berkeping keping apalagi saat Haira dan Giyan memandang saling cinta. "Oh iya."Nada Kanza lalu lemah dan datar. Kanza juga melihat kalung Giyan dan Haira yang bermata cincin yang sama.Kanza tahu jika Haira pasti amat spesial untuk Giyan. "Kanza,kamu istirahat aja ya.Udah malem,aku mau antar Haira pulang juga." "Eh,udah mau pulang?" "Iya dan satu lagi,aku minta kita nggak akrab lagi.Aku udah punya Haira,aku juga nggak mau ada salah paham.Kamu ngerti kan?" Penjelasan Giyan makin membuat Kanza down.Baru saja ia berharap ingin memulai kembali dengan Giyan tapi semuanya hancur dalam sekejap. Haira hanya diam tapi ia puas,ini memang yang terbaik untuk semuanya. Sepulangnya Giyan,Kanza menangis sambil memeluk ibunya dengan erat. Sedangkan Haira dan Giyan bergandengan dengan bahagia. "Udah puas kamu?"Giyan menyenggol Haira. "Iya,makasih ya." Giyan membukakan pintu mobil untuk Haira,setelah Haira masuk,Giyan juga bergegas masuk. Haira dan Giyan masih di parkiran basement rumah sakit,Giyan sudah menghidupkan mobilnya. Namun,ia masih enggan pergi.Giyan memegang tangan Haira. Haira memandang balik Giyan.Mata Haira memikat mata Giyan seperti magnet. Giyan memegang lagi wajah Haira dengan lembut dan penuh perasaan. Semakin lama pandangan serius itu makin intens,Giyan semakin mendekatkan wajahnya pada Haira. Haira berdiam dan menutup matanya. Giyan sudah mencapai target,sambil ikut memejamkan mata.Giyan mendaratkan bibirnya pada Haira. Giyan menyesap bibir kekasihnya itu penuh kerinduan.Sedikit demi sedikit masuk dan menyesap lebih dalam. Sekujur tubuh Hairapun berdesir hebat.Kali ini Haira ikut ambil andil dan mulai belajar mengikuti permainan bibir dan lidah yang basah ini. Semakin lama baik ritme maupun gerakan tak beraturan bibir keduanya semakin menjadi. Giyan lebih dominan dan menguasai ciuman ini hingga Haira kewalahan. Setelah beberapa menit,Giyan melepas bibir Haira dan membuka matanya dengan tatapan sendu. Haira juga ikut membuka mata dengan tatapan tersipu malu. "Haira,i love you." "Love you too Giyan." "Cup."Giyan mengecup kembali bibir Haira lalu dahi Haira. Setelahnya,Giyan mengantar Haira kerumah dengan selamat. **** Giyan lanjut berlatih untuk turnamennya beberapa hari lagi.Ia ingin menang dan membuat Haira bangga tentunya. Tapi saat pulang kerumah ia kaget saat mendapat kabar jika kakeknya sudah masuk rumah sakit. Giyan bergegas kerumah sakit,disana orang tuanya sudah menunggu,yang lebih mengejutkan orang tua Haira juga Haira sudah berada disana juga. Semuanya berkumpul di ruangan kakek Giyan. Kakek Giyan yang sudah di infus dan memakai baju pasien senang cucunya datang. "Giyan,sini nak." "Kakek."Giyan lekas menghampiri kakeknya. Semua wajah kelihatan khawatir pada kakek Giyan. "Karena semua sudah berkumpul,tolong dengar baik baik." Semua menyimak dengan baik apa yang akan dikatakan oleh kakek Giyan dengan kondisinya yang sudah lemah. "Kakek rasanya udah nggak bakal lama lagi hidup didunia ini.Jadi kakek ingin permintaan kakek yang terakhir kali di percepat.Kakek ingin melihat Giyan dan Haira menikah." Semua saling melihat satu sama lain,Giyan dan Haira juga berpandangan. Sejujurnya Haira masih takut karena ia tidak mau sekolah sampai tahu dan ia dikeluarkan. Orang tua Haira merangkul Haira dan menatap pada Haira bersamaan. "Haira,gimana?"Ayah Haira memandang Haira penuh harap. "Tapi,aku takut." Jawaban Haira membuat semua mata tertuju padanya. "Takut kenapa Haira?Om sama tante bakalan sayangin kamu kayak anak sendiri.Soal materi kamu nggak perlu sama sekali khawatir."Ayah Giyan mulai buka suara. Haira menatap sekelilingnya."Bukan itu."Haira masih menimbang nimbang bicara lagi. "Terus kenapa sayang?"Ibu Giyan juga ikut penasaran sekarang. Sambil menyilangkan jari jarinya.Haira memandang penuh rasa malu dan menjawab."Haira,takut hamil." Seketika seisi ruangan kegerahan dan tidak nyaman saling memandang.Bahkan batuk palsu mulai keluar.Apalagi Giyan,ia nampak gelisah dan serba salah. "Soal itu,emmm gini aja.Haira tetap tinggal sama orang tuanya sampai lulus SMA ya.Ntar kalau udah lulus baru kalian tinggal serumah.Gimana?"Usul Ayah Giyan. "Nggak dong,masa aku haru pisah sama istri aku."Giyan tanpa malu menolak keras. Semuanya makin gerah dan gelagapan. "Tapi kalian itu masih ABG,masih panas panasnya,ntar kalian malah bablas dan Haira..bisa bunting Giyan."Ibu Haira angkat bicara sekarang. Sang kakek malah tertawa karena perdebatan ini."Hahahahhahaha.Belum juga nikah kalian udah rusuh.Biarin aja gimana maunya mereka.Giyan udah jadi suami berarti Haira sudah jadi tanggung jawab dia sepenuhnya." "Bukan gitu pa,anak anak ini kan masih lagi membaranya pa.Ntar malah kebablasan."Ayah Giyan sekarang berdebat dengan ayahnya. "Biarin aja kalian punya cucu,gitu aja kok repot.Hahahhaha."Di tengah kondisinya yang sudah memburuk,kakek Giyan masih sempat saja bercanda. "Gini aja,Giyan sama Haira bisa sama sama satu rumah tapi di kamar terpisah.Tinggalnya juga masih sama orang tua.Mau dirumah Giyan atau dirumahnya Haira,mereka pisah kamar sampai lulus sekolah.Jadi mereka tetap bisa sama sama kan?"Usulan ibu Haira menjadi lampu terang jawaban untuk masalah ini. "SETUJU."Sahut serta merta semua yang ada disana. Giyan memandang calon isterinya,'Haira,aku janji bakalan bahagia'in kamu.' Haira juga menatap malu pada Giyan.'Gimana ya nanti?Apa kalau ganti baju juga udah boleh lihat ya?Aduhh,aku maluuu.'Haira malah sudah lebih jauh memandang tentang pernikahan. ***** "Kok Haira nggak masuk Sarah?" "Eh,itu.Dia ada urusan keluarga kayaknya." "Hmmm iya,Giyan juga kayaknya nggak ada.Sekolah jadi sepi nggak ada mereka." Sarah menjawab dengan panik,ia sudah diberi tahu Haira jika hari ini mendadak ia harus menikah dengan Giyan. Haira sudah menceritakan semuanya pada Sarah tentang ia dan Giyan juga wasiat kakek mereka. Sarah ikut senang namun tidak bisa hadir karena harus sekolah.'Semoga kamu bahagia selamanya ya Haira.'Sarah tersenyum sambil melanjutkan pelajaran. "Saya terima nikah dan kawinnya Haira binti Haryandi dengan mas kawin seperangkat alat sholad dan uang tunai 200 juta di bayarrr.Tunai!." "SAAAAAHHHHHHHH." Haira dan Giyan duduk di hadapan penghulu dengan setelan kebaya.Giyan sudah selesai melantunkan ijab qabulnya. Baik saksi dan tamu keluarga dekat sudah menyatakan SAH untuk pernikahan keduanya. Semuanya amat meriah dan penuh suka cita walau amat dadakan. Kakek Giyan yang duduk di atas kursi roda sambil menyaksikan juga turut bahagia. Haira mencium tangan suaminya dan Giyan mengecup dahi dari Haira yang sudah SAH menjadi isterinya. Tapi Giyan tidak bisa berlama lama,setelah resepsi ia harus latihan lagi untuk turnamen yang akan dilakukan beberapa hari lagi. "Haira,aku pergi dulu ya sayang."Giyan berpamitan pas isterinya yang masih belum terhapus riasannya di ambang pintu rumah Haira. "Ihhh jangan panggil sayang,malu sama mama papa."Haira bicara setengah berbisik. Giyan lalu tersenyum."Ya nggak apa apalah,kan kamu isteri aku.Walaupun belum bisa aku unboxing sih." "Skak."Haira mencubit perut Giyan. "Aww,sakit tahu." "Sakit kan!Makanya jangan aneh aneh." Giyan hanya tersenyum lagi saat isterinya naik pitam karena kejahilannya. Tapi ia bahagia,sekarang ia sudah memiliki Haira sebagai isternya dan menunggunya dirumah walau belum boleh sekamar. "Haira."Ibu Haira mendekati Haira setelah Giyan pergi. "Eh mama." "Nak,kamu sekarang udah jadi isteri.Mama harap kamu bisa jadi istri dan ibu yang baik buat anak sama suami kamu kedepannya ya." Berlinang air mata Haira karena kembali terharu.Haira lalu memeluk ibunya. "Mama.Haira tetap anak mama kan?" "Pasti dong sayang,Haira tetap anak kesayangan mama sama papa." Haira tetaplah gadis kecil bagi kedua orang tuanya sekalipun ia sudah menikah.. Orang tua Giyan juga melihat dari jauh kedekatan Haira dan ibunya. "Ma,kita jaga Haira baik baik ya,sekarang dia udah jadi menantu kita." "Iya pa,mama sayang kok sama Haira.Dia memang gadis yang paling cocok buat Giyan." Pernikahan Haira dan Giyan sudah terlaksana dengan lancar,sesuai aturan keduanya akan bergiliran tinggal bersama di rumah orang tua dengan kamar terpisah.Seminggu dirumah Haira,lalu seminggu kemudian giliran dirumah Giyan. Mengingat keduanya masih berstatus pelajar tidak ada bulan madu apalagi malam pertama tapi ikatan mereka sudah sah sebagai suami isteri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN