"Dia temanan sama cowok!APA WAJAR!Minta putus lagiii!!!Dasar cewek!"Giyan ikut kesal,ia menyendiri di atas batu besar sambil menghadap laut.
Tapi ia juga merenung.'Tapi Haira juga marah,aku juga masih temanan dan bahkan cuekin dia tadi gara gara sibuk sama Kanza.Pasti Haira juga sakit hati.Kenapa aku begok juga sih!Dia yang cuma temanan sama cowok aja aku marah apalagi aku yang masih peduli ke mantan.Mana Haira udah minta putus.Gimana coba aku mau bujuk dia.'
Akhirnya Giyan sadar akan kesalahannya,ia tahu sudah egois pada Haira.Tapi sedikitpun tidak ada lagi rasa cinta Giyan pada Kanza.
Ia benar benar hanya peduli sebagai teman.
Namun perhatian Giyan yang tampan ini tentu disalah artikan Kanza yang saat ini masih terbaring dirumah sakit.
"Kenapa senyum senyum Kanza?"
"Eh mama.Nggak kok.Cuma lagi lihatin foto aku sama Giyan dulu."
Kanza berbaring sambil tersenyum menatap layar ponselnya.Sebenarnya Kanza berharap ia bisa kembali bersama Giyan lagi.
Apalagi melihat Giyan yang semakin tampan dan jelas jelas dari keluarga berada.Kanza merasakan ada masa depannya yang terjamin disana.
****
Giyan kembali ke bus setelah selesai merenung,ia berniat minta maaf pada Haira setelahnya.
Tapi Giyan harus kecewa berat.
"Maaf Giyan,Haira ikut pulang sama Elang.Dia nggak ikut naik bus."Jawaban Sarah tentang keberadaan Haira membuat Giyan ciut dan kecewa.
Giyan meremas rambutnya dan menjatuhkan tangannya dengan bebas.
Sedangkan Karin sedang mengigit kuku jari jemarinya sambil terus tersenyum membayangkan Elang.
Dan Haira,Haira diperjalanan pulang bersama Elang.Elang membawa mobil dan Haira duduk disebelahnya.
Hanya mereka berdua yang ada di mobil karena teman teman Elang pulang dengan mobil pribadi masing masing.
Sesekali Elang menatap Haira lalu melihat kedepan lagi menatap jalan.
"Haira,kamu masih kesal?"
"Iya,masih dong.Kesel banget!Baru juga jadian udah ada aja tingkahnya Giyan!"
"Hmm,sekarang kan kamu udah jomblo,udah putus kan?"
"Iya sih."Haira lalu terdengar sedih.
Elang memegang kepala Haira dan mengasihi Haira.Baginya,Haira sudah seperti adiknya sendiri.
"Haira,jangan mikir pendek dulu.Kalau dia memang benar benar sayang ke kamu pasti dia berubah kok."
"Berubah apaan?Jadi ultramen?Apa powerangers??"
"Hahahahahahha."Elang tertawa terbahak bahak mendengar perkataan Haira.
"Ketawa lagi,eh iya ada teman sekelas aku tuh yang suka sama kamu."
"Eh?Teman kamu suka sama aku?"
"Iya,namanya Karin.Dia sama aku nggak akur sih disekolah.Tapi aku juga nggak ada maksud apa apa kok,cuma biar kamu tahu aja.Aku juga nggak comblangin kamu ke dia.Takutnya kamu malah kena virus dari dia nanti."
"Virus?Dia penyakitan?"
"Iya,penyakit resek."
"Nggak ah,aku belum ada niatan pacaran."Elang dengan tegas mengatakan penolakannya.
"Iya,nggak usah pacaran.Buat mumet aja."
Elang hanya tersenyum,ia dan Haira sepanjang jalan berbincang hal lain agar Haira tidak kesal lagi.
Haira juga belum ada niatan untuk memikirkan hubungannya dengan Giyan selanjutnya.
*****
"Tante,ada Haira nggak?"
"Iya,ada kok."
Giyan benar benar gelisah,malam harinya ia lekas kerumah Haira untuk bertemu dan minta maaf.
"Masuk aja kekamar Haira ya Giyan, dia lagi siap siap,tante mau keluar sama Haira.Mau jemput papa Haira sekalian makan malam,kamu ikutan ya."
"Iya tante,biar pakai mobil Giyan aja."
"Oke,tante tunggu.Jangan lama lama ya."
"Siap tante."
Giyan bergegas menaiki anak tangga dengan tergesa menuju kekamar Haira di lantai dua.
"Tok..Tok..Tok."
"Masuk aja ma,Haira udah mau selesai kok."
Giyan masuk kekamar Haira,Haira yang sedang berkaca melihat pantulan Giyan yang masuk kekamarnya.
Haira masih memandangi Giyan dari cerminnya.
Giyan memberanikan diri mendekat melangkah dan sekarang tepat berada di belakang Haira.
Haira dan Giyan saling berpandangan lewat bayangan di cermin.
Giyan mengalungkan tangannya di pinggang Haira.
Haira tentu tercekat dengan tindakan itu.
"Haira,maaf ya.Aku udah salah kekamu.Aku nggak ngerti dan nggak jaga perasaan kamu.Aku nggak mau putus.Aku cinta banget sama kamu.Aku bakalan lakuin apapun buat kamu."
Haira tersentuh dengan kesungguhan Giyan.Namun ia juga masih jengkel dengan perbuatan Giyan.
"Slash."Haira melepas diri dari pelukan Giyan."Nggak,nggak usah.Kamu sana aja ketemu Kanza!"
"Nggak Haira,sumpah.Aku mau kamu,cuma kamu yang ada di hati aku.Aku nggak akan akrab sama dia lagi.Aku nggak mau kehilangan kamu."Giyan memegang kedua tangan Haira dengan mimik panik dan cemas.
Haira berdiam sejenak."Iya,tapi jangan kamu ulangin.Jadi istri kamu nanti,kalau masih aja kamu gini bisa bunuh diri aku!Kamu mau aku jadi setan gentayangan!"
"Huss,jangan ngomong gitu!Pamalik tahu!Aku nggak bakal buat kamu menderita apalagi kalau udah jadi isteri nanti."
Haira tersenyum melihat Giyan yang serius.
"Kok ketawa?"
"Abisnya kamu lucu."
"Lucu apaan Haira?"
"Lucu aja,nggak kenapa kenapa."
"Stress ya kamu gara gara kita berantem?Mau aku antar ke psikiater aja?"
Haira semakin geli lalu tertawa pecah,Giyan juga ikut tertawa bersama.
"Eits,tapi gimana tuh kamu sama cowok tadi?"
"Elang?"
"Terserah,mau Elang apa Beo apa Merak sekalian!Jangan akrab akrab juga,aku cemburu!"
"Iya,nggak kok.Dia sama aku sahabatan dulu."
"Mana tahu sahabat jadi cinta kan?!"Giyan menekan lagi.
"Itu sih kamu!Mantan tapi sayang!"
Giyan ciut takut Haira marah kembali."Iya iya,udah ampun.Yuk kita turun,kasihan mama kamu udah nunggu."
"Iya..."
Susah payah,akhirnya Giyan bisa merebut hati Haira kembali.
Giyan dan keluarga Haira makan malam bersama di sebuah restoran.
Orang tua Haira amat menyukai Giyan,Giyan duduk berdampingan dengan Haira.
Suasana amat hangat dan penuh kegembiraan.
"Oh iya,om tante minggu depan nonton Giyan tanding bola ya,Giyan ikut turnamen."
"Iya Giyan,om sama tante usahain ya."
"Kalau Haira pasti nonton kan?"Tanya ibu Haira menggoda puterinya.
"Iya dong ma.Pastinya."
Semua tertawa melihat Haira.
Giyan izin membawa Haira jalan jalan dan orang tua Haira pulang dengan mobil sendiri.
Orang tua Haira tentu saja merestui dan mengizinkan keduanya pergi.
****
Haira melihat ponsel Giyan yang sibuk bergetar sedari tadi.
Giyan tahu Haira resah,ia lalu memberi ponselnya ke Haira."Ambil aja hp aku,kamu bawa juga nggak apa apa.Aku nggak ada bales pesan atau angkat telfon dari Kanza kok."
Haira sudah menggenggam ponsel Giyan.Ia melihat banyak pesan dan panggilan dari Kanza.
"Kamu nggak apa apa?"Haira masih galau dan bertanya.
"Ya enggak lah,aku juga salah terlalu nanggepin dia.Sekarangkan aku udah punya kamu.Kalau kamu masih ragu,aku bakalan ajak kamu ketemu dia dan ngomong langsung aja kalau aku nggak bisa akrab sama dia lagi.Gimana?"
Haira takjub,Giyan tahu betul apa yang ia inginkan."Em..terserah kamu."
Giyan tersenyum."Aku senang kita gini.Udah kayak pacaran asli kan,ada berantemnya."
"Iya,tinggal smackdown aja yang belum."
"Ntar aja tunggu nikah,kita smackdown di kasur ya."
"Ihhhhhhhhhh,,,giyaaaannnn!!!Ngeresssss."Haira mencubit Giyan dengan kuat.
"Aww...Aww...sakitttt."
Seperti itulah,keduanya selalu bercanda setiap kali bertemu.Tapi suasana sudah kembali mencair seperti biasa.
Haira cukup berdebar akan bertemu Kanza,banyak yang terlintas di benaknya namun Giyan meyakinkan jika semuanya akan baik baik saja.
******
"Pa,papa kenapa?"
"Kayaknya papa udah nggak lama lagi."
"Jangan ngomong gitu pa.Ayo kita kerumah sakit."
"Nggak,papa nggak mau.Papa cuma mau Giyan sama Haira lekas menikah.Papa takut papa nggak bisa lihat mereka di pelaminan."
"Iya pa,nanti aku bakal omongin sama Giyan dan keluarga Haira ya."
Kakek Giyan rupanya jatuh sakit,dan ia ingin Haira dan Giyan lekas menikah.Walapun sebenarnya seharusnya masih 2 bulan lagi sampai hari berumur 17 tahun.
Namun keadaan darurat ini benar benar diluar dugaan dan perlu perundingan secepatnya.
****
"Tok....Tok.."
"Siapa?"
"Ini aku,Giyan."
Wajah Kanza nampak sumringah saat tahu Giyan yang datang menjeguknya.Ia lekas merapikan rambutnya.
"Masuk."
Tapi Kanza harus kaget dan senyumnya sirna,ia melihat Giyan masuk sambil menggandeng Haira.