“Kita jalan-jalan dulu sambil menghirup udara segar biar dede bayi juga sehat,” kata Ervin. “Mister salah tempat kalau mau nyari udara segar. Kalau ke Puncak baru dapat udara segar,” sahut Elina jengkel. “Anggap saja kita di Puncak, ya.” Ervin menggandeng tangan Elina keluar dari parkiran. Mereka jalan-jalan meski Elina sedikit kesal karena Ervin melarangnya masuk mall. “Mister aku capek.” Elina tidak mau berjalan lagi. Ia berjongkok di tengah trotoar. Ervin ikut berjongkok di depan Elina. “Naik ke punggung aku, El.” Elina diam sesaat sebelum ia melingkarkan tangan di leher suaminya. Ervin yang awalnya tidak tahu Elina seberat ini hanya bisa berjalan pelan. “Mister aku masih ringankan?” tanya Elina. Ervin mengangguk. Ia tidak bisa berkata-kata. Harusnya Ervin bertanya berat bada

