"Kenapa diam? Tadi kamu sudah berjanji bukan?" ujar Kiara melihat perubahan raut wajah Enggar. Kini giliran Enggar yang membisu. Kiara terus menatapnya menunggu jawaban. Namun Enggar malah meninggalkan dirinya tanpa kata. Kiara berpaling kecewa lalu beringsut duduk di tepi ranjang sambil menjuntaikan kaki. "Gar!" seru Kiara nyaring. Ia yakin Enggar belum jauh dari pintu kamar yang tak lagi bisa dikunci itu. "Gar, kamu sudah janji akan melakukan apapun agar aku memaafkanmu, bukan? Kamu hanya perlu bilang iya!" seru Kiara lebih nyaring lagi. Dugaannya benar. Dalam hitungan menit, Enggar kembali menghampirinya meski tak ada keberanian menatap wajah Kiara. "Kamu sudah dengar permintaanku, bukan?" tegas Kiara sekali lagi. Enggar menggeleng tegas sambil menunduk. "Aku tidak akan melak

