Satu Fakta

1692 Kata
Ingat tentang permintaan Bagas pada Gladis? Merancang baju pengantin untuk pernikahannya, Gladis berusaha dengan baik untuk itu. Ia membuat rancangan, memilihkan bahan, serta ikut langsung dalam mengawasi pembuatan. Karena ia harus merancang semua pakaian untuk anggota keluarga dan menghabiskan banyak waktunya. Maka hari inilah waktunya melihat bagaimana hasil karyanya digunakan. Acara sudah dimulai sejak pagi, karena hanya ada 2 hari satu malam waktu pengadaan acara. Gladis sengaja berangkat dari fajar menyingsing, beruntung dirinya mendapat cuti setelah event, hanya saja Artha tidak bisa menemani. Suaminya hanya bisa mengantar, dan akan menyusul saat acara resepsi nanti. Gladis berada dalam ruang rias sedari ia datang, dia bertugas membantu para anggota keluarga memakai pakaian dan membenahi sedikit kesalahan disaat acara akad sedang dilaksanakan diluar sana, Gladis memilih hanya mendengarkan tanpa menonton. Terharu rasanya bisa menyaksikan sahabatnya melepas masa lajang, apalagi dia sudah mengenal Bagas sejak SMP. Bagas adalah sahabat terdekatnya, layaknya Flora. Umur Bagas berada satu tahun dibawahnya, sedikit membuat jiwa kakak dalam dirinya muncul tiap Bagas berada didekatnya. Bagas juga yang mengetahui lika – liku perjalanan hidup Gladis, apalagi keluarga Bagas sangat terbuka pada Gladis. Gladis juga sangat bersyukur Bagas menerima perjodohan ini, Fatin perempuan pilihan keluarganya tampak begitu pantas bersanding dengan lelaki itu. “Gladis kata Bagas udah nikah, udah isi belom?” Ini Kakak tertua Bagas yang bertanya. “Udah nih, Kak!” Gladis menjawab sambil tersenyum, satu tangannya mengelus daerah perut sambil bibirnya tersenyum kecil. “Wah cepet banget, emang anak zaman sekarang topcer-topcer deh!” Kakak Bagas membalas sambil tertawa juga. “Iyalah, Kak!” “Berapa bulan? Kok masih langsing aja?” “Dua bulan lebih, Kak” Tiga bulan kan emang dua bulan lebih, anggap saja Gladis tak berbohong kali ini. “Dua – duanya topcer ini mah!” Gladis hanya tertawa menanggapi ucapan Kakak Bagas, maklum ibu – ibu tiga anak memang harus cerewet. “Suamimu itu yang dulu sering main bareng kalian kan ya? Artha yang genteng itu?” Lagi – lagi Gladis diajak berbicara saat tengah membenahi gaun bagian bawah milik Kakak Bagas. "Perasaan yang lain juga ganteng deh, Kak.” “Iya ganteng semua, tapi yang paling mencolok si Artha soalnya jarang ngomong.” “Iya kali.” “Kok kali? Kamu nikah sama yang mana sih?” “Artha Kak, yang dulu sering diledekin pendek” “Itu kan Bagas.” “Nah yang satunya lagi.” “Ya itu yang kakak maksud, si Artha yang ganteng!” “Iya itu.” >> Acara resepsi sudah dimulai sejak tadi, namun Gladis masih menunggu kedatangan Artha yang katanya sedang dalam perjalanan. Semua temannya sudah sampai, termasuk Edward yang datang langsung dari Korea. Semua tampak menikmati acara, netra Gladis juga menatap Cakra dan istrinya tengah bergurau tentang seberapa enaknya minuman yang keluarga mempelai siapkan. Atau Dante dan Flora yang sedang berdebat wedding organizer mana yang Bagas sewa supaya mereka juga dapat menyewanya saat mereka menikah nanti. Semua tampak bahagia. Ditengah kekhawatiran Gladis karena Artha belum sampai juga, dapat ia melihat seorang lelaki berjalan menuju ke arahnya. Edward yang memang sedari tadi menatapnya dari kejauhan, padahal tadi lelaki itu sudah menyapanya di awal acara namun segera pergi untuk berbincang dengan tamu yang lain. Edward tersenyum membalas tatapan mata Gladis. Biar ku ceritakan sedikit tentang Gladis, Edward, dan rasa yang selalu berkebalikan. Mungkin jika kalian bertanya pada sahabat Gladis, semua pasti bakal menjawab dengan benar. Pengecualian dengan Artha dan Helena, dua orang yang enggan Gladis beritahu akan kisahnya dengan Edward. Edward menyukai Gladis, lebih tepatnya jatuh cinta pada Gladis. Perasaan itu sudah tumbuh lama sejak awal mereka kenal. Cara Gladis yang begitu lembut pada setiap temannya, ketelatenan Gladis mengurusi setiap masalah yang menimpanya, kecerdasan Gladis, kepiawaian Gladis dalam segala hal, juga wajah ayu nan manis milik Gladis telah membuat Edward jatuh hati pada pandangan pertama. Cinta putih abu – abu yang sayangnya tak pernah berbalas hingga sekarang. Gladis dulu memang tak pernah menganggap perlakuan Edward padanya spesial, karena bisa ia lihat jika Edward akan selalu baik pada semua perempuan yang dekat dengannya, padahal jelas – jelas Edward menyukainya. Semua bisa mengetahui perasaan itu hanya dengan melihat bagaimana Edward menatap Gladis. Namun karena memang terlanjut menganggap Edward seperti itu Gladis tak pernah ambil pusing, ia malah memilih berpacaran dengan Gavin yang sudah mendekatinya sejak lama. Padahal diwaktu yang sama Edward baru saja mempunyai keberanian untuk mengutarakan perasaannya. Edward sakit hati untuk yang pertama kali, namun ia tak pernah menyalahkan Gladis akan rasa yang tak berbalas itu. Malah Edward memilih diam dan berusaha menjadi teman yang baik dan selalu ada untuk Gladis. Catat jika Gladis bahkan belum tau jika ada rasa suka pada diri Edward untuknya. Mereka berteman dengan baik, hingga Gladis memutuskan Gavin dua tahun lalu. Disitulah Edward memiliki harapan untuk rasa yang masih utuh sejak awal tumbuh. Edward menyatakan perasaannya, namun lagi – lagi ia harus menelan pil pahit. Gladis menolaknya karena masih mencintai Gavin, Gladis tak mau melukai Edward lebih dalam lagi. Beruntung keduanya bisa menutupi kecanggungan akan semua yang telah terjadi antara mereka, mungkin semua orang tak akan menyadari karena melihat perilaku keduanya saat bertemu. Kalau saja mereka buruk akan hal itu, yakinlah tak ada lagi kata sahabat mungkin juga tak akan lagi berteman. Gladis menyayangi Edward layaknya sahabat. Lelaki itu mau berkorban banyak untuk Gladis, selalu menemani hari – hari sepi Gladis, selalu dan akan terus ada disamping Gladis. Maka tak ada alasan bagi Gladis membenci, tapi hanya saja belum ada rasa lebih dari sekedar sahabat dalam hatinya. Jangan heran jika Edward adalah orang yang paling tak terima dengan peristiwa yang menimpa Gladis beberapa waktu lalu. “Anin.” Masih sama. Semua perlakuan panggilan serta intonasi yang Edward beri pada Gladis masih sama seperti dulu. Gladis suka, ia tampak sangat berharga dimata Edward. “Siang, Ward!” balas Gladis seceria yang ia bisa. “Masih sama ya?” “Emang harus ada yang beda?” “Ya gak juga sih ....” Hening. Mereka kembali diam dan salin menetap dalam. Kalau bisa memilih mungkin Gladis akan memilih Edward untuk menemaninya dimasa tua. Namun itu egois, membiarkan Edward jatuh cinta sendirian itu egois. “Maaf ya waktu lo nikah gue gak banyak bicara.” “Santai aja lagi, kan emang sama – sama sibuk.” Gonta – ganti gaun serta riasan butuh waktu yang tak sedikit, maka dari itu Gladis bisa dikatakan sibuk. “Gue bawain yogurt sama peach favorit Lo dari Korea.” “Langsung dari kebunnya gak?” “Dijamin fress from the supermarket.” Mereka tertawa. “Gue kangen, Nin.” Edward memeluk tubuh Gladis saat wanita itu masih dalam tawanya. “Me too?” “Gue punya satu permintaan, mau ya nurutin?” Masih dalam dekapan Edward Gladis mengangguk “Jangan jatuh cinta sama Artha ya, sebaik apapun dia tolong jaga hati lo.” “Hah??” Mendengar itu Gladis langsung menarik tubuhnya keluar dari dekapan Edward. Matanya menatap tak percaya pada Edward. Dia mengatakan jika Gladis tak boleh jatuh cinta pada suaminya sendiri? Bukan main. Sekian lama tak bertemu dan sekalinya mereka bertemu Edward merusak segalanya. Gladis kecewa. “Jangan jatuh cinta sama Artha.” Edward meraih tangan Gladis, memberi efeksi agar Gladis nyaman membicarakan hal ini. “Apaan sih, Ward?!” “Gue gak mau liat elo lebih hancur dari gue.” “Lo ngomong apa?” “Gue cuma mau elo bahagia, ada kehancuran didepan mata lo. Gue gak mau elo sampe sakit, terpuruk atau apapun!” “Lo kenapa sih??!” “Kenapa elo gak mau nerima tawaran gue yang mau tanggung jawab atas anak lo?!” Bukannya menjawab Edward malah bertanya balik pada Gladis. Mereka masih berdiri dipojok gedung tempat acara Bagas. “Yaa gue gak mau elo tanggung jawab atas kesalahan yang gak lo perbuat!” “Gue mau!” “Tapi gue enggak, gimanapun anak gue anak Artha, bukan elo!” “Gue gak perduli!” “Gue peduli! Gue yakin elo bakal dapet cewek yang lebih baik dari gue!” “Lo bahkan tau gue gak sesuci itu, lo tau pergaulan b***t gue Nin. Dapet elo udah keberuntungan buat gue!” “Tapi kita juga gak pernah bisa mutusin hubungan darah Ward, mau seberapa jauh gue pergi, gue tetep bakal terikat sama Artha.” “Emang penantian gue gak ada apa – apanya Nin? Gue kurang berjuang? Kurang berkorban? Kenapa elu malah milih Artha?!!” “Enggak! You enough! Tapi ini bukan anak lo....” Gladis ingin menangis rasanya. Dirinya tau jika Edward sangat tulus dengan perasaan itu, namun bohong tentang perasaan juga tidak baik dalam suatu hubungan. Pasti sakit sekali luka yang Gladis torehkan tanpa sengaja pada hati Edward. “Gue janji bakal bahagia, Ward, jangan khawatir” Tak ada cara lain untuk menenangkan Edward kecuali memeluknya sambil menepuk – nepuk punggung lelaki itu. Gladis tau jika Edward hanya terlalu khawatir padanya, tak ada alasan lain. Ting! Gladis melepas pelukannya setelah mendengar bunyi tanda pesan masuk. Ia melihat sejenak nama yang tertera pada layar ponselnya. Artha ( alumni SMA) Gue udah diluar Dis, jemput gue yaa Gladis kembali mematikan ponselnya, dan ingin bergegas menjemput Artha didepan gedung. Matanya menatap Edward lagi, lelaki itu hampir saja menangis. Gladis sedikit menahan tawanya, lucu sekali melihat Edward dengan ekspresi layaknya anak anjing. “Gladis Edward?” Baru saja Gladis ingin berpamitan pada Edward, ada suara perempuan menyapa. Mereka menoleh bebarengan, melihat siapakah yang sudah menyapa. Helena. “Oh hai, Hel, baru dateng?” tanya Gladis. “Iya nih, lo udah lama? Atau juga baru dateng? Gue mau salaman sama pengantin, temenin yuk” “Gu–“ “Gak usah, lo bisa naik sendiri disana.” Edward memotong ucapannya dan mencegah Gladis menerima tawaran Helena. “Gladis udah dari pagi, mending lo sendiri aja kesana.” Edward juga menunjukkan tempat pengantin menyambut para tamu. “Oh? Oke deh gue sendiri. Bye, Dis!” Selepas Helena pergi Gladis kembali menatap Edward, ia ingin izin untuk menjemput Artha. “Gue mau jemput Artha di luar dulu ya, Ward” “Iya.” Namun baru saja Gladis melangkah, Edward sudah mencekal lengannya, membuat ia kembali menoleh ke arah belakang. “Inget kata – kata gue ya, Nin. Apapun keputusannya, gue bakal selalu ada buat Lo." >>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN