Bagian 8 - Kabur

1164 Kata
JANGAN LUPA BACA CERITA AUTHOR YG BERJUDUL ISTRI KEDUA!!! Pergi hilang dan melupakan semuanya... Happy Reading "Bagus, jangan sampai ponsel itu jatuh ke tangan orang lain. Kalian siap-siap berjaga di belakang rumah. Sebentar lagi gadis itu akan keluar melalui sana." "Baik, Nyonya! Kami akan melakukan semua perintah Nyonya!" Sambungannya terputus. Ia beralih mengirimkan pesan pada Teja. Di tempat parkiran mobil... "Ah, s**l! Ponsel gue nggak ketemu!" ucap Helshah mencerca. "Coba lo ingat lagi. Mana tau ponselnya lo bawa ke rumah." ucap Namish yang masih sabar mencari keberadaan ponsel Helshah. "Gue tadi meletakkannya di dashboard. Varka juga liat. Tapi kenapa ponselnya hilang gitu aja?!" "Gue juga nggak ketemu di belakang. Sekarang kita harus melakukan apa? Bukti terakhir ada di dalam ponsel Helshah. Sekarang ponsel Helshah nggak dapat ditemukan." ucap Nikita menutup bagasi mobil Varka. "Bentar, kenapa ada cctv di dalam mobil lo, Ka? Lo lagi nggak masang cctv kan?" ucap Namish saat menemukan sebuah cctv di bawah tempat musik. "Gue nggak pernah masang cctv." "Berarti-," Namish menggantungkan perkataannya, lalu mengepalkan tangannya. Ia menginjak cctv itu sampai benar-benar hancur, lalu membuangnya sembarangan. "Udah gue duga kalau semua ini adalah ulah Mama lo, Ta! Jatuhnya ponsel lo, itu emang disengaja. Sekarang dia masang cctv di dalam mobil Varka agar semua kegiatan kita dapat ia ketahui. Ponsel Helshah hilang juga karena ulah Mama lo! Sekarang apa yang kita lakukan agar Teja percaya kalau ini adalah ulah Mama lo?!" ucap Namish menggebu-gebu. "Gue nggak percaya Mama gue melakukannya secepat ini. Kita berada 2 langkah di belakangnya." ucap Nikita berkacak pinggang. "Lo nggak lagi kerja sama dengan Mama lo kan, Ta?" tanya Helshah penuh selidik. "Sya, ayolah! Udah berapa kali gue bilang? Gue nggak akan kerja sama dengan orang yang salah!" balas Nikita dengan wajah lelah. "Sudah, sekarang kita harus memikirkan bagaimana caranya agar Teja percaya dengan omongan kita. Tanpa bukti, Teja nggak akan percaya." ucap Namish mulai melerai keduanya. Teja membuka ponselnya yang baru saja mendapatkan sebuah pesan. Tante Nikita. |Saya akan membebaskan kamu dari rumah itu. Sekarang kamu keluar dari sana melalui belakang rumah. Jangan sampai ada yang tau kalau kamu kabur melalui belakang. Kamu mengerti kan Teja?| Teja langsung membalas pesan itu tanpa berpikir panjang. |Iya, Tante.|12.06✔✔ |Sekarang berbaring lah. Kamu pura-pura tertidur. Mamanya Helshah lagi berjalan menuju kamar kamu.| Dengan tergesa-gesa, Teja membaringkan tubuhnya, lalu menyelimutinya sampai d**a. Cek lek! Kamar yang ditempati Teja baru saja dibuka kuncinya. Iya, sejak tadi Teja memang dikunci seorang diri. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Mama Pari. Bukan apa-apa, ia hanya tidak ingin Teja kabur tanpa sepengetahuan mereka. Teja itu pintar, ia bisa bertindak dengan 1001 cara yang ia miliki. Mama Pari melakukan itu hanya untuk berjaga-jaga saja. Tadi Helshah dan yang lainnya sudah bicara pada keduanya agar menjaga Teja, karena hidup Teja dalam bahaya. Helshah juga sudah menjelaskan siapa Teja sebenarnya dan si pelaku di balik semua masalah ini. Mama Pari meletakkan nampan berisi makanan di nakas. Ia menempelkan kedua lututnya di lantai, lalu tangannya bergerak mengelus lembut rambut Teja. "Maaf kalau sudah membuat kamu takut." ucap Mama Pari lirih. 'Mama akan menjaga kamu, sayang. Mama tidak mau kehilangan kamu lagi. Mama akan melindungi kamu walaupun nyawa Mama taruhannya. Mama memang terlambat mengetahui identitas kamu, tapi izinkan Mama untuk menebus semuanya.' batin Mama Pari berbicara. Air matanya jatuh di lengan Teja. Mama Pari mengusap pipinya. Ia tidak ingin menggangu tidur putrinya. "Baru saja Tante-Mama masuk ke kamar, kamu sudah tidur. Padahal Tante-Mama cuma mau nyuruh kamu makan. Perut kamu pasti kosong sejak tadi pagi. Tante-Mama khawatir pada kamu. Jangan buat Tante-Mama khawatir, ya, sayang. Tante-Mama nggak masalah kamu bentak-bentak, kamu sakiti, asalkan kamu merasa tenang." ucap Mama Pari setelah menarik napasnya satu tarikan. "Ada sebuah catatan di nampan. Tante-Mama harap, kamu membacanya. Tante-Mama tidak bermaksud menyakiti kamu, sayang. Tante-Mama sayang banget sama kamu. Enggak mungkin Tante-Mama bisa menyakiti kamu." ucap Mama Pari semakin lirih. Ia tidak tahan lagi menahan air mata yang lagi dan lagi akan keluar tanpa diminta. Segera Mama Pari bangkit dari tempatnya, lalu mengecup dalam kening Teja yang tersirat kasih sayang. "Tante-Mama sayang kamu. Tante-Mama nggak bermaksud mengunci kamu di kamar, tapi nyawa kamu dalam bahaya, sayang. Dia datang kembali dan ingin memisahkan kamu dari kami semua. Tapi Tante-Mama nggak akan biarin itu terjadi." ucap Mama Pari, setelah itu menghilang dari balik pintu dengan Teja yang lagi dan lagi dikunci. Huh! Teja membuang napasnya kasar setelah melepas selimut dari tubuhnya. Dengan tergesa-gesa, Teja turun dari ranjang dan berjalan menuju jendela. "Untung gue ada di lantai bawah. Gue harus cepat-cepat keluar sebelum ada yang masuk lagi. Tapi jendelanya kenapa nggak bisa dibuka?" ucap Teja berakhir kesal. Ia berusaha membukanya dengan sekali-kali melihat pintu masuk. Hanya berjaga-jaga saja. Mana tahu ada yang masuk secara tiba. Tak! Teja berhasil membuka jendela itu. Segera ia keluar dari sana dan mulai berjalan ke belakang rumah dengan sedikit mengendap. "Bagus, nggak ada yang di belakang. Sekarang em-," Teja memukul tangan yang menutup hidungnya dengan sapu tangan. Ia tidak tahu siapa di belakangnya. Teja berusaha membuat dirinya tidak sadarkan diri. Namun, seberapa kuatnya ia bertahan, ia tetap saja lemah saat menghirup bau disapu tangan itu. "Sttt, cepat bantu gue bawa gadis ini!" ucap pria berbadan besar itu pada temannya. Teja baru saja terbangun dari pingsan panjangnya. Ia memicing menyelusuri di setiap sudut. "Hiks! Tolong lepaskan gue, hiks! Siapa pun yang di luar, tolong keluarkan gue dari sini! Gue takut, hiks!" tangisan Teja pecah saat mengingat dirinya berada di tempat asing. Gudang yang tidak layak dipakai. Gudang yang penuh dengan debu dan sarang laba-laba. Ia berada di sana dengan dirinya diikat di sebuah bangku. "Akhirnya kamu bangun juga." ucap tiga preman yang baru saja masuk ketika mendengar suara tangisan Teja. "Lo bertiga siapa, ha?! Kenapa gue ada disini?! Siapa yang nyuruh lo bertiga, ha?!" "Haha, liat lah gadis ini. Ternyata dia nggak sabar mau ketemu sama bos kita." adu preman yang berambut keriting pada kedua temannya. "Sabarlah cantik. Sebentar lagi bos kami akan datang. Kamu akan bicara banyak padanya." ucap preman bertubuh besar dan tinggi. "Gue nggak mau! Gue mau pulang! Lepaskan gue sekarang!" "Coba jangan berisik! Sakit kuping kami dengarnya, nih!" ringis preman yang lebih kecil dari yang lainnya. "Hiks! Tante-Mama tolongin Teja. Teja takut disini sendirian, hiks!" "Hai! Kami manusia! Enak saja kamu bilang sendirian!" protes preman berambut keriting ketika mereka tak dianggap ada oleh Teja. "Diam lo tua bangka! Gue mau pulang, hiks!" "Berani kamu sama sa-," Preman berambut keriting langsung menghentikan langkahnya yang akan mendekati Teja. Ia menoleh pada teman kecilnya saat tangannya ditahan. "Kita nggak boleh nyakitin dia. Biar Nyonya saja yang kasih dia pelajaran." bisik si preman kecil. 'Ini semua salah gue, hiks! Coba aja gue nggak kabur dari kediaman Irfansah. Pasti gue nggak akan ada disini. Tante-Mama, Teja takut, hiks!' "Kamu pasti akan merasa menjadi orang yang terbodoh saat mengetahui siapa dalang di balik semua ini." ucap preman berbadan besar dan tinggi itu. Teja menghentikan tangisannya. Ia mendengarkan suara derap langkah kaki menuju ke tempat ia disekap. To Be Continued... 1201 kata Kiss jauh linar_jha2
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN