Bagian 7 - Terbongkar

1075 Kata
Mendengarkan, selalu peduli dan sakit ketika ia milik orang lain. Happy Reading Prank! Semua benda itu jatuh dibuat tangan Teja. Ia mencampakkan semua benda di dekatnya pada wanita itu. "Pergi! Gue nggak mau liat lo lagi, hiks!" teriak Teja histeris. "Sayang, kamu kenapa? Ada apa, hem? Ini Tante-Mama, sayang." ucap Pari, Mamanya Helshah. Teja menggeleng kuat. Ia menjauhkan tubuhnya dari Mama Pari. "Gue benci lo! Gue takut sama lo, hiks!" ucap Teja yang menutup telinganya erat dengan air mata yang mengalir deras. "Buka mata kamu. Ini Tante-Mama. Teja, dengar Tante-Mama ngo-," Plak! Bruk! Setelah tamparan mendarat di pipi Mama Pari, Mama Pari tersungkur di lantai. Mama Pari meringis kesakitan saat dahinya kerantuk dengan nakas. "Teja! Lo apaan, sih?!" bentak Helshah yang langsung merengkuh tubuh Mama Pari. Teja terisak ketakutan sampai Papa Sachin datang dengan yang lainnya. Segera Papa Sachin merengkuh tubuh rapuh Teja. "Tenanglah, katakan pada Papa apa yang sudah terjadi." ucap Papa Sachin pada Teja yang terisak di pelukannya. "Di-a-," Teja menghirup udara dengan rakus. "Mama nggak papa kan?" lirih Helshah sambil membawa Mama Pari berdiri. Mama menggeleng, "Mama nggak papa, sayang." "Tapi dahi Mama terluka. Apakah Teja pelakunya?" ucap Helshah sedikit kesal pada Mama Pari yang mengatakan tidak apa-apa. "Enggak, sayang. Ini memang salah Mama yang memaksakan Teja. Mungkin Teja sedikit trauma dengan penculikannya." ucap Mama Pari. "Dasar wanita bermuka dua! Bisa-bisanya lo ngomong manis di depan semua orang!" ucap Teja dengan tajam. "Ja, lo apa-apaan, sih? Kenapa lo nggak sopan banget ngomong sama yang lebih tua?!" respons Helshah. "Gue nggak akan gini kalau dia nggak luan!" ucap Teja yang semakin memeluk erat tubuh Papa Sachin. Helshah ingin membuka mulutnya lagi, tapi Papa Sachin langsung menyelanya. "Sayang, apa maksud kamu? Bisakah kamu mengatakan semuanya dengan jelas?" tanya Papa berusaha meredakan amarah keduanya. "Di-a yang menculik Teja, Pa. Wanita itu yang menculik Teja, hiks! Teja takut padanya, hikshiks!" ucap Teja sambil menunjuk Mama Pari. Mama Pari menggeleng lirih. Bagaimana mungkin ia bisa menculik anak yang sudah ia anggap seperti puterinya sendiri? Tidak ada dipikiran Mama Pari untuk menculik dan melakukan semua ini pada Teja. Dia sayang sama Teja seperti ia menyanyangi Helshah puterinya. "Sayang, Tante-Mama-," "Berhenti di situ! Jangan dekatin gue! Gue takut sama lo, hiks!" ucap Teja langsung menghentikan langkah Mama Pari yang akan menuju padanya. "Ma, are you okey?" tanya Helshah menggenggam erat tangan Mama Pari. Mama Pari mengangguk. "Semua akan baik-baik saja. Kita biarkan Teja istirahat dulu. Mungkin dia masih trauma dengan penculikannya." lanjut Helshah sambil membawa Mama Pari keluar dari kamar. "Tapi Mama pengen di samping Teja, sayang." "Iya, nanti Mama bisa ke sini lagi setelah Teja tenang, oke?" ucap Helshah. "Kamu hanya salah paham, sayang. Tante-Mama nggak mungkin melakukan itu pada kamu. Kamu tau kan kalau Tante-Mama sangat menyayangi kamu?" ucap Papa Sachin setelah yang lainnya keluar. "Awalnya Teja nggak yakin kalau pelakunya adalah Tante-Mama. Tapi semua bukti itu ada pada Tante-Mama." lirih Teja melepaskan pelukannya. "Bukti apa maksud kamu, sayang?" "Teja sem-pat meninggalkan jejak di tangannya. Ada goresan bekas kuku Teja di tangan sebelah kanan. Luka itu ada juga kan pada Tante-Mama?" ucap Teja saat mengingat goresan di tangan kanan Mama Pari. "Iya, tapi itu bukan goresan bekas kuku, sayang." "Teja nggak akan percaya kalau nggak ada buktinya!" Taman belakang kediaman Irfansah... "Ini semua karena Mama lo! Mama lo biang keroknya! Tapi, kenapa Mama gue yang kena imbasnya, ha?!" bentak Helshah membuat Nikita menunduk. "Maaf, gue akan-," "Apa? Lo sama Mama lo sama aja! Wanita ular! Seharusnya kata bermuka dua itu diberikan pada lo dan Mama lo!" "Apa jangan-jangan lo bersama kami hanya ingin mencari tau semua kegiatan yang kami lakukan? Setelah itu, lo akan kasih tau sama Mama lo? Benar-benar bermuka dua!" "Sya, gue nggak bermaksud gitu. Gue sama kalian karena ingin memperbaiki semuanya." "Memperbaiki atau memperburuk keadaan, ha?!" "Sya, tolong percaya gue. Sekali aja lo percaya sama gue." lirih Nikita pada Helshah. "Lo nyuruh gue percaya sama lo setelah semua yang lo lakukan pada kami?! Pertama, lo merusak hubungan persahabatan kita. Kedua, lo mengancam gue dengan merebut Varka? Ketiga, Mama lo menculik Teja? Lo jangan egois jadi orang! Gue nggak pakai sahabat kayak lo! Cih, bermuka dua!" Helshah akan melangkah jauh dari Nikita, namun Nakita segera menahan tangannya. "Gue akan menerima semua cacian lo. Tapi tolong, dengarkan omongan gue kali ini. Setelah itu, terserah lo mau beranggapan apa." ucap Nikita dengan Helshah yang masih memalingkan wajah. "Adik lo adalah Teja! Kenapa Mama menculiknya? Karena Mama ingin membuat keluarga kalian hancur! Setelah Mama berhasil memisahkan Teja dari kalian, dia nggak akan melakukan kesalahan itu lagi. Hanya nyawa Teja yang diincar Mama agar dendamnya selesai." "Jadi lo masuk ke dalam permainan Mama lo?" Nikita menggeleng lirih. "Enggak, gue menentang Mama. Bahkan Mama sampai-," "Apa?" Nikita menggeleng. "Gue akan bantu lo untuk melindungi Teja. Sekali ini aja genggam tangan gue untuk melawan Mama. Mama nggak akan berhenti di tengah permasalahan sebelum keinginannya terkabul. Mama bisa melakukan apapun, Sya." "Gue akan bekerja sama dengan lo. Tapi awas, jika gue tau lo bekerja sama dengan Mama lo." ucap Helshah dengan tajam. "Gue nggak akan pernah mengkhianati lo." "Lalu, gimana dengan Varka?" "Gue udah bilang kan kalau gue nggak ada apapun dengan Varka? Gue mendekati Varka karena suruhan Mama agar gue tau siapa bayi itu. Padahal gue bisa cari tau sendiri. Memang gue yang bodoh dengan mudahnya masuk ke dalam permainan Mama. Mama ingin membuat lo dan yang lainnya benci sama gue sampai omongan gue nggak kalian percaya lagi. Sama seperti sekarang, lo nggak percaya lagi sama gue, Sya." "Gue sayang sama lo dan Teja. Gue nggak bisa meliat lo berdua hancur kayak gini." lanjut Nikita membuat Helshah mencari kebenaran di matanya. "Gue minta maaf. Gue yang salah. Karena amarah, gue nggak bisa berpikir dengan baik." ucap Helshah sambil mengusap punggung Nikita yang bergetar. 'Gue akan menyerahkan semua nyawa gue demi lo berdua. Dosa Mama gue terlalu banyak sampai gue yang harus menanggungnya.' batin Nikita, lalu mengangkat wajahnya menatap langit yang begitu mendukung. 'Ya Allah, biarkan hamba yang menanggung dosa Mama. Jangan sampai ia merasakan sakit sendirian. Hamba rela demi Mama.' air mata mulai berjatuhan di pipi Nikita. "Pa, tolong bisikkan pada Mama kalau yang ia lakukan salah. Papa pergi bukan karena keluarga Irfansah. Mereka adalah keluarga yang baik." Nikita berakhir memeluk Helshah erat. Di balik pohon besar, Mama Pari menangis dipelukan Papa Sachin. "Mas, Teja putri kita?" ucapnya yang masih tak percaya. "Iya, sayang. Kita harus menjaganya dengan baik." To Be Continued... 1097 kata Kuy! Respon banyak2! Kiss jauh linar_jha2
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN