Perjanjian Perceraian
"Ini surat perceraian kita. Kau bisa meluangkan waktu buat baca ini dengan teliti. Tidak mesti sekarang.”
Otak Madeline seketika berargumentasi namun tak berisi. Ia menatap seorang pria yang begitu dicintai selama sepuluh tahun. Tampan dan kaya raya. Jeremy Whitman. Sosok pria yang baru ia nikahi selama dua tahun belakangan ini.
“Ka-kau mau bercerai?”
"Ya."
Suara itu lembut menusuk telinga.
Madeline sempat tak sadar bahwa terlalu kuat menggenggam surat hasil lab yang menyatakan bahwa ia sedang hamil di belakang tubuhnya. Dalam diam, ia menimang—haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Apa Jeremy akan berubah pikiran?
Belum sempat Madeline mengutarakan isi hatinya, Jeremy menjeda.
“Joana sudah kembali. Meskipun awalnya kita setuju akan menjalani pernikahan ini selama empat tahun, tapi mari kita akhiri lebih awal. Silakan tulis apa yang kau inginkan sebagai kompensasi perceraian. Selagi masuk akal, aku akan mengabulkannya.”
Dengan pikiran yang kosong, Madeline tersenyum.
“Baiklah.”
Madeline kian menggenggam erat kertas tersebut hingga berbentuk sekepal tangannya. Rasanya, Jeremy tidak perlu tahu kebenaran itu.
“Oh, ya, Bolehkah aku meminta satu hal darimu?”
Madeline mendongak sambil mempererat cengkraman tangannya. Ia berusaha untuk tidak terlihat rapuh.
“Tentu saja. Silakan katakan, jika aku mampu … aku akan membantumu,” ucap Madeline seraya tersenyum.
“Aku khawatir kau terlalu cepat membicarakan tentang perceraian kita pada Kakek. Jadi, aku harap kau tidak membahasnya dalam dekat ini. Karena, ia pasti tidak akan setuju.”
“Baiklah, aku mengerti.”
Madeline adalah seorang yatim piatu. Ia tentu tak akan pernah pantas bersanding dengan Jeremy. Pernikahan mereka terjadi hanya karena kakeknya, Charles Whitman, ingin membalas budi pada Madeline yang pernah menolong nyawanya.
Sebelum menikah, Jeremy sudah memperingatinya bahwa pernikahan itu hanya sebatas kontrak saja.
“Aku boleh saja menikahimu, Madeline. Tapi satu hal yang harus kau ingat, bahwa aku sangat mencintai kekasihku. Pernikahan kita hanya berlangsung selama tiga tahun. Setelah itu, silakan kau ajukan perceraian kepada kakekku.”
Madeline tersenyum sepat. Sepertinya, ia betul-betul harus membuang jauh perasaannya terhadap Jeremy. Madeline pun mengangguk.
“Baiklah, aku mengerti. Lagipula, aku juga mencintai seseorang. Jadi, saat kontrak ini berakhir—akan menepati janji dan meninggalkanmu.”
Usai menikah, Jeremy menjadi sosok suami yang sangat sempurna. Ia begitu menghormati, memanjakan, melindungi, serta memperlakukan Madeline bak ratu.
Di mata sahabatnya, Jeremy merupakan sosok suami idaman. Ia tidak pernah membuat sekalipun membuat Madeline marah. Dan tak akan membiarkan siapapun membuat istrinya tersinggung. Hingga tak jarang wanita berharap memiliki pasangan seperti pria itu.
Akan tetapi, semua itu semu. Madeline tahu benar bahwa perlakuan Jeremy tak pernah dilandasi cinta. Semua perhatian yang diberikan oleh Jeremy hanya bentuk dari rasa tanggung jawabnya saja. Satu-satunya yang pria itu sukai dari dalam Madeline adalah—tubuhnya.
Mereka awalnya sepakat untuk mempertahankan pernikahan itu selama tiga tahun, namun wanita yang Jeremy cintai sudah kembali—sudah tiba saatnya Madeline mundur.
Seraya mengangguk. Madeline meraih surat perjanjian cerai itu. Ia jadi kehilangan selera. Saat beranjak menuju kamar, Jeremy tiba-tiba merasa gelisah. Ia melonggarkan dasi lalu menghentikan langkah kaki sang istri.
"Saat kau mengatakannya pada Kakek, dia pasti menanyakan alasan kenapa kita bercerai. Bukankah kau pernah bilang bahwa kau mencintai seseorang? Sekarang aku akan melepaskanmu. Kau bisa menemukan kebahagiaan bersamanya jadi kakek tak akan bisa membantahnya.”
Madeline mengangguk.
"Aku mengerti. Aku pasti akan memberitahukan itu pada Kakek.”
Setelah mengatakan kalimat terakhir, Madeline gegas pergi. Sebab, jika ia terlalu lama disana, mungkin ia akan menyesal dan mengatakan pada Jeremy bahwa ia sebenarnya tak ingin bercerai.
Tak disangka, tiba-tiba Jeremy menahan pergelangan tangannya hingga membuat gemuruh jantung Madeline berdetak kencang. Ia sangat takut pria itu menemukan kertas dalam kepalan tangannya. Ia pun menarik kembali tangannya.
“Ada apa, Madeline? Kau terlihat pucat. Apa kau sakit?”
Jeremy tampak khawatir, ia menangkup pipi Madeline, namun wanita itu menjauh.
“Tidak. Aku tidak apa-apa.”
“Kita sudah hidup bersama selama dua tahun. Apa menurutmu aku tidak tahu kapan kau berbohong?”
Mata Jeremy menatap semakin dalam. Karena tidak ingin membuat Jeremy curiga, Madeline pun bersikap tenang.
“Aku hanya lelah saja.”
“Kalau begitu, istirahatlah.”
Setelahnya, titik pandang Jeremy tertuju pada tangan Madeline yang mengepal.
“Itu … apa?”
Madeline gugup. Ia langsung melempar kertas itu ke tong sampah.
“Tidak, ini hanya sampah. Aku lupa membuangnya.”
Melihat tubuh wanita itu lemah. Jeremy langsung menarik tubuhnya ke dalam dekapan. Tanpa aba-aba, Madeline jadi terkejut. “Aku bisa jalan sendiri.”
“Kau terlihat pucat. Jangan terlalu keras kepala.”
Suara Jeremy begitu lembut hingga membuai wanita disana. Suara itu yang selalu terdengar selama dua tahun mereka menikah. Tapi, tiba-tiba ia mengatakan ingin bercerai?
Madeline berkedip dan tak mampu menahan air matanya.
“Apa kau sedang datang bulan? Mengapa kau menangis? Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu.”
“Aku tidak menangis.”
“Baiklah, baiklah …”
“Bisakah kau mengatakan siapa orangnya?” tanya Jeremy membuat Madeline tak mengerti.
“Siapa?”
“Lelaki yang kau cintai selama bertahun-tahun. Aku penasaran siapa yang beruntung mendapatkan hatimu.”
***