Madeline memandang Jeremy penuh harap. Sungguh, ia ingin sekali pria itu mengantarkannya kembali ke rumah. Di sisi lain, Jeremy tampak terkejut. Namun, tak berlangsung lama, ia sadar dari keterkejutan itu lalu mengusap rambut Madeline. Suaranya begitu lembut seolah tengah merayu anak kecil. “Kumohon mengertilah, aku akan pulang dan menemani malam ini, kok.” “Baiklah. Kalau begitu biar Patrick saja yang mengantarku.” Madeline tak ingin bersikeras memaksa pria itu. Ia tak lagi merengek dan membuat keributan. Ia benar-benar patuh. Tak mengatakan satu kalimat pun sebagai bentuk protesnya. Beberapa saat kemudian, Patrick menurunkan Madeline tepat di depan rumah. Setelah mobil itu melaju kembali, Madeline tidak masuk ke dalam rumahnya, melainkan memanggil taksi dan pergi ke Meet bar. Me

