"Jeremy, kau tahu? Aku sangat membencimu! Kau bodoh! Sangat bodoh!” Saat Madeline meracau, ia menunjuk dengan lembut menusuk d**a Jeremya. Bahkan dalam keadaan mabuk, kecantikannya tidak berkurang sedikit pun. Sebaliknya, Madeline justru semakin menarik dan memikat di matanya. Apalagi, uap kamar mandi di sekitar, pipi memerah bersama bibirnya yang merekah. Madeline sungguh menggemaskan. Jeremy hanya berdiri disana, tidak bergerak sedikitpun atau melangkah mundur. Ia membiarkan jari kecil itu menyentuhnya lembut. Madeline menunjuk lalu berhenti. Tiba-tiba ia terpikir untuk menekannya lagi berkali-kali. Dengan senyum mabuk, ia pun bertanya. “Jeremy, kau tampak berbeda? Kenapa kau tidak menghindar?” “Kenapa aku harus menghindar?” Madeline mengedipkan matanya yang bersinar. Sering

