"Aku mengatakan yang sebenarnya padamu, Madeline. Jeremy menikahimu hanya untuk melindungiku dari kekuasaan kakeknya."
"Apa katamu?"
Madeline menggeleng tak percaya. Ucapan Joanna membuat suasana hatinya menjadi semakin buruk. Ia seperti jatuh ke dalam kubangan es. Rasa dingin seakan merambat melalui kaki dan membekukan kulitnya. Semua orang juga tahu bahwa Jeremy menikah karena keinginannya sendiri.
Madeline ingat sekali, ketika ia bertanya pada pria itu beberapa tahun silam.
“Apa kau menikah karena keinginan sendiri, Jeremy? Aku tidak ingin kau menikahiku hanya karena perintah kakek saja. Aku tidak ingin membuatmu dalam posisi yang sulit.”
Kala itu Jeremy mengatakan dengan jelas bahwa ia menikah karena keinginannya sendiri.
“Tentu saja. Lagipula, aku dan Joanna sudah lama putus. Tapi, mari kita buat perjanjian selama tiga tahun. Aku akan berusaha mencintaimu. Jika dalam jangka waktu itu aku masih belum bisa membuka hati, kita akan bercerai secara damai. Kau setuju?”
“Ya, aku setuju.”
Madeline tersenyum lebar saat itu.
“Kenapa kau setuju menikah denganku? Apa kau tidak punya seseorang yang spesial? Terikat dengan hubungan pernikahan itu tidak akan mudah. Memangnya kau tidak ingin menikah dengan seseorang yang kau cintai?”
“Tentu saja aku mau. Aku sudah mencintainya sejak delapan tahun lalu. Tapi, semua sudah berakhir.”
Jelas saja. Karena ia akan segera menjadi istri Jeremy. Mereka bahkan tidak pernah saling mencintai, namun pernikahan akan segera mempersatukan mereka. Namun, kata-kata Joanna membuat Madeline semakin tidak percaya diri. Wanita itu mengatakan bahwa Jeremy telah berbohong.
Apa yang Jeremy lakukan selama ini hanya berpura-pura saja? Terlebih momen intim yang mereka jalani. Seperti dekapan, ciuman, dan percumbuan yang mereka lakukan. Apa semua itu palsu? Apa selama ini memang tidak pernah ada cinta di hati pria itu?
Madeline merasakan pahit. Hatinya seolah hancur tak bersisa. Ia merasa seperti boneka yang hanya menjadi mainan saja. Bodohnya, Madeline percaya dan membiarkan dirinya dimanipulasi oleh Jeremy berulang kali.
“Aku tidak percaya kecuali dirimu memberitahu bagaimana cara kakek memaksanya.”
Madeline mengepalkan tangan erat-erat. Setelah menghabiskan waktu sekian tahun bersama. Ia tahu bagaimana karakter suaminya. Jeremy merupakan sosok temperamen dan keras kepala. Bahkan jika ditodong oleh senjata sekalipun, ia bukanlah sosok yang mudah menyerah. Wajah Joanna menyeringai dengan sedikit ejekan.
“Jika Jeremy tidak menikah denganmu maka kakek mengancamnya akan mengirimku ke luar negeri sehingga kami tidak bisa lagi bertemu seumur hidup. Jadi, daripada kehilangan diriku, ia lebih memilih menikahimu. Kami sepakat untuk bertemu kembali meski tidak bisa bersama.
Madeline menggigit bibir bawahnya. Ia merasa tertekan. Rasa sakit itu seakan menghujam jantungnya. Betapa sulit baginya untuk mengucapkan sebuah kalimat.
“Tentang kakiku … apa kamu ingat ketika Jeremy menerima telepon dan hampir meninggalkan upacara pernikahanmu?”
“Hmmm, ya.”
Kejadian di hari pernikahannya kala itu masih membekas dalam ingatannya.
“Aku mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju acara pernikahan kalian. Saat itu aku hampir kehilangan nyawa dan para dokter berusaha menyelamatkan ku. Namun sayangnya, kakiku patah dan tak bisa sembuh.”
‘Pantas saat itu Jeremy pergi setelah upacara pernikahan.’
Madeline bertanya dalam hati. Ia mengira sesuatu terjadi di perusahaan. Sebab, Jeremy mengatakan bahwa temannya mengalami kecelakaan dan membutuhkan bantuannya. Saat itu, Madeline tak menaruh curiga sama sekali.
Ia ingat ketika Charles menelepon dan bertanya apakah Jeremy ada bersamanya. Namun, ia berbohong dan mengatakan benar. Pada malam pernikahan mereka, Jeremy sama sekali tidak kembali ke rumah. Dan bodohnya, Madeline tak tahu bahwa ia sedang bersama wanita itu.
Hari-hari berikutnya, Jeremy lebih banyak menghabiskan waktu diluar dan selalu terlihat lelah saat kembali ke rumah. Namun, pria itu tak pernah mengatakan bahwa Joanna yang mengalami kecelakaan itu.
Bagaimana jika ia mengetahuinya sejak awal?
Madeline tersenyum kecut. Walaupun ia mengetahuinya sejak awal. Ia pasti tetap akan menutupi kebohongan suaminya. Sebab, ia terlalu cinta dan tak ingin Jeremy terkena imbas oleh kakeknya.
“Tapi, kenapa kau memberitahuku semua itu sekarang?”
Madeline menatap Joanna. Dalam sekejap, ia menjadi seperti seekor landak yang mencoba bertahan melalui duri-durinya.
“Katakan, Joanna. Apa kau merasa aku pembawa sial bagimu? Apa sekarang kau menyalahkanku karena kehilangan kakimu?
“Hei, bukankah memang kenyataannya seperti itu? Kau memang pembawa sial, Madeline.” Suara Joanna menjadi panas. Ia menelisik tajam netra wanita di hadapannya.
“Kalau saja kau tidak pernah menikah dengan Jeremy, maka semua ini tidak akan terjadi.”
Madeline berusaha mempertahankan diri. Ia sama sekali merasa tak peduli. Setelah beberapa detik, ia mendongak lalu berbicara dengan nada penuh percaya diri.
“Itu bukan karena diriku. Kau cuma berusaha mencari kambing hitam untuk kakimu yang lumpuh itu. Aku ini memang bukan siapa-siapa, Joanna. Tapi jangan pernah sekali-kali memprovokasi. Lagipula, tidak ada yang menyuruhmu datang ke pernikahanku. Dan salahmu sendiri, mengapa mengemudi dalam keadaan mabuk? Akar dari segalanya itu, karena kau tidak punya harga diri.”
Madeline berhasil mengatakan kalimat dengan tegas. Sementara Joanna merasa tak percaya. Sejak dua tahun lalu, Madeline jauh berubah. Wanita pemalu yang selalu bersembunyi di bawah ketiak suaminya, kini begitu lantang dan tegas.
“Aku tidak mungkin absen dari pesta pernikahan seseorang yang paling aku cintai.”
“Paling kau cintai?”
Madeline mencibir.
“Joanna, hanya karena Jeremy tidak tahu apa yang telah kau lakukan, bukan berarti aku tidak mengetahuinya. Tolong jangan paksa aku untuk mengatakan siapa dirimu sebenarnya!”
"Omong kosong! Jangan pernah memfitnahku!"
Akibat tersulut emosi, Joanna tersandung dan tiba-tiba lepas dari kursi rodanya. Dan ketika itu pula, Jeremy telah kembali. Ia langsung meletakkan botol yang baru saja diambil lalu membantu Joanna berdiri.
“Siapa diantara kalian yang bisa mengatakan apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Jeremy dengan nada dingin.
***