Rambut putih itu tergerai lepas. Kiku beranjak menuju ke tempatku. Ia duduk di sampingku. Wajahnya tampak letih dan pucat.
"Aku sudah menghabiskan seluruh Manna-ku hari ini, untuk mengaktifkan Centauri," kata Kiku yang bersandar pada kepala bangku. "Energi Manna Centauri bisa menghabiskan sekitar dua ribu persekali aktif, jadi aku hanya bisa menggunakannya sebanyak dua kali."
Aku ternganga. "Jadi, untuk mengaktifkan robot tempur harus memakai Manna?"
"Iya. Ini teknik gabungan sihir dan teknologi. Seorang pilot harus bisa merancang robot tempur sendiri dengan menggunakan sihir, lalu memasukkan data dirinya ke sistem mesin pengendali robot tempur. Ketika kita memanggil robot tempur lewat sihir Summon, maka secara otomatis Manna kita sudah terdeteksi oleh sistem mesin tersebut. Manna akan tertransfer masuk ke reaktor Mana sebagai energi robot tempur. Kita tinggal memegang tuas kendali, memusatkan pikiran pada pikiran robot sehingga robot bisa bergerak sesuai arahan kita."
"Oh. Aku mengerti. Robot tempur itu sama artinya dengan jiwa sang pengendalinya. Begitu, kan?"
"Iya. Dengan DNA dan Manna, semua itu sudah bersatu dengan pikirannya. Centauri adalah partner-ku yang kuciptakan bersama kakakku, Jim Lyall. Kami membentuk dua robot tempur kembar yang bernama Alpha Centauri. Tapi, sayang ... Alpha sudah tidak ada lagi karena kakakku sudah meninggal sejak setahun yang lalu."
Duka menyelimuti suasana di antara kami. Aku terdiam saat melihat wajah Kiku yang menggelap tapi ia tidak menangis, justru ia membelai pipi si bayi yang kupangku.
"Bayi ini cantik sekali. Kita harus mengembalikannya pada orang tuanya."
Kiku mengalihkan topik pembicaraan. Sepertinya ia sengaja menyembunyikan sebab mengapa kakaknya yang bernama Jim Lyall meninggal dunia. Untuk pertama kalinya, aku melihat senyuman manis terukir di wajahnya.
"Ya. Mari kita kembalikan bayi ini pada orang tuanya."
Aku juga tersenyum. Ternyata Kiku juga suka dengan anak kecil.
***
"Orshid, anakku. Syukurlah, kamu selamat, sayang."
Kiku baru saja mengembalikan bayi perempuan itu pada Ibu muda. Wanita berambut hitam itu mendekap bayi mungilnya yang baru berusia dua bulan, dengan erat. Pria yang merupakan suaminya, menangis terharu.
"Terima kasih atas pertolongannya." Pria itu membungkukkan badan beberapa kali padaku. "Dengan apa, aku bisa membalas kebaikanmu, anak muda?"
"Aku tidak butuh apa-apa. Aku ikhlas menolong Orshid," sahutku yang merasa tidak nyaman.
"Kamu berhati emas. Kamu adalah pahlawan kami. Bukankah begitu, Yasmin?"
"Iya. Terima kasih sekali lagi."
Wanita itu tersenyum seraya menangis. Pria itu memeluknya. Kiku menyaksikan itu, terharu, tampak jelas dari mata birunya yang berkaca-kaca.
Semua warga yang selamat, mengungsi ke tempat yang aman, tepatnya di gedung pelindung yang ada di bawah tanah karena saat terjadi penyerangan, pasukan Venus Beater datang dan ikut mengamankan warga.
Lalu Kiku mengetahui kedatangan Yupiter Alliance lewat sihir sensor-nya yang luar biasa.
Di ruangan yang mirip dengan stasiun kereta api bawah tanah yang ada di London, tapi lebih futuristik, semua orang dari bangsa Venus bersembunyi di sini. Rata-rata mereka juga penyihir tapi memiliki jumlah Manna yang rendah.
Itulah yang dijelaskan Kiku saat perjalanan menuju ke sini. Perihal mengapa sebagian warga tidak melawan Yupiter Alliance karena tidak bisa mengendalikan robot tempur.
Suasana di kota Venus sudah aman. Tapi, semua orang belum berani untuk kembali ke kota. Karena mereka takut, pihak Yupiter Alliance menyerang mereka lagi.
Aku dan Kiku sekarang duduk di sebuah bangku besi. Kami terdiam seraya memperhatikan keadaan sekitar. Semua orang saling berkumpul dengan keluarga masing-masing. Mereka bersyukur karena selamat dari invasi Yupiter Alliance.
Karena penasaran, suaraku memecahkan keheningan yang sempat melanda di antara aku dan Kiku. "Kiku, apa kamu punya orang tua?"
Kiku menoleh. Kepalanya sedikit miring ke kiri. "Punya. Tapi, itu dulu. Orang tuaku sudah meninggal karena kecelakaan."
"Ah, maaf. Aku tidak tahu soal itu."
"Tidak apa-apa. Aku tidak memikirkannya lagi. Tidak ada waktu buat bersedih lagi."
"Begitu, ya?"
"Iya. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Makanya aku berjuang keras untuk meneruskan hidupku. Prinsipku, kekuatanku adalah teman sejati. Lalu kamulah yang akan menjadi kekuatanku untuk membalas ... kematian kakakku."
Kiku mengatakan itu dengan yang lirih. Aku tertegun, turut merasakan apa yang dirasakannya. Kiku seorang yatim piatu, telah merasakan manis dan pahitnya hidup yang dijalaninya.
"Semula aku tidak mempercayai teman lagi karena teman-teman mengkhianatiku, tapi kakakku berpesan sebelum kematiannya. Dia memintaku untuk tetap mempercayai teman yang bisa kupercaya, sebab aku tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain. Atas petunjuknya juga, aku harus mencari seseorang yang bernama Alzian Ekadanta karena seseorang itu yang bisa membantuku untuk melawan Yupiter Alliance," ungkap Kiku panjang lebar, "kemudian, aku bergegas mencarimu ke semua tempat yang ada di dunia ini. Tapi, tidak ditemukan. Lalu Ibu Rosean membantuku untuk mencarimu lewat bola kristal. Syukurlah, aku bisa menemukanmu dan berusaha memanggilmu untuk datang ke sini."
Aku memilih diam, mendengarkan cerita Kiku. Gadis itu ternyata bisa berbicara panjang, yang kukira ia akan irit bicara sebagaimana tipe gadis dingin pada umumnya. Ia telah menunjukkan sikap yang hangat sejak pertama kali aku bertemu dengannya.
"Kamu mau 'kan, membantuku untuk membalas kejahatan Yupiter Alliance?" Kiku menatapku lekat-lekat seraya menggenggam tanganku.
Aku terpaku sesaat, lalu mengangguk cepat. "Iya."
"Terima kasih."
Kiku tersenyum. Gadis yang kini berpakaian biasa, tidak berpakaian perang lagi, ia langsung memelukku untuk mengekspresikan rasa senangnya. Membuatku kewalahan dengan wajah yang sedikit memerah. "Kiku, jangan peluk aku di sini! Orang-orang melihat kita, tahu!"
Benar, semua mata tertuju pada kami berdua. Kiku dengan cepat menjauh, dan menunduk malu.
"Maaf, aku tidak sengaja memelukmu."
"Tidak apa-apa sih."
"Sekali lagi, maaf."
"Iya."
Aku menoleh ke kanan-kiri. Semua orang masih memandang kami dengan aneh. Aku malu. Ingin rasanya kabur dari sini secepatnya.
Tiba-tiba, muncul Ibu Rosean dari arah samping. Mengejutkan aku dan Kiku.
"Selamat malam, murid-muridku." Ibu Rosean tersenyum manis.
"I ... Ibu Rosean," sahut aku dan Kiku kompak.
"Syukurlah, kalian berdua tidak apa-apa. Untung sekali aku menyuruh pasukan Tentara Venus Beat untuk membantu kalian." Ibu Rosean menghelakan napas leganya. "Sekarang saya minta kalian tinggal di asrama sekolah."
"Hah? Tinggal di asrama?"
"Wah, kalian kompak menjawab lagi!"
Ibu Rosean tertawa. Aku dan Kiku saling pandang lalu memandang Ibu Rosean lagi.
"Kenapa tiba-tiba Ibu menyuruh kami tinggal di asrama?" tanya Kiku yang penasaran.
"Ini demi keamanan kalian berdua," jawab Ibu Rosean bertampang serius, "pihak Yupiter Alliance telah mengumumkan sayembara ke seluruh negeri ini, bagi siapa yang mampu membawa dua orang yang bernama Alzian Ekadanta dan Kiku Lyall ke kota Titan, maka diberi uang yang sangat besar."
"Apa?" Aku dan Kiku kaget bersamaan.