"Ini ... sihir. Aku benar-benar bisa sihir sekarang!"
Senyuman manis terlukis di wajah Kiku. Zian sangat senang karena harapannya terwujud.
"Akhirnya kamu bisa sihir, Zian."
"Ya. Ini semua berkat Paman Frink. Aku bisa sihir mungkin karena dia."
"Paman Frink?"
"Kaisar sebelumnya, yang memimpin negeri ini."
"Apa?"
Rahang Kiku terbuka lebar. Zian mengerling ke arah gadis itu.
"Ceritanya nanti saja. Kita harus menuntaskan pertarungan ini dulu."
"Ya. Kamu benar, Zian."
"Oke. Sebelum fajar menyingsing, aku akan menghancurkan mereka semua!"
Tekad semangat membara, membakar ganas jiwa Zian. Ia memejamkan mata seraya memegang erat tuas kendali. Berkonsentrasi penuh untuk menyelami alam pikiran Centauri.
Centauri merespon jiwa Zian untuk memasuki jiwanya atas izin Kiku. Dengan perasaan cinta, Kiku membiarkan jiwa Zian memasuki jiwa Centauri yang merupakan jiwa keduanya. Jiwa mereka terkunci erat, dan siap menyerbu para musuh.
Semua serangan musuh yang menghantam tubuh Centauri tadi, terserap oleh akar-akar hijau yang melindungi tubuh Centauri. Tercipta sebuah pedang hijau berdesain futuristik yang bergagang akar-akar di tangan kanan Centauri, wujud dari kekuatan sihir Zian.
Kiku menyaksikan sihir yang digunakan Zian lewat jendela kaca itu, terkesiap.
Itu adalah sihir dari elemen kayu, pedang Sied Genesia, batin Kiku.
Sihir akar merambat yang digunakan untuk menyerang dan pertahanan, dilancarkan Centauri tanpa bergeming. Centauri hanya melayangkan pedang secara horizontal dan vertikal, hingga membentuk laser hijau yang menyerupai akar. Serangannya itu mampu menghancurkan banyak musuh dalam jarak jauh sekalipun.
Ledakan terus terjadi dalam selang waktu satu menit. Centauri terus menebas semua robot tempur yang mendekatinya. Akar-akar merambat dari gagang pedang Centauri, juga membelit beberapa robot tempur, meremas mereka hingga hancur berkeping-keping.
Ledakan beruntun terjadi lagi. Kali ini, Centauri bergerak. Ia terbang secara spiral, hilang timbul untuk mengelabui musuh. Kecepatannya sangat dahsyat, melebihi kecepatan petir.
Inilah kekuatan sihir tingkat tinggi yang hanya dimiliki seorang penyihir bertitel Sage. Lalu pedang Sied Genesia adalah simbol kekuasaan negeri Sembilan Planet yang dicari oleh pasukan Yupiter Alliance selama ini. Kini pedang itu telah muncul kembali dan menunjukkan siapa sebenarnya Zian itu.
Zian adalah anak dari Kaisar itu. Frinkyn Greast, yang memiliki anak laki-laki yang dinamai dari nama bintang yaitu Anka Greast. Anka sendiri adalah nama robot tempur dari istri Kaisar, Lotus Greast.
Kiku memikirkan itu saat menyelami masa lalu. Selagi masih fokus untuk memperhatikan keadaan sekitar, ia berniat ingin memberitahukan ini pada Zian usai bertarung nanti.
Zian bergeming di bangku kokpit, sedang mengeluarkan segala tenaga dan Manna untuk menyerang para musuh yang masih melawan. Jumlah musuh mulai berkurang. Akar-akar merambat dari gagang pedang Sied Genesia yang berwujud laser hijau memanjang hingga menghancurkan semua robot tempur yang berjarak jauh darinya.
Missil-missil raksasa juga dikerahkan Centauri untuk menerjang musuh-musuh yang tersisa. Ledakan-ledakan terjadi lagi. Mengguncang langit yang kini tidak berbintang.
Waktu terus berjalan cepat. Tak lama lagi lagi fajar menyingsing. Sesuai apa yang dikatakan Zian bahwa ia akan mengakhiri pertarungan ini sebelum fajar tiba.
Keganasan Centauri tidak bisa membuat pasukan Yupiter Alliance untuk menyerang. Mereka pasrah saat serangan pedang Centauri mengenai mereka. Hingga menimbulkan ledakan yang maha dahsyat.
Langit bergemuruh dengan ledakan terakhir. Centauri menjauh dari pusat ledakan. Ia pergi setelah menuntaskan pertarungan ini.
Zian menghelakan napas lega. Kiku tersenyum.
"Akhirnya kita berhasil mengalahkan mereka," kata Zian yang masih berkoneksi pikiran dengan Centauri.
"Ya. Kamu hebat, Zian," puji Kiku dengan dua pipi yang memerah.
"Ah. Jangan katakan itu. Aku belum hebat seperti yang kamu katakan."
"Iya."
Kiku tertawa kecil. Hatinya enteng tanpa beban. Zian tersenyum karena mendengar suara tawa Kiku yang sangat menarik perhatiannya.
Tujuan mereka sekarang menuju ke sekolah.
***
Zian dan Kiku tiba di perbatasan antara gedung asrama murid laki-laki dan murid perempuan. Mereka harus berpisah untuk sementara waktu. Lalu Centauri sudah kembali ke tempat penyimpanan.
"Aku mengantuk sekali. Kiku, sudah dulu ya. Aku mau kembali ke asrama dulu," kata Zian menutup mulut dengan tangannya agar tidak terlihat seperti kuda nil. Ia bergegas pergi menuju asrama.
"Tunggu, Zian," ucap Kiku yang meraih tangan kiri Zian.
"Ya. Ada apa?"
"Aku sudah tahu siapa kamu yang sebenarnya."
"Ah? Apa?"
Zian ternganga. Matanya mengerjap-ngerjap tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kiku. Gadis itu menatapnya serius.
"Kamu bilang kamu bertemu dengan Paman Frink, kan?"
"Iya. Dia Kaisar yang dulunya memimpin negeri ini."
"Nama lengkapnya Frinkyn Greast. Dia adalah penyihir tingkat tinggi yang menguasai elemen kayu. Lalu istrinya, Lotus Greast adalah penyihir tingkat tinggi yang menguasai elemen petir dan api. Mereka memiliki putra mahkota yang bernama Anka Greast yang lahir sebelum terjadi perang antara Venus dan Yupiter."
Zian terdiam saat mendengarkan cerita Kiku. Gadis Rubah itu tetap bercerita dengan nada yang datar.
"Perang itu menewaskan banyak penduduk. Kaisar Frinkyn memerintahkan orang kepercayaannya untuk membawa lari pangeran Anka agar tidak menjadi korban dari perang itu. Pangeran Anka yang baru berusia dua hari, harus terpisah dari orang tuanya," lanjut Kiku yang bertampang sedih, "Perang terus terjadi sampai Kaisar Frinkyn dan istrinya kehabisan Mana untuk menghadapi Gibraltar. Robot tempur mereka tidak bisa bergerak lagi hingga akhirnya mereka tewas dihancurkan oleh Canis Mayor, robot tempur milik Gibraltar."
Sunyi. Angin malam berhembus pelan. Menerpa dua manusia berbeda ras itu. Zian terpaku. Kiku melanjutkan perkataannya.
"Karena itu, pohon Matahari layu. Menandakan sang pemimpin telah tiada. Era baru kepemimpinan Kaisar Gibraltar dimulai. Orang tuaku dan semua orang termasuk dalam daftar pejuang yang memberontak terhadap pemerintahan Kaisar Gibraltar, dibunuh."
Tubuh Kiku bergetar pelan. Ia menahan cairan hangat yang akan tumpah dari matanya. Zian merasakan itu karena tangannya masih digenggam erat oleh tangan Kiku.
"Aku dan kakakku menjadi yatim piatu. Kami berjuang sendiri untuk bertahan hidup di tengah kondisi sulit. Hingga kami bertemu dengan Ibu Rosean. Beliaulah yang membantu kami agar kami bisa bersekolah di Pilot Magic Academy. Kami berharap bisa menjadi Tentara yang akan melindungi negeri ini dari kekuasaan jahat." Kiku menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sebenarnya.
Zian masih terdiam. Ia memilih mendengarkan Kiku hingga Kiku memberitahukan sesuatu yang mengejutkannya.
"Zian, kamulah pangeran Anka yang hilang itu. Kamulah penerus Kaisar berikutnya dan hanya kamu juga yang bisa menghidupkan pohon Matahari itu lagi."
Mata Zian membulat sempurna. Kebenaran besar ini tidak pernah dibayangkannya sebelumnya. Ia pun teringat tentang perkataan Frink itu.
"Pedang itu mampu menghidupkan pohon Matahari yang sudah kering. Syaratnya, kamu harus bisa mengalahkan Gibraltar. Penuhilah permintaanku, wahai ksatria terpilih."
Selintas bayangan Frink muncul di netra Zian. Laki-laki muda itu terpaku lagi, hanya beberapa menit. Kemudian suaranya mulai keluar dari mulutnya.
"Ja ... jadi, Paman Frink itu ... ayahku?" tanya Zian terbata-bata. Ia terharu sekali karena telah menemukan orang tua kandung yang sebenarnya.
"Iya. Kamu putra mahkota kerajaan Sembilan Planet ini."
"Aku ... tidak tahu harus berkata apa lagi. Pokoknya aku senang sekaligus sedih."